LOGIN
“Kalau pembayaran tidak dilakukan besok, kami terpaksa harus menghentikan pengobatannya dulu, Nona Kiara.”
Kata-kata itu seperti pisau tajam yang mengiris jantungnya tanpa ampun. Dunia Kiara Devina seolah berhenti berputar sesaat. Napasnya tersangkut di tenggorokan, dadanya sesak, dan telapak tangannya yang dingin bergetar hebat.
Ruangan putih rumah sakit yang biasanya menenangkan kini terasa seperti penjara dingin yang perlahan menghimpit dari segala arah.
Dokter di hadapannya menatapnya dengan ekspresi canggung—antara iba dan profesionalitas yang harus dijaga. Tapi bagi Kiara, kata-kata barusan terdengar seperti vonis mati.
Ia memalingkan pandangan, tak sanggup menatap wajah sang ibu yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
Tubuh wanita itu tampak semakin menyusut, pipinya tirus, dan napasnya teratur pelan-pelan melalui selang oksigen. Infus yang menancap di tangan kirinya membuat hati Kiara mencelos setiap kali menatapnya.
Air mata menetes tanpa izin, jatuh di ujung dagunya. Hatinya bergetar saat memandang sosok yang selama ini menjadi alasan ia kuat bertahan.
Ibunya adalah satu-satunya keluarga yang tersisa setelah ayahnya meninggal lima tahun lalu karena kecelakaan kerja. Sejak itu, hidup mereka berubah drastis—dari rumah kecil yang hangat menjadi kamar kontrakan sempit di pinggiran kota.
Ibunya berjuang keras, menjahit pakaian siang malam agar mereka bisa makan, sampai akhirnya penyakit itu datang: gagal ginjal kronis yang perlahan menggerogoti tubuhnya.
“Berapa tagihan yang harus aku bayar, Dokter?” tanya Kiara dengan suara bergetar, berusaha menahan isak yang hampir pecah.
“Lima puluh juta, Nona Kiara,” jawab sang dokter pelan.
“Sudah dua minggu ibu Anda dirawat di sini, dan belum pernah Anda bayar sama sekali. Jadi, besok malam adalah hari terakhir jika ibu Anda masih ingin dirawat di sini.”
Angka itu bergema di kepalanya seperti palu yang terus menghantam tanpa henti. Tubuhnya terasa ringan, tapi bukan karena lega—melainkan karena semua tenaga seakan tersedot keluar dari tubuhnya.
Jika ibunya dipulangkan, apa yang akan terjadi? Dia tahu kondisi sang ibu belum stabil. Tubuhnya masih terlalu lemah untuk dirawat di rumah. Tapi rumah sakit menolak tanpa pembayaran.
Ke mana lagi dia harus mencari uang sebesar itu dalam waktu satu hari?
Gajinya sebagai karyawan magang di Romanov Group bahkan belum cair. Dan itu pun, nominalnya tak seberapa dibandingkan tagihan yang menumpuk.
Ia sudah mencoba meminjam ke teman-temannya, tapi hampir semua menolak halus, mengeluh sedang kesulitan juga.
Dengan langkah gontai, Kiara keluar dari ruang dokter. Matanya bengkak, kepalanya berat. Dia berhenti sejenak di koridor rumah sakit yang sunyi, menatap ke arah jendela besar di ujung lorong.
“Aku harus kuat,” gumamnya pelan.
Dia menggenggam tasnya erat-erat, seolah dari genggaman itu dia bisa mendapatkan kekuatan baru.
“Kalau aku tidak bekerja, aku tidak akan punya uang. Kalau aku tidak punya uang, aku akan kehilangan Ibu,” katanya lirih, seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri.
Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 07.55 pagi. “Astaga! Rapat lima menit lagi!” seru Kiara spontan.
Jantungnya berdetak kencang karena panik menyerangnya. Dengan langkah tergesa, dia hampir menumpahkan kopinya saat berlari menuju lift.
Begitu sampai di lantai 45, pintu ruang rapat sudah setengah tertutup. Dari celahnya, dia bisa mendengar suara-suara rendah dan tegas para eksekutif yang sudah berkumpul. Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri sebelum mendorong pintu.
Begitu masuk, semua mata langsung beralih padanya.
Dan di ujung meja, duduk Julian Romanov.
Pria berusia 33 tahun itu memutar pena di antara jemarinya dengan santai, tapi auranya begitu kuat hingga seolah memenuhi seluruh ruangan.
Tingginya lebih dari 185 cm, tubuhnya tegap dalam jas hitam mahal yang disetrika sempurna. Rambutnya tersisir rapi, rahangnya tegas, dan sorot matanya yang tajam seperti elang yang tengah menilai mangsanya.
Tatapannya beralih ke arah Kiara. Tatapan yang dingin, menusuk, dan membuat siapa pun sulit bernapas. Mata abu-abu itu menelusuri Kiara dari ujung kepala hingga kaki.
“Maaf, aku—”
Belum sempat Kiara menyelesaikan kalimatnya, cangkir kopi di tangannya terguncang. Semua terjadi begitu cepat.
Satu langkah kecil yang salah, satu getaran gugup di ujung jarinya—dan bencana itu pun terjadi.
Cairan kopi yang masih panas tumpah, mengalir dari bibir cangkir, menetes ke meja, lalu jatuh tepat di sisi kanan jas mahal yang dikenakan Julian Romanov.
Sunyi.
Semua orang yang berada di ruang rapat itu menahan napas. Tatapan mereka saling bertukar panik.
Seorang manajer senior spontan menutup wajahnya dengan tangan, sementara asisten pribadi Julian membeku di tempatnya, tidak tahu harus berbuat apa.
Kiara terpaku.
Wajahnya langsung pucat pasi, darah seolah berhenti mengalir. Tangannya yang masih memegang cangkir kosong bergetar hebat, seakan benda itu kini menjadi beban yang sangat berat.
Hatinya berdegup begitu kencang sampai terasa menyakitkan di dada. Ia tahu, ia baru saja melakukan kesalahan terburuk dalam hidupnya.
“Astaga! Maafkan aku, Tuan. Aku tidak sengaja—”
Julian sontak menatapnya.
Tatapan itu. Tatapan dingin yang selama ini hanya Kiara lihat dari jauh—kini menembus langsung ke dalam dirinya.
Julian perlahan meraih sapu tangan putih dari sakunya dan menepuk sisi jasnya yang terkena noda kopi, lalu meletakkan sapu tangan itu di atas meja tanpa sepatah kata pun.
“Keluarlah,” katanya datar.
Kiara membeku di tempat. “Ta-tapi, Tuan. Aku harus mengikuti rapat penting ini—”
“Bagaimana kau bisa fokus jika berjalan saja masih melakukan kesalahan?” katanya tanpa meninggikan suara, tapi setiap katanya terasa seperti tamparan keras.
Ruangan seolah menyusut.
Kiara, wanita muda berusia dua puluh tiga tahun, karyawan magang yang bahkan belum genap dua bulan bekerja di Romanov Group, berdiri kaku di depan seluruh jajaran manajer senior dan direktur.
“Rapat akan segera dimulai,” lanjut Julian dengan nada yang nyaris tanpa emosi, “dan aku tidak ingin ada satu pun yang membuat rapat ini jadi kacau.”
Kata-kata itu menjadi tanda berakhirnya segalanya. Tidak ada ruang untuk penjelasan. Tidak ada kesempatan kedua untuk Kiara.
“Kiara, sebaiknya keluar sekarang,” ucap Max—asisten pribadi Julian—dengan suara hati-hati.
Wajahnya menunjukkan rasa iba yang sulit disembunyikan. Ia tahu Julian tidak akan mentolerir kesalahan sekecil apa pun, apalagi yang melibatkan dirinya secara langsung.
Kiara menatap Max dengan mata berkaca-kaca.
Dia ingin menjelaskan, ingin mengatakan bahwa pagi ini adalah pagi yang kacau, tapi bibirnya kelu.
Dan pada akhirnya, dia hanya bisa menunduk dan mengangguk pelan. “Baik, Tuan.”
Langkahnya terasa berat saat berjalan keluar. Tidak ada satu pun yang berani menatapnya lama-lama, seolah ketakutan mereka pun bisa menular.
Begitu pintu tertutup di belakangnya, Kiara bersandar di dinding koridor yang dingin.
Tubuhnya bergetar hebat, dan akhirnya air mata yang sejak tadi dia tahan mulai menetes satu per satu.
Ia menutup mulutnya dengan tangan agar isaknya tak terdengar—tapi justru suara itu menggema samar melewati celah pintu yang belum tertutup rapat sempurna.
Tangisnya pelan, tapi nyata.
Dan tanpa dia sadari, beberapa kepala di dalam ruang rapat sempat saling bertukar pandang. Mereka mendengar semuanya, termasuk Julian.
Namun tak satu pun berani membuka suara.
Di luar, Kiara berlutut perlahan di ujung lorong sambil menggenggam cangkir kertas yang kini hancur remuk di tangannya.
“Astaga … kau ceroboh sekali, Kiara,” gumamnya di antara isak.
“Kenapa melakukan kesalahan yang sangat berat seperti ini? Kalau kau dipecat, siapa yang akan melunasi tagihan ibumu?”
Aroma khas rumah sakit yang menindas perlahan memudar, digantikan oleh kesibukan para perawat yang mulai melepas kabel-kabel monitor di ruangan Melisha. Sinar matahari pagi menembus jendela besar, menyinari wajah Melisha yang kini tampak jauh lebih segar.Warna kulitnya yang semula pucat pasi perlahan kembali merona. Di ambang pintu, Dokter Aris, kepala tim medis yang disewa khusus oleh Julian melangkah masuk dengan senyum tenang sambil membawa map rekam medis terbaru.“Tuan Romanov, Nona Kiara,” Dokter Aris menyapa dengan nada formal namun hangat. “Saya memiliki kabar yang sudah lama kita tunggu-tunggu.”Kiara berdiri seketika, jemarinya bertaut di depan dada, menatap dokter itu dengan harapan yang meluap-luap. Julian, yang berdiri tepat di belakangnya, meletakkan tangan di bahu Kiara, memberikan dukungan yang kokoh tanpa suara.“Bagaimana kondisi Ibu saya, Dok?” suara Kiara bergetar.Dokter Aris membuka mapnya. “Hasil pemeriksaan saraf dan fungsi organ pagi ini menunjukkan pemulihan
Lorong fasilitas psikiatri tingkat tinggi di pinggiran Oakhaven terasa dingin dan steril. Bau karbol yang menyengat menusuk hidung Julian saat ia melangkah menyusuri lantai linoleum putih yang mengkilap.Langkah sepatunya yang mahal bergema pelan di dinding beton yang tebal, kontras dengan kesunyian yang mencekam di tempat itu.Ia tidak datang ke sini sebagai kekasih, rekan bisnis, atau bahkan musuh yang ingin merayakan kemenangan. Ia datang untuk menutup sebuah bab yang telah terlalu lama terbuka.“Tuan Romanov, Nyonya Vanderbuilt sedang dalam periode obsesifnya pagi ini,” lapor seorang perawat senior sambil membukakan pintu besi dengan kartu akses.“Dia menolak makan dan terus menggumamkan angka-angka saham serta nama Anda. Kami harus membatasi aksesnya ke televisi karena setiap berita tentang penyitaan asetnya memicu histeria.”Julian mengangguk tanpa ekspresi. “Hanya lima menit. Aku ingin bicara dengannya sendirian.”Pintu terbuka, menyingkap sebuah ruangan kecil dengan jendela be
Layar televisi di ruang kerja Julian masih menyala, menampilkan wajah Natasha Vanderbuilt yang tertangkap kamera amatir saat diseret keluar dari lobi Romanov Group.Tidak ada lagi riasan sempurna atau setelan desainer yang licin; Natasha tampak hancur, rambutnya kusut, dan matanya liar menatap kilatan lampu flash para jurnalis. Dalam hitungan jam, citranya sebagai ratu bisnis Oakhaven runtuh total.“Media sosial menyebutnya 'Kejatuhan Sang Serigala Betina',” gumam Max sambil meletakkan tablet di meja Julian.“Teman-teman sosialitanya di klub eksklusif sudah mengeluarkan pernyataan resmi. Mereka memutus semua keanggotaan Natasha. Bahkan yayasan amalnya sendiri menolak dikaitkan dengan namanya. Dia menjadi musuh publik nomor satu atas tuduhan pengemplang pajak dan pencucian uang.”Julian menyesap kopinya, matanya tetap dingin menatap layar. “Orang-orang itu tidak pernah benar-benar menjadi temannya, Max. Mereka hanya mencintai uangnya. Begitu uang itu hilang, mereka akan menjadi orang p
Suasana di lobi utama Romanov Group mendadak tegang saat sebuah sedan mewah berwarna perak berhenti mendadak di depan pintu kaca sensor.Natasha Vanderbuilt keluar dengan langkah yang tidak lagi anggun; rambutnya sedikit berantakan, dan matanya merah menyala karena amarah yang bercampur dengan keputusasaan.Para petugas keamanan mencoba menghadangnya, namun Natasha berteriak histeris, menuntut untuk bertemu dengan Julian.“Minggir! Aku tahu dia ada di atas! Julian! Keluar kau, keparat!” teriak Natasha, suaranya bergema di langit-langit lobi yang tinggi.Di lantai teratas, Julian berdiri di balik meja kerjanya yang luas, menatap layar monitor yang menampilkan keributan di bawah.Di sampingnya, Kiara berdiri tegak, tangannya terlipat di depan dada. Tidak ada lagi ketakutan di wajah Kiara; hanya ada tatapan dingin yang siap menghadapi badai.“Biarkan dia naik, Max,” ucap Julian melalui interkom.Pintu lift berdenting beberapa menit kemudian. Natasha menyerbu masuk ke ruangan Julian seper
Pagi itu, gedung pusat Vanderbuilt Tower yang biasanya menjadi simbol keangkuhan di pusat Oakhaven mendadak berubah menjadi sarang kepanikan. Belasan mobil hitam dengan plat instansi pemerintah terparkir rapi di lobi utama.Puluhan petugas berseragam otoritas pajak pusat, didampingi oleh satuan polisi khusus, melangkah masuk dengan dokumen penyitaan di tangan.Mereka tidak datang untuk berdiskusi; mereka datang untuk mengeksekusi perintah penyelidikan atas dugaan pencucian uang dan penggelapan pajak berskala besar.Di lantai teratas, Natasha Vanderbuilt berdiri di balik meja kerjanya yang luas, menatap monitor CCTV lobi dengan mata membelalak. Gelas kristal di tangannya bergetar hebat.“Bagaimana mereka bisa mendapatkan surat perintah secepat ini?!” teriak Natasha pada kepala bagian legalnya yang berdiri pucat di depan pintu.“Laporan anonim itu sangat detail, Nyonya,” jawab pengacara itu dengan suara bergetar.“Data yang mereka miliki mencakup aliran dana ke perusahaan cangkang di Pa
Deru mesin yacht yang menjauh dari pulau terpencil itu menandai berakhirnya masa tenang yang singkat. Begitu kaki Julian dan Kiara menginjak dermaga pribadi di Oakhaven, aura di sekitar mereka berubah seketika.Julian tidak lagi tampak seperti pria yang bimbang atau terhantui oleh bayang-bayang Kevin.Ia berjalan dengan punggung tegak, tatapan matanya tajam dan fokus, seperti predator yang telah selesai mengasah kuku dan taringnya di hutan sunyi, siap untuk menerkam mangsa di tengah kota.Kiara berjalan di sampingnya, mengenakan kacamata hitam dan setelan formal yang disiapkan Max.Ia bukan lagi gadis yang gemetar ketakutan; ada ketenangan baru di wajahnya, sebuah kepercayaan diri yang lahir dari penyatuan mereka di pulau itu.“Max, berikan laporannya,” perintah Julian begitu mereka masuk ke dalam SUV antipeluru yang sudah menunggu.Max menyerahkan sebuah tablet dengan grafik yang menunjukkan pergerakan pasar. “Saham Vanderbuilt Group terus merosot, Tuan. Natasha mencoba melakukan buy







