Se connecterAku terbelalak kaget. Kedua mataku membola saat melihat mata terpejam di depanku.
Aroma amber. Aku sangat ingat. Baru beberapa saat lalu aku kembali menciumnya. Dan sekarang, aroma ini semakin tercium begitu kuat —anehnya, masih sama memabukkan. Beberapa detik kemudian aku baru tersadar. Sontak aku mendorong tubuh si pria berkemaja putih di depanku. Aku terengah. Dia juga. Namun, senyum smirk itu menghujam jantungku. Tangannya mengelap bibir, seolah ia baru saja menikmati hidangan yang lebih lezat dari calamari. "Anda? Apa yang Anda lakukan barusan?" tanyaku masih berusaha mengatur napas, tersengal. Mataku sinis menatapnya. Ku perhatikan penampilannya. 'Ya Tuhan! Kenapa aku baru menyadari betapa tampannya lelaki yang sudah mengambil keperawananku ini,' batinku demi melihat dia yang terlihat sedikit berantakan ditambah penampilannya yang tidak formal dengan tangan kemeja yang digulung hingga lengan. Dia mengangkat bahu. "Hanya menikmati makanan bersama teman-temanku sebelum seseorang mengacuhkan keberadaanku di dalam tadi. Padahal baru dua hari yang lalu kami menikmati malam yang begitu panas dan penuh gairah. Yang sialnya berakhir dengan ditinggalkan setelah dia mendapatkan uang," katanya yang sontak membuatku bereaksi. "Jangan mengatakan hal konyol. Urusan kita berdua sudah selesai saat Anda memberikan saya cek." Aku menatap emosi. "Lagipula, ini sangat lucu. Apa yang membuat Anda terganggu ketika ada seseorang yang mengabaikan keberadaan Anda? Apakah Anda seorang narsistik, di mana semua orang harus memperhatikan dan memuja Anda? Harus mengingat dan me-notice Anda, begitu?" lanjutku. Pria itu tersenyum. Lalu, kembali menarik tubuhku, "Ya. Aku memang orang yang dimaksud," katanya santai. "Jadi, sekarang kau tahu kenapa aku kesal saat kau pura-pura tidak melihat ke arahku tadi, terlebih setelah apa yang sudah kau lakukan sebelumnya," katanya dengan wajah kesal. Ingin aku tertawa. Sebetulnya, lelaki macam apa yang berdiri di depanku ini? Dilihat dari penampilannya, aku yakin dia termasuk golongan eksekutif muda, CEO perusahaan yang diwariskan oleh orang tua mereka yang berasal dari keluarga kaya raya. Tapi, melihat tingkah dan bicaranya, mengapa dia tidak mencerminkan orang-orang dari kalangan atas? Aku tidak melihat sikap dingin ala-ala CEO yang sering aku baca dari novel-novel romansa. Meski awalnya sikapnya angkuh, tapi lama kelamaan sifat itu memudar seiring interaksi yang terjadi di antara kami berdua. Aku berusaha melepaskan tangannya, "Tapi, sikap Anda yang tiba-tiba mencium saya, itu sangat tidak masuk akal. Kesalahan saya tidak sebanding dengan apa yang Anda lakukan." Aku mencoba protes dan tetap tak berhasil membebaskan diri. Bukannya menjawab, pria itu malah mendekatkan wajahnya dan menempelkan tubuhnya denganku. "Lepaskan saya!" Aku memberontak sembari memukul-mukul dadanya. Tapi, ia tak bergeming. Malahan senyum menyebalkan itu kembali hadir seiring wajahnya yang mendekat. "Jangan macam-macam. Aku akan teri—!" Lagi-lagi ia menciumku. Kali ini lebih dalam, bahkan pukulanku tidak mempan baginya. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk menggigit bibirnya, dan berhasil. Pagutan kami pun terlepas. Plak! Sebuah tamparan keras mengenai pipinya. Warna kemerahan hadir di pipinya yang mulus. Bahkan ada sedikit darah yang muncul di bibirnya —hasil keberanianku. Namun, meski aku telah melakukan tindakan kekerasan, ia tetap tersenyum. Setelahnya, ia pun pergi dengan langkah santai dan —seolah ceria. Saat aku masih syok dan hanya mampu memandangnya dari belakang, tiba-tiba ia berhenti dan berbalik. "Lusa sesuai permintaanku, sisa uang kemarin akan aku berikan," katanya sembari melemparkan kartu nama ke arahku. "Tidak ada lusa atau hari-hari yang lain!" teriakku marah, dan dia terlihat tak peduli. Kemudian ia pun kembali melangkah, menghilang di ujung tiang —mungkin menuju mobilnya. Baru beberapa saat lamanya aku tersadar. Tubuhku terkulai lemas paska kejadian tak mengenakkan yang baru aku alami. Aku pun terduduk di lantai parkiran. Tak tahu harus apa setelah aksi tak senonoh dilakukan seorang pria asing terhadapku. Aku melihat kartu berwarna hitam dan emas dengan nama yang sesuai pada cek yang pernah diberikan, beserta jabatan dan perusahaan tempatnya bekerja. Tian Mahendra CEO PT. Global Gemilang Persada (GGP) ** Aku sampai di rumah saat waktu menjelang tengah malam. Bu Yana sudah tak ada sebab ayah sudah pulang saat aku selesai bekerja tadi. Ibu sudah tidur ketika aku sampai. Ayah sendiri terlihat tertidur di sofa depan TV yang masih menyala. Suara dengkurannya terdengar, memenuhi ruangan yang sempit. Tak ada yang banyak aku lakukan selain masuk kamar, membersihkan diri, lalu berniat tidur. Tapi, mataku tak mau terpejam demi mengingat peristiwa di parkiran tadi. "Lusa dia berharap aku datang. Untuk apa? Kalau ia menganggap aku seorang pel*cur, seharusnya ia tak mencariku. Sebab bukankah orang-orang yang gemar 'jajan' akan mencari kepuasan baru. Bukan dengan memakai orang yang sama," kataku berbicara sendiri. Tak mengerti jalan pikiran si pria asing, aku pun memilih untuk memaksa memejamkan mata, meski akhirnya baru bisa benar-benar tertidur menjelang subuh saat mendengar suara dari arah kamar ibu. 'Mungkin ibu sudah bangun,' batinku, tak lama aku terlelap. ***"Sial." Aku mengutuk diriku sendiri dalam hati.Bagaimana mungkin aku bisa menghafal nomor pelat mobil seseorang?Bahkan nomor pelat motor Angga saja aku tidak tahu."Kok diam?" Hani menyipitkan mata, memperhatikanku.Aku buru-buru menggeleng. "Enggak.""Kamu sadar, kan?""Sadar apa?""Barusan kamu lega."Aku mengerutkan dahi."Lega? Maksudmu?""Iya." Hani mengangguk mantap. "Pas yang turun bukan Tian."Aku membuka mulut, hendak menyangkal. Namun urung.Karena ... memang benar. Aku lega.Entah karena tidak perlu bertemu dengannya lagi hari ini, atau karena tidak perlu menghadapi tatapan aneh teman-teman kampus untuk kedua kalinya."Aku cuma..." Aku mencari alasan yang masuk akal. "Capek."Hani tidak langsung membalas. Tatapannya justru semakin sulit kuterjemahkan."Bia.""Hm?""Aku enggak akan ikut campur."Aku menoleh."Tapi aku minta satu hal.""Apa?""Jangan bohong sama diri sendiri."Kalimat itu membuatku terdiam.Sebelum sempat membalas, Hani sudah lebih dulu mengembuskan napas.
"Seharusnya aku mencari cara supaya terlepas darinya."Kalimat itu terus berputar di kepalaku sampai jam kerjaku berakhir.Malam semakin larut ketika restoran akhirnya tutup. Aku membantu merapikan meja, menyusun kursi, lalu membersihkan area pelayanan seperti biasa."Bia."Aku menoleh. Angga sedang menggantung celemeknya."Pulang naik apa?""Ojek, seperti biasa.""Mau dianter?"Aku tersenyum kecil."Enggak usah. Hari ini sepupumu enggak manggil, 'kan?"Angga menggeleng."Enggak.""Ya sudah. Aku naik ojek saja.""Oke."Ia tidak memaksa. Itulah salah satu hal yang kusukai dari Angga. Perhatiannya selalu ada, tetapi tidak pernah berlebihan.Sementara aku membuka aplikasi untuk memesan ojek, Reina tiba-tiba menyenggol lenganku."Bi.""Hm?""Pak Tian enggak balik lagi, 'kan?"Aku langsung mendelik."Ngapain balik?""Ya siapa tahu. Enggak nungguin kamu juga 'kan di jalan?" tanyanya sembari celingak celinguk ke arah depan. "Enggak usah ngarang."Reina terkekeh."Soalnya akhir-akhir ini dia
Lima belas menit istirahatku hampir habis. Aku melirik jam tangan, lalu perlahan mendorong kursi ke belakang."Sepertinya aku harus kembali kerja."Silvi mengangguk mengerti."Iya. Maaf ya, jadi ganggu waktu istirahatmu.""Enggak kok."Aku berdiri sambil merapikan celemek. Satu sikap yang sengaja aku lakukan, supaya aku juga Tian sadar mengenai siapa diriku. "Terima kasih sudah mampir.""Harusnya kami yang bilang terima kasih."Aku mengangguk pelan. Sesaat sebelum berbalik, tanpa sengaja pandanganku bertemu dengan Tian.Pria itu masih diam.Namun entah kenapa, sejak tadi aku merasa ia beberapa kali ingin mengatakan sesuatu lalu mengurungkannya."Aku duluan."Silvi tersenyum. "Iya."Aku segera meninggalkan meja mereka. Semakin jauh melangkah, semakin ringan napasku.Setidaknya percakapan tadi tidak seburuk yang kubayangkan."Eh."Baru beberapa langkah, seseorang langsung menarik lenganku pelan.Reina."Wawancara selesai?"Aku mendengus."Lebih mirip sidang skripsi."Reina terkekeh."M
Waktu terasa berjalan jauh lebih lambat dari biasanya. Jarum jam seolah sengaja bergerak pelan hanya untuk menyiksaku.Pukul delapan lewat lima belas. Delapan lewat tiga puluh. Delapan lewat empat puluh lima.Dan setiap kali aku melirik ke arah meja dekat jendela, Silvi dan Tian masih ada di sana.Mereka makan. Sesekali berbicara. Sesekali Silvi tertawa.Dari kejauhan, mereka terlihat seperti pasangan yang sangat serasi. Dan mungkin memang begitu.Mereka berasal dari dunia yang sama. Lingkungan yang sama. Pergaulan yang sama.Sedangkan aku?Aku hanya seorang pelayan restoran yang kebetulan mengenal keduanya.Setidaknya itulah yang terus kuingatkan pada diriku sendiri."Bia."Aku tersentak. Reina tampak berdiri di sampingku sambil membawa nampan kosong."Kamu ngelamun.""Enggak.""Bohong."Aku langsung memutar mata.Kenapa semua orang hari ini suka sekali menuduhku berbohong?Pukul sembilan datang lebih cepat daripada yang kuharapkan. Atau mungkin karena sejak tadi aku terlalu sibuk me
Aku refleks menoleh ke arah lain. Tapi, terlambat.Karena detik berikutnya, senyum Silvi sudah mengembang. Dan dia langsung melambaikan tangan. Ke arahku."Bia!"Suaranya bahkan terdengar jelas di tengah ramainya restoran.Aku memejamkan mata.Selesai. Benar-benar selesai.Kalau siang tadi gosip kampus baru mulai tumbuh, malam ini gosip restoran akan langsung panen raya."Dia manggil kamu?" bisik Reina di sampingku."Sayangnya iya." Aku menyunggingkan senyum terpaksa. "Kenal?"Aku menoleh datar. "Menurutmu?"Reina langsung mengangguk cepat."Oke, aku enggak mau tahu kok!"Pembohong. Wajahnya jelas menunjukkan kalau dia sangat ingin tahu.Sementara itu, Silvi sudah berjalan mendekat. Di sampingnya, Tian ikut melangkah santai seolah tidak ada masalah apa pun di dunia ini. Padahal masalah terbesar dalam hidupku saat ini justru sedang berjalan di sebelahnya."Hai!" sapa Silvi begitu sampai di depan meja pelayanan.Aku memaksakan senyum profesional."Malam, Silvi.""Kamu kerja hari ini?"
Aku masih berdiri di tempat bahkan setelah Tian menghilang dari balik pintu perpustakaan.Beberapa detik. Lima detik. Sepuluh detik. Sampai akhirnya suara berdeham pelan terdengar dari meja sirkulasi.Aku menoleh.Dua mahasiswi yang sejak tadi berpura-pura membaca buku langsung buru-buru menunduk.Aku memejamkan mata. Selesai sudah. Benar-benar selesai.Hari ini gosip kampus akan berkembang lebih cepat daripada penyebaran virus."Bia."Aku menoleh ke arah Bu Rina, salah satu petugas perpustakaan senior."Iya, Bu?""Buku yang bagian katalog digital sudah selesai?"Aku langsung mengangguk."Sudah, Bu.""Kalau begitu lanjutkan.""Iya."Aku bersyukur beliau tidak bertanya apa pun.Karena jujur saja, aku sendiri tidak tahu harus menjelaskan apa.Ponselku bergetar tepat tiga menit kemudian. Aku bahkan tidak perlu melihat layar untuk tahu siapa pelakunya.Hani.Aku mengabaikannya. Namun, bergetar lagi. Dan aku tetap diam.Bergetar untuk ketiga kalinya. Akhirnya aku menyerah."Apa?"Suara Han
"Kau jangan gila, Bia. Untuk apa menghubunginya? Untuk kembali melakukan hal yang dilarang oleh Tuhan, begitu?"Suara hatiku bergaung saat aku mencari kartu nama si pria beraroma amber semalam. Pergerakanku terhenti meski kertas berukuran kecil itu sudah ku genggam. "Ah, benar. Kenapa aku berpikir
Belum lama menikmati kenikmatan alam bawah sadar, tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara gedoran pintu, plus teriakan samar Bu Yana dari luar. Perlahan aku membuka mata. Mengerjap beberapa kali demi beradaptasi dengan ruangan kamar yang mulai terang. "Mbak Bia! Mbak!"Suara teriakan dan gedoran pi
"Maafkan saya, Bia. Saya tidak bisa memberimu izin lagi malam ini. Kamu sudah empat kali izin pulang cepat dalam satu bulan ini."Manajer restoran tempatku bekerja, menolak izinku yang ingin pulang cepat."Tapi, Pak, ibu saya sendirian di rumah." Aku masih mencoba bernegosiasi. Tentu saja dengan ta
Aku sudah janjian dengan ayah untuk menemuiku di perpustakaan kampus lusa kemudian. Ancaman Ayah beberapa waktu lalu, berhasil aku rayu dengan keyakinan bisa memberikan uang yang diminta. Cek yang sudah aku cairkan sebagian sudah tersimpan di dalam tas kresek yang aku masukan ke dalam goodie bag.







