Share

Bab 73

Author: Mariahlia
last update publish date: 2026-04-27 06:28:44

|Febi temui saya sekarang!|

Panggilan tak terjawab

|Febi, ada hal penting yang harus kita bicarakan sekarang juga!|

Panggilan tak terjawab

Langga menggeram marah, ia meletakkan ponselnya di atas meja dengan kasar. Hari ini seperti biasanya, ia kembali mengajar di kelas. Tapi pikirannya benar-benar tidak tenang. Banyak yang ia pikirkan, Samuel dan juga Febi. Dua nama itu terus berjejalan di dalam kepalanya. Sialan, jika seperti ini ia sama sekali tidak bisa fokus mengajar.

Menghela nafasnya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 128

    Dalung segera mematikan lampu. Rumah kayu itu seketika gelap. Hanya suara angin malam yang terdengar dari luar. Febi berdiri kaku. Tangannya masih memeluk perutnya yang buncit. Ini Miko udah tau ya kalau kakaknya lagi hamil, dan ia memilih tidak mau banyak bertanya karena di rasa itu bukan urusannya. Kakaknya punya privasi dan Miko nggak mau mencampurinya, dan selagi kakaknya dalam keadaan baik-baik saja dan tidak mengeluhkan apapun itu. "Miko, masuk kamar." "Tapi, Bang—" "Masuk!" Nada suara Dalung membuat Miko langsung diam. Ia menarik tangan Febi. "Kak, ayo." Febi menurut. Namun baru beberapa langkah mereka berjalan... BRAK! Pintu depan tiba-tiba didorong keras. Febi terkejut. Dalung langsung berbalik. "Siapa?!" Tidak ada jawaban. Hanya derap suara langkah kaki. Dan suara itu semakin mendekat. Dalung mengambil tongkat kayu yang berada di dekat meja. "Jangan bergerak." Dari balik kegelapan, muncul dua orang lelaki. Dan di belakang mereka... Seorang perempuan. Sintia

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 127

    Sintia menggenggam pisau itu erat. Ujung bibirnya terangkat membentuk senyum yang sama sekali tidak menunjukkan ketenangan. "Febi..." Namanya keluar seperti sebuah sumpah. "Kalau aku nggak bisa mendapatkan Langga..." Sintia menatap pantulan dirinya sendiri di kaca. "Maka kamu juga nggak akan mendapatkan apa pun." Tangannya gemetar. Bukan karena takut. Melainkan karena amarah yang sudah terlalu lama ia pendam. Namun sebelum Sintia sempat melangkah, suara pintu kamarnya terdengar. Tok... Tok... Sintia langsung menoleh. "Siapa?" Tidak ada jawaban. Tok... Tok... Kali ini lebih keras. Sintia buru-buru menyembunyikan pisau di belakang tubuhnya. "Pintu terbuka." Pintu perlahan terbuka. Seorang petugas perempuan berdiri di sana. "Bu Sintia." Sintia langsung memasang wajah kesal. "Apa lagi?" "Besok Anda akan dipindahkan untuk pemeriksaan lanjutan." Sintia mendengus. "Aku tahu." Petugas itu menatapnya beberapa saat. "Dan satu lagi." "Apa?" "Jangan membuat masalah."

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 126

    Entah kenapa dadanya terasa sesak. Namun kali ini bukan sesak karena takut. Melainkan karena ada sesuatu yang perlahan tumbuh di dalam hatinya. Sebuah perasaan yang selama ini ia paksa untuk dikubur. Febi mengusap air matanya. "Dia... benar-benar membayar sisa pengobatan Ibuku?" Dalung mengangguk. "Iya." "Padahal aku nggak pernah minta." "Gue tahu." Febi menatap surat rumah sakit itu cukup lama. "Kenapa dia melakukan itu?" Dalung menghela napas. "Mungkin karena dia sadar ada tanggung jawab yang harus dia lakukan." Febi tersenyum getir. "Setelah semuanya terlambat." Dalung tidak menjawab. Karena ia tahu... Febi masih terluka. Dan luka puluhan tahun tidak mungkin sembuh hanya karena satu kebaikan. Di tempat lain... Langga masih duduk di dalam mobil. Ponselnya berada di atas dashboard. Tatapannya kosong menatap jalan. "Dia baik..." Kalimat Dalung terus terngiang di kepalanya. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Langga tersenyum. Tangannya perlahan menyentuh dadanya.

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 125

    Langga baru saja mencapai ambang pintu ketika suara kakeknya kembali terdengar. "Langga!"Langkah lelaki itu terhenti. Namun ia tidak langsung menoleh."Kalau kamu keluar dari rumah ini..." suara sang kakek terdengar berat, "jangan pernah berharap aku akan menerimamu kembali."Langga menundukkan kepala beberapa detik. Kemudian ia berbalik. Tatapannya tidak lagi dipenuhi kemarahan. Justru terlihat begitu tenang. "Saya tidak akan meminta Kakek menerima saya kembali."Sang kakek mengerutkan kening."Saya hanya ingin menjalani hidup yang selama ini tidak pernah saya miliki. Dan kalau untuk mendapatkannya saya harus kehilangan rumah ini..." Langga tersenyum tipis. "Saya sudah siap.""Kamu!" Sang kakek mengangkat tongkatnya dengan tangan gemetar.Namun Langga tetap berdiri di tempat. "Selama puluhan tahun saya selalu menjadi cucu yang Kakek inginkan. Saya menikah dengan perempuan yang Kakek setujui. Saya mempertahankan rumah tangga yang Kakek anggap sempurna. Saya diam ketika sebenarnya say

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 124

    Tiga minggu berlalu. Rumah kayu di kaki gunung itu menjadi tempat berlindung baru bagi Febi, Dalung, dan Miko. Meski sederhana, tidak ada seorang pun yang mengetahui keberadaan mereka. Setiap pagi Dalung pergi bekerja di bengkel milik sahabat lama pamannya di kota kecil terdekat, sementara Febi mulai perlahan memulihkan diri. Mualnya masih sering datang. Namun setidaknya... Ia sudah bisa tersenyum lagi. Di sisi lain kota... Keadaan justru berbalik menghantam Sintia. Sejak Langga mengajukan gugatan cerai, rekening-rekening yang selama ini digunakan Sintia mulai diperiksa karena berkaitan dengan proses pembagian harta. Hal itu tanpa sengaja membuka sebuah fakta lain. Seorang perempuan bernama Rika datang ke kantor polisi dengan membawa setumpuk bukti transfer. "Aku ditipu..." katanya sambil menangis. Rika mengaku telah menginvestasikan uang miliaran rupiah ke sebuah usaha yang ditawarkan oleh teman lamanya, Sintia. Janji keuntungan besar membuatnya percaya. Namun usaha itu te

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 123

    Deg. Febi refleks memeluk Miko semakin erat. "Kak..." Miko mulai menangis pelan. Febi mengusap rambut adiknya dengan tangan yang gemetar. "Nggak apa-apa... jangan bersuara." Padahal bibirnya sendiri bergetar hebat. Di luar rumah... Wanita itu melipat kedua tangannya. "Masih nggak mau keluar?" Salah seorang pria menggeleng. "Nggak." "Lalu?" Pria itu mengedarkan pandangan ke sekitar rumah. Tatapannya berhenti pada meteran listrik yang berada di sisi tembok depan. "Kita matikan listriknya." Wanita itu mengangguk pelan. "Bagus. Kalau rumah gelap dan panas, mereka pasti panik." Pria itu berjalan mendekati meteran. Klik! Dalam sekejap... Seluruh aliran listrik di rumah itu padam. Kipas angin berhenti berputar. Kulkas ikut mati. Rumah kecil itu mendadak sunyi. Di dalam... Febi langsung menoleh ke arah ruang tengah. "Listrik..." bisiknya lirih. Miko mulai panik. "Kak... kok mati?" Febi menggigit bibirnya. "Mereka... Mereka kayaknya memang sengaja." Belum sempat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status