مشاركة

bab 71

مؤلف: Mariahlia
last update تاريخ النشر: 2026-04-25 08:22:57

“Jawab, Febi…” Suara itu tidak lagi sekadar memanggil. Ia jatuh sangat berat. Menghantam dinding. Memantul di langit-langit apartemen mewah itu.

Febi sampai terjengkit kaget mendengar perkataan Langga. Ia tidak menyangka pria itu akan membentaknya seperti ini. Febi sampai meremas kedua tangannya dengan sangat kencang. Sesak kembali melingkupi dadanya.

"Pak.."

"Sekarang saya harus bagaimana?! Anak saya bahkan hampir gila karena ulah kamu!" Pekik Langga, tangannya mencengkram dagu Febi, m
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 94

    Samuel terdiam sesaat mendengar jawaban ayahnya. Lalu lelaki itu tertawa kecil samar. “Iya juga sih.” Namun entah kenapa, tatapannya masih belum benar-benar lepas dari Langga. Seolah ada sesuatu yang terus mengganjal di dalam pikirannya. Sementara Febi justru semakin sulit bernapas. Karena jawaban Langga tadi terdengar begitu normal di permukaan… tetapi hanya mereka berdua yang tahu ada banyak hal tersembunyi di balik kalimat itu. “Udah jangan bahas yang aneh-aneh.” Sintia mencoba mencairkan suasana sambil duduk di samping suaminya. “Samuel harus istirahat.” Namun Samuel justru kembali bersandar di sofa sambil menatap Febi lekat. “Aku serius loh.” Suaranya pelan. “Aku kira papa marah karena aku deket sama kamu lagi.” Febi buru-buru menggeleng kecil. “Nggak mungkin…” “Kenapa nggak mungkin?” Samuel tersenyum kecil menggoda. “Siapa tau papa posesif.” “Samuel.” Langga memotong cepat. Nada suaranya terlalu tajam. Dan itu membuat ruangan kembali hening beberapa detik. Samu

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 93

    Suasana ruang keluarga itu semula hangat. Suara sendok kecil yang beradu pelan dengan mangkuk sup terdengar samar di tengah obrolan ringan Sintia dan Samuel. Febi masih duduk di samping Samuel, menyuapi lelaki itu perlahan sambil sesekali mengingatkan agar makan pelan-pelan. Dan Samuel, lelaki itu terlihat begitu bahagia hanya karena hal sederhana seperti itu. Tatapannya tidak pernah lepas dari wajah Febi. Seolah rasa sakitnya benar-benar berkurang hanya karena perempuan itu ada di dekatnya. “Awas tumpah…” bisik Febi pelan saat Samuel malah terus menatapnya. Samuel tersenyum kecil. “Biarin.” “Sam…” “Aku serius.” Suaranya melembut. “Aku suka lihat kamu dekat gini.” Deg. Pipi Febi langsung memanas. Sedangkan Sintia hanya tertawa kecil sambil menggeleng gemas. “Ya ampun, baru sembuh udah mulai gombal lagi.” Namun berbeda dengan suasana hangat di antara mereka, Langga justru semakin diam sejak tadi. Pria itu berdiri di dekat meja bar sambil menggenggam gelas di ta

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 92

    Keesokan malamnya, Langga menjemput Febi lagi, jelas tentu karena Samuel ingin bertemu dengan Febi. Ia berdiri di depan rumah Febi, ia menatap ke sekeliling yang tampak sederhana. Langga menghela nafasnya kasar. "Pak Langga, saya sudah siap." Seru Febi dari depan pintu, ia sudah mengenakan outfit seadanya. Tadi, ia tidak mau ke rumah pria itu, namun Langga terus memaksa, katanya Samuel tidak mau makan. Febi yang masih di liputi rasa bersalah akhirnya mau. Pun Miko malam ini pergi keluar bersama dengan teman-temannya. Febi membiarkan, karena ia ingin melihat adiknya seperti dulu lagi. "Ayo" Febi menganggukkan kepalanya, ia berjalan di belakang pria itu. Udara malam langsung menyambutnya, angin berhembus pelan, meniup daun-daun di sana. Tidak lama... Mobil Langga berhenti perlahan di halaman rumah besar milik keluarga. Malam sudah sangat larut. Udara terasa dingin setelah hujan turun sejak tadi, sementara lampu-lampu rumah masih menyala hangat dari dalam. Febi turun pelan da

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 91

    Deg. Febi langsung menoleh cepat ke arah Langga. Matanya membesar penuh keterkejutan. “Bapak mau bilang semuanya ke Samuel?” suaranya hampir pecah. Langga masih menatap lurus ke depan. Lampu jalan yang redup memantulkan bayangan lelah di wajahnya. “Saya nggak bilang sekarang.” Jawabnya pelan. “Tapi kalau suatu hari semuanya kebuka…” ia menarik napas berat, “saya nggak akan biarin kamu nanggung sendiri.” Kalimat itu justru membuat hati Febi semakin sesak. Karena selama ini, ia selalu merasa dirinya sendirian memikul rasa bersalah itu. Febi menggigit bibirnya kuat-kuat. “Samuel bakal hancur…” “Ya.” Jawaban Langga terdengar lirih. “Dan dia berhak marah.” Sunyi. Hujan di luar mulai mereda perlahan. Sementara di dalam mobil, udara terasa semakin berat. Febi menundukkan wajahnya. Tangannya gemetar di atas pangkuan. “Aku takut dia jijik sama aku…” Langga langsung menoleh. Tatapannya melemah saat melihat perempuan itu hampir runtuh lagi. “Jangan ngomong gitu.” “Tapi itu

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 90

    Mobil melaju perlahan meninggalkan area rumah sakit. Malam semakin larut. Lampu-lampu kota berpendar samar di balik kaca mobil yang sedikit berembun karena dinginnya udara malam. Namun di dalam mobil itu, suasananya jauh lebih dingin. Febi duduk diam di kursi penumpang sambil memeluk tas kecilnya erat. Tatapannya lurus ke depan, tetapi pikirannya kacau ke mana-mana. Tentang kehidupannya yang sepertinya ingin mempermainkannya lagi. Dan tentang Langga yang sekarang duduk tepat di sampingnya memegang kemudi dengan wajah tenang yang sulit dibaca. Tidak ada suara. Hanya denting pelan suara alunan lagu dari radio mobil yang diputar sangat kecil. Dan justru kesunyian itu terasa lebih menyesakkan. Febi menggigit bibirnya pelan. Ia sungguh tidak nyaman berada berdua seperti ini bersama Langga. Terlalu banyak hal yang pernah terjadi di antara mereka. Terlalu banyak luka yang tidak pernah benar-benar selesai. “Samuel keliatan lebih tenang waktu ada kamu.” Suara Langga akhirnya memecah

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 89

    Langga menundukkan pandangannya pelan. Jemarinya mengepal samar di sisi tubuhnya. Ucapan Samuel tadi terus terngiang di kepalanya seperti sesuatu yang perlahan menghancurkan napasnya sendiri."Makasih udah bawa Febi ke sini."Kalimat itu terlalu sederhana. Namun terasa begitu menyakitkan. Karena anaknya sama sekali tidak tahu bahwa orang yang paling ingin ia lindungi dari luka justru adalah orang yang selama ini menciptakan luka itu sendiri. “Papa?”Suara Samuel kembali terdengar pelan.Langga buru-buru mengangkat wajahnya lalu mengangguk kecil. “Iya.” Namun suaranya terdengar jauh lebih berat dari biasanya.Febi yang sedari tadi diam langsung menunduk semakin dalam. Ruangan itu terasa menyesakkan baginya. Ia tidak kuat berada di antara ayah dan anak itu terlalu lama. Tidak kuat melihat Samuel menatap Langga dengan penuh percaya, sementara dirinya menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan hubungan mereka kapan saja.Samuel menghela napas pelan sebelum kembali bersandar di ranjangnya

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status