LOGINBelvania Isadora menjalin hubungan istimewa dengan seorang duda berumur yang kaya raya. Mereka berkenalan secara tidak sengaja ketika sama-sama clubbing dan Belvania atau akrab dipanggil Nia diperlakukan dengan kurang ajar oleh pengunjung pria di night club. Samudra Gozali yang berkelahi dan menolong gadis cantik itu. Sebenarnya Samudra ingin memiliki anak perempuan dulu, tetapi tidak kesampaian jadi sosok Nia memuaskan keinginannya untuk mencurahkan perhatian dan sisi lembutnya. Nia pun sangat nyaman dengan sugar daddy yang tak sengaja ditemukannya dari sebuah ketidaksengajaan. Akan tetapi, Andromeda Gozali salah paham melihat papanya dekat dengan wanita yang sempat dia incar. Dia berpikir bahwa Nia adalah 'teman bobok' papanya. Sedangkan, Nia menganggap Andro terlalu kekanakan dan sering tantrum karena usia pemuda itu lima tahun di bawahnya. Dia menjadikan papa Andro sebagai alasan untuk menolak pedekate pemuda itu. Padahal Andro adalah bos Nia di kantor. "Nia, gue lebih perkasa dibanding papa. Tinggalkan papa gue! Lo butuh duit berapa untuk mau tidur sama gue, katakan?!" ujar Andro sembari menahan kedua pergelangan tangan Nia di atas kepala. Gadis itu meronta berusaha melepaskan dirinya dari dominasi bosnya. "Sori, lo beda banget sama Om Sam, beliau lembut dan nggak suka maksa kayak elo, Ndro. Lepasin gue!" balas Nia dengan kesal. Sebenarnya mana yang akan dipilih oleh Nia, duda atau berondong ketika dua pria beda generasi yang tak lain adalah ayah-anak itu menyatakan perasaan mereka kepadanya? Plagiarisme melanggar Undang-undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014. Cover by Helga Design IG Author: Agneslovely2014
View More"CHEERS!"
Suara dentuman musik memadati ruang bar, sementara tiga gelas koktail berwarna-warni diangkat tinggi di udara, beradu satu sama lain menciptakan bunyi renyah yang nyaris tak terdengar di tengah riuh kelab malam. Belvania Isadora atau yang akrab disapa Nia tersenyum lebar, matanya berbinar penuh kegembiraan. Baru sore tadi dia mendarat di tanah air setelah empat tahun berjuang menyelesaikan studi S3 Bisnis Korporasi di salah satu universitas ternama New York, dan malam ini adalah malam perayaan yang sudah lama ia nantikan. "Untuk Nia kita!" seru Ariana, sahabat yang sudah menemaninya sejak masa kuliah sarjana, "satu-satunya orang yang aku kenal yang berani ambil S3 di luar negeri sendirian, dan sekarang diterima di PT. Global Intisari Logistik dengan gaji yang bikin iri!" Ketiganya meneguk habis isi gelas masing-masing, lalu tertawa riang. Verren yang duduk di sebelah Nia menyenggol bahu sahabatnya itu dengan siku. "Ngomong-ngomong, di Global Intisari itu bos besarnya masih lajang atau sudah berkeluarga, Nia?" tanyanya dengan nada menggoda. "Kalau masih single dan ganteng, mending loe langsung gandeng dia aja! Jadi nyonya bos, nggak perlu capek-capek ngurus laporan sampai malam dan nggak usah lembur tiap hari buat kejar bonus. Hemat tenaga dan waktu!" Nia terkikik geli, kepalanya terayun pelan karena efek alkohol yang mulai merambat. Dia menepuk pelan lengan Verren. "Ahh ... loe ini, Ver. Iya kalau bos gue emang masih single dan ganteng kayak yang loe bayangin," jawabnya setengah bercanda. "Ya kali, gue mau jadi istri simpanan atau rebut suami orang! Belum tentu juga dia orangnya baik, siapa tahu galak dan pelit. Mending gue kerja dulu, buktiin kalau kemampuan gue nggak kalah sama siapa pun!" Ariana dan Verren tertawa mendengar jawaban tegas sobat mereka itu. Musik berubah menjadi irama yang lebih cepat dan menggoda, membuat kaki mereka bergerak tak sabar. "Udah ahh ngomongin kerjaan!" ajak Ariana sambil berdiri. "Mumpung lagi santai, ayo kita joget dulu di lantai dansa sebelum pulang!" Mereka bertiga berdesak-desakan masuk ke tengah kerumunan, membiarkan tubuh bergerak bebas mengikuti irama musik yang memacu adrenalin. Cahaya lampu berwarna-warni menyapu wajah mereka, membuat senyum ceria itu tampak semakin bersinar. Tak jauh dari sana, beberapa pria duduk di sudut ruangan, mata mereka tak lepas mengawasi tiga wanita cantik yang nampak menarik itu, saling berbisik sambil menunjuk-nunjuk. Namun, lagu belum selesai dimainkan, Ariana tiba-tiba menepuk bahu Nia. "Nia, maaf ya, aku sama Verren harus pulang duluan! Tadi adik Verren nelpon, ada keperluan mendadak di rumah. Kita izin pulang dulu ya!" "Eh? Iya, nggak apa-apa kok," jawab Nia sambil melambaikan tangan. "Hati-hati di jalan ya, Girls!" Tak lama kemudian, hanya tersisa Nia sendiri di keramaian. Dia menyadari suasana mulai berubah, dan rasa sepi perlahan menyelimuti hati yang tadinya gembira. Maka dia memutuskan kembali ke meja bar untuk memesan satu gelas minuman lagi sebelum akhirnya pulang. Baru saja dia hendak memanggil pelayan, dua orang lelaki tiba-tiba menghimpitnya, satu di kanan, satu lagi di kiri. Bau alkohol yang menyengat langsung menusuk hidungnya. "Hai, Cantik. Apa boleh kenalan?" tanya pria berambut cepak yang disemir warna perunggu, sambil menyeringai lebar. "Iya, nih kok sendirian aja? Biar kami temenin ya, nggak bakal sepi lagi kok," sahut rekannya yang berambut hitam gondrong sebahu, tangannya berani menempel di bahu terbuka Nia. Nia langsung menyingkirkan kedua tangan itu dengan kasar, wajahnya berubah masam. "Iihh ... jangan sok kenal sok akrab deh! Minggir nggak loe pada, hahh!" serunya mulai risih, suaranya sedikit meninggi. Alih-alih mundur, pria berambut gondrong itu malah nekat melingkarkan lengannya di pinggang Nia dan menarik punggung wanita itu menempel erat ke dadanya. Tangan bebasnya mulai menjamah bagian dada yang menyembul bulat di balik gaun pendek Nia. "AAWW!" jerit Nia kaget dan kesakitan, matanya terbelalak marah. Seluruh perhatian pengunjung di sekitar bar seketika tertuju pada mereka. "Dasar kurang ajar!" Nia dengan sigap memutar tubuhnya, lalu mendaratkan tamparan keras di pipi pria gondrong itu. "PLAK!" Bunyinya terdengar jelas di tengah jeda musik. Namun, belum sempat dia kabur, pria berambut perunggu itu dengan gerakan kilat meraih kedua pergelangan tangan Nia dan menahannya erat di antara meja bar. Dia mendekatkan wajahnya yang bau minuman ke wajah Nia, mencoba menciumnya secara paksa. Nia menggeleng-gelengkan kepala sekuat tenaga menghindar. "Lepaskan! Jangan macem-macem!" "Diam! Nurut nggak, atau kamu lebih suka diperkosa rame-rame di sini?" ancam pria itu dengan tatapan mata yang bengis dan mengerikan. "Tolong! Tolooong!" teriak Nia sekuat tenaga, air mata ketakutan mulai menggenang di sudut matanya. Tiba-tiba tanpa aba-aba, dua bogem mentah mendarat keras di wajah kedua pria tak tahu aturan itu. BUKK! BUKK! Tubuh mereka terhuyung mundur dan akhirnya tersungkur di lantai keramik yang licin. Darah segar menetes dari sudut bibir yang pecah. Nia tertegun, napasnya masih memburu hebat. Dia melihat sesosok pria matang dengan perawakan tegap berdiri di hadapannya, baru saja meluruskan posisi tangannya. Kejadian itu berlangsung begitu cepat hingga dia tak sempat melihat bagaimana gerakan pria itu. Pria itu menunduk sedikit, menatap wajah Nia dengan tatapan lembut sekaligus berwibawa. "Apa kamu baik-baik saja, Nona?" Nia masih terdiam bengong, matanya menatap lekat wajah penyelamatnya yang sama sekali tidak dia kenal. "Helloo ... kamu nggak apa-apa 'kan?" tanyanya sekali lagi melihat Nia yang diam saja. Tanpa menunggu jawaban, dia segera melepas jas tebal yang dia kenakan, lalu menyampirkannya dengan hati-hati ke bahu Nia yang terbuka, menutupi gaun yang dinilai terlalu berani untuk standar kesopanan di dalam negeri. "Ehh ... iya ... iya, maaf aku kok jadi bengong begini," jawab Nia dengan wajah yang memerah padam karena malu. "Terima kasih banyak, Om!" "Kamu sebaiknya segera pulang," saran pria itu dengan nada sopan dan juga kebapakan "Ini sudah nyaris tengah malam. Banyak orang mabuk di sini yang kehilangan akal sehat, mereka sering berasumsi sembarangan kalau wanita yang berpakaian terbuka adalah LC atau PSK. Kamu berisiko tinggi kalau sendirian di jam segini." Nia mengangguk patuh, lalu mengulurkan tangan kanannya dengan ragu. "Iya, aku akan langsung pulang sekarang. Kenalkan, namaku Nia. Belvania Isadora. Kalau Om, siapa namanya?" Saat pria itu tersenyum menjawab, mata Nia seketika berbinar kagum. Dalam hatinya dia memuji ketampanan pria itu. Bukan ketampanan kekanak-kanakan yang biasa dia temui di lingkup pergaulannya, melainkan ketampanan yang terasa dewasa, berwibawa, dan memancarkan karisma yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. "Namaku Samudra Gozali. Panggil saja Om Sam," jawabnya sambil menjabat tangan Nia sejenak dengan lembut. "Ayo kuantarkan ke area parkiran saja, biar lebih aman. Kamu bawa kendaraan sendiri, atau tadi naik taksi?" Nia mencoba turun dari kursi bar yang tingginya tak sebanding dengan kakinya. Namun, karena masih sedikit pusing, dia kehilangan keseimbangan dan tubuhnya meluncur jatuh ke depan, nyaris mencium lantai. "HATI-HATI, NIA!" Untungnya, tangan kekar Om Sam bergerak lebih cepat, menangkap tubuh Nia tepat di pinggang sebelum wanita itu sempat terjatuh sepenuhnya. Nia terhenyak, wajahnya kini berjarak sangat dekat dengan dada bidang pria itu.Pintu depan rumah Nia berderit pelan terbuka. Udara di dalam terasa sejuk dan hening, hanya suara detak jam dinding yang terdengar jelas memecah kesunyian. Samudra melangkah masuk perlahan, membiarkan Nia berjalan lebih dulu menuju kamar untuk berganti pakaian kerja."Silakan duduk dulu di sofa ruang tengah ya, Om. Aku ganti baju sebentar," pamit Nia sambil tersenyum tipis sebelum menghilang di balik pintu kamar tidurnya.Samudra mengangguk, lalu duduk sebentar di sofa kulit berwarna cokelat tua. Matanya berkeliling memandangi ruangan yang tertata rapi meskipun terasa lengang. Pembantu rumah tangga hanya datang sore hari untuk membersihkan rumah lalu kembali ke rumahnya sendiri, sedangkan anggota keluarga lain semuanya sibuk dengan kesibukan masing-masing di luar kota maupun luar negeri.Pandangan Samudra terhenti pada foto besar berbingkai kayu jati yang terpajang di atas meja panjang dekat jendela. Ia bangkit berdiri, mendekat untuk memperhatikan lebih jelas isi foto itu. Di sana
"Nia, kamu kenapa?" tanya Samudra cemas. Ia menggendong Nia untuk dibaringkan di ranjang."Vertigoku kumat lagi kalau kecapekan, Om!" jawab Nia dengan kening berkerut menahan nyeri berdenyut di kepalanya. Ini sudah kedua kalinya penyakit lamanya kambuh saat bersama Samudra. Beruntung pria itu sangat baik hati. "Kamu istirahat ya, kalau perlu besok libur ngantor dulu. Tentang izin biar Om yang bilang ke Andro!" Samudra membaringkan Nia ke tengah ranjang luasnya.Namun, tangan Nia tak mau melepaskan leher Samudra sehingga badan kekar pria itu ambruk menindihnya. "Om, kalau mau Nia bisa tidur nyenyak ... temani aku ... peluk aku sepanjang malam!" rengek gadis itu keras kepala.Samudra pun mengiyakan lalu menyelimuti tubuh mereka, lengan kokohnya memeluk Nia. Pikirannya bersih, tidak ada niatan macam-macam terhadap gadis manis itu. "Om di sini, Nia Sayang. Sekarang sesuai janji kamu ... ayo tidur!" ucapnya dengan suara Bass yang maskulin.Senyuman terukir di bibir Nia, rasanya pelukan S
Hangat napas Samudra yang menyentuh leher mulus Nia membuat bulu roma gadis itu meremang. Detak jantung pria matang tersebut begitu kencang hingga terasa di bawah telapak tangan Nia.Wajah Nia merona dengan cepat, tatapannya jatuh ke bibir tebal Samudra. "Om ... apa kamu suka aku?" tanya Nia tanpa ia sadari."Suka." Satu kata itu melukiskan semua perasaan Samudra meski terasa absurd mengingat perbedaan usia mereka yang jauh.CUP! Bibir Nia mendarat tepat di bibir Samudra dan melepaskan gairah yang dikurung oleh oleh pria itu sejak tadi. Mereka berpagutan tanpa mengingat apa pun lagi. Udara di dalam mobil terasa menghangat karena tubuh mereka yang bergesekan.Jemari Nia melucuti kancing kemeja Samudra dan membuat gugusan otot padat sempurna pria itu terekspos. Untuk ukuran pria berusia di atas 40 tahun, Samudra masih sangat menarik bak aktor film action."Om ... kamu ganteng banget!" desah Nia dengan tatapan berlumur hasrat. Samudra terkekeh dan merasa kikuk dipuji gadis belia sepert
"Maksud kamu apa sih, Ndro? Aku nggak paham deh!" Nia duduk menyilangkan lengannya di dada sambil menatap tajam bos barunya itu.Andro terkekeh seakan-akan mencemooh gadis yang sempat membuatnya tertarik itu. "Alaa ... sudahlah, kita tuh nggak hidup di zaman purba, Nia. Cewek yang udah lepas segel tuh lumrah banget. Semalam kamu have fun sama si papa 'kan di apartemennya?" tuduhnya dengan nada seolah paham dengan situasi Nia dan Samudra tadi malam."Kayaknya kamu salah paham deh. Ini udah malam, aku capek banget kerja di hari pertama. Pamit dulu ya, Pak Bos!" tukas Nia tak ingin obrolan mereka bertambah tak nyaman. Melihat Nia gusar, Andro pun tak menghalangi gadis itu meninggalkan restoran. Ia merasa agak keterlaluan bicara tadi. Setelah membayar bill di kasir, Andro melangkah keluar untuk menyusul Nia. Sayangnya, mobil gadis itu sudah menghilang dari parkiran.Sementara itu Nia menyetir ke arah rumahnya, memang agak jauh jaraknya dari restoran tadi. Di ruas jalan sepi, keseimbangan
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews