LOGINAruna terbangun perlahan dengan tubuh yang masih tenggelam di kasur empuk milik Atlas. Cahaya matahari pagi menyelinap masuk dari sela tirai besar, jatuh tepat di wajahnya yang masih setengah mengantuk. Untuk beberapa detik, ia hanya diam, membiarkan dirinya beradaptasi dengan langit-langit asing di atas kepalanya.Lalu ingatannya kembali utuh.Rumah Atlas. Kamar Atlas.Dan dirinya… yang sekarang benar-benar tinggal di sini, setidaknya untuk dua hari ke depan.Aruna menghela napas pelan, lalu merentangkan kedua tangannya di atas kasur, membiarkan tubuhnya tenggelam lebih dalam. Pandangannya bergeser ke arah sudut ruangan, mendapati koper pink miliknya sudah terbuka di sana, beberapa pakaian terlihat setengah terlipat rapi, setengah lagi masih berantakan seperti ditinggal terburu-buru.Semalam, ia memang hanya mengambil barang seperlunya. Beberapa baju, alat makeup, dan kebutuhan kerja. Setelah itu, ia langsung kembali ke rumah ini, ditemani pengawal Atlas, tanpa banyak berpikir panjan
Aruna menyetir sendiri malam itu. Jalanan sudah lengang, hanya beberapa lampu jalan yang menyala redup, memantul di kaca depan mobilnya. Udara malam terasa dingin, tapi tidak cukup untuk mengusir hangat yang sejak tadi memenuhi dadanya. Bibirnya melengkung tipis, senyum kecil yang tak bisa ia tahan setiap kali bayangan Atlas melintas di kepalanya. Percakapan singkat mereka, cara lelaki itu menatapnya, bahkan nada datarnya, semuanya terasa… tinggal.Ia menarik napas pelan, jemarinya mengetuk setir dengan ritme ringan, mengikuti lagu yang masih mengalun pelan dari speaker mobil. Malam terasa lebih ringan dari biasanya. Lebih tenang.Sampai mobilnya berhenti di halaman rumah.Mesin belum dimatikan ketika ponselnya bergetar pelan di phone holder. Aruna melirik sekilas, lalu tersenyum samar. Mungkin pesan dari Kelly. Atau—tanpa sadar harapannya melompat—mungkin dari Atlas.Ia meraih ponsel itu dan membuka pesan yang masuk.Baru sampai rumah jam segini?Senyumnya lenyap seketika.Mata Aru
Aruna tahu ia hanya sedang mengulur waktu.Mungkin, setengah alasan dari ini adalah karna Tante Amanda.Tapi setengahnya lagi tentu karna dirinya sendiri. Ada ketidakrelaan yang diam-diam tumbuh, seperti benang tipis yang mengikat tanpa ia sadari. Sesuatu yang bahkan belum sempat ia mulai dengan benar, tapi terasa terlalu sayang untuk diakhiri begitu saja. Dan alih-alih menjauh seperti biasanya, Aruna justru melakukan hal yang paling tidak masuk akal, ia mendekat.Terang-terangan.Tanpa malu.Seolah ia tidak lagi ingin menyembunyikan apa pun.Sore itu, Aruna baru saja menyelesaikan sesi podcast Ruang Rasa. Lampu-lampu hangat masih menyala, beberapa kru sibuk membereskan peralatan, sementara Aruna duduk santai di kursinya, memutar-mutar ponselnya dengan senyum tipis yang tak bisa ia tahan. Pembahasan podcast tadi bahkan sudah tidak lagi ia ingat sepenuhnya. Pikirannya terlalu sibuk memikirkan hal lain.Seseorang.Ia berdeham pelan, lalu tanpa berpikir terlalu lama, menekan nama yang su
Lampu bertuliskan Operation Room menyala merah terang di atas pintu, menjadi satu-satunya tanda yang terus Aruna tatap sejak beberapa waktu lalu. Ia duduk di kursi ruang tunggu dengan punggung tegak, namun bahunya kaku, seolah seluruh tubuhnya menahan sesuatu yang terlalu berat untuk dijelaskan. Jemarinya saling menggenggam di atas pangkuan, mengerat tanpa ia sadari, sementara pikirannya terus berputar pada satu kalimat yang diucapkan Dokter Herma sebelumnya.Radang usus buntu akut yang hampir pecah.Kalimat itu terus terngiang, berulang-ulang, seakan menolak pergi dari kepalanya. Dokter memang sudah menjelaskan bahwa operasi ini umum dilakukan, tingkat keberhasilannya tinggi, dan selama ditangani cepat, risikonya bisa ditekan. Tapi bagi Aruna, kata operasi tetap terasa seperti jurang yang dalam, menakutkan, dan tak bisa ia kendalikan.Ia menunduk, menatap tangannya sendiri yang kini mulai dingin. Napasnya terasa pendek. Di sekelilingnya, suara langkah kaki, suara roda ranjang pasie
Suasana Unit Gawat Darurat malam itu penuh sesak oleh suara dan kepanikan yang berlapis.Lampu putih terang memantul di lantai mengilap, sementara suara roda brankar berderit silih berganti melewati lorong. Dari luar, sirine ambulans terdengar bersahut-sahutan, datang tanpa jeda, membawa pasien demi pasien yang langsung disambut tenaga medis dengan wajah tegang.Aruna bahkan belum benar-benar menutup pintu mobil ketika langkahnya sudah berlari kecil menuju pintu masuk UGD. Napasnya terengah, dadanya terasa sempit, sementara pikirannya dipenuhi kemungkinan buruk yang tak ingin ia bayangkan. Di belakangnya, Kelly mengikuti dengan langkah cepat, berusaha mengejar tanpa benar-benar mengimbangi kepanikan Aruna yang sudah lebih dulu meluap.Begitu sampai di meja informasi, Aruna langsung bersandar sedikit, mencoba mengatur napasnya yang kacau. “Amanda Pramudita,” ucapnya buru-buru, suaranya hampir tercekat. “Pasien atas nama Amanda Pramudita, ada di mana ya?”Petugas di balik meja itu baru
Seharusnya Aruna tidak perlu sedrama ini hanya karena mengakhiri hubungan yang sejak awal memang dibangun di atas kesepakatan. Tidak ada janji, tidak ada perasaan yang seharusnya dipertaruhkan. Semuanya jelas, terukur, bahkan tertulis hitam di atas putih.Namun kenyataannya, hari-hari Aruna justru berjalan sebaliknya.Ia bangun dengan tubuh yang terasa lebih berat, menjalani rutinitas tanpa semangat yang biasanya selalu ia punya. Senyum yang dulu mudah muncul kini terasa seperti sesuatu yang harus ia paksa. Bahkan untuk hal-hal yang biasanya ia sukai, Aruna harus berusaha dua kali lebih keras hanya untuk terlihat baik-baik saja.Perubahan itu tidak luput dari perhatian orang-orang di sekitarnya.Dan tentu saja, orang pertama yang menyadarinya adalah Kelly.Hari itu, mereka berada di sebuah studio besar untuk menjalani proses shooting iklan terbaru. Konsepnya dibuat seperti mini series dengan tiga episode, dan hari ini adalah pengambilan gambar untuk episode pertama. Set sudah ditata







