로그인"Tante dengar permasalahan yang sedang terjadi."Tangan Aruna yang baru saja ingin mengangkat gelas kopi dinginnya langsung berhenti di udara. Jemarinya menegang sepersekian detik sebelum perlahan ia kembali meletakkan gelas itu ke atas meja bundar kecil di hadapan mereka.Bunyi pelan dari dasar gelas yang menyentuh permukaan meja terdengar samar di tengah ramainya suasana coffee shop siang itu.Area outdoor tempat mereka duduk cukup ramai dipenuhi pegawai kantoran yang tengah menikmati jam makan siang. Suara mesin kopi sesekali terdengar dari dalam ruangan, bercampur dengan dentingan sendok, tawa kecil pengunjung, dan langkah para pelayan yang hilir mudik membawa pesanan.Namun entah kenapa, meja kecil di sudut yang ditempati Aruna dan Ratna justru terasa begitu sunyi.Mereka memilih tempat paling ujung, sedikit tersembunyi di balik deretan tanaman hijau tinggi yang membuat percakapan mereka tidak terlalu terdengar orang lain. Angin siang berembus pelan, menerbangkan sedikit helaian
Setelah keributan yang ia perbuat di depan media beberapa hari lalu, sekarang Aruna memilih bungkam.Tak ada lagi pertanyaan wartawan yang ia jawab. Tidak ada lagi klarifikasi, tidak ada lagi senyum manis yang biasa ia lemparkan saat kamera menyorot wajahnya. Bahkan ketika paparazzi masih sesekali mengikuti mobilnya atau menunggu di depan kantor radio, Aruna hanya berjalan lurus tanpa berniat berhenti sedikit pun.Nama Atlas Wicaksono dan dirinya masih terus menjadi bahan pembicaraan publik, tetapi Aruna seperti mendadak menarik dirinya sepenuhnya dari semua itu.Dan anehnya, justru karena diam itulah, orang-orang semakin penasaran.Semuanya sempat mereda untuk sesaat.Sampai episode terbaru podcast Ruang Rasa yang membahas tentang kandasnya hubungan mendadak viral di seluruh media sosial.Potongan video Aruna saat berbicara tentang rasa lelah dalam hubungan tersebar di mana-mana. Cuplikan suaranya bahkan dipakai ribuan orang sebagai backsound video dan reels media sosial."Kadang kit
Sudah sejak tiga jam Aruna mengumumkan kandasnya hubungan mereka di depan puluhan kamera, dan berbagai artikel media langsung mempublikasikan kabar itu dengan headline yang bervariasi mulai dari yang biasa saja sampai yang terkesan dramatis. Ponselnya tak kunjung berhenti bergetar dari panggilan masuk. Bukan hanya dari Atlas yang kalau Aruna hitung sudah lebih dari dua puluh kali mencoba menghubunginya, bahkan Gigi, Lily, Ratna, sampai Amanda juga mengiriminya pesan panjang lebar dan mempertanyakan mengenai kabar yang sudah menyebar secepat itu. Namun tak ada satupun yang Aruna balas, tak ada satu panggilan pun yang Aruna angkat. Ponselnya kini ia letakkan terbalik di atas meja ruang meeting, sementara ia sendiri sibuk membuka laptop dan menatap proyektor.Aruna sedang meeting untuk membahas tema podcast mingguan dengan tim Ruang Rasa, sesuatu yang sudah menjadi rutinitasnya setiap Jumat pagi. Ruangan meeting lantai delapan itu terisi oleh enam orang, termasuk Aruna sendiri yang d
Susah payah Aruna berusaha menghilangkan semua pikiran negatif di kepalanya. Sejak kemarin malam, ia terus meyakinkan dirinya sendiri kalau Atlas bukan lelaki seperti itu. Mungkin Atlas memang sedang sibuk. Mungkin ia hanya butuh waktu sendiri. Mungkin semuanya memang kebetulan yang terlalu mudah disalahartikan. Dan seperti orang bodoh, Aruna terus mengamini semua kemungkinan itu sambil memaksa dirinya tetap tenang.Namun kehadiran Anindhita di mobil Atlas semalam menghancurkan semuanya begitu saja.Terutama setelah perempuan itu muncul tepat ketika Aruna mulai percaya kalau hubungan mereka perlahan berubah menjadi nyata.Kepercayaan yang susah payah Aruna bangun setelah hubungannya dengan Agasa hancur dulu, sekarang seperti ditarik paksa sampai runtuh tanpa sisa. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Aruna merasa lelah.Benar-benar lelah.Pagi itu, ia bahkan tidak berniat menunggu siapa pun. Aruna berjalan cepat keluar rumah dengan wajah datar, kacamata hitam sudah berteng
Suasana di dalam kabin mobil dua pintu Athar begitu terasa sempit, namun bukan berarti tidak nyaman. Dengung mesinnya halus, jauh lebih tenang dibandingkan mobil sedan Aruna, dan aroma hangat yang bercampur sedikit wangi khas Athar memenuhi ruangan. Dari kursi penumpang, Aruna sesekali mencuri pandang ke arah Athar yang tengah fokus mengemudikan mobilnya di jalanan yang semakin sepi. Tangan lelaki itu di kemudi terlihat sangat terkendali, sama seperti sikapnya yang selalu tenang sepanjang malam ini."Seperti yang sudah kamu tahu, saya, Atlas dan Anin itu bersahabat sejak kita masih kecil," ucap Athar di tengah-tengah heningnya situasi, matanya tetap lurus ke depan.Membuat Aruna langsung memasang telinganya tajam."Dan saat itu, kita berdua menyukai Anindhita," lanjutnya dengan senyuman pahit yang samar di bibirnya. "Tapi Anin memilih Atlas, dan mereka menjalin hubungan cukup lama sampai keduanya pisah, ketika Anin memilih fokus dengan gelar dokternya di London."Tangan Aruna mengep
Dengan sesegukan yang perlahan reda, Aruna mengusap bulir air matanya menggunakan tisu yang tadi Athar berikan. Mereka masih berada di pinggir jalan raya, di tengah kelengangan Ibu kota menjelang tengah malam. Mobil biru tua Athar terparkir tepat di depan mobil pink metallic Aruna, lampu hazardnya berkedip-kedip menari di atas aspal basah, menjadi satu-satunya sumber cahaya selain pendar kuning dari lampu jalan yang berjarak beberapa meter. Kap mobil Aruna terbuka lebar, dan Aruna kini duduk di bagasi mobil Athar yang juga terbuka, kakinya menjuntai sedikit, sementara pemandangan di hadapannya adalah Athar yang sudah melepas kemeja putihnya dan menggulungnya sampai ke siku lengan.Memperlihatkan otot lengan yang terlihat jelas di bawah cahaya lampu jalanan. Lelaki itu tengah sibuk mengutak-ngatik mesin mobil Aruna dengan tangan yang sudah kotor terkena noda hitam.Asap sudah berhenti keluar sejak setengah jam lalu, dan Aruna sudah lumayan tenang di posisinya. Sesekali ia menarik na







