Share

bab 111

Author: Mariahlia
last update publish date: 2026-05-24 04:39:16

Hujan rintik kembali turun saat Febi keluar dari area kampus. Tubuhnya masih basah oleh air got. Bau kotor itu masih melekat di bajunya. Rambutnya lengket berantakan. Dan orang-orang yang dilewatinya masih terus menatap dengan jijik atau kasihan.

Namun Febi sudah terlalu mati rasa untuk peduli. Langkahnya limbung menyusuri trotoar pinggir jalan. Air matanya terus jatuh tanpa henti. Dadanya sesak sampai terasa sakit untuk bernapas.

Dan akhirnya, perempuan itu berhenti di dekat halte kecil ya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 150

    Febi masih menatap layar ponselnya.Entah mengapa, hatinya terasa begitu gelisah. Sejak tadi ia terus berharap Langga menghubunginya lagi, tetapi tidak ada satu pun pesan yang masuk.Miko memperhatikan wajah kakaknya."Kak, kenapa?"Febi buru-buru menggeleng."Nggak apa-apa.""Kelihatannya Kakak sedang banyak pikiran."Febi tersenyum tipis."Kakak cuma kangen Bang Langga."Miko terdiam sejenak."Kalau begitu, telepon saja dia."Febi menggeleng pelan."Nggak mau mengganggu. Mungkin dia sedang sibuk."Miko menghela napas."Bang Langga pasti senang kalau Kakak meneleponnya."Febi tidak menjawab.Ia hanya kembali menunduk, mengusap perutnya dengan lembut."Sayang, Ayah sedang apa, ya?" gumamnya pelan.Miko yang mendengar ucapan itu tersenyum kecil."Keponakan Miko pasti juga kangen sama ayahnya."Febi terkekeh, tetapi tawanya tidak berlangsung lama.Tiba-tiba matanya terasa panas.Ia berusaha menahannya, tetapi setetes air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya.Miko langsung menoleh."Kak

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 149

    Langga baru saja mengakhiri panggilan ketika pintu kamarnya kembali diketuk.Tok! Tok! Tok!"Tuan Langga, Tuan Besar sudah menunggu di ruang makan."Langga mengembuskan napas panjang."Iya. Saya akan turun."Ia segera menyimpan ponselnya di dalam laci, kemudian berjalan menuju meja kecil di samping tempat tidur.Di sana terdapat sebuah kartu ATM dan amplop putih yang sudah disiapkannya sejak tadi.Langga mengambil kedua benda tersebut.Tidak lama kemudian, neneknya kembali masuk ke kamar."Langga, Kakekmu sudah menunggu. Sebaiknya kamu segera turun."Langga mengangguk."Nek, saya mau meminta bantuan."Neneknya memperhatikan kartu ATM dan amplop yang berada di tangan cucunya."Apa itu?"Langga menyerahkan keduanya kepada sang nenek."Ini kartu ATM saya. Tolong berikan kepada Febi."Neneknya terdiam."Untuk apa, Nak?""Di dalamnya ada uang yang bisa dia gunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Saya juga ingin memastikan biaya pemeriksaan kehamilan dan kebutuhan calon anak kami tidak terkend

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 148

    Setelah beberapa saat, Langga melepaskan pelukan neneknya.Ia menatap ponsel yang berada di tangannya. Ada kerinduan yang begitu besar untuk mendengar suara perempuan yang dicintainya."Nek, boleh saya menghubungi Febi sebentar?"Nenek Langga mengangguk pelan. "Boleh. Tapi ingat pesan Nenek. Jangan sampai Kakekmu tahu.""Terima kasih, Nek."Neneknya tersenyum tipis. "Nenek keluar dulu. Kamu gunakan waktu ini sebaik-baiknya."Langga mengangguk.Setelah neneknya keluar, ia segera membuka ponsel. Jemarinya bergerak mencari nama Febi di daftar kontak.Tanpa berpikir panjang, ia langsung menekan tombol panggil.Nada sambung terdengar beberapa kali.Di rumah, Febi yang sedang duduk di sofa langsung tersentak ketika ponselnya berdering.Matanya membesar saat melihat nama Langga terpampang di layar."Bang Langga..."Ia segera mengangkat panggilan tersebut."Halo?""Febi."Suara berat Langga terdengar dari seberang.Febi langsung tersenyum. "Langga!"Laki-laki itu memejamkan mata sejenak. Mend

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 147

    Febi masih duduk di sofa ruang tengah bersama Miko. Sesekali perempuan itu melirik ponselnya, berharap ada pesan atau panggilan dari Langga.Namun, sejak tadi tidak ada satu pun kabar yang masuk.Miko yang memperhatikan kakaknya akhirnya angkat bicara."Kak.""Hm?""Kalau Bang Langga nggak bisa datang, bagaimana?"Febi menoleh. "Maksud kamu?""Maksudku, kalau kakeknya terus mengurung Bang Langga dan nggak mengizinkan dia bertemu kita?"Febi terdiam. Ia sendiri tidak tahu harus menjawab apa. "Entahlah, Mik. Kakak juga nggak tahu."Miko menghela napas. "Padahal Bang Langga sudah baik sama kita."Febi tersenyum tipis. "Iya.""Dia juga sudah janji mau bertanggung jawab sama calon keponakan Miko."Febi mengusap perutnya. "Semoga saja semuanya bisa kembali baik-baik saja."Miko mengangguk. Tak lama kemudian, ia berdiri. "Kakak istirahat, ya. Biar Miko yang beresin dapur."Febi tersenyum. "Terima kasih, adik Kakak."Miko langsung menyeringai. "Sama-sama. Tapi kalau ada makanan, jangan lupa s

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 146

    Langga baru saja selesai mandi ketika pintu kamarnya terbuka dari luar.Ia menoleh.Kakeknya masuk dengan langkah tegas. Di belakang pria tua itu, dua orang ajudan berdiri berjaga.Langga mengernyit."Ada apa lagi, Kek?"Kakek Langga tidak langsung menjawab. Ia justru berjalan menuju sofa kecil di dalam kamar, lalu duduk dengan tenang."Bagaimana keadaanmu?"Langga tertawa sinis."Kakek masih sempat bertanya setelah menyuruh orang menyuntikkan obat ke tubuh saya?""Aku bertanya karena aku ingin tahu keadaanmu.""Kalau begitu, saya baik-baik saja. Sekarang silakan keluar dan buka pintu kamar ini."Kakek Langga menatap cucunya tajam."Kamu pikir semudah itu?"Langga mengepalkan tangan."Sampai kapan Kakek akan mengurung saya?""Sampai kamu berhenti melakukan kebodohan."Langga menggeleng."Saya tidak melakukan kebodohan apa pun. Saya hanya ingin menjalani hidup saya sendiri.""Dan hidup yang kamu pilih itu adalah perempuan bernama Febi?""Jangan bawa-bawa Febi."Kakek Langga tersenyum t

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 145

    Setelah kejadian mengerikan itu, Dalung segera mengajak Febi dan Miko meninggalkan apartemen.Febi masih terlihat sangat terpukul. Sejak Langga dibawa pergi, perempuan itu terus menundukkan kepala sambil sesekali mengusap perutnya.Miko yang duduk di sampingnya juga tidak banyak bicara.Sementara itu, Dalung mengemudikan mobil dengan wajah serius."Feb, lo nggak apa-apa?"Febi menggeleng pelan."Gue tahu lo pasti kepikiran Langga. Tapi sekarang lo harus tenang dulu. Jangan sampai kondisi lo ikut terganggu."Febi mengangguk kecil."Bang, kita harus mencari bang Langga." Ucap Miko."Iya. Gue akan cari tahu dia dibawa ke mana.""Tapi bagaimana kalau mereka menyakiti Langga lagi?"Dalung melirik Febi melalui kaca spion."Gue nggak akan membiarkan itu terjadi."Miko ikut menyahut."Bang Dalung, kita harus cepat menemukan Bang Langga."Dalung mengangguk."Iya, Mik. Tenang."Perjalanan dilanjutkan dalam keheningan.Beberapa menit kemudian, mobil Dalung berhenti di depan rumah Febi.Dalung tu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status