Share

Bab 122

Penulis: NFLusica
last update Tanggal publikasi: 2026-04-11 14:17:39

Raut kepuasan terbit di wajah pucat Amara. Keputusannya akhirnya mendapat dukungan mutlak dari Bu Ratih, pemegang kekuasaan tertinggi sebelum ayah kandungnya pulang dari luar negeri. Tidak ada lagi rasa bersalah secuil pun karena telah memiskinkan suaminya.

"Mama setuju aku bikin Mas Doni jatuh miskin?" tanya Amara mendongak meminta kepastian.

"Tentu saja. Laki-laki pecundang seperti Doni memang harus diberi pelajaran finansial yang menyiksa mental. Biarkan dia merangkak mengemi

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Suntik Aku, Mas Dokter!   Bab 201

    Amara menganggukkan kepalanya sangat antusias menyetujui persyaratan protektif tersebut, tanpa berniat melayangkan protes sedikit pun.Rasa senangnya meluap seketika menyadari betapa besarnya upaya laki-laki ini dalam menjamin keamanannya setiap saat. Senyum memikat langsung mengembang sempurna menghiasi wajah pucat Amara."Makasih banyak ya, Mas," ucap Amara berjinjit mendekatkan wajahnya ke arah sang dokter. "Sekarang tolong kecup kening aku yang lama dong, sebelum kita pisah berangkat kerja." Tuntutan manja tersebut meluncur begitu saja dari bibir Amara.Menuruti permintaan binal tersebut, bibir tebal Adrian mendarat sangat lembut di kening sang kekasih membagikan kehangatan.Ciuman polos itu perlahan turun menyapu kelopak mata, lalu berakhir melumat bibir ranum Amara dengan sangat memabukkan. Pagutan basah yang awalnya berjalan lambat itu mendadak berubah menjadi ciuman buas penuh tuntutan gairah liar.Di bawah cahaya matahari pagi yang menembus gorden, sang pahlawan medis mulai m

  • Suntik Aku, Mas Dokter!   Bab 200

    Berpindah jauh ke pinggiran kota yang kotor, nasib teramat menyedihkan justru menimpa sang mantan eksekutif. Doni sedang duduk meringkuk sendirian di emperan sebuah toko bangunan yang sudah tutup rapat. Suhu udara malam yang menusuk hingga ke tulang sumsum membuat tubuh pria pengangguran ini menggigil hebat.Berbunyi sangat nyaring, perut Doni menahan rasa lapar yang menyiksa usus lambungnya sejak kemarin malam. Gara-gara seluruh akses perbankannya dibekukan secara permanen, laki-laki pecundang ini tidak memiliki uang sepeser pun untuk membeli nasi.Kehidupannya berbalik seratus delapan puluh derajat menjadi gembel jalanan dalam waktu yang sangat singkat.Menggigit sisa kuku jarinya hingga berdarah, Doni menatap layar ponselnya yang retak parah di beberapa sisi. Layar redup itu menampilkan daftar panjang kontak teman-teman lamanya yang kompak memblokir nomor teleponnya. Dia berniat menghubungi satu-satunya nomor rahasia yang belum dia pakai selama ini."Angkat telepon gue kali ini aja

  • Suntik Aku, Mas Dokter!   Bab 199

    Setibanya mereka di dalam area kamar utama yang wangi, Adrian langsung melangkah tegap menuju area kamar mandi. Laki-laki berbadan kekar ini berniat membersihkan tubuh kekasihnya dari bau obat-obatan klinis. Dinyalakannya keran air hangat itu hingga memenuhi batas aman bak mandi porselen berwarna putih bersih.Kepulan uap panas perlahan menyeruak ke udara memenuhi ruangan tertutup berbahan marmer tersebut. Tetesan air mulai menempel di cermin lebar dinding kamar mandi."Sini sayangku, biar aku bantu melepaskan baju kotor kamu pelan-pelan," pinta Adrian menuntun kekasihnya mendekati area basah tersebut dengan amat protektif."Aku bisa buka sendiri bajunya, Mas." Amara menutupi area dadanya menggunakan kedua tangan karena merasa canggung."Ngga ada satu inci pun dari tubuhmu yang belum pernah aku cium dan sentuh. Buat apa kamu malu sama pria yang udah berhasil bikin rahimmu berisi begini? Biar aku yang memandikanmu sore ini sampai kamu merasa rileks total."Mendengar bantahan dominan te

  • Suntik Aku, Mas Dokter!   Bab 198

    Merasakan getaran konstan dari ponsel tersebut yang berisiko membangunkan pasiennya, raut wajah Adrian seketika berubah menjadi sangat siaga. Laki-laki maskulin ini mengambil benda elektronik itu dari atas meja kayu mahoni dengan gerakan ekstra hati-hati.Digesernya layar bercahaya tersebut untuk memeriksa identitas sang pengirim pesan misterius yang berani mengganggu jam istirahat kekasihnya.Terdapat sebuah ancaman pemerasan eksplisit dari Siska yang secara terang-terangan menuntut uang tutup mulut bernilai ratusan juta rupiah. Selingkuhan Doni itu rupanya berniat memeras keluarga ini menggunakan rahasia perselingkuhan mereka sebagai senjata utama penarik simpati."Perempuan murahan ini bener-bener cari mati karena udah berani ngusik ketenangan kekasih gue lagi," umpat Adrian menekan kuat pinggiran ponsel tersebut."Dia pikir dia bisa meras harta dari wanita konglomerat pakai ancaman picisan begini tanpa dapat balasan berdarah dariku? Perempuan rendahan ini sepertinya sangat meremeh

  • Suntik Aku, Mas Dokter!   Bab 197

    Menjelang pukul empat sore, suasana di dalam kamar rawat inap VVIP itu kembali menjadi sangat sepi. Rombongan karyawan kantor yang sebelumnya memeriahkan ruangan akhirnya benar-benar pamit untuk kembali bekerja di perusahaan.Menyisakan keheningan, sepasang kekasih gelap tersebut akhirnya bisa menikmati waktu berduaan di balik dinding kedap suara ini.Diambilnya sebotol losion aromaterapi beraroma lavender dari dalam tas medis milik sang dokter kandungan. Laki-laki berbadan tegap itu berjalan santai menghampiri ujung ranjang tempat perempuannya berbaring lemas."Siniin telapak kaki kamu biar aku pijit pelan-pelan sampai bengkaknya hilang semua, Sayangku," tawar Adrian menyingkap lembut selimut rumah sakit tersebut."Dari tadi betisku memang rasanya pegal banget menahan beban badan waktu duduk ngobrol sama anak-anak kantor, Mas. Tangan kamu itu selalu kerasa pas banget buat nekan titik saraf yang lagi tegang. Tolong pijatannya agak dikerasin sedikit di bagian tumitnya biar peredaran da

  • Suntik Aku, Mas Dokter!   Bab 196

    Sepeninggal Bu Ratih dari ruangan Amara, pria karismatik ini kembali memusatkan seluruh fokusnya pada sosok ibu hamil di atas ranjang.Sebelum Adrian menyuapi Amara, perempuan ayu itu sempat mengerucutkan bibirnya menatap nampan makanan rumah sakit. Makanan hambar berupa bubur saring tanpa rasa itu sama sekali tidak mengunggah selera makannya siang ini."Saya rasanya udah muak banget disuruh makan bubur lembek yang rasanya tawar begini setiap hari," keluh Amara menggeser nampan plastiknya menjauh.Keluhan manja tersebut sontak memancing tawa tertahan dari para karyawan yang berdiri mengelilingi ranjang. Mereka sangat jarang melihat sisi kekanak-kanakan dari atasan mereka yang terkenal sangat tegas dan disiplin di kantor.Adrian melangkah pelan mendekati sisi ranjang untuk mengambil alih piring kecil berisi potongan apel dari tangan Bambang. Tanpa memedulikan tatapan penasaran dari beberapa staf di sana, dia mulai menyuapkan buah segar tersebut langsung ke mulut Amara."Kamu harus teta

  • Suntik Aku, Mas Dokter!   Bab 12 Durasi Kita Hanya Dua Jam

    Di klinikmya, Adrian berdiri di bawah shower. Dia memutar keran ke arah biru. Air yang semula hangat berubah menjadi dingin menusuk tulang. Adrian memejamkan mata dan mendongakkan wajahnya. Dia membiarkan air dingin itu menampar kulit wajah dan tubuhnya.Sejak bangun tidur tadi pagi, tubuhnya teras

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-18
  • Suntik Aku, Mas Dokter!   Bab 53 Masa Lalu

    Sebagai bentuk keputusasaan, Adrian menghela napas sangat panjang melalui hidungnya. Dia sadar posisinya sangat lemah di hadapan kekuatan uang milik mertua Doni tersebut. Pria itu harus membangun batasan emosional yang ketat agar tidak semakin hancur di kemudian hari."Kurang berapa lagi?

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-01
  • Suntik Aku, Mas Dokter!   Bab 40 Ah, Sial!

    Seketika, Adrian mengepalkan telapak tangan kiri di atas meja kerja. Kuku-kukunya menekan kulit sampai meninggalkan bekas kemerahan yang sempat memutus aliran darah. Suhu tubuhnya kembali naik perlahan saat mengingat jumlah uang hasil kerjanya yang harus dikorbankan demi masalah ini.&ldqu

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-28
  • Suntik Aku, Mas Dokter!   Bab 65 Sini Aku Betulin

    "Kamu pasti lemes banget buat pakai baju dengan benar, ya?" tebak Bu Ratih sambil tersenyum tipis meremehkan. "Makanya kancing baju kamu sampai mencong begini pas dipakai habis periksa tadi."Mendapat jalan keluar yang tak terduga, Amara buru-buru menganggukkan kepalanya dengan tempo cepat

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-05
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status