Share

Bab 7

Author: Ummu Amay
last update Petsa ng paglalathala: 2026-02-15 19:34:31

"Kau jangan gila, Bia. Untuk apa menghubunginya? Untuk kembali melakukan hal yang dilarang oleh Tuhan, begitu?"

Suara hatiku bergaung saat aku mencari kartu nama si pria beraroma amber semalam. Pergerakanku terhenti meski kertas berukuran kecil itu sudah ku genggam.

"Ah, benar. Kenapa aku berpikir pendek sekali. Seharusnya aku mencari cara yang halal. Ini buat biaya operasi ibu, kenapa aku malah menodainya dengan dosa."

Pada akhirnya aku memilih mencari cara lain. Meminta pinjaman ke tempat bekerja, juga pada teman-teman yang dekat denganku. Termasuk Silvi yang sayangnya tidak bisa aku hubungi.

"Ah iya, besok bukannya ia ulang tahun. Jadi, mungkin saja ia sibuk mempersiapkan semuanya."

Meski sangsi kalau Silvi akan mengurusi sendiri urusan pestanya, tapi hatiku memilih untuk tak melanjutkan mem-follow up-nya.

Sedikit sungkan sebetulnya karena hubungan pertemanan kami yang tidak terlalu dekat. Cuma ... ya, karena dia kaya setidaknya ada secercah harapan bagiku.

'Tapi, sayang nomornya tak aktif.' Aku mencoba membesarkan hatiku sendiri.

Dan penolakan yang ke sekian aku terima ketika meminta tolong pada manajer restoran.

"Kalau jumlah yang kau minta barusan, itu tidak masuk akal, Bia. Saya paling cuma bisa membantu pinjaman padamu maksimal setengah dari gajimu sebulan."

"Pak, itu jauh dari yang saya minta." Aku menggeleng sedih.

"Maafkan saya, Bia. Tapi, peraturan restoran memang seperti itu. Terlebih statusmu di sini cuma karyawan part time, yang mana tidak mendapatkan hak seperti karyawan lain."

"Kalau begitu, apakah bisa Bapak membantu saya?"

Aku pikir, aku bisa mendapat bantuan dari manajerku, tapi nyatanya nihil.

"Saya punya uang sebanyak itu dari mana, Bia."

Pada akhirnya nama yang tertera di kartu nama menjadi pilihan terakhirku satu-satunya.

"Kenapa? Apa kau sudah tidak sabar, hem?"

Kalimat sambutan yang aku terima, membuatku ingin muntah.

"Maaf, Tuan. Anda sudah berlebihan jika menganggap saya ingin sekali bertemu dengan Anda."

"Kalau bukan, lalu apa maksud dari panggilanmu ini, Nona?"

Ada kekehan suara yang bisa telingaku dengar, membuatku kesal dan memilih untuk mematikan panggilan.

Tak berapa lama, pria bermata coklat itu balik menghubungiku.

"Kau ini sensitif sekali. Apa hidupmu seserius ini? Tak pernahkah dirimu becanda?"

"Jika itu menyangkut ibu saya, saya pasti serius, Tuan."

Hening sejenak. Lalu, "Satu jam ke depan, tempat yang sama, aku tunggu di sana."

Satu jam yang dijanjikan, aku sudah berdiri di depan pintu kamar hotel yang beberapa hari lalu aku tinggalkan.

Hatiku berdebar hebat. Jantungku memompa lebih cepat dari biasanya. Bahkan, aku pastikan wajahku pucat seperti mayat sekarang.

Aku ragu mengetuk pintu. Aku hampir berbalik arah andai sebuah pesan dari rumah sakit tidak masuk ketika kakiku sudah akan melangkah mundur.

"Persiapan sudah siap, Ibu Anda siap melakukan tindakan operasi."

"Ya Tuhan! Aku harus secepatnya mendapatkan uang itu."

Sedetik kemudian aku sudah mengetuk pintu.

Satu kali, masih belum ada respon. Kembali aku mengetuk, dan kali ini terdengar suara langkah kaki mendekat.

Sosok itu berdiri di depanku. Masih lengkap dengan pakaian formal. Dan tak lupa aroma amber yang langsung menyapa hidungku.

"Masuk!"

**

Aku masih duduk di sofa yang ada di sudut ruangan kamar. Menatap si lelaki bermata cokelat yang saat ini tengah melakukan panggilan dengan seseorang.

Suhu ruangan kamar terasa lebih dingin dari malam terakhir aku berada di sini, membuat sikapku canggung dan aneh.

Tak lama lelaki itu berjalan mendekat. Duduk di depanku dengan gayanya yang sangat elegan. Berbanding jauh dari sikapnya saat di parkiran kemarin.

"Kau mau pesan minuman atau makanan sebelum kita mulai?"

"Tidak, terima kasih." Aku menggeleng.

"Tidak lapar atau haus?"

"Tidak." Kembali aku menggeleng. "Saya cuma mau cepat."

Tawa itu hadir. Begitu singkat. Menyisakan wajah mengejek, yang aku kenal sebelumnya.

"Aku pikir sesuatu yang terburu-buru itu tidak selamanya baik." Ia menatapku tajam.

"Tapi, saya butuh uangnya cepat."

"Itu perkara yang sangat mudah."

Aku diam. Menemuinya adalah pilihan yang tepat. Lelaki itu punya uang yang aku butuhkan.

"Kalau begitu, kenapa kita tidak lakukan itu sekarang?" kataku perlahan kemudian sudah akan melepas cardigan yang menutupi kaos oblongku.

"Hahaha!" Lelaki di depanku tertawa, membuat pergerakanku pun terhenti.

"Ada apa? Saya tidak punya cukup waktu untuk bermain-main, Tuan."

"Ada syarat yang harus kau setujui sebelum aku memberikan uang itu."

"Syarat? Kita tidak membicarakan itu sebelumnya." Aku menatapnya tak suka, merasa dipermainkan.

Kebingunganku terjawab setelah ia menerima sesuatu dari anak buahnya, yakni selembar kertas yang kemudian ia sodorkan padaku.

"Bacalah!"

Aku menatapnya sebelum mengambil kertas itu dari tangannya. "Ini apa?"

"Kau baca dulu saja. Kau bisa menolak jika tak mau."

Akhirnya aku mengambil kertas tersebut. Lalu, membaca barisan tulisan di dalamnya secara perlahan.

"Apa ini? Saya tidak mau." Sontak aku melemparkan kertas itu ke depannya.

"Saya bukan budak Anda!"

***

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Sudah Cukup, Tuan!    Bab 90

    "Sial." Aku mengutuk diriku sendiri dalam hati.Bagaimana mungkin aku bisa menghafal nomor pelat mobil seseorang?Bahkan nomor pelat motor Angga saja aku tidak tahu."Kok diam?" Hani menyipitkan mata, memperhatikanku.Aku buru-buru menggeleng. "Enggak.""Kamu sadar, kan?""Sadar apa?""Barusan kamu lega."Aku mengerutkan dahi."Lega? Maksudmu?""Iya." Hani mengangguk mantap. "Pas yang turun bukan Tian."Aku membuka mulut, hendak menyangkal. Namun urung.Karena ... memang benar. Aku lega.Entah karena tidak perlu bertemu dengannya lagi hari ini, atau karena tidak perlu menghadapi tatapan aneh teman-teman kampus untuk kedua kalinya."Aku cuma..." Aku mencari alasan yang masuk akal. "Capek."Hani tidak langsung membalas. Tatapannya justru semakin sulit kuterjemahkan."Bia.""Hm?""Aku enggak akan ikut campur."Aku menoleh."Tapi aku minta satu hal.""Apa?""Jangan bohong sama diri sendiri."Kalimat itu membuatku terdiam.Sebelum sempat membalas, Hani sudah lebih dulu mengembuskan napas.

  • Sudah Cukup, Tuan!    Bab 89

    "Seharusnya aku mencari cara supaya terlepas darinya."Kalimat itu terus berputar di kepalaku sampai jam kerjaku berakhir.Malam semakin larut ketika restoran akhirnya tutup. Aku membantu merapikan meja, menyusun kursi, lalu membersihkan area pelayanan seperti biasa."Bia."Aku menoleh. Angga sedang menggantung celemeknya."Pulang naik apa?""Ojek, seperti biasa.""Mau dianter?"Aku tersenyum kecil."Enggak usah. Hari ini sepupumu enggak manggil, 'kan?"Angga menggeleng."Enggak.""Ya sudah. Aku naik ojek saja.""Oke."Ia tidak memaksa. Itulah salah satu hal yang kusukai dari Angga. Perhatiannya selalu ada, tetapi tidak pernah berlebihan.Sementara aku membuka aplikasi untuk memesan ojek, Reina tiba-tiba menyenggol lenganku."Bi.""Hm?""Pak Tian enggak balik lagi, 'kan?"Aku langsung mendelik."Ngapain balik?""Ya siapa tahu. Enggak nungguin kamu juga 'kan di jalan?" tanyanya sembari celingak celinguk ke arah depan. "Enggak usah ngarang."Reina terkekeh."Soalnya akhir-akhir ini dia

  • Sudah Cukup, Tuan!    Bab 88

    Lima belas menit istirahatku hampir habis. Aku melirik jam tangan, lalu perlahan mendorong kursi ke belakang."Sepertinya aku harus kembali kerja."Silvi mengangguk mengerti."Iya. Maaf ya, jadi ganggu waktu istirahatmu.""Enggak kok."Aku berdiri sambil merapikan celemek. Satu sikap yang sengaja aku lakukan, supaya aku juga Tian sadar mengenai siapa diriku. "Terima kasih sudah mampir.""Harusnya kami yang bilang terima kasih."Aku mengangguk pelan. Sesaat sebelum berbalik, tanpa sengaja pandanganku bertemu dengan Tian.Pria itu masih diam.Namun entah kenapa, sejak tadi aku merasa ia beberapa kali ingin mengatakan sesuatu lalu mengurungkannya."Aku duluan."Silvi tersenyum. "Iya."Aku segera meninggalkan meja mereka. Semakin jauh melangkah, semakin ringan napasku.Setidaknya percakapan tadi tidak seburuk yang kubayangkan."Eh."Baru beberapa langkah, seseorang langsung menarik lenganku pelan.Reina."Wawancara selesai?"Aku mendengus."Lebih mirip sidang skripsi."Reina terkekeh."M

  • Sudah Cukup, Tuan!    Bab 87

    Waktu terasa berjalan jauh lebih lambat dari biasanya. Jarum jam seolah sengaja bergerak pelan hanya untuk menyiksaku.Pukul delapan lewat lima belas. Delapan lewat tiga puluh. Delapan lewat empat puluh lima.Dan setiap kali aku melirik ke arah meja dekat jendela, Silvi dan Tian masih ada di sana.Mereka makan. Sesekali berbicara. Sesekali Silvi tertawa.Dari kejauhan, mereka terlihat seperti pasangan yang sangat serasi. Dan mungkin memang begitu.Mereka berasal dari dunia yang sama. Lingkungan yang sama. Pergaulan yang sama.Sedangkan aku?Aku hanya seorang pelayan restoran yang kebetulan mengenal keduanya.Setidaknya itulah yang terus kuingatkan pada diriku sendiri."Bia."Aku tersentak. Reina tampak berdiri di sampingku sambil membawa nampan kosong."Kamu ngelamun.""Enggak.""Bohong."Aku langsung memutar mata.Kenapa semua orang hari ini suka sekali menuduhku berbohong?Pukul sembilan datang lebih cepat daripada yang kuharapkan. Atau mungkin karena sejak tadi aku terlalu sibuk me

  • Sudah Cukup, Tuan!    Bab 86

    Aku refleks menoleh ke arah lain. Tapi, terlambat.Karena detik berikutnya, senyum Silvi sudah mengembang. Dan dia langsung melambaikan tangan. Ke arahku."Bia!"Suaranya bahkan terdengar jelas di tengah ramainya restoran.Aku memejamkan mata.Selesai. Benar-benar selesai.Kalau siang tadi gosip kampus baru mulai tumbuh, malam ini gosip restoran akan langsung panen raya."Dia manggil kamu?" bisik Reina di sampingku."Sayangnya iya." Aku menyunggingkan senyum terpaksa. "Kenal?"Aku menoleh datar. "Menurutmu?"Reina langsung mengangguk cepat."Oke, aku enggak mau tahu kok!"Pembohong. Wajahnya jelas menunjukkan kalau dia sangat ingin tahu.Sementara itu, Silvi sudah berjalan mendekat. Di sampingnya, Tian ikut melangkah santai seolah tidak ada masalah apa pun di dunia ini. Padahal masalah terbesar dalam hidupku saat ini justru sedang berjalan di sebelahnya."Hai!" sapa Silvi begitu sampai di depan meja pelayanan.Aku memaksakan senyum profesional."Malam, Silvi.""Kamu kerja hari ini?"

  • Sudah Cukup, Tuan!    Bab 85

    Aku masih berdiri di tempat bahkan setelah Tian menghilang dari balik pintu perpustakaan.Beberapa detik. Lima detik. Sepuluh detik. Sampai akhirnya suara berdeham pelan terdengar dari meja sirkulasi.Aku menoleh.Dua mahasiswi yang sejak tadi berpura-pura membaca buku langsung buru-buru menunduk.Aku memejamkan mata. Selesai sudah. Benar-benar selesai.Hari ini gosip kampus akan berkembang lebih cepat daripada penyebaran virus."Bia."Aku menoleh ke arah Bu Rina, salah satu petugas perpustakaan senior."Iya, Bu?""Buku yang bagian katalog digital sudah selesai?"Aku langsung mengangguk."Sudah, Bu.""Kalau begitu lanjutkan.""Iya."Aku bersyukur beliau tidak bertanya apa pun.Karena jujur saja, aku sendiri tidak tahu harus menjelaskan apa.Ponselku bergetar tepat tiga menit kemudian. Aku bahkan tidak perlu melihat layar untuk tahu siapa pelakunya.Hani.Aku mengabaikannya. Namun, bergetar lagi. Dan aku tetap diam.Bergetar untuk ketiga kalinya. Akhirnya aku menyerah."Apa?"Suara Han

  • Sudah Cukup, Tuan!    Bab 6

    Belum lama menikmati kenikmatan alam bawah sadar, tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara gedoran pintu, plus teriakan samar Bu Yana dari luar. Perlahan aku membuka mata. Mengerjap beberapa kali demi beradaptasi dengan ruangan kamar yang mulai terang. "Mbak Bia! Mbak!"Suara teriakan dan gedoran pi

  • Sudah Cukup, Tuan!    Bab 27

    Aku membeku.“Karena … aku?” ulangku pelan. Nadaku berusaha terdengar biasa, tapi jelas ada sesuatu yang berubah.Angga mengangguk santai, seolah itu bukan hal besar.“Iya. Dia nanya banyak soal kamu.”Jantungku berdetak lebih cepat.“Apa saja yang dia tanya?” tanyaku, kali ini lebih hati-hati.Ang

  • Sudah Cukup, Tuan!    Bab 2

    Namaku Shabia. Tapi, orang-orang selalu memanggilku Bia. Tak ada nama panjang atau nama keluarga, seolah tak ada yang istimewa dengan latar belakang keluargaku.Aku baru turun dari taksi ketika melihat seorang lelaki paruh baya yang sepertinya tengah menungguku di depan teras. Dengan sebatang rokok

  • Sudah Cukup, Tuan!    Bab 1

    Suara erangan itu terdengar panjang. Memenuhi setiap sudut ruangan.Aku bisa mendengarnya tepat ketika sesuatu yang hangat memasuki area yang selama ini terlarang untuk disentuh. Pria di atasku tak lama ambruk. Menindih tubuhku dengan peluh yang juga membanjiri tubuhnya. Hangat. Basah. Lengket.

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status