Share

Suddenly We Meet
Suddenly We Meet
Penulis: MaLa

Munculnya Masalah

"Sayang ... bisa ya?" rayu Ana kesekian kalinya. 

Sudah seminggu ini Ana mencoba membujuk kekasihnya Beni untuk menghadiri acara ulang tahun mamanya, tapi usahanya tetap saja sia-sia. Meskipun dari awal dia sudah menyiapkan hatinya untuk jawaban yang akan keluar dari mulut kekasihnya, tetap saja rasa kecewa itu masih ada.

Dia berlagak baik-baik saja di depan Beni, dan sialnya Beni mempercayainya.

Hubungan mereka seperti jalan di tempat, sama sekali tidak ada kemajuan. Walau sudah tujuh tahun mereka berpacaran, tapi satu sama lain belum juga sama-sama saling memahami. Setidaknya, itu yang dirasakan Ana.

Beberapa tahun belakangan ini, Beni selalu menolak diajak bertemu oleh kedua orang tua Ana, bahkan Ana lupa apa saja alasan dari kekasihnya itu karena saking banyaknya. 

Berawal dari acara ulang tahun mamanya yang keempat puluh empat tepatnya di tahun kelima mereka berpacaran, waktu itu Ana mengajak Beni untuk hadir, tetapi tanggapan kedua orang tua Ana memang sungguh di luar ekspektasi. Mereka, papa dan mama Ana yang biasanya ramah mendadak jadi orang yang paling menyebalkan, bahkan mamanya sampai meninggalkan acara demi menghindari Beni. 

Itu cukup aneh, sebab sebelumnya keluarga Ana mendukung sekali hubungan mereka berdua.

"Aku enggak bisa, An." 

Ana menyipitkan kedua matanya mencoba peruntungan siapa tahu dia bisa membaca pikiran sang kekasih, tapi dia lupa dia bukanlah seorang yang mempunyai kekuatan untuk hal semacam itu.

"Mau kamu mereka membahas gaji, bibit, bebet, bobot aku lagi?" 

Bahu Ana lemas seketika mendengar alasan terbaru dari sang kekasih. Alasan klasik yang selalu berubah-ubah di setiap tahunnya.

"Sayang, mereka cuma bertanya sama kamu." 

Ana tidak akan pernah patah arang berusaha meyakinkan kekasihnya agar bisa mendengarkan dirinya. Kali ini saja.

Permintaan dia cukup mudah sebenarnya, dia tidak pernah menuntut apa-apa kepada Beni, yang dia ingin hanya laki-laki itu menghadiri acara ulang tahun mamanya, itu saja tidak lebih. Lagi pula juga tidak setiap hari Ana mengajaknya untuk menemui orang tuanya, tapi kenapa sulit sekali diwujudkannya.

Beni bergerak kelimpungan mencari kata-kata yang pas agar dia tidak harus bertemu dengan orang tua Ana. "Mereka enggak suka sama aku An, bahkan mama kamu enggak mau nemuin aku.”

Ya, bukankah itu alasan yang paling tepat?

"Makanya ayo usaha, meyakinkan mereka Ben, aku butuh usaha kamu ... kita bujuk mereka sama-sama, ya, Ben? Please ...," mohon Ana.

"Aku hanya karyawan kantoran biasa Ana, ayahku cuma pegawai PNS biasa, dan ibuku hanya ibu rumah tangga, dari mananya aku bis--"

"Beeen!" 

Yang Ana harapkan adalah usaha Beni untuk meyakinkan kedua orang tuanya, juga untuk meyakinkan dirinya agar Ana yakin jika Beni benar-benar mencintainya, benar-benar mau memperjuangkan dirinya, itu saja. Karyawan biasa? Apa-apaan si Beni ini, memang dia pikir orang tuanya sematre itu apa?

Ana beranjak dari duduknya, ia menyerahkan kunci mobil miliknya kepada Beni. "Jam makan siang kamu sudah habis, kan sayang? Ayo..." Lebih baik ia memikirkan cara lain untuk membujuk Beni. Beni benar-benar sama keras kepalanya seperti dirinya.

Beni melepas seat belt-nya, mencium kening Ana tanpa banyak berkata-kata lagi, lalu akhirnya beranjak keluar. Ada jarak di antara mereka, tentu saja dan itu cukup bisa dilihat oleh Ana.

Ana selalu bertanya-tanya kepada dirinya sendiri. Apakah hubungan mereka terlalu lama? Sehingga bisa jadi Beni mulai merasa bosan dengan dirinya. Hal lain yang lebih mengerikan lagi adalah jika Beni memiliki kekasih lain karena hubungan mereka yang semakin lama semakin membosankan ini. Sebab dua tahun ini kekasihnya itu seperti menjaga jarak dengan dirinya, tidak salah kan dia berpikiran hal-hal semacam itu?

Ana menghela napas berat. "Apa yang harus aku lakuin?" Tentu saja ia hanya bisa berbicara dengan dirinya sendiri.

Ana ingin beralih ke kemudi ketika dilihatnya dompet Beni tertinggal di bangku sopir. Ia memutuskan untuk menyusul kekasihnya.

Ia mencoba menelepon kekasihnya setiba di kantor, berharap Beni akan segera keluar menemuinya.

"Ada yang bau, tapi bukan kotoran."

Ana menoleh ke sumber suara. Ia melihat seorang laki-laki bertubuh tinggi di sampingnya.

"Tapi apa ya? Perasaan gue tadi sebelum berangkat ngantor sudah mandi kembang tujuh rupa deh," ucap laki-laki itu lagi.

Ana memutar bola matanya jengah, mengetik pesan ke pada Beni. Ia berniat akan berbalik menuju ruang tunggu, menunda keinginannya masuk ke dalam lift. Dia tidak ingin repotrepot berurusan dengan manusia paling menyebalkan itu lagi.

“Ini gantungan kunci siapa sih? Bentuknya abstrak gini ... ini tikus?”

Ana menghentikan langkah kakinya ketika kata “tikus” lewat di telinganya. Begitu berbalik, ia melihat laki-laki itu sedang asyik memutar gantungan kunci keberuntungannya di udara.

Buru-buru Ana berjalan mendekat, dan dengan gerakan kilat ia pun berhasil merebutnya.

“Ini kelinci bukan tikus! Gak lulus TK, ya lo?” sinis Ana.

Laki-laki itu tersenyum, karena akhirnya umpannya termakan juga.

“Itu sih lebih mirip tikus dari pada seekor kelinci. Masih lo simpan aja gantungan kunci tidak berfaedah itu?”

Ana menggertakkan gigi menahan amarahnya. Ia jadi teringat di masa lalu saat laki-laki itu sengaja menyembunyikan gantungan kunci miliknya di saat ujian akan berlangsung, padahal dia tahu jika gantungan kunci itu adalah gantungan kunci keberuntungannya. Alhasil, dia gagal pada ujian yang paling ia kuasai di pelajaran olahraga dan itu gara-gara makhluk satu itu.

"Ada perlu apa lo ke kantor gue, kangen?"

Memejamkan mata buru-buru, Ana berjalan mendekat ke arah laki-laki itu, lalu dengan gerakan kilat menjepit mulut Keenan dengan tangan kanannya sambil menggertakkan giginya gemas. Bukan gemas karena Keenan lucu melainkan gemas saking menyebalkannya wajah laki-laki itu.

Laki-laki itu melotot tidak siap dengan serangan lawan. Begitu tersadar ia pun segera menampik tangan Ana.

Ana melipat tangan di dadanya, mundur satu langkah, memandangi musuh bebuyutan semenjak zaman duduk di bangku SMA dulu. Namanya Keenandra Bagaskara. Ia mengamati lagi laki-laki yang ada di depannya itu dari atas hingga bawah. 

Laki-laki ini memang tidak banyak berubah. Kulitnya masih putih bersih, tampak tidak ada cela, mungkin yang tercela hanyalah kelakuannya saja. Kedua mata yang bulat indah, bulu mata yang masih lentik, bahkan lebih lentik dari dirinya. Hidung yang masih mancung, dan juga ada sedikit bekas luka di pipi kirinya yang masih Ana ingat dengan jelas tapi dia tidak tahu karena apa sebabnya.

Meskipun sejak kelulusan dulu Ana baru bertemu dengan dirinya hari ini, tidak ada perubahan dari laki-laki ini. Hanya perawakannya saja sekarang menjadi seperti laki-laki dewasa pada umumnya apa namanya ya? Lebih matang mungkin.

"Lo nyumpahi gue?" tanya laki-laki itu sinis.

Is, casingnya saja yang dewasa, mulutnya ternyata masih sama, sama-sama mengandung cabai dan mengundang untuk dia tampol.

Perlu diingat juga jangan sampai tertipu oleh tampang polosnya, sebab semua itu hanyalah tipuan mata semata. Sekali senyum songongnya keluar, dan sekali juga ia berucap maka orang waras bisa masuk rumah sakit saking pedasnya. Ana yakin sifatnya masih sama bocahnya seperti dulu.

"Uda sono lu ... hus ... hus ...," usir Ana.

Ana mendorong bahu Keenan. Menjauhinya adalah ide yang paling brilian sebelum dia sendiri yang terkena strok di usia muda akibat berdekatan dengan laki-laki itu.

Ting....

Pintu lift terbuka, muncul Beni yang sempat kaget karena melihat Ana yang terlihat tampak akrab dengan seseorang yang ia kenal sebagai teman satu divisinya.

Komen (1)
goodnovel comment avatar
Felicia Aileen
nice opening.. boleh kasih tau akun sosmed ga ya soalnya pengen aku share ke sosmed trs tag akun author :)
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status