Share

BAB 17

Author: Pipit Chie
last update publish date: 2026-10-03 21:00:00

”Wow, tingkat kepercayaan diri lo patut diacungi jempol. But, thanks. Gue milih pakai dildo daripada sama lo.” Aku bersungut dan kembali duduk. Rasanya jengkel bukan main karena membiarkan diriku bicara dengan pria sepertinya.

Dia lumayan tampan. Tapi parfumnya benar-benar mengganggu. Apa indera penciumannya tidak bermasalah mencium aroma itu? Atau indera itu sudah mati rasa? Buktinya saja, setiap orang yang ia lewati menoleh dengan kening mengernyit ke arahnya. Bukan hanya aku yang mera
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
may cus
lagi kk pliiiiiissssss
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Sweet Trouble   BAB 37

    ”Jangan ditahan,” ujarnya menyentuh bibir bawah yang kugigit. “Gue mau dengar suara lo. Jadi please… jangan ditahan.” Bibirku masih terkatup rapat, mencoba untuk tetap menahan suara. Namun ketika ibu jarinya mendesak masuk ke dalamku di bawah sana, pertahananku hancur. ”Ah…” eranganku keluar begitu mudahnya. Kepalaku mendongak kala ia menarik ibu jarinya untuk mendorong jari tengahnya. “Yeah, like that.” Pria itu mencium bagian atas vaginaku. “Gue suka sama suara lo.” Sialan! Benar-benar seperti diriku dihancurkan dalam sekali pukulan. Ciumannya kini tertuju pada klitorisku dan mengisap tonjolan kecil itu yang membuatku tersentak dengan pinggul yang terangkat. ”R-Ren!” Nikmat. Sungguh nikmat. Pandangan berputar-putar sehingga membuatku pusing. Reaksi tubuhku begitu terang-terangan. Kewanitaanku berdenyut lebih hebat di saat lidah Rainer menjilat klitoris yang menegang. Ia mengisap, menjilat dan menggigit pelan titik sensit

  • Sweet Trouble   BAB 36

    Tangannya bergerak cepat untuk melepaskan gaunku, dalam waktu beberapa detik, aku sudah berbaring hanya dengan mengenakan celana dalam. Semuanya masih belum mampu kucerna dengan baik. Ketika tangannya mulai menyentuh celana dalamku, mendadak aku mendorong dadanya yang keras.”Kenapa? Berubah pikiran?” Rainer mengangkat wajahnya yang terkubur di leherku.”M-mandi dulu,” ucapku terbata. “Nggak perlu, lo masih wangi—“”Gue mau mandi dan bersihkan makeup dulu.” Karena aku yakin akan langsung tidur setelah kami melakukannya nanti. Aku harus membersihkan wajah sebelumnya, kulitku yang sensitif akan berjerawat kalau aku tidur dengan wajah yang tidak dibersihkan. “Gue takut jerawatan.”Rainer menaruh keningnya di bahuku sambil menahan tawa sampai bahunya bergetar.”Gue udah diujung dan lo masih mikirin jerawat?””Gue nggak suka jerawatan, bikin badmood.”Rainer turun dari tubuhku untuk berbaring di sampingku, ia menolehkan kepalanya untuk menatapku yang juga

  • Sweet Trouble   BAB 35

    Aku tidak berani bersuara, hanya kakiku yang bergerak kian lambat. Kepalaku menoleh ke samping karena tidak berani menatapnya sementara ia tetap menunduk ke arahku. Terpanaan napasnya mengenai puncak kepalaku.Ketegangan di antara kami terasa berbeda. Seperti ada percikan-percikan gairah yang siap menyambar bagai petir. Aku berusaha untuk mengendalikan diri. Bahkan ketika telapak tangannya mengusap lembut pinggangku, aku tetap mencoba untuk tenang.Bagian tengah tubuhku berdenyut kian hebat. Tanpa bisa kucegah, benakku kembali memutar malam di mana kami bergelut dalam gairah. Berpelukan seperti ini membuatku membayangkan pelukan yang kami lakukan dalam keadaan telanjang.God! Pikiranku tidak tertolong lagi!”Ngobrolin apa aja sama Melvin?”“Kepo. Nggak semua hal harus gue ceritain sama lo.””Lo happy banget kayaknya.”“Gue mau diangkat jadi komisaris, happy dong,” jawabku asal.Dia tertawa pelan, tawa yang begitu dekat dengan telingaku sampai membuatk

  • Sweet Trouble   BAB 34

    Tidak sengaja aku menatap Rainer, kali ini ia sudah dikerumuni oleh para gadis. Mereka pasti menunggu kesempatan ini sejak kemarin. Karena sejak datang ke Bali, Rainer memang lengket denganku.”Lo nggak cemburu?””Cemburu? Sama siapa?” Aku bertanya dengan nada polos. Padahal aku tahu siapa yang Melvin maksud.”Sama temen lo.” Seringai di wajahnya memang tampak menyebalkan. “Kenapa gue mesti cemburu? Kita beneran cuma temen. Gue nggak tertarik jalin hubungan baik sama dia mau pun sama cowok lainnya.””Alasannya?””Privasi,” jawabku dengan senyum kecil. “Tapi intinya, gue nggak akan menjalin hubungan dengan tipe cowok kayak dia. Lihat aja track record-nya selama ini. Bikin gue merinding.”Sontak Melvin tertawa geli. Ia pasti tahu betapa hitamnya daftar kehidupan Rainer selama ini.”Gue nggak bisa berhubungan dengan cowok yang gonta-ganti pasangan kayak dia. Gue nggak segoblok itu buat nyerahin hati gue cuma buat dihancurin. Gue udah pernah hancur, dan

  • Sweet Trouble   BAB 33

    “Ren…”Ia tak langsung menjawab, bibirnya masih tidak melepaskan kulitku. Bagian yang ia hisap kini mulai menimbulkan denyutan kecil. Sedikit terasa sakit, namun berhasil membuat aku merapatkan kedua paha secara diam-diam. Tidak seperti biasanya, Rainer sedikit melewati batas yang biasanya ia terapkan pada dirinya sendiri. Dan aku pun tidak berusaha untuk memintanya berhenti, seolah tubuhku mengkhianati aku karena diam-diam menginginkan lebih dari sekadar ciuman kecil seperti itu.Kembang api sudah berhenti meledak di udara. Dalam beberapa detik, suasana terasa begitu hening sehingga aku merasa seperti mampu mendengar suara detak jantungku sendiri.Telapak tangan lebar itu merayap naik secara perlahan. Gerakannya pelan, sama sekali tidak terburu-buru. Karena sepertinya Rainer menunggu protes dariku jika memang aku tidak menginginkannya. Seharusnya aku memintanya berhenti ‘kan? Namun mengapa bibir ini tidak kunjung bicara? Sentuhannya naik untuk mencapai payudara. Kupikir, ia akan mer

  • Sweet Trouble   BAB 32

    ”Lo gugup?”Ia mengangguk. “Adik manja gue beneran mau jadi istri orang,” ucapnya pelan. Adikku belum menikah jadi aku tidak tahu perasaan itu, namun aku memaklumi kegugupannya saat ini. Mungkin kalau suatu saat Fadly menikah, aku juga akan merasakan apa yang Rainer rasakan sekarang. Bahkan mungkin tangisku paling kencang ketika hari itu tiba. Karena bagaimanapun, diriku turut membesarkannya selama ini. Aku, Fadly dan mama. Kami mungkin akan menangis bahagia bersama-sama di hari bahagia itu.Prosesi akad nikah berjalan lancar. Aku ikut meneteskan air mata ketika prosesi sakral itu berlangsung. Rainer sampai menyembunyikan wajahnya di bahuku sambil terisak pelan. Untuk menenangkannya, aku mengusap pelan pipinya dan membiarkan dia bersandar selama dia menangis. Untuk kali ini, aku tidak akan mencibirnya karena ia menjadi cengeng. Sebagian besar orang di acara ini menangis mendengarkan sumpah yang Jo ucapkan ketika ijab kabul selesai dilaksanakan. Selama sesi foto kel

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status