공유

41| Mr. Danny

작가: sidonsky
last update 게시일: 2026-03-25 00:30:24

Dari awal, Aruna sudah tahu kalau ini ide bodoh.

Memutuskan untuk menemui Mr. Danny sendirian demi mengulur waktu agar lelaki itu tidak buru-buru menarik investasinya dari Heartline jelas bukan keputusan yang rasional.

Tapi di tengah kekacauan yang terjadi, rasanya hanya itu satu-satunya cara yang bisa ia lakukan untuk membantu. Setidaknya memberi Atlas dan timnya sedikit waktu untuk menemukan kebenaran.

Namun sejak awal, firasatnya sudah tidak enak.

Duduk di ruang meeting dengan layar present
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Swipe Right for Love   44| Deja Vu

    Aruna memegang kepalanya yang terasa berdenyut hebat. Sakitnya seperti tidak hanya berhenti di pelipis, tapi menjalar perlahan ke seluruh tubuh, membuatnya sedikit meringis saat ia mencoba bangkit dari posisi tidurnya. Kelopak matanya terbuka pelan, menangkap langit-langit putih yang terasa familiar, disusul aroma ruangan yang terlalu ia kenal.Butuh beberapa detik sampai kesadarannya benar-benar utuh.Dan saat itu terjadi, mata Aruna langsung melebar.Ia lagi-lagi berada di kamar Atlas.Aruna refleks bangkit lebih cepat, meski kepalanya kembali berdenyut. Rambutnya jatuh berantakan ke depan wajah, napasnya sedikit tak teratur saat ia buru-buru melihat ke sekeliling. Selimut yang tadi menutupi tubuhnya ia singkirkan, dan pandangannya langsung turun ke pakaian yang ia kenakan.Masih sama.Dress yang tadi ia pakai.Aruna menghembuskan napas panjang, bahunya sedikit melemas. Setidaknya tidak ada hal aneh yang terjadi saat ia tidak sadar. Ia menelan ludah, mencoba menenangkan dirinya, se

  • Swipe Right for Love   43| Pembalasan Dendam

    Di sepanjang perjalanan dalam mobil sedan hitam milik Atlas, Aruna tidak benar-benar duduk—ia gelisah. Jemarinya terus bergerak tanpa sadar, menggigiti kuku yang sudah tidak rapi, sementara kakinya bergoyang kecil seolah menyalurkan kegugupan yang tidak bisa ia redam.Punggungnya tidak pernah benar-benar menempel pada sandaran kursi, tubuhnya condong sedikit ke depan, napasnya pendek-pendek.Ia melirik ke samping.Dan Atlas terlihat berbeda.Wajah lelaki itu kaku, terlalu kaku. Rahangnya mengeras, garisnya tegas seperti diukir, dan matanya… lurus menatap jalan di depan tanpa sedikit pun bergeser. Tidak ada emosi yang terbaca di sana, dan justru itu yang membuat Aruna semakin cemas.Sunyi.Tidak ada musik. Tidak ada suara selain deru mesin mobil dan napas Aruna yang tidak teratur.“Pak Atlas…” suara Aruna akhirnya keluar, pelan dan parau. Ia mengulurkan tangan dengan ragu, mencolek bahu Atlas seperti seseorang yang takut menyentuh sesuatu yang bisa meledak kapan saja. “Saya beneran uda

  • Swipe Right for Love   42| Tempat Berpijak

    Aruna, kamu bodoh.Sumpah serapah itu berulang dalam kepalanya saat tangan lelaki itu kini berpindah, merengkuh pinggangnya tanpa izin."Mr. Danny..." suara Aruna mulai goyah, tubuhnya refleks menjauh saat jarak di antara mereka terasa terlalu sempit.Namun lelaki itu justru semakin mendekat, seolah tak peduli dengan batas yang jelas-jelas sedang Aruna coba jaga. "Ayolah," bisiknya rendah, napas berbau nikotin itu menyeruak tajam ke indera penciuman Aruna, membuat perutnya terasa mual, "kamu dengan Atlas juga karena uang, kan?"Aruna menggeleng cepat, dadanya naik turun, mencoba menahan rasa tidak nyaman yang mulai berubah jadi takut. "Enggak—""Saya jauh lebih kaya," potongnya tanpa memberi ruang, tubuhnya condong semakin dekat, menekan ruang gerak Aruna yang sudah nyaris habis. "Kamu akan jauh lebih bahagia dengan saya."Kalimat itu terasa menjijikkan."Lepas!" Aruna mendorong dada lelaki itu, kali ini dengan tenaga lebih besar, berusaha menciptakan jarak.Namun yang terjadi justru

  • Swipe Right for Love   41| Mr. Danny

    Dari awal, Aruna sudah tahu kalau ini ide bodoh.Memutuskan untuk menemui Mr. Danny sendirian demi mengulur waktu agar lelaki itu tidak buru-buru menarik investasinya dari Heartline jelas bukan keputusan yang rasional. Tapi di tengah kekacauan yang terjadi, rasanya hanya itu satu-satunya cara yang bisa ia lakukan untuk membantu. Setidaknya memberi Atlas dan timnya sedikit waktu untuk menemukan kebenaran.Namun sejak awal, firasatnya sudah tidak enak.Duduk di ruang meeting dengan layar presentasi yang sudah lima belas menit terakhir tidak benar-benar ia perhatikan, Aruna hanya mengangguk sesekali. Suara kepala divisi marketing terdengar seperti gema jauh, membahas campaign summer, konsep visual, timeline produksi—semuanya lewat begitu saja tanpa benar-benar masuk ke kepalanya. Pikirannya tertahan pada makan siang yang akan ia hadapi.Pada keputusan yang mungkin akan ia sesali."...jadi nanti Kak Aruna akan jadi main face untuk digital campaign, termasuk video pendek dan beberapa kont

  • Swipe Right for Love   40| Belum Terlambat

    Suasana ruang meeting itu dipenuhi suara ketikan keyboard yang nyaris tak terputus dan bisikan-bisikan pelan yang saling bersahutan di antara para tim. Cahaya dari layar laptop menjadi satu-satunya sumber terang yang dominan, memantul di wajah-wajah yang tegang dan lelah. Semua orang fokus pada tugas masing-masing, mencoba menelusuri sesuatu yang bahkan belum memiliki bentuk pasti.Aruna duduk di antara mereka.Awalnya ia hanya berniat membantu sebisanya, namun kini ia benar-benar tenggelam dalam pekerjaan itu. Di layar laptopnya, deretan data pengguna terpampang panjang—ID, email, waktu registrasi, lokasi IP, hingga riwayat aktivitas. Ia tidak sepenuhnya ahli, tapi dasar-dasar yang pernah ia pelajari cukup membantunya memahami alur.“Coba filter berdasarkan akun yang punya perubahan data berulang,” ucap salah satu tim IT di ujung meja.Aruna mengikuti arahan itu. Jemarinya bergerak pelan, menyesuaikan query sederhana di sistem internal. Ia menyaring data pengguna yang mengganti iden

  • Swipe Right for Love   39| Breaking News

    Aruna tidak pernah menyangka bahwa perasaan bisa berubah secepat ini—atau mungkin, bukan berubah, tapi justru tumbuh tanpa ia sadari. Baru tiga bulan, namun rasanya seperti ada sesuatu yang hilang dari rutinitasnya sejak ia memutuskan mengambil jarak dari Atlas.Hari-harinya kembali seperti semula, tapi anehnya, semuanya terasa lebih sepi.Tidak ada lagi mobil hitam yang menunggu di depan rumahnya setiap pagi. Tidak ada pengawal yang berdiri dengan jarak sopan. Tidak ada pesan singkat dari seseorang yang selalu terdengar dingin tapi entah bagaimana… menenangkan.Yang tersisa hanya Kelly, Tabia, jadwal yang padat, dan dirinya sendiri.Di ruang podcast Ruang Rasa, Aruna duduk di balik meja dengan headphone terpasang, menatap layar di depannya tanpa benar-benar melihat. Lampu on air menyala merah, tanda siaran sudah berjalan, namun pikirannya seperti tertinggal di tempat lain."Sore ini… kita akan bahas tentang kehilangan," ucapnya pelan, suaranya tetap stabil meski dadanya terasa sesak.

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status