LOGIN"Maaf, Bu Nia. Saya nggak paham kalau ada selisih data di laporan keuangan periode kemarin. Itu masih dipegang sama Pak Kasmin," jawab Citra Anindya dengan tenang. Sebenarnya ia juga ikut andil dalam penggelapan uang perusahaan.
Alis wanita cantik itu berkerut seolah itu suatu hal yang mustahil. Nia segera berkata, "Masa sih. Bu Citra? Sebagai bawahan langsung Pak Kasmin, tentu semua data masuk ke meja Anda dulu dong!" Dada Citra segera menggembung menahan amarah. "Jadi ... Bu Nia mau nuduh saya memanipulasi data keuangan perusahaan juga?" serunya sengit. "Itu 'kan Bu Citra yang bilang, bukan saya ...," sahut Nia santai. Sebenarnya ia memang curiga seperti itu situasinya, penggelapan dana perusahaan tidak mungkin hanya dilakukan satu orang saja, pasti ada kaki tangannya. "Maaf, dengan segala hormat ya. Bu Nia ini baru sehari masuk ke perusahaan kami, seharusnya jangan membuat blunder yang tidak perlu karena bisa saja memicu keributan dan atasan jadi terganggu!" tegur Citra Anindya disertai ancaman halus terselip. Maka Nia bangkit dari kursinya dan menjawab, "Saya mau naik ke kantor Pak Andromeda saja. Mungkin beliau bisa menjelaskan dari mana saja data keuangan ini berasal!" Langkah Nia cepat dan tegas di atas sepatu high heelsnya menuju ke lift. Dengan sigap Citra mengejarnya lalu menarik tangan Nia di depan pintu lift yang masih tertahan di lantai 25. "Hey, nggak usah sok berlagak dan caper sama Pak Andro ya! Jangan karena tampang kamu lumayan jadi berniat menggoda bos!" bentak Citra dengan tatapan galak mendelik. Sayangnya, Nia tidak takut malahan tertawa renyah seraya mengibaskan tangannya yang dicengkeram oleh senior di bagian finance perusahaan itu. Sembari menunggu lift turun, Nia menjawab, "Helloo ... kita ini di kantor, bekerja digaji sebagai profesional. Kalau saya nanya Pak Andro, sepertinya sangat wajar terutama saya karyawan baru dan laporan keuangan nantinya akan keluar dengan tanda tangan saya lho, Bu Citra." "Alaa ... itu cuma alesan yang dibikin-bikin aja!" tukas Citra dengan perasaan semakin tak enak. "Ckckck ... cilaka kalau malah saya yang dituduh memanipulasi data keuangan. Perusahaan rugi dilaporkan untung, nanti kalau bangkrut gimana dong? Sudah ya, Bu!" pungkas Nia saat melihat lift berhenti di lantai 20 dan terbuka pintunya. Ia langsung melangkah masuk sendirian. Citra yang masih syok tak sempat ikut masuk lift. "AARRGH!!" geramnya lalu menekan tombol lift sebelah yang baru saja turun ke lantai satu. "Ini nggak boleh dibiarin, gara-gara si Nia itu bisa bahaya posisiku di kantor!" gumam Citra panik. Selama ini Andromeda Gozali memang mempercayainya karena mereka terkadang menghabiskan waktu intim berdua di luar kantor. Pak Kasmin yang sempat jadi kambing hitam penggelapan dana perusahaan tidak mempersoalkan itu karena sudah mendapat pekerjaan baru. Sesampainya Nia di lantai teratas perusahaan yaitu lantai 29, ia segera menjumpai Bu Rani dan bertanya, "Selamat sore, Bu. Pak Andro apa ada di tempat?" "Selamat sore, Bu Nia. Iya, beliau masih di ruangannya. Apa mau ketemu Pak Andro?" jawab sekretaris CEO itu sigap. "Iya, ada hal penting yang ingin saya tanyakan terkait pekerjaan. Apa boleh masuk?" sahut Nia tak ingin berlama-lama. "Sebentar saya tanya dulu, tunggu ya!" Bu Rani menelepon Andro dan menerima jawaban positif. Maka ia mempersilakan Nia masuk ke ruangan CEO. Baru saja Nia mendorong gagang pintu, dari belakang bahunya dicengkeram kuat oleh seseorang. "Berhenti ya!" teriak wanita itu keras. Bahkan, Andromeda Gozali yang sedang duduk di dalam ruangannya sampai terkejut mendengar suara itu. Maka ia pun bangkit dari kursi dan melangkah ke arah pintu untuk mengetahui keributan yang jarang sekali terjadi di perusahaannya. "PLAK!" Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus Nia sehingga meninggalkan cap lima jari yang jelas. Kepalanya pun tertoleh ke samping. "Ehh ... Bu Citra, ada apa? Kok main tampar begini?" seru Bu Rani berusaha menengahi dua wanita muda yang sama-sama cantik itu. Nia tersenyum miris, perlakuan kasar Citra Anindya kepadanya semakin memperkuat dugaan tentang penggelapan uang perusahaan di laporan keuangan sebelumnya. Belum sempat dua wanita yang berseteru itu beradu mulut, Andromeda sudah keluar dari pintu ruangan CEO. Matanya terbelalak melihat pipi Nia yang merah dan dipegangi. "Lho, ka–kamu ditampar siapa, Bu Nia?" cetus Andro. "Ini nggak terlalu penting, Pak Andro. Yang ingin saya tanyakan justru urgent. Apa boleh saya masuk dulu ke ruangan Anda?" jawab Nia tenang. Membalas rasa sakit tamparan Citra akan setimpal bila memang dugaannya benar, wanita itu seorang koruptor di perusahaan. Andro pun membukakan pintu kantornya dan mempersilakan Nia duduk di sofa. Sementara Citra yang juga merasa terancam segera menahan lengan Andro seraya berkata, "Aku juga mau masuk ke sana, Ndro!" Tatapan mata Andro berubah tajam ke wajah Citra. "Kita di kantor, Bu Citra. Tolong ingat itu!" desisnya. Wajah Citra sontak memerah, dia meminta maaf dan bersikeras ikut masuk ke ruangan CEO. Akhirnya, Andro mengizinkannya dan mereka bertiga duduk di area sofa. "Jadi, maksud kedatangan saya ke mari untuk menanyakan perihal input data arus kas perusahaan. Siapa yang bertanggung jawab ya, Pak?" tembak Nia langsung. Citra tahu posisinya berada dalam bahaya. Ia pun segera berseru kepada Andro, "Pak, ini hari pertama Bu Nia masuk kerja. Dia malah cari gara-gara sama saya. Katanya saya yang menggelapkan uang perusahaan, padahal itu semua ulah Pak Kasmin. Kita semua sudah tahu kenyataannya 'kan?!" Posisi Andro terbelah di antara dua kubu yang berseteru itu. Namun, ia penasaran juga. Kenapa Nia menganggap Citra yang menggelapkan uang perusahaan? "Yang tugas menginput data keuangan adalah Bu Citra Anindya. Apa ada yang salah, Bu Nia? Bilang saja, nggakpapa!" jawab Andro tenang. Pandangannya beralih dari Nia ke Citra bergantian. Nia segera mengungkapkan hasil temuannya, "Sebagai orang finance, kalau saya di posisi Bu Citra. Kejanggalan data keuangan pasti akan terlihat jelas. Sudah tiga bulan ini ada kerugian dan angka pengeluaran yang di-mark up dengan keterangan yang tidak jelas penggunaannya. Apa Anda memang sering menggunakan dana perusahaan untuk kepentingan pribadi, Pak Andro?" Kening Andro berkerut dalam lalu kepalanya menggeleng pelan. "Seorang CEO nggak punya hak menggunakan uang perusahaan untuk keperluan pribadi di luar gaji dan tunjangan kantor. Apa Bu Nia bisa tunjukkan data yang tadi dibilang ke saya?" "Bisa. Mari kita lihat di laptop Pak Andro saja, data di laptop saya bisa diakses dari situ juga kok!" jawab Nia penuh percaya diri. Dalam hatinya berkata, 'Bu Citra, ini baru namanya pembalasan yang manis. Kita lihat siapa yang akan dipecat sama Pak Andro, aku apa kamu?!'Matahari perlahan bergulir menuju ke barat saat mobil sedan mewah Samudra memasuki kawasan tower hunian eksklusif yang tenang. Mereka tiba di apartemen lamanya, tempat yang telah kosong selama lebih dari sebulan sejak keberangkatan mereka berobat ke Singapura lalu berlibur ke Maldives. Namun, begitu pintu terbuka, hawa segar dan kebersihan menyambut kedatangan mereka. Ruangan itu terawat rapi, tanpa debu yang menumpuk. Beruntung petugas kebersihan rutin selalu merawat unit ini saat mereka pergi."Sudah nyaman di sini, Sayang?" tanya Samudra sambil meletakkan tas tangan Nia di meja ruang tamu. "Kamu pasti lelah sekali. Perjalanan jauh dari Maldives tadi pagi, lalu langsung ke rumah sakit menjenguk Andro. Istirahatlah dulu."Samudra membimbing Nia menuju kamar tidur. Dia membantu melepaskan jaket luar istrinya dan menyusun bantal agar nyaman untuk disandarkan. Perut Nia kini terlihat jelas membuncit lembut, kehamilannya telah memasuki awal trimester kedua. Setiap kali melihatnya, hati
Samudra mengerutkan kening mendengar pertukaran kata-kata yang tajam itu. Dia menatap Nia sejenak yang terlihat terkejut, lalu mengetuk pintu tiga kali pelan sebelum memutar gagang pintu dan mendorongnya terbuka."Maaf mengganggu," ucap Samudra tenang, langkahnya mantap memasuki ruangan diikuti Nia yang berjalan agak tertahan di belakangnya.Di dalam kamar yang luas itu, suasana seketika hening seakan waktu berhenti berputar.Andro sedang mencoba duduk bersandar di kepala ranjang. Selang infus menancap di punggung tangannya, dan ada plester lebar yang menutupi sebagian sisi perutnya. Wajahnya pucat, lingkaran hitam di bawah matanya terlihat jelas. Namun, saat matanya menangkap sosok yang berdiri di ambang pintu, seketika itu juga wajahnya berubah. Mata yang tadinya tajam penuh kemarahan mendadak terbelalak tak percaya. Bibirnya sedikit terbuka meski tak ada kata yang keluar. Dadanya naik turun seakan napasnya tertahan di tenggorokan.Di sisi lain ruangan, Clarissa yang berdiri di dek
Pesawat penumpang yang membawa Samudra dan Nia perlahan menurunkan ketinggiannya, menembus gumpalan awan putih yang membentang luas di atas langit Jakarta. Melalui jendela jendela pesawat, Nia memandang hamparan gedung-gedung tinggi yang mulai terlihat jelas, bersanding dengan jalan-jalan raya yang seakan tak pernah sepi dari aliran kendaraan. Hati Nia berdebar-debar. Rasanya baru kemarin mereka menikmati angin sepoi-sepoi dan deburan ombak lembut di perairan bening Maldives, dan kini mereka kembali ke hiruk-pikuk kota besar yang tak pernah benar-benar beristirahat.Pesawat mendarat dengan mulus di landasan Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Setelah melalui proses pengambilan bagasi dan pemeriksaan imigrasi, mereka berjalan keluar menuju area penjemputan. Udara Jakarta yang terasa lebih hangat langsung menyambut kedatangan mereka. Seorang pria berjas rapi dengan papan nama sudah menanti di sana. Itu adalah sopir yang dikirim dari kantor Samudra untuk menjemput mereka."Selamat da
Seusai telepon dari Andro berakhir, Samudra terduduk lesu menatap lantai kamar resor di Maldives. Melihat hal yang tak biasa itu, Nia segera menghampiri suaminya. "Ada apa, Sam?" tanya Nia penasaran."Sayang ... Andro ditusuk preman semalam di jalanan sepulang kantor. Dia dirawat di rumah sakit. Beruntung Clarissa menolongnya tepat waktu," jawab Samudra. Dia tidak sampai hati mengatakan bahwa mereka harus kembali ke Jakarta.Nia menutup mulut dengan telapak tangan lalu duduk di tepi ranjang bersisian dengan Samudra. Ia tahu ini kondisi genting dan tak boleh menjadi sosok yang egois. Andro juga berhak didampingi oleh papanya saat sedang lemah tak berdaya. Samudra bangkit dari tempatnya lalu berlutut di hadapan istrinya, menggenggam kedua tangan Nia yang dingin."Aku tahu, Sayang. Aku tahu ini tidak adil buatmu. Dan aku tidak akan memaksamu untuk—""Tapi kamu tetap harus pergi," potong Nia, dan kali ini ada nada tegas dalam suaranya yang lembut. Bukan tuduhan, melainkan pernyataan fak
Keesokan paginya, cahaya matahari yang lembut menyelinap malu-malu melalui celah tirai jendela kamar perawatan. Andromeda Gozali membuka matanya perlahan, kelopak matanya terasa begitu berat, seolah dilapisi oleh pasir. Pandangannya kabur sejenak sebelum perlahan menyesuaikan diri dengan cahaya. Dia melihat langit-langit kamar bercat putih bersih. Aroma antiseptik dan obat-obatan menyengat indera penciumannya, bercampur dengan samar-samar bau linen rumah sakit yang baru dicuci. Di sampingnya, monitor detak jantung berbunyi ritmis, menandakan ia masih terikat pada dunia orang hidup.'Di mana aku? Apa di rumah sakit?' batinnya dengan tubuh lemah. Setiap kali ia mencoba menarik napas dalam, sebuah rasa nyeri yang luar biasa menusuk perutnya, memaksanya untuk mendesis pelan. Memori tentang malam sebelumnya datang secara bertahap, seperti pisau belati yang tajam. Jalanan gelap, bayangan-bayangan mengancam, kilatan pisau, dan rasa panas yang merobek perutnya. Dan Clarissa ... wanita yan
Roda brankar berdecit keras, beradu dengan lantai keramik Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Cipta Husada yang dingin. Suara itu seolah menjadi satu-satunya irama yang memecah keheningan malam itu. Di atas brankar, Andro tergeletak pucat. Wajahnya yang biasanya penuh kendali kini tertutup oleh keringat dingin dan ekspresi kesakitan yang mulai memudar, digantikan oleh kelemahan akibat kehilangan banyak darah. Perutnya, tepat di bawah ulu hati, menjadi sumber malapetaka. Darah merah pekat terus merembes, membasahi kemeja mahalnya yang kini hancur tak berbentuk."Tolong ... tolong selamatkan tunangan saya!" teriak Clarissa. Suaranya parau, pecah, dan dipenuhi oleh isak tangis yang menyayat hati. Air mata mengalir deras membasahi pipinya, membuat riasan wajahnya yang tadinya sempurna kini luntur. Para perawat dan dokter yang mendorong brankar menatapnya dengan tatapan simpati. Mereka melihat seorang kekasih yang hancur karena nyawa pasangannya sedang di ujung tanduk.Namun, di balik ti







