Share

bab 53

Author: Mariahlia
last update publish date: 2026-04-14 13:45:49

Senja semakin turun perlahan.

Langit yang tadi jingga terang kini mulai berubah menjadi lebih dalam… lebih hangat… dan sedikit redup.

Angin laut berhembus lebih lembut. Menyapu permukaan air. Sangat terasa menyentuh kulit. Dan membawa suasana yang entah kenapa… terasa lebih dekat.

Febi masih berdiri di hadapan Langga. Jarak mereka tidak jauh. Namun juga tidak terlalu dekat seperti beberapa detik yang lalu. Seolah keduanya sama-sama memberi ruang untuk bernapas. Untuk apa yang baru saja te
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 58

    Setelah percintaan panas yang kembali mereka lakukan, Langga akhirnya berguling di samping Febi. Nafasnya masih berat, akibat rasa yang menggebu-gebu yang baru saja ia rasakan.Tangannya bertumpu, matanya yang tajam menatap Febi. “Mas, aku capek.” Ucap Febi pelan, nafasnya bahkan ngos-ngosan, Febi di buat kelimpungan dengan percintaan yang Langga lakukan. Pria itu sangat kuat sekali. Febi takut saja, jika Langga meminta ronde-ronde selanjutnya, karena jujur saja ia lelah sekali. Langga terkekeh pelan, menikmati wajah cantik yang tampak sangat kelelahan itu, dan sialnya, malah membuat Langga ingin lagi. Namun, ia menahannya, ia tahu Febi sedang amat kelelahan. “Yasudah tidur. Besok pagi-pagi kita harus packing barang-barang. Karena siangnya kita sudah pulang.” Kata Langga.Matanya yang terpejam jadi terbelalak, Febi menoleh ke arah Langga, Febi baru tau kalau esoklah mereka pulang. Ia pikir masih lama berada di sini. “Loh, kita udah mau pulang kah?” Tanya Febi. Langga menghela nafas

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 57

    Mendengar perkataan Febi, membuat nafas Dalung tercekat, ia jadi merasa bersalah dengan gadis itu, karena semula bermula dari dirinya, yang sebelumnya menawarkan gadis itu menjadi sugar baby seseorang, dan Dalung juga ikut menikmati hasil dari Febi bekerja. “Aku udah kayak gini. Jadi nggak akan mungkin ada yang mau sama aku. Aku juga merasa kecil sama siapapun.” Kembali suara Febi terdengar lirih, membuat Dalung semakin membendung rasa bersalah dalam dirinya. “Setiap orang berpasangan Feb. Nggak mungkin elo bakalan terus ngejomblo seumur hidup ini.” Dalung mencoba berbicara tenang walaupun di hatinya bergemuruh sesuatu. Febi menggelengkan kepalanya kencang, hidupnya sudah habis, dan ia hanya seorang wanita hina yang tidak pantas untuk siapapun. “Siapa yang mau sama orang kayak aku, Lung? Di dunia ini bahkan banyak wanita cantik dan baik. Sedangkan aku?” Febi menunjuk dirinya sendiri, tatapannya sendu membayangkan kehidupan mendatang yang sepertinya tidak akan berjalan mulus, ia b

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 56

    “Papa kamu keluar kota Sam. Dia ada yang di urus.” Sintia menatap anaknya satu-satunya itu dengan senyuman miris. Andai saja Samuel tau jika selama ini Langga benar-benar tidak memperlakukan dirinya dengan baik, ia yakin Samuel akan marah besar. Dan kepulangan Samuel ini benar-benar di luar dugaan. Padahal masih ada waktu beberapa hari lagi, tapi Samuel pulang lebih cepat dari waktu yang di sebutkan. “Mama penasaran, kenapa kamu kok pulang cepet banget? Padahal kan kata kamu seminggu lagi ya?” Samuel tersenyum lebar. “Ma. Aku kangen banget sama mama dan papa. Jadi aku pulang lebih cepat dari jadwal yang aku bilang.” Ujar Samuel, Sintia mengangkat alisnya, “yakin cuman karena mama dan papa? Kok mama nggak yakin ya kalau kamu pulang cuman karena kami?” Sindirnya. Samuel terkekeh kecil, mamanya ini tau saja. “ck, nggak surprise lagi kalau mama tau.” “Cerita sama mama. Hadiah yang indah banget yang langsung kamu masukin ke dalam kamar itu buat siapa hm?” Tanya Sintia penasaran, pasal

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 55

    “Ini gila! Elo mau beli satu toko antik bapak itu tadi? Banyak duit elo.” Dalung berdecih sinis, ia menatap barang bawaan yang merupakan kerajinan tangan dari seorang bapak-bapak tadi, yang katanya hadiah untuk buk Yosi, agar Febi tak mendapatkan nilai jelek. Febi menghela nafasnya kasar. “Cantik gitu. Lagian aku nggak beli banyak kok. Cuman beberapa aja. Kamu aja yang lebay banget Lung. Udahlah kita balik. Mumpung belum sore.” Febi berjalan mendahuluinya membuat Dalung mendelik kesal. “Astaga! Untung elo itu sekarang atasan gue. Kalau masih temen pelayan kayak dulu, gue jitak tuh kepala.” Omel Dalung, namun ia tetap melangkahkan kakinya menyusul Febi ke sebuah taksi yang ada di depan sana. Saat ia sampai di sana, wajah Febi malah tampak tak seperti sebelumnya, gadis itu tampak gelisah bukan main. “Eh elo kenapa?”Febi malah meletakkan jari telunjuknya di depan bibir, memberikan isyarat agar Dalung diam. Dalung pun mengatupkan bibirnya rapat-rapat, “Maaf, Sam.” “Kenapa sayang?

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 54

    Malam semakin larut. Suara ombak di luar masih terdengar… pelan, berulang, seolah menjadi irama yang menenangkan. Namun di dalam kamar itu suasana sudah berubah. Tidak lagi panas seperti sebelumnya. Tidak lagi penuh gejolak. Yang tersisa kini hanya… sisa-sisa kelelahan. Dan sesuatu yang lebih sunyi. Lebih dalam. Febi masih berbaring di atas ranjang. Tubuhnya terasa lelah. Namun bukan hanya fisik pikirannya juga. Matanya menatap langit-langit kamar. Namun di dalam kepalanya… penuh. Ia mengingat semuanya. Setiap sentuhan. Setiap tatapan. Setiap kata. Dan semakin ia mengingat semakin ia tidak tahu harus menempatkan dirinya di mana. Tangannya perlahan naik. Menarik selimut menutupi tubuhnya. Seolah mencoba melindungi diri dari sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak pahami. Di sisi lain Langga berdiri di dekat meja. Lampu kecil menyala redup. Menerangi sebagian wajahnya. Tangannya sibuk dengan laptop. Namun sesekali tatapannya melirik ke arah ranjang. Ke arah Febi

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 53

    Senja semakin turun perlahan. Langit yang tadi jingga terang kini mulai berubah menjadi lebih dalam… lebih hangat… dan sedikit redup. Angin laut berhembus lebih lembut. Menyapu permukaan air. Sangat terasa menyentuh kulit. Dan membawa suasana yang entah kenapa… terasa lebih dekat. Febi masih berdiri di hadapan Langga. Jarak mereka tidak jauh. Namun juga tidak terlalu dekat seperti beberapa detik yang lalu. Seolah keduanya sama-sama memberi ruang untuk bernapas. Untuk apa yang baru saja terjadi. Tangan Febi masih sedikit terangkat. Seolah belum benar-benar kembali ke posisi semula. Matanya menatap Langga lebih lama dari biasanya. Tidak ada rasa takut seperti sebelumnya. Langga menatap balik. Tatapannya tidak lagi setajam biasanya. Lebih tenang. Lebih dalam. Dan entah kenapa… lebih hangat. Ia mengangkat tangannya lagi. Namun kali ini tidak langsung menyentuh. Hanya berhenti di udara. Seolah menahan diri. Beberapa detik kemudian, tangannya turun perlahan. “Capek?” tany

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status