Share

bab 29

Author: Mariahlia
last update publish date: 2026-03-27 14:08:28

Keesokan paginya datang tanpa benar-benar terasa sebagai pagi yang baru.

Langit di atas kampus berwarna pucat.

Matahari belum terlalu tinggi, cahayanya jatuh lembut di halaman yang sudah mulai dipenuhi mahasiswa. Suara langkah kaki. Suara tawa kecil.

Obrolan ringan yang bersahutan.

Semua terdengar… seperti biasa.

Namun, tidak bagi Febi.

Ia berjalan pelan melewati gerbang kampus.

Tasnya tergantung di bahu.

Tangannya menggenggam tali tas itu seperti kebiasaan yang kini terasa semakin sering ia la
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 90

    Mobil melaju perlahan meninggalkan area rumah sakit. Malam semakin larut. Lampu-lampu kota berpendar samar di balik kaca mobil yang sedikit berembun karena dinginnya udara malam. Namun di dalam mobil itu, suasananya jauh lebih dingin. Febi duduk diam di kursi penumpang sambil memeluk tas kecilnya erat. Tatapannya lurus ke depan, tetapi pikirannya kacau ke mana-mana. Tentang kehidupannya yang sepertinya ingin mempermainkannya lagi. Dan tentang Langga yang sekarang duduk tepat di sampingnya memegang kemudi dengan wajah tenang yang sulit dibaca. Tidak ada suara. Hanya denting pelan suara alunan lagu dari radio mobil yang diputar sangat kecil. Dan justru kesunyian itu terasa lebih menyesakkan. Febi menggigit bibirnya pelan. Ia sungguh tidak nyaman berada berdua seperti ini bersama Langga. Terlalu banyak hal yang pernah terjadi di antara mereka. Terlalu banyak luka yang tidak pernah benar-benar selesai. “Samuel keliatan lebih tenang waktu ada kamu.” Suara Langga akhirnya memecah

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 89

    Langga menundukkan pandangannya pelan. Jemarinya mengepal samar di sisi tubuhnya. Ucapan Samuel tadi terus terngiang di kepalanya seperti sesuatu yang perlahan menghancurkan napasnya sendiri."Makasih udah bawa Febi ke sini."Kalimat itu terlalu sederhana. Namun terasa begitu menyakitkan. Karena anaknya sama sekali tidak tahu bahwa orang yang paling ingin ia lindungi dari luka justru adalah orang yang selama ini menciptakan luka itu sendiri. “Papa?”Suara Samuel kembali terdengar pelan.Langga buru-buru mengangkat wajahnya lalu mengangguk kecil. “Iya.” Namun suaranya terdengar jauh lebih berat dari biasanya.Febi yang sedari tadi diam langsung menunduk semakin dalam. Ruangan itu terasa menyesakkan baginya. Ia tidak kuat berada di antara ayah dan anak itu terlalu lama. Tidak kuat melihat Samuel menatap Langga dengan penuh percaya, sementara dirinya menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan hubungan mereka kapan saja.Samuel menghela napas pelan sebelum kembali bersandar di ranjangnya

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 88

    Pintu ruangan terbuka pelan. Febi yang sedari tadi menyandarkan kepalanya di sisi ranjang Samuel langsung tersadar dan buru-buru menegakkan tubuhnya. Sementara Samuel masih menggenggam tangannya erat, seolah takut perempuan itu pergi saat ia lengah sedikit saja. Dan beberapa detik kemudian seorang perempuan paruh baya masuk dengan langkah tergesa. Sintia. Mamanya Samuel. Matanya langsung membesar begitu melihat keberadaan seorang wanita di sana. “Ya Tuhan… ini Febi?” Suara perempuan itu langsung dipenuhi haru. Sebelum Febi sempat berdiri sempurna, Sintia sudah lebih dulu menghampirinya lalu memeluk tubuh gadis itu erat. Pelukan hangat seorang ibu. Dan itu membuat dada Febi terasa nyeri seketika. Karena sejak ibunya pergi ia begitu merindukan pelukan seperti itu. “Kamu datang nak…” suara Sintia mulai bergetar. “Akhirnya kamu datang juga, Nak…” Febi langsung menahan napasnya. Tangannya perlahan membalas pelukan itu meski tubuhnya terasa kaku. “Iya, Tante…” Sintia langsung me

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 87

    Ruangan itu kembali dipenuhi suara tangis Febi yang tertahan. Perempuan itu menutup wajahnya sendiri dengan kedua tangannya, seolah malu memperlihatkan betapa hancurnya dirinya sekarang. Sementara Samuel hanya bisa menatapnya dengan dada yang sesak. Ia tidak tahu rahasia apa yang sedang dipikul Febi sampai sedalam ini. Namun satu hal yang pasti, rahasia itu benar-benar sedang membunuh perempuan yang ia cintai perlahan.“Hey…” Samuel menggenggam pergelangan tangan Febi pelan lalu menurunkannya dari wajah gadis itu. “Jangan sembunyi dari aku.” Tatapan mereka bertemu. Dan detik itu juga, Febi kembali merasa ingin runtuh. Karena mata Samuel masih sama seperti dulu. Masih penuh cinta. Masih penuh rasa sayang yang tulus. Tanpa jijik. Tanpa kebencian. Padahal kalau lelaki itu tahu semuanya… mungkin tatapan itu akan hilang selamanya.“Aku nggak sebaik yang kamu pikirin…” suara Febi pecah.Samuel mengernyit pelan. “Siapa yang bilang aku nyari perempuan sempurna?”Febi langsung terdiam.Sam

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 86

    Ruangan itu mendadak terasa sempit. Sunyi. Namun penuh sesak yang menekan dada siapa pun di dalamnya. Febi menatap Samuel dengan napas tertahan. Samuel menggenggam tangan Febi pelan. Jemarinya lemah, tetapi hangatnya masih sama. “Aku serius…” bisiknya lirih. “Balik sama aku ya?” Mata Samuel memerah. Tatapannya penuh harap sekaligus ketakutan. Seolah ia benar-benar takut kehilangan Febi untuk kedua kalinya. Sementara di luar pintu ruangan, Langga berdiri diam dengan rahang mengeras. Tangannya mengepal begitu kuat sampai urat di punggung tangannya terlihat jelas. Dadanya terasa nyeri. Karena sedetik yang lalu ia masih berharap kehadiran Febi malam ini akan membawa sedikit harapan untuk dirinya juga. Namun sekarang, ia dipaksa melihat dengan mata kepala sendiri bahwa hati Samuel dan Febi ternyata masih saling tinggal di tempat yang sama. Dan itu menghancurkannya perlahan. Di dalam ruangan, Febi perlahan menundukkan wajahnya. Air matanya kembali jatuh. “Sam…” suaranya gemetar.

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 85

    Febi berdiri membeku di ambang pintu. Matanya menatap Samuel tanpa berkedip, dadanya sakit. Karena ini bukan Samuel yang ia kenal. Bukan lelaki yang dulu selalu tertawa sambil mengacak rambutnya. Pria itu terbaring lemah di atas ranjang sana.. Langkah Febi terasa berat saat mendekat. Tangannya gemetar hebat. Dan ketika akhirnya ia berdiri tepat di samping ranjang itu, dan air matanya jatuh tanpa bisa ditahan lagi. “Sam…” Panggil Febi lirih. Namun cukup membuat jemari Samuel bergerak kecil. Febi langsung menutup mulutnya sendiri menahan tangis. Matanya turun perlahan ke tangan Samuel yang penuh luka samar di balik balutan perban putih. Lelaki itu benar-benar menghancurkan dirinya sendiri. “Kenapa kamu jadi kayak gini…” bisiknya pecah. Samuel tidak menjawab. Obat penenang masih membuatnya setengah sadar. Namun perlahan, lelaki itu mengerjapkan matanya lemah. Pandangan buramnya bergerak pelan ke arah suara yang begitu ia rindukan. Dan saat melihat sosok Febi berdiri di sana

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status