LOGIN"Maafkan saya, Bia. Saya tidak bisa memberimu izin lagi malam ini. Kamu sudah empat kali izin pulang cepat dalam satu bulan ini."
Manajer restoran tempatku bekerja, menolak izinku yang ingin pulang cepat. "Tapi, Pak, ibu saya sendirian di rumah." Aku masih mencoba bernegosiasi. Tentu saja dengan tampang memelas —khas anak kecil yang merengek minta jajan. Lelaki beranak dua itu tetap menggeleng, "Sorry, kali ini saya benar-benar tidak bisa membantumu. Anak-anak yang lain akan menganggap saya pilih kasih seandainya terus menerus memberimu pengurangan jam kerja." Aku pun pasrah. Mau tak mau aku meminta Bu Yana untuk tinggal lebih lama —minimal sampai ayah pulang. "Saya akan memberi lebih di akhir bulan nanti." Pesan yang aku kirim ke Bu Yana, yang membuatku harus menarik napas panjang. 'Aku harus semakin mengikat perut,' batinku bicara. Namun, seketika aku teringat dengan sisa uang —hasil dari mencairkan cek kemarin. "Kalau begitu, saya izin ke belakang dulu ya, Pak," kataku pada manajer. "Hem. Jangan lama-lama, ya. Pengunjung sudah mulai berdatangan. Yang shift middle sudah mau pulang." "Oke." Aku pun bergegas pergi ke ruang loker —sebelum karyawan yang mau pulang datang. Ku buka buku catatan hutang, yang masih menumpuk dan belum aku selesaikan. Uang hasil dari 'menjual diri' baru aku keluarkan untuk membayar hutang-hutang ayah. Dan ternyata, aku masih memiliki banyak hutang yang belum aku bayarkan, bahkan jauh sebelum ibu jatuh sakit. "Biaya pengobatan ibu yang lumayan menguras kantong karena aku tak punya asuransi kesehatan," kataku pada diri sendiri. Akhirnya, sebelum mulai bekerja, aku rekap semua catatan hutang yang harus aku lunasi. Semua, tanpa terkecuali. Termasuk hutang-hutang kecil seperti ke warung sayur dan sembako, warteg, bahkan tukang poto copy sebelah kampus. Lima belas menit, selesai. Aku kembali ke area depan untuk memulai pekerjaan. Hatiku sedikit lega karena akhirnya bisa menuntaskan semua amanah yang selama ini membuat tidurku tak tenang, walau pun uang yang aku dapatkan akhirnya habis. Namun, rasa lega karena beban hutang yang hilang seketika sirna saat aku hendak mengantarkan makanan ke meja pelanggan. Aku dibuat terkejut dengan sosok pria yang duduk bersama beberapa pria lainnya di salah satu meja dekat area kasir. Dua piring calamari ku hidangkan di atas meja. Aku pura-pura tak melihat sosok pria tersebut. Namun, aku dibuat terkejut dengan tatapan mata berwarna coklat itu yang tajam ke arahku. Dan jangan lupa wangi amber yang begitu aku kenali. Anehnya orang-orang yang bersamanya seperti tak menyadari sikapnya itu. Mereka —kumpulan eksekutif muda, malah terlihat tertarik dengan makanan yang datang, sembari membicarakan hal-hal yang tidak aku mengerti. "Apa masih ada pesanan yang belum datang?" tanyaku memastikan sebelum pergi. Mereka saling menatap, lalu memeriksa makanan di atas meja. Sekali lagi, aku berusaha tidak menatap pria bermata coklat itu. "Sudah semua, Mbak. Terima kasih." Salah seorang pria dengan jas berwarna navy bicara dan tersenyum padaku. "Baik. Selamat menikmati hidangannya." Aku pun bergegas pergi. Tidak cepat, masih berusaha dengan ritme yang wajar. Setelah tiba di area belakang, reflek aku menyandarkan punggung di dinding dapur. Seorang food checker menatap dan berkata, "Kau kenapa, Bi?" "Ah, tidak ada apa-apa," kataku menggeleng. Aku pun bergegas pindah tempat. Kali ini aku memilih untuk stand by di area yang jauh dengan meja itu. Aku tak mau bertemu muka dengannya. Aku juga tak mau dia terus menatapku dalam jarak yang sangat dekat seperti sebelumnya. Namun, sepertinya pria itu tak peduli. Meski aku jauh, aku tetap bisa melihat tatapan mata itu dan senyum smirk yang membuat bulu kudukku meremang. "Kenapa dia terus menatapku begitu?" kataku pada diri sendiri. "Kau bicara dengan siapa, Bi?" Riana, teman seprofesiku, bertanya heran. "Hah! Apa?" Aku pura-pura tidak tahu maksud pertanyaannya. "Kau tadi bicara dengan siapa?" katanya lagi, kali ini sembari berjalan saat mendengar suara bel food checker dari arah dapur. "Tidak ada," jawabku tak peduli. Sebab Riana juga sudah berlalu pergi. Aku pikir pria itu tidak menotice-ku sebab tak ada pergerakan selain menikmati makanannya serta bincang-bincang yang sekilas aku dengar obrolan bisnis. Sialnya, tebakanku keliru. Setelah aku bisa bernapas lega setelah si pria dan temannya pergi dari restoran, malam pukul sebelas saat aku pulang, aku dikejutkan dengan tarikan tangan seseorang yang membuatku terpojok di sudut parkiran. "Apa-apaan ini—" Aku tak bisa menyelesaikan kalimatku sebab sebuah ciuman datang menyerang secara tiba-tiba. Aroma ini... ***Aku tidak tahu berapa lama tertidur. Yang jelas ketika mataku perlahan terbuka, cahaya matahari sudah berubah lebih terang di balik tirai jendela ruang rawat kamar ibu.Leherku pegal karena posisi tidur yang buruk. Tanganku masih menggenggam tangan ibu yang hangat di atas ranjang.Aku berkedip pelan, mencoba mengumpulkan kesadaran. Suara televisi kecil terdengar pelan dari sudut ruangan. Aroma bubur rumah sakit samar tercium di udara.“Ibu?”Suaraku serak. Aku melihatnya memandangku dalam diam. Ibu sudah bangun. Dan beliau menatapku sambil tersenyum kecil meski wajahnya masih terlihat lemah.“Kamu tidur di situ?”Aku buru-buru duduk tegak dan mengusap wajah. “Ketiduran sedikit.”“Sedikit?” Ibu tertawa kecil pelan. “Leher kamu sampai miring begitu.”Aku ikut tertawa tipis, meski rasa bersalah langsung muncul lagi.“Maaf. Harusnya aku datang lebih pagi.”“Kamu habis kerja malam lagi?”Pertanyaan itu membuatku diam sepersekian detik terlalu lama.“Iya.”Ibu menghela napas kecil.“Kamu k
Aku buru-buru masuk ke dalam lobi tanpa menoleh lagi.Namun sebelum pintu kaca otomatis menutup sepenuhnya, pantulan mobil hitam itu masih terlihat samar di kaca. Tian belum pergi.'Memangnya dia tidak kerja?' gerutuku dalam hati masih berjalan dengan leher memutar ke belakang. Pendingin ruangan rumah sakit langsung menyambut kulitku yang masih terkena udara pagi. Aroma antiseptik dan suara langkah kaki perawat membuat kepalaku sedikit lebih tenang.Sedikit.Aku berjalan cepat menuju lift sambil menunduk memeriksa ponsel. Tidak ada pesan baru. Tidak ada kabar dari Bu Yana juga.Syukurlah.Lift terbuka di lantai rawat inap VIP. Begitu keluar, langkahku otomatis melambat.Dua pria berpakaian hitam berdiri tidak jauh dari ruang rawat ibu. Dengan tas selempang dan ransel, aku berjalan mendekat. Setelah dekat pintu, aku langsung berhenti.Mereka melihat ke arahku hampir bersamaan, lalu salah satunya sedikit menundukkan kepala.“Pagi, Mbak.”Aku mengenali wajah itu samar. Salah satu penga
Mobil Tian melaju tenang di jalanan pagi yang masih lengang.Aku duduk diam sambil menatap keluar jendela. Kepalaku masih berat kurang tidur, dan suasana di dalam mobil terlalu sunyi untuk ukuran kami.Tian menyetir dengan satu tangan. Sesekali ia melirik ke arahku sebentar sebelum kembali fokus ke jalan.“Kau tidur cuma dua jam.”“Kenapa masih membicarakan jam tidur saya?”“Karena aku tidak mau kau sakit. Aku membayarmu tidak untuk itu.”Aku menoleh pelan. Nada suaranya datar. Sangat Tian.Dan anehnya, itu justru terasa lebih aman daripada saat ia bicara terlalu lembut tadi pagi.“Saya masih bisa kerja.”“Kau kerja di dua tempat, kuliah, lalu bolak-balik rumah sakit.” Ia mengetuk pelan setir. “Kalau tumbang, itu merepotkan.”Aku mendengus kecil. “Ternyata saya cuma investasi.”“Kau memang investasi mahal.” Jawaban itu keluar cepat tanpa rasa bersalah sedikit pun.Aku memalingkan wajah lagi ke jendela.'Ya. Benar. Ini memang hubungan transaksional sejak awal.'Baru saja aku terbuai de
Ponsel itu terus bergetar di atas meja.Silvi Calling.Aku langsung memalingkan wajah, seolah dengan begitu nama itu tidak terlalu tajam terdengar.“Tolong angkat,” kataku cepat. “Dia tunangan Anda.”Tian tidak langsung bergerak. Tatapannya justru masih tertahan padaku beberapa detik lamanya sebelum akhirnya ia meraih ponsel itu.Dan entah kenapa, aku membenci caranya tetap menatapku bahkan saat ia menerima panggilan dari perempuan lain di depanku.Ia menerima panggilan.“Halo.”Suara Silvi langsung terdengar ceria dari speaker kecil ponsel.“Kamu udah bangun? Aku dari tadi nyari kamu.”Aku buru-buru berjalan menjauh beberapa langkah, pura-pura sibuk memeriksa isi tas. Memberi ruang. Atau mungkin menyelamatkan diriku sendiri.“Sudah,” jawab Tian singkat, masih menatapku. “Oh ya, kamu tidak lupa hari ini kita fitting terakhir? Mama ingetin aku barusan.”Fitting.Kata itu menghantam aneh di dadaku.Tentu saja mereka harus fitting sebab besok hari istimewa keduanya terjadi. Aku menundu
Keesokan paginya aku terbangun lebih dulu.Langit di balik tirai hotel masih gelap. Kota belum benar-benar hidup, hanya suara samar kendaraan dari bawah yang terdengar sesekali.Aku memejamkan mata lagi beberapa detik, mencoba mengumpulkan kesadaran yang masih berantakan.Tubuhku terasa lelah. Hangat. Dan terlihat sadar pada keberadaan seseorang di sampingku.Tian masih tertidur.Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, aku melihat lelaki itu dalam keadaan benar-benar tenang. Tidak dingin. Tidak penuh kuasa. Garis wajahnya terlihat lebih lembut saat tidur, membuatnya tampak lebih muda dari biasanya.Dan entah kenapa itu membuat dadaku aneh.Aku buru-buru mengalihkan pandangan. Semalam sudah cukup membuat pikiranku kacau.Aku bergerak perlahan, berniat turun dari ranjang tanpa membangunkannya. Namun baru saja kakiku menyentuh lantai, sebuah tangan melingkar di pinggangku.“Jam berapa?” suaranya serak khas orang baru bangun tidur.Aku menahan napas.“Masih sangat pagi.”“Hmm.”Pelukanny
Tenggorokanku tercekat.Tak pernah Tian melakukan ini.Dengan pakaiannya yang masih lengkap, air akhirnya membuat semua yang melekat di tubuhnya basah.Aku membeku. Tak mampu bereaksi ketika tangan besar itu mulai meraba dan menjelajah.“Aku bantu.” Lagi, ia bicara. Suaranya rendah. Tepat di dekat telingaku.Aku refleks menahan pergelangan tangannya.“P-Pak Tian…”Dia diam sebentar. Lalu perlahan membalik tubuhku menghadap dirinya."Tian."Aku mendongak. Dan saat itu tatapan kami bertemu. Air terus jatuh membasahi wajah kami. Kemeja putihnya kini menempel di tubuh, memperlihatkan garis tegas di balik kain yang basah. Rambutnya ikut lembap, beberapa helai jatuh ke dahinya.Dan tatapan itu, tidak dingin. Justru terlalu lembut hingga membuatku gugup.“Kau takut?” tanyanya pelan.Aku menggeleng cepat. “Tidak.”“Kau gemetar.”“Itu karena dingin.”Dan malu. Aku menambahkan.“Kau bohong lagi.”Aku mendelik pelan, tapi napasku sudah berantakan lebih dulu.Tangannya naik menyentuh pipiku. Ha







