LOGINPukul sepuluh pagi, kami kembali ke Jakarta. Dalam perjalanan menuju bandara, dengan iseng aku mengecek media sosial.
”OH MY GOD!” Nyaris saja ponsel di tanganku jatuh ke bawah. ”Kenapa? Ada yang sakit?” Rainer yang tadinya nyaris terlelap langsung bangun untuk menatapku dengan tatapan khawatir. “Yang tadi malam masih sakit?” Untungnya di mobil ini hanya kami berdua, plus seorang sopir. Aku melotot padanya yang langsung menutup mulut rapat-rapat. ”Nih,“Oke, gini aja….” Mas Gugun mengusap pelan bahuku. “Coba pelan-pelan telaah perasaan lo. Bayangin kalau lo di posisi Rainer. Gimana kalau lo di posisi dia? Apa yang akan lo lakuin? Okay, kalau dia nggak ngomong soal perasaannya, jalani aja apa yang kalian jalani sekarang. Mungkin memang cuma sebatas itu yang dia mau dari lo. Tapi kalau dia mau melangkah ke arah yang lebih jauh, pilihannya cuma dua. Lo jalan bareng dia dengan status yang berbeda kayak sekarang, atau lepasin dia selamanya. Jangan lo siksa anak orang kayak begitu. Dia juga punya titik jenuh. Okay?” Mas Gugun tersenyum kecil, menepuk pelan puncak kepalaku seolah aku adiknya. “Inget, pilihan cuma dua, nggak ada pilihan ketiga. Take it or leave it.”Take it or leave it. Semudah itu?“Flo, ingat satu hal. Lo nggak akan pernah dapatin cowok kayak dia lagi. Peduli setan sama mantan-mantan lo yang jahanam itu, mereka nggak sama kayak Rainer. Kalau sama, lo pasti udah ditinggalin. Inget, cuma dia yang bertahan nurutin
Rainer tersenyum kecil, naik ke atas ranjang lalu memegangi pinggangku dengan kedua tangan. Tidak lama, kurasakan ciuman lembutnya jatuh ke punggung. Tidak hanya sekali, namun berkali-kali.”Peluk bantalnya erat-erat.”Setelah kalimat itu kudengar, miliknya kembali masuk ke dalam tubuhku. Dan aku memeluk bantalku erat-erat seperti yang ia minta.Kami berpelukan dalam diam. Belum ada yang bicara setelah melakukannya sebanyak tiga kali. Tangannya terus membelai kepalaku yang menempel di dadanya. Apakah sekarang kami baik-baik saja? Entahlah, seolah ada masalah yang menggantung di antara kami.”Babe, kenapa tiga hari ini? Gue ada bikin salah?”Namun aku tidak mau membahasnya sekarang.”Bisa nggak, nggak usah dibahas sekarang?””Kenapa?””Gue nggak mau bahas itu sekarang.””Okay.” Rainer yang selalu mengalah, dan aku yang selalu egois. Kusadari itu, namun aku tetap melakukannya. Aku bertanya-tanya, sampai kapan ia akan mengalah padaku yang egois
Menatapku yang terisak-isak, Rainer mengumpat keras. Langkahnya begitu cepat mendekatiku, lalu memelukku erat-erat sementara aku masih mencoba mencerna kehadirannya.”Shit, seharusnya gue nggak ngomong itu ke lo. Sorry, babe. Gue nggak bermaksud ngomong sekasar itu. Kadang gue heran sama mulut gue sendiri.”Kugerakkan tangan untuk memeluknya sebelum dia pergi lagi. Tangisku pecah, meledak di dadanya.Aku harus apa, Ren? Apa yang harus kulakukan agar ketakutan ini menghilang dari hatiku? Apa yang harus kulakukan agar aku bisa percaya bahwa masih ada pria baik yang benar-benar bisa mencintaiku? Bagaimana agar trauma ini tidak menghantuiku setiap hari? Aku bahkan bersedia melakukan apa pun agar bisa hidup normal seperti manusia lainnya. ”Sorry, Sayang. Gue… gue nggak bermaksud bikin lo kayak gini.” Ia berbisik pelan di telingaku. “Please… gue nggak bermaksud bikin lo nangis. Gue yang salah.”Salahku. Aku yang salah. Bukan dia. Aku yang bodoh. Aku yang… gila. Aku ya
“Lo tahu berapa lama gue nunggu? Dari jam delapan, sekarang jam… sebelas? Hampir jam dua belas?” Dia berdecak sinis. Kuberanikan diri menoleh ke arah sofa. Dia duduk di sana dalam kegelapan. Bahkan tanpa menatap ke arahku. Pandangannya tertuju lurus pada meja di hadapannya.”Makanan yang gue bawa bahkan udah dingin.”Ada paper bag di atas meja, yang terabaikan begitu saja.”G-gue….””Kenapa lo nggak balas chat gue? Kenapa nggak angkat call gue? Kenapa lo nyuekin gue?”Aku yang berdiri di dekat pintu kamar hanya bisa bungkam. Saat itulah Rainer akhirnya mengangkat kepala untuk menatapku. Sinar lampu dari dapur mengenai wajahnya. Dan tatapan matanya… tampak marah. Benar-benar marah. Ia hampir tidak pernah marah padaku, baru kali tatapan matanya tampak menakutkan.”Dari mana lo sejak tadi? Gue hubungi Erika, katanya lo udah pulang sejak sore. Gue takut lo ke Litera, jadi beberapa menit sekali gue call manajer buat mastiin lo di sana atau nggak. Tapi lo ngga
”Mending lo check-out barang gue nih, udah menuhin keranjang gue.””Sini, gue bayar. Lo mau apa?”Ia tertawa sambil menggeleng. “Bercanda kali, ah.”Tapi aku benar-benar mengirim uang ke rekeningnya yang membuatnya melotot.”Lo sekarang nggak bisa diajak bercanda apa gimana Flo?””Beli, deh. Biar gue nggak merasa bersalah karena udah ngerepotin lo selama beberapa hari ini.””Dasar si paling nggak mau hutang budi.”Ya, aku sulit menerima kebaikan orang lain tanpa berusaha untuk membalasnya. Mungkin benar, aku memang tidak pernah mau berhutang budi kepada orang lain. Tapi semata-mata itu kulakukan untuk mengurangi rasa bersalah karena telah menyeret Erika dalam kebingunganku sendiri, yang aku sendiri belum bisa memahaminya sampai sekarang.Aku benar-benar benci menyetir sendiri! Padahal selama ini, aku menjadi sopir pribadi untuk diriku sendiri. Namun sekarang, menghadapi kemacetan membuat otakku mendidih. Menjadi penumpang memang sangat menyenangkan. A
”Kenapa nggak?” Mas Gugun buka suara. “Kalau lo mau dengar perspektif gue sebagai cowok, maka bisa gue simpulkan kalau Rainer juga cinta sama lo. Cowok, termasuk gue dan cowok-cowok lainnya, nggak akan mungkin ngelakuin semua itu kalau kami nggak cinta. Siapa yang rela bangun pagi-pagi padahal dia baru tidur subuh cuma buat bikinin sarapan dan nganter cewek ke kantor? Nggak akan sudi kalau nggak cinta. Siapa yang terus-terusan kirim makanan, camilan, chat dan call tiap saat? Nggak mungkin kalau nggak cinta. Kalau perhatian temen, nggak ada temen yang segitunya. Nggak ada!” ”T-tapi—“ ”Dan siapa cowok yang ke mana-mana rela jadi sopir kalau bukan karena cinta? Yang selalu mastiin cewek itu makan dengan bener, ngisi kulkasnya yang kosong, temenin dia ke mana pun. Siapa coba, gue tanya? Siapa kalau bukan cinta?” “Nggak mungkin,” bisikku pelan. ”Sekarang lo menghindari dia karena lo mulai nyadar sama perasaan lo? Oke, lo bisa menghindar, gue pun bi







