Share

bab 45

Author: Mariahlia
last update publish date: 2026-04-07 17:42:53

"Pak Langga?" Febi melambaikan tangannya ke depan wajah Langga saat pria itu hanya diam saja tak bergerak sama sekali. Bahkan, tatapannya begitu mengunci, membuat Febi ketakutan.

"Bapak oke?"

Langga tersadar, ia langsung berdekhem salah tingkah. Telinganya bahkan sudah memerah karena malu. "Saya baik-baik saja." Bukan Langga namanya jika ia tidak gengsian. Ia mana mungkin mau mengakui kemolekan yang ada di depannya ini.

Febi menganggukkan kepalanya. "Ini kita jadi pergi makan?"

"Jadi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 110

    Febi berjalan pelan melewati koridor kampus dengan kepala tertunduk. Tangannya menggenggam tali tas begitu erat sampai jemarinya memutih. Ia bisa merasakan tatapan orang-orang menusuk tubuhnya dari segala arah. Bisik-bisik itu terus terdengar. Semakin lama semakin keras. “Eh itu dia…” “Berani juga masih masuk kampus.” “Kalau aku sih malu.” Air mata Febi hampir jatuh lagi. Namun perempuan itu terus berjalan meski langkahnya mulai goyah. Ia hanya ingin masuk kelas. Hanya ingin semuanya cepat selesai. Namun baru beberapa langkah... Brugh Seseorang sengaja menabrak pundaknya keras. Tubuh Febi langsung oleng kecil. Dan saat menoleh, Laura berdiri di depannya bersama tiga orang temannya. Senyum perempuan itu sinis sekali. “Oh maaf…” ucap Laura pura-pura terkejut. “Nggak lihat ternyata ada pelakor lewat.” Teman-temannya langsung terkekeh. Jantung Febi langsung terasa jatuh. “Aku mau lewat…” suaranya lirih, ia ingin pergi segera dari sana. Sungguh ia tidak mau berurusan dengan

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 109

    Pagi itu berjalan lambat di rumah kecil mereka. Setelah Miko berangkat sekolah, suasana kembali sunyi. Hanya suara kipas angin tua dan sesekali bunyi kendaraan dari luar gang yang terdengar samar. Febi berdiri lama di depan wastafel dapur sambil menatap pantulan wajahnya sendiri di kaca kecil yang tergantung di dinding. Matanya masih sembab. Wajahnya bahkan pucat. Dan perempuan itu bahkan hampir tidak mengenali dirinya sendiri. Perlahan, tangannya kembali menyentuh perutnya. Dadanya langsung kembali sesak lagi. Namun kali ini, Febi memejamkan matanya kuat-kuat lalu menarik napas panjang. “Enggak…” bisiknya lirih. Air matanya kembali menggenang, tetapi kali ini ia menahannya mati-matian. “Aku nggak boleh hancur sekarang.” Karena sejak semalam, sebuah kenyataan akhirnya benar-benar masuk ke dalam kepalanya. Ia tidak sendiri lagi. Ada Miko. Dan ada bayi ini. Febi langsung menutup wajahnya sebentar sambil menahan tangis. Ia memang merasa hidupnya sudah berantakan. Bahkan sempat

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 108

    Malam sudah sangat larut saat Febi akhirnya tiba di rumah kecilnya. Tidak ada suara siapa pun menyambutnya. Pintu rumah terbuka pelan. Dan begitu tubuhnya masuk ke dalam, benteng terakhir yang selama ini ia tahan akhirnya runtuh sepenuhnya. Brak. Tasnya jatuh begitu saja ke lantai. Febi menutup pintu rumah cepat lalu menahan mulutnya sendiri dengan kedua tangan. Tangisnya pecah dan begitu amat sangat menyakitkan. Tubuhnya gemetar hebat sampai lututnya perlahan jatuh menyentuh lantai. “Ya Tuhan…” suaranya hancur di sela tangis. Dadanya terasa sesak. Bayangan wajah Samuel terus muncul di kepalanya. Tatapan hancur lelaki itu di rumah sakit tadi. Tangisan Sintia. Amarah keluarga Langga. Dan yang paling menghancurkannya, kalimat Langga. Karena pria yang dulu memeluknya seperti takut kehilangan, kini menjadi orang pertama yang membuangnya. “Kenapa jadi kayak gini…” isaknya lirih. Tubuhnya membungkuk lemah di lantai. Air matanya terus jatuh tanpa henti. Dan perlahan tangannya berge

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 107

    Semua orang langsung berlari keluar rumah. Hujan deras mengguyur tubuh mereka tanpa ampun. Samuel adalah orang pertama yang sampai di dekat gerbang. “FEBI!” Perempuan itu benar-benar tergeletak di jalanan basah dengan tubuh menggigil lemah. Wajahnya pucat. Bibirnya nyaris membiru karena kedinginan. Samuel langsung berlutut panik lalu mengangkat tubuh Febi ke dalam pelukannya. “Feb… bangun… please…”Namun Febi sama sekali tidak merespons. Tangannya dingin. Napasnya lemah. Dan itu membuat Samuel mulai gemetar hebat. “Ambil mobil sekarang!” bentaknya panik. Seorang satpam langsung berlari mengambil mobil. Sementara Langga berdiri membeku beberapa langkah di belakang. Dadanya terasa sesak melihat tubuh perempuan itu tak berdaya seperti ini. Hujan membasahi wajahnya. Namun pria itu bahkan tidak sadar dirinya ikut gemetar.Sintia di sana melihat itu menatap penuh kebencian ke arah gadis itu. Rasanya ia ingin memusnahkan saja gadis sialan yang telah menghancurkan rumah tangganya.

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 106

    Pintu rumah tertutup keras setelah Febi pergi. Dan suara itu, terasa seperti akhir dari semuanya. Hening hanya terdengar suara detak jarum jam di dinding, dan tangis pilu Sintia. Perempuan itu memang sedari tadi terus menangis, tanpa berhenti. Hatinya benar-benar hancur mendapatkan fakta sebesar ini. Hujan masih mengguyur deras di luar rumah. Seolah tau apa yang terjadi pada keluarga ini. Rintik hebatnya membasahi bumi. Sedangkan di dalam, keluarga itu perlahan benar-benar runtuh. Kakek Langga berdiri dengan napas memburu. Wajah lelaki tua itu merah padam menahan murka. Tatapannya lurus mengarah pada Langga. Dan saat ini amarahnya benar-benar meledak. “Kurang ajar kamu!” Bentakan itu menggema keras memenuhi ruang keluarga. Sintia langsung tersentak. Samuel memejamkan matanya lelah. Sedangkan Langga, hanya berdiri diam dengan wajah dingin. Ia sama sekali tidak mengelak, karena ini memang salahnya. Namun justru sikap diam itu membuat kakeknya semakin murka. “Kamu bikin m

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 105

    Rumah itu terasa seperti medan perang yang baru saja menghancurkan seluruh isinya. Tidak ada lagi kehangatan.b Tidak ada lagi tempat aman. Yang tersisa hanya tatapan penuh kecewa… dan hati yang remuk di mana-mana. Febi masih berdiri dengan tubuh gemetar. Air matanya tidak berhenti jatuh sejak tadi. Pipinya masih terasa panas akibat tamparan Sintia. Namun rasa sakit itu tidak ada apa-apanya dibanding melihat Samuel menangis seperti tadi. Dan lebih menyakitkannya lagi, saat Langga akhirnya kembali membuka suara. “Pergi.” Deg. Semua mata langsung tertuju padanya.Langga berdiri tegak dengan wajah dingin. Padahal beberapa menit lalu pria itu terlihat sama hancurnya. Namun sekarang, ia seperti memaksa dirinya menjadi orang lain. “Pergi dari hidup saya, Febi.” Deg!! Jantung Febi seperti berhenti berdetak. Matanya langsung membesar. “Pak…” Namun Langga memalingkan wajahnya. Rahangnya mengeras kuat. “Semuanya udah cukup.” suaranya rendah dan dingin. “Saya nggak mau lihat kamu lagi.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status