LOGINBelum lama menikmati kenikmatan alam bawah sadar, tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara gedoran pintu, plus teriakan samar Bu Yana dari luar.
Perlahan aku membuka mata. Mengerjap beberapa kali demi beradaptasi dengan ruangan kamar yang mulai terang. "Mbak Bia! Mbak!" Suara teriakan dan gedoran pintu kembali terdengar. Dan kali ini suaranya semakin jelas setelah aku berhasil membuka mata. Suara itu panik. Takut. Tak perlu stretching seperti yang biasanya aku lakukan saat bangun tidur. Bergegas aku membuka pintu dan melihat ekspresi panik pada sosok wanita di depanku. "Ada apa, Bu Yana?" Aku sedikit heran sebab keberadaannya di rumah pagi-pagi sekali. Tapi, hal itu aku abaikan demi ingin mengetahui alasannya mengganggu waktu istirahatku. "Mbak ... Ibu, Mbak!" "Ibu kenapa?" tanyaku tak mengerti. Tapi, jujur saja aku mulai khawatir. "Ibu pingsan. Banyak keluar darah." Muka Bu Yana terlihat panik dan ketakutan, menular padaku. "Apa!" Segera aku berlari ke kamar ibu. Di sana, aku melihat ibu tergeletak tak sadarkan diri di lantai. Darah mengalir dari lubang hidung, membuatku dilanda panik luar biasa. "Ibu kenapa, Bu Yana?" kataku takut. "Saya enggak tahu, Mbak. Waktu datang ke kamar, ibu sudah di bawah. Tapi, sebelumnya belum keluar darah. Pas saya mau angkat ibu ke atas kasur, tiba-tiba darahnya muncul." Aku tak tahu harus melakukan apa. Aku bingung. Aku takut salah mengambil sikap dengan kondisi ibu sekarang. Aku ingat masih ada lelaki di rumah. Ayah. "Ayah saya di mana, Bu? Apa Ibu lihat?" "Bapak ada di teras depan. Tadi Ibu sudah kasih tahu bapak, tapi bapak bilang untuk bangunin Mbak Bia." "Ya Tuhan!" seruku, bergegas bangun menemui ayah. Di sana, di teras depan dengan sinar matahari yang mulai menyinari pekarangan depan, aku melihat ayah sedang merokok ditemani secangkir kopi yang masih mengebul. "Ayah! Tolong ibu, Yah?" Luar biasa. Ketakutan juga sikap panik yang aku tunjukkan, sama sekali tidak ayah gubris. "Bawa saja ke rumah sakit. Bukankah kamu sudah biasa menghadapi ibumu seperti itu," katanya dengan suara enteng dan santai. Asap rokok tampak mengudara sesaat ia melepaskannya. Tak mau membuang waktu karena melihat sikap ayah yang tak peduli, aku pun pergi meminta bantuan tetangga sebelah yang memiliki kendaraan. Singkat cerita aku berhasil membawa ibu ke rumah sakit. Namun, aku harus dikejutkan dengan kabar yang dokter sampaikan setelah ibu mendapat penanganan medis di ruang IGD. "Ibu Anda mengalami stroke hemoragik atau pendarahan otak. Pasien harus segera dioperasi karena jika tidak maka akan terjadi kerusakan jaringan otak permanen, cacat fisik jangka panjang, atau lebih parahnya kematian." Bagai disambar petir di siang bolong, kabar yang baru aku dengar tersebut membuat tubuhku gemetar. Dadaku berdebar hebat. "Apakah hanya itu satu-satunya cara supaya ibu saya bisa sembuh, Dok?" "Untuk saat ini sebab melihat kondisi pasien beserta riwayat penyakitnya, operasi adalah satu-satunya cara." Aku terdiam. Bu Yana yang berdiri di sebelahku, berusaha memberi kekuatan dengan mengusap bahuku lembut. "Kalau boleh tahu, berapa biaya yang harus saya keluarkan untuk operasi ibu saya?" "Minimal Anda harus menyiapkan seratus sampai dua ratus juta." 'Ya Tuhan!' Aku membatin. Dari mana aku dapatkan uang sebanyak itu. Sisa uang yang ada tidak cukup untuk biaya operasi. Seketika aku teringat ayah. Aku berharap uang yang aku berikan tempo hari ada sisa dan masih ia pegang. "Baik, Dok. Kapan operasi bisa dilakukan?" "Secepatnya. Tapi, sebelumnya pasien memerlukan persiapan dan pemeriksaan lebih lanjut sebelum operasi dimulai. Untuk itu Anda bisa menemui bagian administrasi untuk penandatanganan berkas." Dengan penuh keyakinan aku pun bergegas menuju bagian administrasi. Setelah selesai menandatangani berkas yang sudah pihak rumah sakit siapkan, aku meminta tolong Bu Yana untuk menunggu di rumah sakit sampai aku kembali. Aku harus bergegas menemui ayah dan meminta uang yang pernah aku berikan. "Jangan ngaco, Bia! Uang yang mana?" Ayah mendelik marah saat aku meminta uang yang tempo hari aku berikan. "Uang yang aku berikan waktu di kampus itu, Yah?" "Ya, sudah habis. Bagaimana sih kamu." "Uang sebanyak itu habis, Yah? Memangnya Ayah pakai apa saja?" Aku menatap tak percaya. Tapi, ayah malah terlihat semakin marah. "Pakai apa saja katamu? Hutang Ayah banyak asal kamu tahu. Dan itu juga masih belum lunas karena bunga yang berjalan kemarin." "Apa, belum lunas? Bunga berjalan? Sebenarnya Ayah punya hutang kemana? Dan mengapa besar sekali." Ayah terlihat beranjak bangun dari sofa depan TV. Mukanya kesal karena waktu santainya terganggu. "Ayah sudah pernah bilang, itu bukan urusan kamu. Tapi, gara-gara kamu terlambat kasih uang ke Ayah jadinya bunganya terus berjalan." Tak ada harapan. Tak ada uang yang bisa aku pinta dari ayah. "Lalu, gimana dengan ibu, Yah?" kataku saat melihat ayah berjalan pergi. Sesaat langkahnya terhenti. Ia berbalik dan menatapku, tak peduli. "Sejak ibumu sakit, itu bukan lagi urusanku." Sakit hati aku mendengar ucapannya. Tapi, entah mengapa aku dan ibu masih bertahan dengan sikap ayah yang semakin hari semakin menyakitkan itu. Seharusnya sejak awal ibu gugat ayah saja. Selain itu, dengan rumah yang adalah milik ibu peninggalan orang tuanya, ayah bisa dengan mudah ibu usir. Tapi, ibu masih berbaik hati dan tetap mengizinkan ayah tinggal bersama kami hingga saat ini. Sekarang aku harus memutar otak mencari uang untuk biaya operasi ibu. Tiba-tiba aku teringat dengan kalimat semalam. "Lusa sesuai permintaanku, sisa uang kemarin akan aku berikan." ***"Sial." Aku mengutuk diriku sendiri dalam hati.Bagaimana mungkin aku bisa menghafal nomor pelat mobil seseorang?Bahkan nomor pelat motor Angga saja aku tidak tahu."Kok diam?" Hani menyipitkan mata, memperhatikanku.Aku buru-buru menggeleng. "Enggak.""Kamu sadar, kan?""Sadar apa?""Barusan kamu lega."Aku mengerutkan dahi."Lega? Maksudmu?""Iya." Hani mengangguk mantap. "Pas yang turun bukan Tian."Aku membuka mulut, hendak menyangkal. Namun urung.Karena ... memang benar. Aku lega.Entah karena tidak perlu bertemu dengannya lagi hari ini, atau karena tidak perlu menghadapi tatapan aneh teman-teman kampus untuk kedua kalinya."Aku cuma..." Aku mencari alasan yang masuk akal. "Capek."Hani tidak langsung membalas. Tatapannya justru semakin sulit kuterjemahkan."Bia.""Hm?""Aku enggak akan ikut campur."Aku menoleh."Tapi aku minta satu hal.""Apa?""Jangan bohong sama diri sendiri."Kalimat itu membuatku terdiam.Sebelum sempat membalas, Hani sudah lebih dulu mengembuskan napas.
"Seharusnya aku mencari cara supaya terlepas darinya."Kalimat itu terus berputar di kepalaku sampai jam kerjaku berakhir.Malam semakin larut ketika restoran akhirnya tutup. Aku membantu merapikan meja, menyusun kursi, lalu membersihkan area pelayanan seperti biasa."Bia."Aku menoleh. Angga sedang menggantung celemeknya."Pulang naik apa?""Ojek, seperti biasa.""Mau dianter?"Aku tersenyum kecil."Enggak usah. Hari ini sepupumu enggak manggil, 'kan?"Angga menggeleng."Enggak.""Ya sudah. Aku naik ojek saja.""Oke."Ia tidak memaksa. Itulah salah satu hal yang kusukai dari Angga. Perhatiannya selalu ada, tetapi tidak pernah berlebihan.Sementara aku membuka aplikasi untuk memesan ojek, Reina tiba-tiba menyenggol lenganku."Bi.""Hm?""Pak Tian enggak balik lagi, 'kan?"Aku langsung mendelik."Ngapain balik?""Ya siapa tahu. Enggak nungguin kamu juga 'kan di jalan?" tanyanya sembari celingak celinguk ke arah depan. "Enggak usah ngarang."Reina terkekeh."Soalnya akhir-akhir ini dia
Lima belas menit istirahatku hampir habis. Aku melirik jam tangan, lalu perlahan mendorong kursi ke belakang."Sepertinya aku harus kembali kerja."Silvi mengangguk mengerti."Iya. Maaf ya, jadi ganggu waktu istirahatmu.""Enggak kok."Aku berdiri sambil merapikan celemek. Satu sikap yang sengaja aku lakukan, supaya aku juga Tian sadar mengenai siapa diriku. "Terima kasih sudah mampir.""Harusnya kami yang bilang terima kasih."Aku mengangguk pelan. Sesaat sebelum berbalik, tanpa sengaja pandanganku bertemu dengan Tian.Pria itu masih diam.Namun entah kenapa, sejak tadi aku merasa ia beberapa kali ingin mengatakan sesuatu lalu mengurungkannya."Aku duluan."Silvi tersenyum. "Iya."Aku segera meninggalkan meja mereka. Semakin jauh melangkah, semakin ringan napasku.Setidaknya percakapan tadi tidak seburuk yang kubayangkan."Eh."Baru beberapa langkah, seseorang langsung menarik lenganku pelan.Reina."Wawancara selesai?"Aku mendengus."Lebih mirip sidang skripsi."Reina terkekeh."M
Waktu terasa berjalan jauh lebih lambat dari biasanya. Jarum jam seolah sengaja bergerak pelan hanya untuk menyiksaku.Pukul delapan lewat lima belas. Delapan lewat tiga puluh. Delapan lewat empat puluh lima.Dan setiap kali aku melirik ke arah meja dekat jendela, Silvi dan Tian masih ada di sana.Mereka makan. Sesekali berbicara. Sesekali Silvi tertawa.Dari kejauhan, mereka terlihat seperti pasangan yang sangat serasi. Dan mungkin memang begitu.Mereka berasal dari dunia yang sama. Lingkungan yang sama. Pergaulan yang sama.Sedangkan aku?Aku hanya seorang pelayan restoran yang kebetulan mengenal keduanya.Setidaknya itulah yang terus kuingatkan pada diriku sendiri."Bia."Aku tersentak. Reina tampak berdiri di sampingku sambil membawa nampan kosong."Kamu ngelamun.""Enggak.""Bohong."Aku langsung memutar mata.Kenapa semua orang hari ini suka sekali menuduhku berbohong?Pukul sembilan datang lebih cepat daripada yang kuharapkan. Atau mungkin karena sejak tadi aku terlalu sibuk me
Aku refleks menoleh ke arah lain. Tapi, terlambat.Karena detik berikutnya, senyum Silvi sudah mengembang. Dan dia langsung melambaikan tangan. Ke arahku."Bia!"Suaranya bahkan terdengar jelas di tengah ramainya restoran.Aku memejamkan mata.Selesai. Benar-benar selesai.Kalau siang tadi gosip kampus baru mulai tumbuh, malam ini gosip restoran akan langsung panen raya."Dia manggil kamu?" bisik Reina di sampingku."Sayangnya iya." Aku menyunggingkan senyum terpaksa. "Kenal?"Aku menoleh datar. "Menurutmu?"Reina langsung mengangguk cepat."Oke, aku enggak mau tahu kok!"Pembohong. Wajahnya jelas menunjukkan kalau dia sangat ingin tahu.Sementara itu, Silvi sudah berjalan mendekat. Di sampingnya, Tian ikut melangkah santai seolah tidak ada masalah apa pun di dunia ini. Padahal masalah terbesar dalam hidupku saat ini justru sedang berjalan di sebelahnya."Hai!" sapa Silvi begitu sampai di depan meja pelayanan.Aku memaksakan senyum profesional."Malam, Silvi.""Kamu kerja hari ini?"
Aku masih berdiri di tempat bahkan setelah Tian menghilang dari balik pintu perpustakaan.Beberapa detik. Lima detik. Sepuluh detik. Sampai akhirnya suara berdeham pelan terdengar dari meja sirkulasi.Aku menoleh.Dua mahasiswi yang sejak tadi berpura-pura membaca buku langsung buru-buru menunduk.Aku memejamkan mata. Selesai sudah. Benar-benar selesai.Hari ini gosip kampus akan berkembang lebih cepat daripada penyebaran virus."Bia."Aku menoleh ke arah Bu Rina, salah satu petugas perpustakaan senior."Iya, Bu?""Buku yang bagian katalog digital sudah selesai?"Aku langsung mengangguk."Sudah, Bu.""Kalau begitu lanjutkan.""Iya."Aku bersyukur beliau tidak bertanya apa pun.Karena jujur saja, aku sendiri tidak tahu harus menjelaskan apa.Ponselku bergetar tepat tiga menit kemudian. Aku bahkan tidak perlu melihat layar untuk tahu siapa pelakunya.Hani.Aku mengabaikannya. Namun, bergetar lagi. Dan aku tetap diam.Bergetar untuk ketiga kalinya. Akhirnya aku menyerah."Apa?"Suara Han
Suara erangan itu terdengar panjang. Memenuhi setiap sudut ruangan.Aku bisa mendengarnya tepat ketika sesuatu yang hangat memasuki area yang selama ini terlarang untuk disentuh. Pria di atasku tak lama ambruk. Menindih tubuhku dengan peluh yang juga membanjiri tubuhnya. Hangat. Basah. Lengket.
Aku membeku.“Karena … aku?” ulangku pelan. Nadaku berusaha terdengar biasa, tapi jelas ada sesuatu yang berubah.Angga mengangguk santai, seolah itu bukan hal besar.“Iya. Dia nanya banyak soal kamu.”Jantungku berdetak lebih cepat.“Apa saja yang dia tanya?” tanyaku, kali ini lebih hati-hati.Ang
Aku terbelalak kaget. Kedua mataku membola saat melihat mata terpejam di depanku. Aroma amber. Aku sangat ingat. Baru beberapa saat lalu aku kembali menciumnya. Dan sekarang, aroma ini semakin tercium begitu kuat —anehnya, masih sama memabukkan. Beberapa detik kemudian aku baru tersadar. Sontak
"Kau jangan gila, Bia. Untuk apa menghubunginya? Untuk kembali melakukan hal yang dilarang oleh Tuhan, begitu?"Suara hatiku bergaung saat aku mencari kartu nama si pria beraroma amber semalam. Pergerakanku terhenti meski kertas berukuran kecil itu sudah ku genggam. "Ah, benar. Kenapa aku berpikir







