Share

Bab 5

Author: Ummu Amay
last update publish date: 2026-02-13 19:09:50

Aku terbelalak kaget. Kedua mataku membola saat melihat mata terpejam di depanku.

Aroma amber.

Aku sangat ingat. Baru beberapa saat lalu aku kembali menciumnya. Dan sekarang, aroma ini semakin tercium begitu kuat —anehnya, masih sama memabukkan.

Beberapa detik kemudian aku baru tersadar. Sontak aku mendorong tubuh si pria berkemaja putih di depanku.

Aku terengah. Dia juga. Namun, senyum smirk itu menghujam jantungku. Tangannya mengelap bibir, seolah ia baru saja menikmati hidangan yang lebih lezat dari calamari.

"Anda? Apa yang Anda lakukan barusan?" tanyaku masih berusaha mengatur napas, tersengal.

Mataku sinis menatapnya. Ku perhatikan penampilannya.

'Ya Tuhan! Kenapa aku baru menyadari betapa tampannya lelaki yang sudah mengambil keperawananku ini,' batinku demi melihat dia yang terlihat sedikit berantakan ditambah penampilannya yang tidak formal dengan tangan kemeja yang digulung hingga lengan.

Dia mengangkat bahu. "Hanya menikmati makanan bersama teman-temanku sebelum seseorang mengacuhkan keberadaanku di dalam tadi. Padahal baru dua hari yang lalu kami menikmati malam yang begitu panas dan penuh gairah. Yang sialnya berakhir dengan ditinggalkan setelah dia mendapatkan uang," katanya yang sontak membuatku bereaksi.

"Jangan mengatakan hal konyol. Urusan kita berdua sudah selesai saat Anda memberikan saya cek." Aku menatap emosi.

"Lagipula, ini sangat lucu. Apa yang membuat Anda terganggu ketika ada seseorang yang mengabaikan keberadaan Anda? Apakah Anda seorang narsistik, di mana semua orang harus memperhatikan dan memuja Anda? Harus mengingat dan me-notice Anda, begitu?" lanjutku.

Pria itu tersenyum. Lalu, kembali menarik tubuhku, "Ya. Aku memang orang yang dimaksud," katanya santai. "Jadi, sekarang kau tahu kenapa aku kesal saat kau pura-pura tidak melihat ke arahku tadi, terlebih setelah apa yang sudah kau lakukan sebelumnya," katanya dengan wajah kesal.

Ingin aku tertawa. Sebetulnya, lelaki macam apa yang berdiri di depanku ini?

Dilihat dari penampilannya, aku yakin dia termasuk golongan eksekutif muda, CEO perusahaan yang diwariskan oleh orang tua mereka yang berasal dari keluarga kaya raya.

Tapi, melihat tingkah dan bicaranya, mengapa dia tidak mencerminkan orang-orang dari kalangan atas? Aku tidak melihat sikap dingin ala-ala CEO yang sering aku baca dari novel-novel romansa. Meski awalnya sikapnya angkuh, tapi lama kelamaan sifat itu memudar seiring interaksi yang terjadi di antara kami berdua.

Aku berusaha melepaskan tangannya, "Tapi, sikap Anda yang tiba-tiba mencium saya, itu sangat tidak masuk akal. Kesalahan saya tidak sebanding dengan apa yang Anda lakukan." Aku mencoba protes dan tetap tak berhasil membebaskan diri.

Bukannya menjawab, pria itu malah mendekatkan wajahnya dan menempelkan tubuhnya denganku.

"Lepaskan saya!" Aku memberontak sembari memukul-mukul dadanya. Tapi, ia tak bergeming. Malahan senyum menyebalkan itu kembali hadir seiring wajahnya yang mendekat.

"Jangan macam-macam. Aku akan teri—!"

Lagi-lagi ia menciumku. Kali ini lebih dalam, bahkan pukulanku tidak mempan baginya. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk menggigit bibirnya, dan berhasil. Pagutan kami pun terlepas.

Plak!

Sebuah tamparan keras mengenai pipinya. Warna kemerahan hadir di pipinya yang mulus. Bahkan ada sedikit darah yang muncul di bibirnya —hasil keberanianku.

Namun, meski aku telah melakukan tindakan kekerasan, ia tetap tersenyum. Setelahnya, ia pun pergi dengan langkah santai dan —seolah ceria.

Saat aku masih syok dan hanya mampu memandangnya dari belakang, tiba-tiba ia berhenti dan berbalik.

"Lusa sesuai permintaanku, sisa uang kemarin akan aku berikan," katanya sembari melemparkan kartu nama ke arahku.

"Tidak ada lusa atau hari-hari yang lain!" teriakku marah, dan dia terlihat tak peduli.

Kemudian ia pun kembali melangkah, menghilang di ujung tiang —mungkin menuju mobilnya.

Baru beberapa saat lamanya aku tersadar. Tubuhku terkulai lemas paska kejadian tak mengenakkan yang baru aku alami. Aku pun terduduk di lantai parkiran. Tak tahu harus apa setelah aksi tak senonoh dilakukan seorang pria asing terhadapku.

Aku melihat kartu berwarna hitam dan emas dengan nama yang sesuai pada cek yang pernah diberikan, beserta jabatan dan perusahaan tempatnya bekerja.

Tian Mahendra

CEO PT. Global Gemilang Persada (GGP)

**

Aku sampai di rumah saat waktu menjelang tengah malam. Bu Yana sudah tak ada sebab ayah sudah pulang saat aku selesai bekerja tadi.

Ibu sudah tidur ketika aku sampai. Ayah sendiri terlihat tertidur di sofa depan TV yang masih menyala. Suara dengkurannya terdengar, memenuhi ruangan yang sempit.

Tak ada yang banyak aku lakukan selain masuk kamar, membersihkan diri, lalu berniat tidur. Tapi, mataku tak mau terpejam demi mengingat peristiwa di parkiran tadi.

"Lusa dia berharap aku datang. Untuk apa? Kalau ia menganggap aku seorang pel*cur, seharusnya ia tak mencariku. Sebab bukankah orang-orang yang gemar 'jajan' akan mencari kepuasan baru. Bukan dengan memakai orang yang sama," kataku berbicara sendiri.

Tak mengerti jalan pikiran si pria asing, aku pun memilih untuk memaksa memejamkan mata, meski akhirnya baru bisa benar-benar tertidur menjelang subuh saat mendengar suara dari arah kamar ibu.

'Mungkin ibu sudah bangun,' batinku, tak lama aku terlelap.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sudah Cukup, Tuan!    Bab 52

    Aku tidak tahu berapa lama tertidur. Yang jelas ketika mataku perlahan terbuka, cahaya matahari sudah berubah lebih terang di balik tirai jendela ruang rawat kamar ibu.Leherku pegal karena posisi tidur yang buruk. Tanganku masih menggenggam tangan ibu yang hangat di atas ranjang.Aku berkedip pelan, mencoba mengumpulkan kesadaran. Suara televisi kecil terdengar pelan dari sudut ruangan. Aroma bubur rumah sakit samar tercium di udara.“Ibu?”Suaraku serak. Aku melihatnya memandangku dalam diam. Ibu sudah bangun. Dan beliau menatapku sambil tersenyum kecil meski wajahnya masih terlihat lemah.“Kamu tidur di situ?”Aku buru-buru duduk tegak dan mengusap wajah. “Ketiduran sedikit.”“Sedikit?” Ibu tertawa kecil pelan. “Leher kamu sampai miring begitu.”Aku ikut tertawa tipis, meski rasa bersalah langsung muncul lagi.“Maaf. Harusnya aku datang lebih pagi.”“Kamu habis kerja malam lagi?”Pertanyaan itu membuatku diam sepersekian detik terlalu lama.“Iya.”Ibu menghela napas kecil.“Kamu k

  • Sudah Cukup, Tuan!    Bab 51

    Aku buru-buru masuk ke dalam lobi tanpa menoleh lagi.Namun sebelum pintu kaca otomatis menutup sepenuhnya, pantulan mobil hitam itu masih terlihat samar di kaca. Tian belum pergi.'Memangnya dia tidak kerja?' gerutuku dalam hati masih berjalan dengan leher memutar ke belakang. Pendingin ruangan rumah sakit langsung menyambut kulitku yang masih terkena udara pagi. Aroma antiseptik dan suara langkah kaki perawat membuat kepalaku sedikit lebih tenang.Sedikit.Aku berjalan cepat menuju lift sambil menunduk memeriksa ponsel. Tidak ada pesan baru. Tidak ada kabar dari Bu Yana juga.Syukurlah.Lift terbuka di lantai rawat inap VIP. Begitu keluar, langkahku otomatis melambat.Dua pria berpakaian hitam berdiri tidak jauh dari ruang rawat ibu. Dengan tas selempang dan ransel, aku berjalan mendekat. Setelah dekat pintu, aku langsung berhenti.Mereka melihat ke arahku hampir bersamaan, lalu salah satunya sedikit menundukkan kepala.“Pagi, Mbak.”Aku mengenali wajah itu samar. Salah satu penga

  • Sudah Cukup, Tuan!    Bab 50

    Mobil Tian melaju tenang di jalanan pagi yang masih lengang.Aku duduk diam sambil menatap keluar jendela. Kepalaku masih berat kurang tidur, dan suasana di dalam mobil terlalu sunyi untuk ukuran kami.Tian menyetir dengan satu tangan. Sesekali ia melirik ke arahku sebentar sebelum kembali fokus ke jalan.“Kau tidur cuma dua jam.”“Kenapa masih membicarakan jam tidur saya?”“Karena aku tidak mau kau sakit. Aku membayarmu tidak untuk itu.”Aku menoleh pelan. Nada suaranya datar. Sangat Tian.Dan anehnya, itu justru terasa lebih aman daripada saat ia bicara terlalu lembut tadi pagi.“Saya masih bisa kerja.”“Kau kerja di dua tempat, kuliah, lalu bolak-balik rumah sakit.” Ia mengetuk pelan setir. “Kalau tumbang, itu merepotkan.”Aku mendengus kecil. “Ternyata saya cuma investasi.”“Kau memang investasi mahal.” Jawaban itu keluar cepat tanpa rasa bersalah sedikit pun.Aku memalingkan wajah lagi ke jendela.'Ya. Benar. Ini memang hubungan transaksional sejak awal.'Baru saja aku terbuai de

  • Sudah Cukup, Tuan!    Bab 49

    Ponsel itu terus bergetar di atas meja.Silvi Calling.Aku langsung memalingkan wajah, seolah dengan begitu nama itu tidak terlalu tajam terdengar.“Tolong angkat,” kataku cepat. “Dia tunangan Anda.”Tian tidak langsung bergerak. Tatapannya justru masih tertahan padaku beberapa detik lamanya sebelum akhirnya ia meraih ponsel itu.Dan entah kenapa, aku membenci caranya tetap menatapku bahkan saat ia menerima panggilan dari perempuan lain di depanku.Ia menerima panggilan.“Halo.”Suara Silvi langsung terdengar ceria dari speaker kecil ponsel.“Kamu udah bangun? Aku dari tadi nyari kamu.”Aku buru-buru berjalan menjauh beberapa langkah, pura-pura sibuk memeriksa isi tas. Memberi ruang. Atau mungkin menyelamatkan diriku sendiri.“Sudah,” jawab Tian singkat, masih menatapku. “Oh ya, kamu tidak lupa hari ini kita fitting terakhir? Mama ingetin aku barusan.”Fitting.Kata itu menghantam aneh di dadaku.Tentu saja mereka harus fitting sebab besok hari istimewa keduanya terjadi. Aku menundu

  • Sudah Cukup, Tuan!    Bab 48

    Keesokan paginya aku terbangun lebih dulu.Langit di balik tirai hotel masih gelap. Kota belum benar-benar hidup, hanya suara samar kendaraan dari bawah yang terdengar sesekali.Aku memejamkan mata lagi beberapa detik, mencoba mengumpulkan kesadaran yang masih berantakan.Tubuhku terasa lelah. Hangat. Dan terlihat sadar pada keberadaan seseorang di sampingku.Tian masih tertidur.Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, aku melihat lelaki itu dalam keadaan benar-benar tenang. Tidak dingin. Tidak penuh kuasa. Garis wajahnya terlihat lebih lembut saat tidur, membuatnya tampak lebih muda dari biasanya.Dan entah kenapa itu membuat dadaku aneh.Aku buru-buru mengalihkan pandangan. Semalam sudah cukup membuat pikiranku kacau.Aku bergerak perlahan, berniat turun dari ranjang tanpa membangunkannya. Namun baru saja kakiku menyentuh lantai, sebuah tangan melingkar di pinggangku.“Jam berapa?” suaranya serak khas orang baru bangun tidur.Aku menahan napas.“Masih sangat pagi.”“Hmm.”Pelukanny

  • Sudah Cukup, Tuan!    Bab 47

    Tenggorokanku tercekat.Tak pernah Tian melakukan ini.Dengan pakaiannya yang masih lengkap, air akhirnya membuat semua yang melekat di tubuhnya basah.Aku membeku. Tak mampu bereaksi ketika tangan besar itu mulai meraba dan menjelajah.“Aku bantu.” Lagi, ia bicara. Suaranya rendah. Tepat di dekat telingaku.Aku refleks menahan pergelangan tangannya.“P-Pak Tian…”Dia diam sebentar. Lalu perlahan membalik tubuhku menghadap dirinya."Tian."Aku mendongak. Dan saat itu tatapan kami bertemu. Air terus jatuh membasahi wajah kami. Kemeja putihnya kini menempel di tubuh, memperlihatkan garis tegas di balik kain yang basah. Rambutnya ikut lembap, beberapa helai jatuh ke dahinya.Dan tatapan itu, tidak dingin. Justru terlalu lembut hingga membuatku gugup.“Kau takut?” tanyanya pelan.Aku menggeleng cepat. “Tidak.”“Kau gemetar.”“Itu karena dingin.”Dan malu. Aku menambahkan.“Kau bohong lagi.”Aku mendelik pelan, tapi napasku sudah berantakan lebih dulu.Tangannya naik menyentuh pipiku. Ha

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status