Share

Bab 6

Author: Ummu Amay
last update publish date: 2026-02-13 19:10:01

Belum lama menikmati kenikmatan alam bawah sadar, tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara gedoran pintu, plus teriakan samar Bu Yana dari luar.

Perlahan aku membuka mata. Mengerjap beberapa kali demi beradaptasi dengan ruangan kamar yang mulai terang.

"Mbak Bia! Mbak!"

Suara teriakan dan gedoran pintu kembali terdengar. Dan kali ini suaranya semakin jelas setelah aku berhasil membuka mata. Suara itu panik. Takut.

Tak perlu stretching seperti yang biasanya aku lakukan saat bangun tidur. Bergegas aku membuka pintu dan melihat ekspresi panik pada sosok wanita di depanku.

"Ada apa, Bu Yana?"

Aku sedikit heran sebab keberadaannya di rumah pagi-pagi sekali. Tapi, hal itu aku abaikan demi ingin mengetahui alasannya mengganggu waktu istirahatku.

"Mbak ... Ibu, Mbak!"

"Ibu kenapa?" tanyaku tak mengerti. Tapi, jujur saja aku mulai khawatir.

"Ibu pingsan. Banyak keluar darah." Muka Bu Yana terlihat panik dan ketakutan, menular padaku.

"Apa!"

Segera aku berlari ke kamar ibu. Di sana, aku melihat ibu tergeletak tak sadarkan diri di lantai. Darah mengalir dari lubang hidung, membuatku dilanda panik luar biasa.

"Ibu kenapa, Bu Yana?" kataku takut.

"Saya enggak tahu, Mbak. Waktu datang ke kamar, ibu sudah di bawah. Tapi, sebelumnya belum keluar darah. Pas saya mau angkat ibu ke atas kasur, tiba-tiba darahnya muncul."

Aku tak tahu harus melakukan apa. Aku bingung. Aku takut salah mengambil sikap dengan kondisi ibu sekarang.

Aku ingat masih ada lelaki di rumah. Ayah.

"Ayah saya di mana, Bu? Apa Ibu lihat?"

"Bapak ada di teras depan. Tadi Ibu sudah kasih tahu bapak, tapi bapak bilang untuk bangunin Mbak Bia."

"Ya Tuhan!" seruku, bergegas bangun menemui ayah.

Di sana, di teras depan dengan sinar matahari yang mulai menyinari pekarangan depan, aku melihat ayah sedang merokok ditemani secangkir kopi yang masih mengebul.

"Ayah! Tolong ibu, Yah?"

Luar biasa. Ketakutan juga sikap panik yang aku tunjukkan, sama sekali tidak ayah gubris.

"Bawa saja ke rumah sakit. Bukankah kamu sudah biasa menghadapi ibumu seperti itu," katanya dengan suara enteng dan santai. Asap rokok tampak mengudara sesaat ia melepaskannya.

Tak mau membuang waktu karena melihat sikap ayah yang tak peduli, aku pun pergi meminta bantuan tetangga sebelah yang memiliki kendaraan.

Singkat cerita aku berhasil membawa ibu ke rumah sakit. Namun, aku harus dikejutkan dengan kabar yang dokter sampaikan setelah ibu mendapat penanganan medis di ruang IGD.

"Ibu Anda mengalami stroke hemoragik atau pendarahan otak. Pasien harus segera dioperasi karena jika tidak maka akan terjadi kerusakan jaringan otak permanen, cacat fisik jangka panjang, atau lebih parahnya kematian."

Bagai disambar petir di siang bolong, kabar yang baru aku dengar tersebut membuat tubuhku gemetar. Dadaku berdebar hebat.

"Apakah hanya itu satu-satunya cara supaya ibu saya bisa sembuh, Dok?"

"Untuk saat ini sebab melihat kondisi pasien beserta riwayat penyakitnya, operasi adalah satu-satunya cara."

Aku terdiam. Bu Yana yang berdiri di sebelahku, berusaha memberi kekuatan dengan mengusap bahuku lembut.

"Kalau boleh tahu, berapa biaya yang harus saya keluarkan untuk operasi ibu saya?"

"Minimal Anda harus menyiapkan seratus sampai dua ratus juta."

'Ya Tuhan!' Aku membatin. Dari mana aku dapatkan uang sebanyak itu. Sisa uang yang ada tidak cukup untuk biaya operasi.

Seketika aku teringat ayah. Aku berharap uang yang aku berikan tempo hari ada sisa dan masih ia pegang.

"Baik, Dok. Kapan operasi bisa dilakukan?"

"Secepatnya. Tapi, sebelumnya pasien memerlukan persiapan dan pemeriksaan lebih lanjut sebelum operasi dimulai. Untuk itu Anda bisa menemui bagian administrasi untuk penandatanganan berkas."

Dengan penuh keyakinan aku pun bergegas menuju bagian administrasi. Setelah selesai menandatangani berkas yang sudah pihak rumah sakit siapkan, aku meminta tolong Bu Yana untuk menunggu di rumah sakit sampai aku kembali. Aku harus bergegas menemui ayah dan meminta uang yang pernah aku berikan.

"Jangan ngaco, Bia! Uang yang mana?" Ayah mendelik marah saat aku meminta uang yang tempo hari aku berikan.

"Uang yang aku berikan waktu di kampus itu, Yah?"

"Ya, sudah habis. Bagaimana sih kamu."

"Uang sebanyak itu habis, Yah? Memangnya Ayah pakai apa saja?" Aku menatap tak percaya.

Tapi, ayah malah terlihat semakin marah.

"Pakai apa saja katamu? Hutang Ayah banyak asal kamu tahu. Dan itu juga masih belum lunas karena bunga yang berjalan kemarin."

"Apa, belum lunas? Bunga berjalan? Sebenarnya Ayah punya hutang kemana? Dan mengapa besar sekali."

Ayah terlihat beranjak bangun dari sofa depan TV. Mukanya kesal karena waktu santainya terganggu.

"Ayah sudah pernah bilang, itu bukan urusan kamu. Tapi, gara-gara kamu terlambat kasih uang ke Ayah jadinya bunganya terus berjalan."

Tak ada harapan. Tak ada uang yang bisa aku pinta dari ayah.

"Lalu, gimana dengan ibu, Yah?" kataku saat melihat ayah berjalan pergi.

Sesaat langkahnya terhenti. Ia berbalik dan menatapku, tak peduli.

"Sejak ibumu sakit, itu bukan lagi urusanku."

Sakit hati aku mendengar ucapannya. Tapi, entah mengapa aku dan ibu masih bertahan dengan sikap ayah yang semakin hari semakin menyakitkan itu. Seharusnya sejak awal ibu gugat ayah saja. Selain itu, dengan rumah yang adalah milik ibu peninggalan orang tuanya, ayah bisa dengan mudah ibu usir. Tapi, ibu masih berbaik hati dan tetap mengizinkan ayah tinggal bersama kami hingga saat ini.

Sekarang aku harus memutar otak mencari uang untuk biaya operasi ibu.

Tiba-tiba aku teringat dengan kalimat semalam.

"Lusa sesuai permintaanku, sisa uang kemarin akan aku berikan."

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sudah Cukup, Tuan!    Bab 7

    "Kau jangan gila, Bia. Untuk apa menghubunginya? Untuk kembali melakukan hal yang dilarang oleh Tuhan, begitu?"Suara hatiku bergaung saat aku mencari kartu nama si pria beraroma amber semalam. Pergerakanku terhenti meski kertas berukuran kecil itu sudah ku genggam. "Ah, benar. Kenapa aku berpikir pendek sekali. Seharusnya aku mencari cara yang halal. Ini buat biaya operasi ibu, kenapa aku malah menodainya dengan dosa."Pada akhirnya aku memilih mencari cara lain. Meminta pinjaman ke tempat bekerja, juga pada teman-teman yang dekat denganku. Termasuk Silvi yang sayangnya tidak bisa aku hubungi."Ah iya, besok bukannya ia ulang tahun. Jadi, mungkin saja ia sibuk mempersiapkan semuanya."Meski sangsi kalau Silvi akan mengurusi sendiri urusan pestanya, tapi hatiku memilih untuk tak melanjutkan mem-follow up-nya. Sedikit sungkan sebetulnya karena hubungan pertemanan kami yang tidak terlalu dekat. Cuma ... ya, karena dia kaya setidaknya ada secercah harapan bagiku.'Tapi, sayang nomornya

  • Sudah Cukup, Tuan!    Bab 6

    Belum lama menikmati kenikmatan alam bawah sadar, tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara gedoran pintu, plus teriakan samar Bu Yana dari luar. Perlahan aku membuka mata. Mengerjap beberapa kali demi beradaptasi dengan ruangan kamar yang mulai terang. "Mbak Bia! Mbak!"Suara teriakan dan gedoran pintu kembali terdengar. Dan kali ini suaranya semakin jelas setelah aku berhasil membuka mata. Suara itu panik. Takut. Tak perlu stretching seperti yang biasanya aku lakukan saat bangun tidur. Bergegas aku membuka pintu dan melihat ekspresi panik pada sosok wanita di depanku. "Ada apa, Bu Yana?"Aku sedikit heran sebab keberadaannya di rumah pagi-pagi sekali. Tapi, hal itu aku abaikan demi ingin mengetahui alasannya mengganggu waktu istirahatku. "Mbak ... Ibu, Mbak!""Ibu kenapa?" tanyaku tak mengerti. Tapi, jujur saja aku mulai khawatir. "Ibu pingsan. Banyak keluar darah." Muka Bu Yana terlihat panik dan ketakutan, menular padaku."Apa!"Segera aku berlari ke kamar ibu. Di sana, aku meli

  • Sudah Cukup, Tuan!    Bab 5

    Aku terbelalak kaget. Kedua mataku membola saat melihat mata terpejam di depanku. Aroma amber. Aku sangat ingat. Baru beberapa saat lalu aku kembali menciumnya. Dan sekarang, aroma ini semakin tercium begitu kuat —anehnya, masih sama memabukkan. Beberapa detik kemudian aku baru tersadar. Sontak aku mendorong tubuh si pria berkemaja putih di depanku. Aku terengah. Dia juga. Namun, senyum smirk itu menghujam jantungku. Tangannya mengelap bibir, seolah ia baru saja menikmati hidangan yang lebih lezat dari calamari. "Anda? Apa yang Anda lakukan barusan?" tanyaku masih berusaha mengatur napas, tersengal.Mataku sinis menatapnya. Ku perhatikan penampilannya.'Ya Tuhan! Kenapa aku baru menyadari betapa tampannya lelaki yang sudah mengambil keperawananku ini,' batinku demi melihat dia yang terlihat sedikit berantakan ditambah penampilannya yang tidak formal dengan tangan kemeja yang digulung hingga lengan. Dia mengangkat bahu. "Hanya menikmati makanan bersama teman-temanku sebelum seseo

  • Sudah Cukup, Tuan!    Bab 4

    "Maafkan saya, Bia. Saya tidak bisa memberimu izin lagi malam ini. Kamu sudah empat kali izin pulang cepat dalam satu bulan ini."Manajer restoran tempatku bekerja, menolak izinku yang ingin pulang cepat."Tapi, Pak, ibu saya sendirian di rumah." Aku masih mencoba bernegosiasi. Tentu saja dengan tampang memelas —khas anak kecil yang merengek minta jajan. Lelaki beranak dua itu tetap menggeleng, "Sorry, kali ini saya benar-benar tidak bisa membantumu. Anak-anak yang lain akan menganggap saya pilih kasih seandainya terus menerus memberimu pengurangan jam kerja."Aku pun pasrah. Mau tak mau aku meminta Bu Yana untuk tinggal lebih lama —minimal sampai ayah pulang. "Saya akan memberi lebih di akhir bulan nanti." Pesan yang aku kirim ke Bu Yana, yang membuatku harus menarik napas panjang. 'Aku harus semakin mengikat perut,' batinku bicara. Namun, seketika aku teringat dengan sisa uang —hasil dari mencairkan cek kemarin."Kalau begitu, saya izin ke belakang dulu ya, Pak," kataku pada man

  • Sudah Cukup, Tuan!    Bab 3

    Aku sudah janjian dengan ayah untuk menemuiku di perpustakaan kampus lusa kemudian. Ancaman Ayah beberapa waktu lalu, berhasil aku rayu dengan keyakinan bisa memberikan uang yang diminta. Cek yang sudah aku cairkan sebagian sudah tersimpan di dalam tas kresek yang aku masukan ke dalam goodie bag.Aku sengaja meminta ayah datang, dibanding harus bertemu di luar, yang persentasi bahayanya lebih besar. Satu jam setelah kelas selesai, ayah datang dengan penampilannya yang rapi. Aku harus mengakui akan sikapnya yang bisa menyesuaikan tempat. Tidak basa basi, langsung saja menanyakan maksudnya."Mana uangnya?" katanya sedikit berbisik setelah duduk berhadapan denganku. Ia tahu di mana posisi kami sekarang. Aku mengangkat goodie bag dan meletakkannya di atas meja. Tak ada suara, langsung saja menyerahkan tas itu. "Apakah sesuai jumlahnya dengan yang aku minta?" katanya lagi, kali ini dengan wajah sumringah. "Aku enggak mau kesehatan ibu memburuk karena perilaku Ayah. Jadi, aku minta j

  • Sudah Cukup, Tuan!    Bab 2

    Namaku Shabia. Tapi, orang-orang selalu memanggilku Bia. Tak ada nama panjang atau nama keluarga, seolah tak ada yang istimewa dengan latar belakang keluargaku.Aku baru turun dari taksi ketika melihat seorang lelaki paruh baya yang sepertinya tengah menungguku di depan teras. Dengan sebatang rokok di mulutnya juga secangkir kopi —yang sepertinya sudah dingin, menatap marah padaku. "Kemana saja kamu? Jam segini baru pulang," katanya sambil berdiri. "Tumben sekali Ayah peduli." Aku menjawab sinis. Ku lihat ia melotot. "Anak kurang ajar! Sudah berani kamu sekarang."Aku tersenyum mengejek. "Aku tidak pernah takut kalau saja Ayah tidak memakai ibu sebagai ancaman."Lelaki yang ku panggil 'ayah' itu membalasku dengan senyum yang sama. "Makanya, jangan macam-macam kalau kamu masih mau ibumu hidup.""Ayah benar-benar jahat. Bagaimana Ayah bisa tega pada perempuan yang Ayah cintai itu." Aku melotot, menatap benci. "Haha! Cinta katamu? Perempuan penyakitan itu tidak pantas aku cintai," ka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status