Share

Bab 4

Author: Ummu Amay
last update publish date: 2026-02-13 19:09:26

"Maafkan saya, Bia. Saya tidak bisa memberimu izin lagi malam ini. Kamu sudah empat kali izin pulang cepat dalam satu bulan ini."

Manajer restoran tempatku bekerja, menolak izinku yang ingin pulang cepat.

"Tapi, Pak, ibu saya sendirian di rumah." Aku masih mencoba bernegosiasi. Tentu saja dengan tampang memelas —khas anak kecil yang merengek minta jajan.

Lelaki beranak dua itu tetap menggeleng, "Sorry, kali ini saya benar-benar tidak bisa membantumu. Anak-anak yang lain akan menganggap saya pilih kasih seandainya terus menerus memberimu pengurangan jam kerja."

Aku pun pasrah. Mau tak mau aku meminta Bu Yana untuk tinggal lebih lama —minimal sampai ayah pulang.

"Saya akan memberi lebih di akhir bulan nanti." Pesan yang aku kirim ke Bu Yana, yang membuatku harus menarik napas panjang.

'Aku harus semakin mengikat perut,' batinku bicara.

Namun, seketika aku teringat dengan sisa uang —hasil dari mencairkan cek kemarin.

"Kalau begitu, saya izin ke belakang dulu ya, Pak," kataku pada manajer.

"Hem. Jangan lama-lama, ya. Pengunjung sudah mulai berdatangan. Yang shift middle sudah mau pulang."

"Oke."

Aku pun bergegas pergi ke ruang loker —sebelum karyawan yang mau pulang datang.

Ku buka buku catatan hutang, yang masih menumpuk dan belum aku selesaikan. Uang hasil dari 'menjual diri' baru aku keluarkan untuk membayar hutang-hutang ayah. Dan ternyata, aku masih memiliki banyak hutang yang belum aku bayarkan, bahkan jauh sebelum ibu jatuh sakit.

"Biaya pengobatan ibu yang lumayan menguras kantong karena aku tak punya asuransi kesehatan," kataku pada diri sendiri.

Akhirnya, sebelum mulai bekerja, aku rekap semua catatan hutang yang harus aku lunasi. Semua, tanpa terkecuali. Termasuk hutang-hutang kecil seperti ke warung sayur dan sembako, warteg, bahkan tukang poto copy sebelah kampus.

Lima belas menit, selesai. Aku kembali ke area depan untuk memulai pekerjaan. Hatiku sedikit lega karena akhirnya bisa menuntaskan semua amanah yang selama ini membuat tidurku tak tenang, walau pun uang yang aku dapatkan akhirnya habis.

Namun, rasa lega karena beban hutang yang hilang seketika sirna saat aku hendak mengantarkan makanan ke meja pelanggan. Aku dibuat terkejut dengan sosok pria yang duduk bersama beberapa pria lainnya di salah satu meja dekat area kasir.

Dua piring calamari ku hidangkan di atas meja. Aku pura-pura tak melihat sosok pria tersebut. Namun, aku dibuat terkejut dengan tatapan mata berwarna coklat itu yang tajam ke arahku. Dan jangan lupa wangi amber yang begitu aku kenali.

Anehnya orang-orang yang bersamanya seperti tak menyadari sikapnya itu. Mereka —kumpulan eksekutif muda, malah terlihat tertarik dengan makanan yang datang, sembari membicarakan hal-hal yang tidak aku mengerti.

"Apa masih ada pesanan yang belum datang?" tanyaku memastikan sebelum pergi.

Mereka saling menatap, lalu memeriksa makanan di atas meja. Sekali lagi, aku berusaha tidak menatap pria bermata coklat itu.

"Sudah semua, Mbak. Terima kasih." Salah seorang pria dengan jas berwarna navy bicara dan tersenyum padaku.

"Baik. Selamat menikmati hidangannya."

Aku pun bergegas pergi. Tidak cepat, masih berusaha dengan ritme yang wajar.

Setelah tiba di area belakang, reflek aku menyandarkan punggung di dinding dapur. Seorang food checker menatap dan berkata, "Kau kenapa, Bi?"

"Ah, tidak ada apa-apa," kataku menggeleng.

Aku pun bergegas pindah tempat. Kali ini aku memilih untuk stand by di area yang jauh dengan meja itu. Aku tak mau bertemu muka dengannya. Aku juga tak mau dia terus menatapku dalam jarak yang sangat dekat seperti sebelumnya.

Namun, sepertinya pria itu tak peduli. Meski aku jauh, aku tetap bisa melihat tatapan mata itu dan senyum smirk yang membuat bulu kudukku meremang.

"Kenapa dia terus menatapku begitu?" kataku pada diri sendiri.

"Kau bicara dengan siapa, Bi?" Riana, teman seprofesiku, bertanya heran.

"Hah! Apa?" Aku pura-pura tidak tahu maksud pertanyaannya.

"Kau tadi bicara dengan siapa?" katanya lagi, kali ini sembari berjalan saat mendengar suara bel food checker dari arah dapur.

"Tidak ada," jawabku tak peduli. Sebab Riana juga sudah berlalu pergi.

Aku pikir pria itu tidak menotice-ku sebab tak ada pergerakan selain menikmati makanannya serta bincang-bincang yang sekilas aku dengar obrolan bisnis. Sialnya, tebakanku keliru.

Setelah aku bisa bernapas lega setelah si pria dan temannya pergi dari restoran, malam pukul sebelas saat aku pulang, aku dikejutkan dengan tarikan tangan seseorang yang membuatku terpojok di sudut parkiran.

"Apa-apaan ini—"

Aku tak bisa menyelesaikan kalimatku sebab sebuah ciuman datang menyerang secara tiba-tiba.

Aroma ini...

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sudah Cukup, Tuan!    Bab 7

    "Kau jangan gila, Bia. Untuk apa menghubunginya? Untuk kembali melakukan hal yang dilarang oleh Tuhan, begitu?"Suara hatiku bergaung saat aku mencari kartu nama si pria beraroma amber semalam. Pergerakanku terhenti meski kertas berukuran kecil itu sudah ku genggam. "Ah, benar. Kenapa aku berpikir pendek sekali. Seharusnya aku mencari cara yang halal. Ini buat biaya operasi ibu, kenapa aku malah menodainya dengan dosa."Pada akhirnya aku memilih mencari cara lain. Meminta pinjaman ke tempat bekerja, juga pada teman-teman yang dekat denganku. Termasuk Silvi yang sayangnya tidak bisa aku hubungi."Ah iya, besok bukannya ia ulang tahun. Jadi, mungkin saja ia sibuk mempersiapkan semuanya."Meski sangsi kalau Silvi akan mengurusi sendiri urusan pestanya, tapi hatiku memilih untuk tak melanjutkan mem-follow up-nya. Sedikit sungkan sebetulnya karena hubungan pertemanan kami yang tidak terlalu dekat. Cuma ... ya, karena dia kaya setidaknya ada secercah harapan bagiku.'Tapi, sayang nomornya

  • Sudah Cukup, Tuan!    Bab 6

    Belum lama menikmati kenikmatan alam bawah sadar, tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara gedoran pintu, plus teriakan samar Bu Yana dari luar. Perlahan aku membuka mata. Mengerjap beberapa kali demi beradaptasi dengan ruangan kamar yang mulai terang. "Mbak Bia! Mbak!"Suara teriakan dan gedoran pintu kembali terdengar. Dan kali ini suaranya semakin jelas setelah aku berhasil membuka mata. Suara itu panik. Takut. Tak perlu stretching seperti yang biasanya aku lakukan saat bangun tidur. Bergegas aku membuka pintu dan melihat ekspresi panik pada sosok wanita di depanku. "Ada apa, Bu Yana?"Aku sedikit heran sebab keberadaannya di rumah pagi-pagi sekali. Tapi, hal itu aku abaikan demi ingin mengetahui alasannya mengganggu waktu istirahatku. "Mbak ... Ibu, Mbak!""Ibu kenapa?" tanyaku tak mengerti. Tapi, jujur saja aku mulai khawatir. "Ibu pingsan. Banyak keluar darah." Muka Bu Yana terlihat panik dan ketakutan, menular padaku."Apa!"Segera aku berlari ke kamar ibu. Di sana, aku meli

  • Sudah Cukup, Tuan!    Bab 5

    Aku terbelalak kaget. Kedua mataku membola saat melihat mata terpejam di depanku. Aroma amber. Aku sangat ingat. Baru beberapa saat lalu aku kembali menciumnya. Dan sekarang, aroma ini semakin tercium begitu kuat —anehnya, masih sama memabukkan. Beberapa detik kemudian aku baru tersadar. Sontak aku mendorong tubuh si pria berkemaja putih di depanku. Aku terengah. Dia juga. Namun, senyum smirk itu menghujam jantungku. Tangannya mengelap bibir, seolah ia baru saja menikmati hidangan yang lebih lezat dari calamari. "Anda? Apa yang Anda lakukan barusan?" tanyaku masih berusaha mengatur napas, tersengal.Mataku sinis menatapnya. Ku perhatikan penampilannya.'Ya Tuhan! Kenapa aku baru menyadari betapa tampannya lelaki yang sudah mengambil keperawananku ini,' batinku demi melihat dia yang terlihat sedikit berantakan ditambah penampilannya yang tidak formal dengan tangan kemeja yang digulung hingga lengan. Dia mengangkat bahu. "Hanya menikmati makanan bersama teman-temanku sebelum seseo

  • Sudah Cukup, Tuan!    Bab 4

    "Maafkan saya, Bia. Saya tidak bisa memberimu izin lagi malam ini. Kamu sudah empat kali izin pulang cepat dalam satu bulan ini."Manajer restoran tempatku bekerja, menolak izinku yang ingin pulang cepat."Tapi, Pak, ibu saya sendirian di rumah." Aku masih mencoba bernegosiasi. Tentu saja dengan tampang memelas —khas anak kecil yang merengek minta jajan. Lelaki beranak dua itu tetap menggeleng, "Sorry, kali ini saya benar-benar tidak bisa membantumu. Anak-anak yang lain akan menganggap saya pilih kasih seandainya terus menerus memberimu pengurangan jam kerja."Aku pun pasrah. Mau tak mau aku meminta Bu Yana untuk tinggal lebih lama —minimal sampai ayah pulang. "Saya akan memberi lebih di akhir bulan nanti." Pesan yang aku kirim ke Bu Yana, yang membuatku harus menarik napas panjang. 'Aku harus semakin mengikat perut,' batinku bicara. Namun, seketika aku teringat dengan sisa uang —hasil dari mencairkan cek kemarin."Kalau begitu, saya izin ke belakang dulu ya, Pak," kataku pada man

  • Sudah Cukup, Tuan!    Bab 3

    Aku sudah janjian dengan ayah untuk menemuiku di perpustakaan kampus lusa kemudian. Ancaman Ayah beberapa waktu lalu, berhasil aku rayu dengan keyakinan bisa memberikan uang yang diminta. Cek yang sudah aku cairkan sebagian sudah tersimpan di dalam tas kresek yang aku masukan ke dalam goodie bag.Aku sengaja meminta ayah datang, dibanding harus bertemu di luar, yang persentasi bahayanya lebih besar. Satu jam setelah kelas selesai, ayah datang dengan penampilannya yang rapi. Aku harus mengakui akan sikapnya yang bisa menyesuaikan tempat. Tidak basa basi, langsung saja menanyakan maksudnya."Mana uangnya?" katanya sedikit berbisik setelah duduk berhadapan denganku. Ia tahu di mana posisi kami sekarang. Aku mengangkat goodie bag dan meletakkannya di atas meja. Tak ada suara, langsung saja menyerahkan tas itu. "Apakah sesuai jumlahnya dengan yang aku minta?" katanya lagi, kali ini dengan wajah sumringah. "Aku enggak mau kesehatan ibu memburuk karena perilaku Ayah. Jadi, aku minta j

  • Sudah Cukup, Tuan!    Bab 2

    Namaku Shabia. Tapi, orang-orang selalu memanggilku Bia. Tak ada nama panjang atau nama keluarga, seolah tak ada yang istimewa dengan latar belakang keluargaku.Aku baru turun dari taksi ketika melihat seorang lelaki paruh baya yang sepertinya tengah menungguku di depan teras. Dengan sebatang rokok di mulutnya juga secangkir kopi —yang sepertinya sudah dingin, menatap marah padaku. "Kemana saja kamu? Jam segini baru pulang," katanya sambil berdiri. "Tumben sekali Ayah peduli." Aku menjawab sinis. Ku lihat ia melotot. "Anak kurang ajar! Sudah berani kamu sekarang."Aku tersenyum mengejek. "Aku tidak pernah takut kalau saja Ayah tidak memakai ibu sebagai ancaman."Lelaki yang ku panggil 'ayah' itu membalasku dengan senyum yang sama. "Makanya, jangan macam-macam kalau kamu masih mau ibumu hidup.""Ayah benar-benar jahat. Bagaimana Ayah bisa tega pada perempuan yang Ayah cintai itu." Aku melotot, menatap benci. "Haha! Cinta katamu? Perempuan penyakitan itu tidak pantas aku cintai," ka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status