LOGIN"Kau jangan gila, Bia. Untuk apa menghubunginya? Untuk kembali melakukan hal yang dilarang oleh Tuhan, begitu?"
Suara hatiku bergaung saat aku mencari kartu nama si pria beraroma amber semalam. Pergerakanku terhenti meski kertas berukuran kecil itu sudah ku genggam. "Ah, benar. Kenapa aku berpikir pendek sekali. Seharusnya aku mencari cara yang halal. Ini buat biaya operasi ibu, kenapa aku malah menodainya dengan dosa." Pada akhirnya aku memilih mencari cara lain. Meminta pinjaman ke tempat bekerja, juga pada teman-teman yang dekat denganku. Termasuk Silvi yang sayangnya tidak bisa aku hubungi. "Ah iya, besok bukannya ia ulang tahun. Jadi, mungkin saja ia sibuk mempersiapkan semuanya." Meski sangsi kalau Silvi akan mengurusi sendiri urusan pestanya, tapi hatiku memilih untuk tak melanjutkan mem-follow up-nya. Sedikit sungkan sebetulnya karena hubungan pertemanan kami yang tidak terlalu dekat. Cuma ... ya, karena dia kaya setidaknya ada secercah harapan bagiku. 'Tapi, sayang nomornya tak aktif.' Aku mencoba membesarkan hatiku sendiri. Dan penolakan yang ke sekian aku terima ketika meminta tolong pada manajer restoran. "Kalau jumlah yang kau minta barusan, itu tidak masuk akal, Bia. Saya paling cuma bisa membantu pinjaman padamu maksimal setengah dari gajimu sebulan." "Pak, itu jauh dari yang saya minta." Aku menggeleng sedih. "Maafkan saya, Bia. Tapi, peraturan restoran memang seperti itu. Terlebih statusmu di sini cuma karyawan part time, yang mana tidak mendapatkan hak seperti karyawan lain." "Kalau begitu, apakah bisa Bapak membantu saya?" Aku pikir, aku bisa mendapat bantuan dari manajerku, tapi nyatanya nihil. "Saya punya uang sebanyak itu dari mana, Bia." Pada akhirnya nama yang tertera di kartu nama menjadi pilihan terakhirku satu-satunya. "Kenapa? Apa kau sudah tidak sabar, hem?" Kalimat sambutan yang aku terima, membuatku ingin muntah. "Maaf, Tuan. Anda sudah berlebihan jika menganggap saya ingin sekali bertemu dengan Anda." "Kalau bukan, lalu apa maksud dari panggilanmu ini, Nona?" Ada kekehan suara yang bisa telingaku dengar, membuatku kesal dan memilih untuk mematikan panggilan. Tak berapa lama, pria bermata coklat itu balik menghubungiku. "Kau ini sensitif sekali. Apa hidupmu seserius ini? Tak pernahkah dirimu becanda?" "Jika itu menyangkut ibu saya, saya pasti serius, Tuan." Hening sejenak. Lalu, "Satu jam ke depan, tempat yang sama, aku tunggu di sana." Satu jam yang dijanjikan, aku sudah berdiri di depan pintu kamar hotel yang beberapa hari lalu aku tinggalkan. Hatiku berdebar hebat. Jantungku memompa lebih cepat dari biasanya. Bahkan, aku pastikan wajahku pucat seperti mayat sekarang. Aku ragu mengetuk pintu. Aku hampir berbalik arah andai sebuah pesan dari rumah sakit tidak masuk ketika kakiku sudah akan melangkah mundur. "Persiapan sudah siap, Ibu Anda siap melakukan tindakan operasi." "Ya Tuhan! Aku harus secepatnya mendapatkan uang itu." Sedetik kemudian aku sudah mengetuk pintu. Satu kali, masih belum ada respon. Kembali aku mengetuk, dan kali ini terdengar suara langkah kaki mendekat. Sosok itu berdiri di depanku. Masih lengkap dengan pakaian formal. Dan tak lupa aroma amber yang langsung menyapa hidungku. "Masuk!" ** Aku masih duduk di sofa yang ada di sudut ruangan kamar. Menatap si lelaki bermata cokelat yang saat ini tengah melakukan panggilan dengan seseorang. Suhu ruangan kamar terasa lebih dingin dari malam terakhir aku berada di sini, membuat sikapku canggung dan aneh. Tak lama lelaki itu berjalan mendekat. Duduk di depanku dengan gayanya yang sangat elegan. Berbanding jauh dari sikapnya saat di parkiran kemarin. "Kau mau pesan minuman atau makanan sebelum kita mulai?" "Tidak, terima kasih." Aku menggeleng. "Tidak lapar atau haus?" "Tidak." Kembali aku menggeleng. "Saya cuma mau cepat." Tawa itu hadir. Begitu singkat. Menyisakan wajah mengejek, yang aku kenal sebelumnya. "Aku pikir sesuatu yang terburu-buru itu tidak selamanya baik." Ia menatapku tajam. "Tapi, saya butuh uangnya cepat." "Itu perkara yang sangat mudah." Aku diam. Menemuinya adalah pilihan yang tepat. Lelaki itu punya uang yang aku butuhkan. "Kalau begitu, kenapa kita tidak lakukan itu sekarang?" kataku perlahan kemudian sudah akan melepas cardigan yang menutupi kaos oblongku. "Hahaha!" Lelaki di depanku tertawa, membuat pergerakanku pun terhenti. "Ada apa? Saya tidak punya cukup waktu untuk bermain-main, Tuan." "Ada syarat yang harus kau setujui sebelum aku memberikan uang itu." "Syarat? Kita tidak membicarakan itu sebelumnya." Aku menatapnya tak suka, merasa dipermainkan. Kebingunganku terjawab setelah ia menerima sesuatu dari anak buahnya, yakni selembar kertas yang kemudian ia sodorkan padaku. "Bacalah!" Aku menatapnya sebelum mengambil kertas itu dari tangannya. "Ini apa?" "Kau baca dulu saja. Kau bisa menolak jika tak mau." Akhirnya aku mengambil kertas tersebut. Lalu, membaca barisan tulisan di dalamnya secara perlahan. "Apa ini? Saya tidak mau." Sontak aku melemparkan kertas itu ke depannya. "Saya bukan budak Anda!" ***Aku tidak tahu berapa lama tertidur. Yang jelas ketika mataku perlahan terbuka, cahaya matahari sudah berubah lebih terang di balik tirai jendela ruang rawat kamar ibu.Leherku pegal karena posisi tidur yang buruk. Tanganku masih menggenggam tangan ibu yang hangat di atas ranjang.Aku berkedip pelan, mencoba mengumpulkan kesadaran. Suara televisi kecil terdengar pelan dari sudut ruangan. Aroma bubur rumah sakit samar tercium di udara.“Ibu?”Suaraku serak. Aku melihatnya memandangku dalam diam. Ibu sudah bangun. Dan beliau menatapku sambil tersenyum kecil meski wajahnya masih terlihat lemah.“Kamu tidur di situ?”Aku buru-buru duduk tegak dan mengusap wajah. “Ketiduran sedikit.”“Sedikit?” Ibu tertawa kecil pelan. “Leher kamu sampai miring begitu.”Aku ikut tertawa tipis, meski rasa bersalah langsung muncul lagi.“Maaf. Harusnya aku datang lebih pagi.”“Kamu habis kerja malam lagi?”Pertanyaan itu membuatku diam sepersekian detik terlalu lama.“Iya.”Ibu menghela napas kecil.“Kamu k
Aku buru-buru masuk ke dalam lobi tanpa menoleh lagi.Namun sebelum pintu kaca otomatis menutup sepenuhnya, pantulan mobil hitam itu masih terlihat samar di kaca. Tian belum pergi.'Memangnya dia tidak kerja?' gerutuku dalam hati masih berjalan dengan leher memutar ke belakang. Pendingin ruangan rumah sakit langsung menyambut kulitku yang masih terkena udara pagi. Aroma antiseptik dan suara langkah kaki perawat membuat kepalaku sedikit lebih tenang.Sedikit.Aku berjalan cepat menuju lift sambil menunduk memeriksa ponsel. Tidak ada pesan baru. Tidak ada kabar dari Bu Yana juga.Syukurlah.Lift terbuka di lantai rawat inap VIP. Begitu keluar, langkahku otomatis melambat.Dua pria berpakaian hitam berdiri tidak jauh dari ruang rawat ibu. Dengan tas selempang dan ransel, aku berjalan mendekat. Setelah dekat pintu, aku langsung berhenti.Mereka melihat ke arahku hampir bersamaan, lalu salah satunya sedikit menundukkan kepala.“Pagi, Mbak.”Aku mengenali wajah itu samar. Salah satu penga
Mobil Tian melaju tenang di jalanan pagi yang masih lengang.Aku duduk diam sambil menatap keluar jendela. Kepalaku masih berat kurang tidur, dan suasana di dalam mobil terlalu sunyi untuk ukuran kami.Tian menyetir dengan satu tangan. Sesekali ia melirik ke arahku sebentar sebelum kembali fokus ke jalan.“Kau tidur cuma dua jam.”“Kenapa masih membicarakan jam tidur saya?”“Karena aku tidak mau kau sakit. Aku membayarmu tidak untuk itu.”Aku menoleh pelan. Nada suaranya datar. Sangat Tian.Dan anehnya, itu justru terasa lebih aman daripada saat ia bicara terlalu lembut tadi pagi.“Saya masih bisa kerja.”“Kau kerja di dua tempat, kuliah, lalu bolak-balik rumah sakit.” Ia mengetuk pelan setir. “Kalau tumbang, itu merepotkan.”Aku mendengus kecil. “Ternyata saya cuma investasi.”“Kau memang investasi mahal.” Jawaban itu keluar cepat tanpa rasa bersalah sedikit pun.Aku memalingkan wajah lagi ke jendela.'Ya. Benar. Ini memang hubungan transaksional sejak awal.'Baru saja aku terbuai de
Ponsel itu terus bergetar di atas meja.Silvi Calling.Aku langsung memalingkan wajah, seolah dengan begitu nama itu tidak terlalu tajam terdengar.“Tolong angkat,” kataku cepat. “Dia tunangan Anda.”Tian tidak langsung bergerak. Tatapannya justru masih tertahan padaku beberapa detik lamanya sebelum akhirnya ia meraih ponsel itu.Dan entah kenapa, aku membenci caranya tetap menatapku bahkan saat ia menerima panggilan dari perempuan lain di depanku.Ia menerima panggilan.“Halo.”Suara Silvi langsung terdengar ceria dari speaker kecil ponsel.“Kamu udah bangun? Aku dari tadi nyari kamu.”Aku buru-buru berjalan menjauh beberapa langkah, pura-pura sibuk memeriksa isi tas. Memberi ruang. Atau mungkin menyelamatkan diriku sendiri.“Sudah,” jawab Tian singkat, masih menatapku. “Oh ya, kamu tidak lupa hari ini kita fitting terakhir? Mama ingetin aku barusan.”Fitting.Kata itu menghantam aneh di dadaku.Tentu saja mereka harus fitting sebab besok hari istimewa keduanya terjadi. Aku menundu
Keesokan paginya aku terbangun lebih dulu.Langit di balik tirai hotel masih gelap. Kota belum benar-benar hidup, hanya suara samar kendaraan dari bawah yang terdengar sesekali.Aku memejamkan mata lagi beberapa detik, mencoba mengumpulkan kesadaran yang masih berantakan.Tubuhku terasa lelah. Hangat. Dan terlihat sadar pada keberadaan seseorang di sampingku.Tian masih tertidur.Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, aku melihat lelaki itu dalam keadaan benar-benar tenang. Tidak dingin. Tidak penuh kuasa. Garis wajahnya terlihat lebih lembut saat tidur, membuatnya tampak lebih muda dari biasanya.Dan entah kenapa itu membuat dadaku aneh.Aku buru-buru mengalihkan pandangan. Semalam sudah cukup membuat pikiranku kacau.Aku bergerak perlahan, berniat turun dari ranjang tanpa membangunkannya. Namun baru saja kakiku menyentuh lantai, sebuah tangan melingkar di pinggangku.“Jam berapa?” suaranya serak khas orang baru bangun tidur.Aku menahan napas.“Masih sangat pagi.”“Hmm.”Pelukanny
Tenggorokanku tercekat.Tak pernah Tian melakukan ini.Dengan pakaiannya yang masih lengkap, air akhirnya membuat semua yang melekat di tubuhnya basah.Aku membeku. Tak mampu bereaksi ketika tangan besar itu mulai meraba dan menjelajah.“Aku bantu.” Lagi, ia bicara. Suaranya rendah. Tepat di dekat telingaku.Aku refleks menahan pergelangan tangannya.“P-Pak Tian…”Dia diam sebentar. Lalu perlahan membalik tubuhku menghadap dirinya."Tian."Aku mendongak. Dan saat itu tatapan kami bertemu. Air terus jatuh membasahi wajah kami. Kemeja putihnya kini menempel di tubuh, memperlihatkan garis tegas di balik kain yang basah. Rambutnya ikut lembap, beberapa helai jatuh ke dahinya.Dan tatapan itu, tidak dingin. Justru terlalu lembut hingga membuatku gugup.“Kau takut?” tanyanya pelan.Aku menggeleng cepat. “Tidak.”“Kau gemetar.”“Itu karena dingin.”Dan malu. Aku menambahkan.“Kau bohong lagi.”Aku mendelik pelan, tapi napasku sudah berantakan lebih dulu.Tangannya naik menyentuh pipiku. Ha







