LOGINKiara duduk di salah satu kursi bar tinggi sambil menghadap jendela besar. Dari sana, dia bisa melihat langit yang tampak mendung, awan kelabu menggantung rendah di atas gedung-gedung tinggi.
Pemandangan yang biasanya menenangkan kini justru membuat hatinya terasa semakin berat.
Tangannya terangkat lalu menutup wajahnya yang dingin dan basah oleh air mata.
Dia lalu menarik napas dalam-dalam, tapi suara isaknya tetap lolos pelan. “Kenapa aku begitu bodoh,” gumamnya lirih.
Pikirannya semakin kacau. Setiap bayangan kejadian tadi menari-nari di kepalanya dan mempermalukannya berulang kali.
Suara tumpahan kopi, tatapan kaget para staf, dan suara dingin Julian yang menyuruhnya keluar—semuanya seperti pisau yang mengiris hatinya perlahan.
Tapi lebih dari rasa malu, yang paling menakutkan adalah konsekuensi dari semua itu.
Pekerjaan ini adalah satu-satunya hal yang menahannya dari kehancuran. Tanpa gaji, tanpa pekerjaan, dia tidak akan bisa membayar rumah sakit.
Dan jika ibunya dipulangkan, Kiara tidak sanggup memikirkan kemungkinan itu.
Dengan tangan bergetar, dia merogoh tasnya dan mengeluarkan ponsel. Setelah menatap layar beberapa detik, dia mengetik nama yang sudah lama tak dia sentuh di daftar kontaknya: Rhea.
Rhea adalah teman kuliah sekaligus sahabat dekatnya dulu. Mereka pernah tinggal di kamar kos yang sama, makan mie instan bersama, dan saling berbagi mimpi di malam hari.
Tapi kehidupan membawa mereka ke jalan yang berbeda. Rhea kini menjadi istri seorang konglomerat—hidupnya glamor, berkilau, dan penuh kemewahan.
Sementara Kiara, hanya gadis biasa yang berjuang agar ibunya tetap hidup.
Ia menggigit bibirnya sebelum menekan tombol panggil. Butuh keberanian besar untuk menghubungi seseorang setelah bertahun-tahun tak berbicara.
Nada sambung terdengar beberapa kali sebelum akhirnya suara lembut menyapa dari seberang.
“Kiara? Ya Tuhan, ini benar kau?” suara itu terdengar hangat, tapi ada jarak di dalamnya.
“Hai, Rhea,” ucap Kiara pelan, berusaha terdengar biasa walau suaranya serak karena menangis. “Maaf ya, aku tiba-tiba menelepon. Apa kau sedang sibuk?”
“Oh, tidak, tidak. Aku baru pulang dari salon. Ada apa? Suaramu, terdengar tidak baik.”
Kiara menundukkan kepalanya. Tenggorokannya tercekat. Butuh waktu beberapa detik sebelum akhirnya ia berkata, “Rhea, aku minta maaf kalau ini terdengar memalukan. Aku … aku butuh bantuan.”
Hening sejenak. Dari seberang, terdengar napas Rhea yang berubah pelan seolah tengah berwaspada. “Bantuan? Maksudmu?”
“Ibuku sedang dirawat di rumah sakit. Tagihannya sangat besar, dan aku belum bisa membayarnya. Aku … aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Aku ingin meminjam uang padamu. Aku janji akan mengembalikannya. Aku hanya butuh pinjaman sementara. Lima puluh juta saja.”
Suaranya pecah di akhir kalimat. Ia mengusap air mata yang mulai jatuh di pipinya.
Di seberang, terdengar suara helaan napas panjang. “Kiara, aku … aku sebenarnya ingin bantu, tapi, kau tahu, semua keuangan diatur suamiku sekarang. Aku tidak bisa asal mengeluarkan uang. Lagipula, lima puluh juta bukan jumlah kecil.”
Kiara langsung terdiam. Hatinya perih mendengar nada suara itu. Bukan karena Rhea menolak, tapi karena cara bicaranya berubah, seolah ada ada batas yang kini memisahkan mereka.
Dulu, Rhea selalu berkata bahwa mereka adalah sahabat sejati. Tapi kini, kata “sahabat” itu terasa asing.
“Aku mengerti,” jawab Kiara akhirnya dengan suara pelan. “Maaf sudah merepotkan. Aku tidak seharusnya menelepon.”
“Kiara, jangan salah paham, aku hanya tidak punya akses langsung. Mungkin kau bisa ajukan pinjaman ke bank, atau ke atasanmu? Bukankah kau magang di perusahaan besar?”
Kiara terdiam lagi. Rhea tidak tahu bahwa atasan yang dimaksud baru saja mengusir Kiara dari ruang rapat karena secangkir kopi.
“Ya, aku akan coba cari cara lain,” ucap Kiara singkat sembari menekan perasaannya yang mulai retak.
“Oke, jaga dirimu ya, Kiara. Aku harap ibumu cepat sembuh.”
Sambungan pun terputus.
Hening kembali menyelimuti ruangan. Kiara menatap ponsel di tangannya lama sekali.
Dalam pantulan layar yang gelap, dia melihat wajahnya sendiri—pucat, lelah, dan penuh keputusasaan. Air mata kembali mengalir pelan tanpa suara.
Satu per satu harapan terasa seperti menghilang. Tidak ada lagi tempat untuk bergantung. Tidak ada lagi orang yang bisa dimintai tolong.
Dia menunduk, menutupi wajahnya, dan bahunya bergetar hebat saat isakan kecil lolos dari bibirnya.
“Kenapa harus begini?” suaranya hampir tak terdengar. “Aku hanya ingin Ibu sembuh.”
Dia tidak sadar bahwa seseorang telah berdiri di ambang pintu pantry.
Siluet tinggi dengan jas gelap dan sorot mata tajam itu menatapnya diam-diam beberapa saat sebelum akhirnya melangkah masuk perlahan.
“Kenapa kau menangis di sini?”
Suara berat itu membuat Kiara tersentak keras. Ia buru-buru menoleh dan darahnya seolah berhenti mengalir saat melihat siapa yang berdiri di sana.
Julian Romanov.
Pria itu berdiri tegak di dekat mesin kopi, satu tangannya menyelip di saku celana, sementara wajahnya tetap datar tanpa ekspresi.
Namun, sorot matanya tertuju langsung pada Kiara yang masih duduk dengan mata sembab dan air mata di pipi.
“T-Tuan Julian ….” Kiara berdiri terburu-buru lalu menunduk karenapanik.
Tangannya gemetar, dan dia segera menghapus air mata dengan punggung tangan.
“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud mengganggu waktu Anda. Aku hanya—”
“Menangis setelah membuat kesalahan di ruang rapat?” potong Julian datar.
Nada suaranya tidak keras, tapi entah kenapa justru membuat Kiara semakin gemetar.
“Aku … aku benar-benar menyesal, Tuan,” ucapnya dengan suara bergetar.
“Aku tidak sengaja. Aku akan menerima apa pun konsekuensi yang Anda berikan asalkan jangan pecat aku, Tuan. Aku sangat membutuhkan pekerjaan ini untuk pengobatan ibuku.”
Julian menatapnya lama, nyaris tanpa berkedip.
Sementara Kiara berharap Julian mau memberikan rasa iba meski hanya sedikit padanya.
Julian akhirnya melangkah mendekat lalu berhenti tepat di hadapan Kiara. Gadis itu menunduk dalam sambil menggenggam tangannya sendiri untuk menahan gemetar.
“Datang ke ruang kerjaku jam delapan malam nanti,” katanya singkat.
Kiara mendongak pelan dan matanya membulat kaget. “T-Tuan?”
“Jangan terlambat.”
Lorong sayap medis privat di kediaman Oakhaven Ridge tampak seperti zona perang yang sunyi. Julian Romanov berdiri di samping tempat tidur persalinan, wajahnya yang biasanya kaku kini tampak pucat dengan rahang yang mengeras.Ia tidak mengenakan jas; kemejanya berantakan dengan kancing atas yang terbuka, dan lengan bajunya digulung kasar.Tangannya mencengkeram erat tangan Kiara, seolah-olah kekuatan fisiknya bisa membantu wanita itu menanggung rasa sakit yang luar biasa.“Tuan Romanov, kami mohon Anda menunggu di luar. Ruangan ini harus tetap steril dan tim medis membutuhkan ruang gerak,” ucap Dokter Aris dengan nada setenang mungkin, meski keringat dingin mulai membasahi dahinya.“Aku tidak akan pergi ke mana pun,” desis Julian. Suaranya rendah, namun mengandung ancaman yang tak terbantahkan.“Lakukan tugasmu, Dokter. Pastikan istriku selamat, atau kau akan menyesal pernah mengambil sumpah medis.”Kiara mengerang kesakitan, tubuhnya melengkung saat kontraksi hebat kembali menghantam
Lonceng Katedral Oakhaven berdentang dua belas kali, suaranya yang berat dan agung bergema di seluruh penjuru kota, membelah kebisingan ribuan orang yang berkumpul di luar pagar besi gereja tua tersebut.Di dalam katedral, suasana begitu kontras; sunyi, sakral, dan sarat dengan ketegangan yang elegan. Wangi bunga lili putih dan ratusan lilin lebah memenuhi ruangan beratap tinggi dengan jendela kaca patri yang menampilkan sejarah kemenangan dan penderitaan.Di barisan kursi terdepan, duduk para tokoh paling berpengaruh di dunia.Para diplomat, CEO teknologi, hingga anggota keluarga kerajaan dari negara tetangga hadir bukan hanya untuk sebuah seremoni, melainkan untuk menyaksikan secara langsung siapa wanita yang berhasil menjinakkan “Sang Tiran” Julian Romanov.Mereka berbisik pelan, mengamati setiap gerak-gerik Julian yang sudah berdiri di depan altar dengan ekspresi yang sangat terkontrol, namun rahangnya tampak mengeras setiap kali matanya melirik ke arah pintu besar katedral.“Tuan
Oakhaven tidak pernah sesibuk ini dalam satu dekade terakhir. Bendera-bendera dengan lambang singa Romanov berkibar di sepanjang jalan protokol, dan hotel-hotel bintang lima telah penuh dipesan oleh tamu-tamu kehormatan dari seluruh penjuru dunia.Media internasional melabeli acara besok sebagai “Pernikahan Abad Ini” sebuah penyatuan yang tidak hanya melambangkan cinta, tetapi juga stabilitas baru bagi imperium ekonomi Romanov yang sempat terguncang.Di dalam kantor yayasan Romanov, Kiara sedang meninjau laporan akhir program rehabilitasi kesehatan untuk sektor buruh. Ia tampak sangat berbeda dari gadis yang dulu sering menunduk ketakutan.Mengenakan setelan blazer berwarna gading yang elegan, dengan rambut yang disanggul rapi, ia memancarkan aura otoritas yang tenang. Perutnya kini sudah mulai membuncit di balik pakaiannya, namun hal itu tidak menghalangi produktivitasnya.“Nona Kiara, perwakilan dari WHO ingin mengonfirmasi kehadiran Anda di simposium bulan depan,” ucap sekretarisny
Persiapan untuk perjalanan keliling dunia seharusnya menjadi prioritas utama di penthouse Oakhaven Ridge, namun suasana pagi itu terasa berbeda. Koper-koper mewah yang sudah terbuka di sudut kamar utama masih tampak kosong.Kiara duduk di tepi ranjang, wajahnya sepucat kertas, dengan butiran keringat dingin yang membasahi pelipisnya. Aroma parfum maskulin Julian yang biasanya ia sukai, pagi ini terasa seperti racun yang memicu gejolak hebat di perutnya.Julian masuk ke kamar dengan langkah terburu-buru, masih mengenakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku. Ia langsung berlutut di depan Kiara, menggenggam tangan wanita itu yang terasa dingin dan lembap.“Masih mual?” tanya Julian, suaranya sarat dengan kecemasan yang tertahan.Kiara hanya mengangguk lemah, menutup mulutnya dengan punggung tangan.“Hanya pusing sedikit, Julian. Mungkin aku terlalu bersemangat memikirkan perjalanan kita besok. Atau mungkin makanan di jamuan makan malam kemarin tidak cocok denganku.”“Ini sud
Malam di Oakhaven tidak pernah terlihat secerah ini. Dari balkon lantai teratas penthouse Romanov, lampu-lampu kota tampak seperti hamparan permata yang berserakan di atas beludru hitam.Angin malam yang dingin bertiup stabil, membawa aroma laut dan aspal basah, namun udara di balkon itu terasa hangat.Julian berdiri bersandar pada pagar kaca, mengenakan kemeja hitam dengan kancing atas terbuka, memperlihatkan ketenangan yang jarang ia miliki selama bertahun-tahun ini.Kiara melangkah keluar dari dalam kabin kaca, tangannya memegang segelas anggur merah.Ia berdiri di samping Julian, dan menatap pemandangan yang sama. Kota yang dulu terasa seperti penjara raksasa baginya, kini tampak seperti kanvas kosong yang siap ia lukis bersama pria di sampingnya.“Kau sedang memikirkan apa?” tanya Kiara lembut, memecah kesunyian.Julian menoleh, matanya yang tajam kini melunak saat menatap wajah tunangannya.“Aku sedang mengingat pertama kali aku membawamu ke sini. Kau menatap kota ini dengan ket
Taman di belakang rumah baru yang dibangun Julian untuk Melisha tampak seperti lukisan. Bunga-bunga mawar putih yang mekar sempurna berpadu dengan aroma rumput basah setelah hujan sore tadi.Julian telah mengatur semuanya dengan detail yang sangat privat; tidak ada wartawan, tidak ada kilatan lampu flash, hanya cahaya lampu taman yang kekuningan dan lembut serta suara desir angin di antara pepohonan.Melisha duduk di kursi roda di teras, namun wajahnya kini penuh dengan kehidupan.Dia menatap Julian dan putrinya dengan senyum tulus, sebuah pengampunan yang telah ia berikan sepenuhnya sejak Julian memindahkan mereka ke tempat yang ia sebut 'benteng' itu.Julian berdiri di tengah jalan setapak berbatu, berhadapan dengan Kiara.Ketegangan yang biasanya mewarnai wajah Julian kini berganti dengan kegugupan yang manusiawi. Ia meraih tangan Kiara, merasakan jemari wanita itu yang bergetar hebat dalam genggamannya.“Julian, ada apa dengan semua persiapan ini?” bisik Kiara, matanya berkaca-kac
Aroma khas rumah sakit yang menindas perlahan memudar, digantikan oleh kesibukan para perawat yang mulai melepas kabel-kabel monitor di ruangan Melisha. Sinar matahari pagi menembus jendela besar, menyinari wajah Melisha yang kini tampak jauh lebih segar.Warna kulitnya yang semula pucat pasi perla
Cahaya matahari pagi yang pucat menembus kaca jendela penthouse, namun suasana di dalam ruangan masih terasa sisa-sisa kegelapan semalam.Julian sudah bangun lebih awal. Ia tidak berada di tempat tidur, melainkan berdiri di balkon luas yang menghadap langsung ke jantung kota Oakhaven.Meskipun jaru
Julian melepaskan cengkeramannya dari dagu Kiara, namun ia tidak menjauh. Ia berdiri di tepi ranjang, membelakangi cahaya bulan, membuat sosoknya tampak seperti bayangan raksasa yang mengintimidasi.Ia berjalan menuju bar kecil di sudut kamar, menuangkan wiski ke dalam gelas kristal tanpa suara. De
Lampu neon di ruang perawatan intensif berpijar redup, menciptakan suasana yang mencekam dan steril. Melisha terbaring lemah dengan berbagai selang yang menopang hidupnya.Saat mata wanita tua itu perlahan terbuka, Kiara segera mendekat, menggenggam tangan ibunya dengan penuh harap. Namun, reaksi y







