Share

bab 53

Author: Mariahlia
last update publish date: 2026-04-14 13:45:49

Senja semakin turun perlahan.

Langit yang tadi jingga terang kini mulai berubah menjadi lebih dalam… lebih hangat… dan sedikit redup.

Angin laut berhembus lebih lembut. Menyapu permukaan air. Sangat terasa menyentuh kulit. Dan membawa suasana yang entah kenapa… terasa lebih dekat.

Febi masih berdiri di hadapan Langga. Jarak mereka tidak jauh. Namun juga tidak terlalu dekat seperti beberapa detik yang lalu. Seolah keduanya sama-sama memberi ruang untuk bernapas. Untuk apa yang baru saja te
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 149

    Langga baru saja mengakhiri panggilan ketika pintu kamarnya kembali diketuk.Tok! Tok! Tok!"Tuan Langga, Tuan Besar sudah menunggu di ruang makan."Langga mengembuskan napas panjang."Iya. Saya akan turun."Ia segera menyimpan ponselnya di dalam laci, kemudian berjalan menuju meja kecil di samping tempat tidur.Di sana terdapat sebuah kartu ATM dan amplop putih yang sudah disiapkannya sejak tadi.Langga mengambil kedua benda tersebut.Tidak lama kemudian, neneknya kembali masuk ke kamar."Langga, Kakekmu sudah menunggu. Sebaiknya kamu segera turun."Langga mengangguk."Nek, saya mau meminta bantuan."Neneknya memperhatikan kartu ATM dan amplop yang berada di tangan cucunya."Apa itu?"Langga menyerahkan keduanya kepada sang nenek."Ini kartu ATM saya. Tolong berikan kepada Febi."Neneknya terdiam."Untuk apa, Nak?""Di dalamnya ada uang yang bisa dia gunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Saya juga ingin memastikan biaya pemeriksaan kehamilan dan kebutuhan calon anak kami tidak terkend

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 148

    Setelah beberapa saat, Langga melepaskan pelukan neneknya.Ia menatap ponsel yang berada di tangannya. Ada kerinduan yang begitu besar untuk mendengar suara perempuan yang dicintainya."Nek, boleh saya menghubungi Febi sebentar?"Nenek Langga mengangguk pelan. "Boleh. Tapi ingat pesan Nenek. Jangan sampai Kakekmu tahu.""Terima kasih, Nek."Neneknya tersenyum tipis. "Nenek keluar dulu. Kamu gunakan waktu ini sebaik-baiknya."Langga mengangguk.Setelah neneknya keluar, ia segera membuka ponsel. Jemarinya bergerak mencari nama Febi di daftar kontak.Tanpa berpikir panjang, ia langsung menekan tombol panggil.Nada sambung terdengar beberapa kali.Di rumah, Febi yang sedang duduk di sofa langsung tersentak ketika ponselnya berdering.Matanya membesar saat melihat nama Langga terpampang di layar."Bang Langga..."Ia segera mengangkat panggilan tersebut."Halo?""Febi."Suara berat Langga terdengar dari seberang.Febi langsung tersenyum. "Langga!"Laki-laki itu memejamkan mata sejenak. Mend

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 147

    Febi masih duduk di sofa ruang tengah bersama Miko. Sesekali perempuan itu melirik ponselnya, berharap ada pesan atau panggilan dari Langga.Namun, sejak tadi tidak ada satu pun kabar yang masuk.Miko yang memperhatikan kakaknya akhirnya angkat bicara."Kak.""Hm?""Kalau Bang Langga nggak bisa datang, bagaimana?"Febi menoleh. "Maksud kamu?""Maksudku, kalau kakeknya terus mengurung Bang Langga dan nggak mengizinkan dia bertemu kita?"Febi terdiam. Ia sendiri tidak tahu harus menjawab apa. "Entahlah, Mik. Kakak juga nggak tahu."Miko menghela napas. "Padahal Bang Langga sudah baik sama kita."Febi tersenyum tipis. "Iya.""Dia juga sudah janji mau bertanggung jawab sama calon keponakan Miko."Febi mengusap perutnya. "Semoga saja semuanya bisa kembali baik-baik saja."Miko mengangguk. Tak lama kemudian, ia berdiri. "Kakak istirahat, ya. Biar Miko yang beresin dapur."Febi tersenyum. "Terima kasih, adik Kakak."Miko langsung menyeringai. "Sama-sama. Tapi kalau ada makanan, jangan lupa s

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 146

    Langga baru saja selesai mandi ketika pintu kamarnya terbuka dari luar.Ia menoleh.Kakeknya masuk dengan langkah tegas. Di belakang pria tua itu, dua orang ajudan berdiri berjaga.Langga mengernyit."Ada apa lagi, Kek?"Kakek Langga tidak langsung menjawab. Ia justru berjalan menuju sofa kecil di dalam kamar, lalu duduk dengan tenang."Bagaimana keadaanmu?"Langga tertawa sinis."Kakek masih sempat bertanya setelah menyuruh orang menyuntikkan obat ke tubuh saya?""Aku bertanya karena aku ingin tahu keadaanmu.""Kalau begitu, saya baik-baik saja. Sekarang silakan keluar dan buka pintu kamar ini."Kakek Langga menatap cucunya tajam."Kamu pikir semudah itu?"Langga mengepalkan tangan."Sampai kapan Kakek akan mengurung saya?""Sampai kamu berhenti melakukan kebodohan."Langga menggeleng."Saya tidak melakukan kebodohan apa pun. Saya hanya ingin menjalani hidup saya sendiri.""Dan hidup yang kamu pilih itu adalah perempuan bernama Febi?""Jangan bawa-bawa Febi."Kakek Langga tersenyum t

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 145

    Setelah kejadian mengerikan itu, Dalung segera mengajak Febi dan Miko meninggalkan apartemen.Febi masih terlihat sangat terpukul. Sejak Langga dibawa pergi, perempuan itu terus menundukkan kepala sambil sesekali mengusap perutnya.Miko yang duduk di sampingnya juga tidak banyak bicara.Sementara itu, Dalung mengemudikan mobil dengan wajah serius."Feb, lo nggak apa-apa?"Febi menggeleng pelan."Gue tahu lo pasti kepikiran Langga. Tapi sekarang lo harus tenang dulu. Jangan sampai kondisi lo ikut terganggu."Febi mengangguk kecil."Bang, kita harus mencari bang Langga." Ucap Miko."Iya. Gue akan cari tahu dia dibawa ke mana.""Tapi bagaimana kalau mereka menyakiti Langga lagi?"Dalung melirik Febi melalui kaca spion."Gue nggak akan membiarkan itu terjadi."Miko ikut menyahut."Bang Dalung, kita harus cepat menemukan Bang Langga."Dalung mengangguk."Iya, Mik. Tenang."Perjalanan dilanjutkan dalam keheningan.Beberapa menit kemudian, mobil Dalung berhenti di depan rumah Febi.Dalung tu

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 144

    Kakek Langga menatap cucunya dengan dingin."Sudah cukup! Aku tidak mau mendengar alasanmu lagi!"Langga mengembuskan napas kasar."Kakek, saya tidak akan pulang jika Kakek masih bersikap seperti ini."Pria tua itu mengangkat tangannya sedikit.Seketika, beberapa orang berbadan tegap yang sejak tadi berdiri di luar apartemen masuk ke ruang tengah.Langga mengernyit."Apa maksudnya ini?"Kakeknya tidak menjawab. Ia hanya memberi isyarat kepada salah satu anak buahnya."Ambil dia!"Dua orang pria langsung bergerak mendekati Langga."Berhenti!" bentak Langga.Namun, sebelum ia sempat menghindar, salah satu pria dari belakang mendekat dan menyuntikkan sesuatu ke bagian lengannya.Langga terkejut."Apa yang kalian—"Kalimatnya terputus.Ia mencoba melepaskan tangan pria tersebut, tetapi tubuhnya mendadak terasa berat. Pandangannya mulai berkunang-kunang."Langga!" teriak Febi.Langga berusaha bertahan dengan berpegangan pada sisi sofa."Kakek... apa yang Kakek lakukan?"Suaranya terdengar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status