공유

bab 22

작가: Mariahlia
last update 게시일: 2026-03-15 22:11:49

Deg.

Jantung Febi nyaris meloncat keluar dari dadanya.

Layar ponsel itu masih menyala di tangannya, huruf-huruf hitam di atas latar putih tampak begitu jelas—terlalu jelas—seakan menancap langsung ke dalam pikirannya.

|Jangan sampai terlambat! Atau saya akan hukum kamu lebih dari semalam!|

Febi menelan ludah.

Angin sore kembali berhembus pelan melewati halaman kampus. Daun-daun akasia di atas kepalanya bergerak lembut, menimbulkan suara gemerisik yang tenang.

Namun ketenangan itu tidak masuk ke
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 93

    Suasana ruang keluarga itu semula hangat. Suara sendok kecil yang beradu pelan dengan mangkuk sup terdengar samar di tengah obrolan ringan Sintia dan Samuel. Febi masih duduk di samping Samuel, menyuapi lelaki itu perlahan sambil sesekali mengingatkan agar makan pelan-pelan. Dan Samuel, lelaki itu terlihat begitu bahagia hanya karena hal sederhana seperti itu. Tatapannya tidak pernah lepas dari wajah Febi. Seolah rasa sakitnya benar-benar berkurang hanya karena perempuan itu ada di dekatnya. “Awas tumpah…” bisik Febi pelan saat Samuel malah terus menatapnya. Samuel tersenyum kecil. “Biarin.” “Sam…” “Aku serius.” Suaranya melembut. “Aku suka lihat kamu dekat gini.” Deg. Pipi Febi langsung memanas. Sedangkan Sintia hanya tertawa kecil sambil menggeleng gemas. “Ya ampun, baru sembuh udah mulai gombal lagi.” Namun berbeda dengan suasana hangat di antara mereka, Langga justru semakin diam sejak tadi. Pria itu berdiri di dekat meja bar sambil menggenggam gelas di ta

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 92

    Keesokan malamnya, Langga menjemput Febi lagi, jelas tentu karena Samuel ingin bertemu dengan Febi. Ia berdiri di depan rumah Febi, ia menatap ke sekeliling yang tampak sederhana. Langga menghela nafasnya kasar. "Pak Langga, saya sudah siap." Seru Febi dari depan pintu, ia sudah mengenakan outfit seadanya. Tadi, ia tidak mau ke rumah pria itu, namun Langga terus memaksa, katanya Samuel tidak mau makan. Febi yang masih di liputi rasa bersalah akhirnya mau. Pun Miko malam ini pergi keluar bersama dengan teman-temannya. Febi membiarkan, karena ia ingin melihat adiknya seperti dulu lagi. "Ayo" Febi menganggukkan kepalanya, ia berjalan di belakang pria itu. Udara malam langsung menyambutnya, angin berhembus pelan, meniup daun-daun di sana. Tidak lama... Mobil Langga berhenti perlahan di halaman rumah besar milik keluarga. Malam sudah sangat larut. Udara terasa dingin setelah hujan turun sejak tadi, sementara lampu-lampu rumah masih menyala hangat dari dalam. Febi turun pelan da

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 91

    Deg. Febi langsung menoleh cepat ke arah Langga. Matanya membesar penuh keterkejutan. “Bapak mau bilang semuanya ke Samuel?” suaranya hampir pecah. Langga masih menatap lurus ke depan. Lampu jalan yang redup memantulkan bayangan lelah di wajahnya. “Saya nggak bilang sekarang.” Jawabnya pelan. “Tapi kalau suatu hari semuanya kebuka…” ia menarik napas berat, “saya nggak akan biarin kamu nanggung sendiri.” Kalimat itu justru membuat hati Febi semakin sesak. Karena selama ini, ia selalu merasa dirinya sendirian memikul rasa bersalah itu. Febi menggigit bibirnya kuat-kuat. “Samuel bakal hancur…” “Ya.” Jawaban Langga terdengar lirih. “Dan dia berhak marah.” Sunyi. Hujan di luar mulai mereda perlahan. Sementara di dalam mobil, udara terasa semakin berat. Febi menundukkan wajahnya. Tangannya gemetar di atas pangkuan. “Aku takut dia jijik sama aku…” Langga langsung menoleh. Tatapannya melemah saat melihat perempuan itu hampir runtuh lagi. “Jangan ngomong gitu.” “Tapi itu

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 90

    Mobil melaju perlahan meninggalkan area rumah sakit. Malam semakin larut. Lampu-lampu kota berpendar samar di balik kaca mobil yang sedikit berembun karena dinginnya udara malam. Namun di dalam mobil itu, suasananya jauh lebih dingin. Febi duduk diam di kursi penumpang sambil memeluk tas kecilnya erat. Tatapannya lurus ke depan, tetapi pikirannya kacau ke mana-mana. Tentang kehidupannya yang sepertinya ingin mempermainkannya lagi. Dan tentang Langga yang sekarang duduk tepat di sampingnya memegang kemudi dengan wajah tenang yang sulit dibaca. Tidak ada suara. Hanya denting pelan suara alunan lagu dari radio mobil yang diputar sangat kecil. Dan justru kesunyian itu terasa lebih menyesakkan. Febi menggigit bibirnya pelan. Ia sungguh tidak nyaman berada berdua seperti ini bersama Langga. Terlalu banyak hal yang pernah terjadi di antara mereka. Terlalu banyak luka yang tidak pernah benar-benar selesai. “Samuel keliatan lebih tenang waktu ada kamu.” Suara Langga akhirnya memecah

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 89

    Langga menundukkan pandangannya pelan. Jemarinya mengepal samar di sisi tubuhnya. Ucapan Samuel tadi terus terngiang di kepalanya seperti sesuatu yang perlahan menghancurkan napasnya sendiri."Makasih udah bawa Febi ke sini."Kalimat itu terlalu sederhana. Namun terasa begitu menyakitkan. Karena anaknya sama sekali tidak tahu bahwa orang yang paling ingin ia lindungi dari luka justru adalah orang yang selama ini menciptakan luka itu sendiri. “Papa?”Suara Samuel kembali terdengar pelan.Langga buru-buru mengangkat wajahnya lalu mengangguk kecil. “Iya.” Namun suaranya terdengar jauh lebih berat dari biasanya.Febi yang sedari tadi diam langsung menunduk semakin dalam. Ruangan itu terasa menyesakkan baginya. Ia tidak kuat berada di antara ayah dan anak itu terlalu lama. Tidak kuat melihat Samuel menatap Langga dengan penuh percaya, sementara dirinya menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan hubungan mereka kapan saja.Samuel menghela napas pelan sebelum kembali bersandar di ranjangnya

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 88

    Pintu ruangan terbuka pelan. Febi yang sedari tadi menyandarkan kepalanya di sisi ranjang Samuel langsung tersadar dan buru-buru menegakkan tubuhnya. Sementara Samuel masih menggenggam tangannya erat, seolah takut perempuan itu pergi saat ia lengah sedikit saja. Dan beberapa detik kemudian seorang perempuan paruh baya masuk dengan langkah tergesa. Sintia. Mamanya Samuel. Matanya langsung membesar begitu melihat keberadaan seorang wanita di sana. “Ya Tuhan… ini Febi?” Suara perempuan itu langsung dipenuhi haru. Sebelum Febi sempat berdiri sempurna, Sintia sudah lebih dulu menghampirinya lalu memeluk tubuh gadis itu erat. Pelukan hangat seorang ibu. Dan itu membuat dada Febi terasa nyeri seketika. Karena sejak ibunya pergi ia begitu merindukan pelukan seperti itu. “Kamu datang nak…” suara Sintia mulai bergetar. “Akhirnya kamu datang juga, Nak…” Febi langsung menahan napasnya. Tangannya perlahan membalas pelukan itu meski tubuhnya terasa kaku. “Iya, Tante…” Sintia langsung me

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status