FAZER LOGIN"Hai, salam kenal, Aruna."Untuk sepersekian detik, napas Aruna benar-benar berhenti. Jemarinya yang sedari tadi menggenggam gelas champagne mendadak mengencang, sampai kuku-kuku cantiknya nyaris meninggalkan bekas di permukaan kaca tipis itu. Aruna mengerjap pelan, menatap wajah cantik dengan senyum lembut itu, lalu refleks menoleh ke arah samping, ke arah Atlas, dan yang membuat dadanya semakin sesak adalah fakta bahwa lelaki itu terlihat sama terkejutnya. Namun Aruna adalah Aruna, seorang wanita yang membangun karier dari membaca emosi orang lain, seorang pakar cinta yang setiap hari mengajarkan banyak orang bagaimana tetap terlihat tenang di tengah kekacauan. Jadi meski kepalanya terasa berisik, meski dadanya seperti dipukul sesuatu tanpa aba-aba, Aruna memaksa dirinya sadar. Menarik napas, membuang perlahan, dan menenangkan diri."Kak?" Suara Nadine menyadarkannya. "Are you okay?""Hm?" Aruna mengerjap lagi, lalu tersenyum, senyum yang begitu terlatih sampai hampir tak terlih
Lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit ballroom memantulkan cahaya keemasan ke segala arah, membuat seluruh ruangan malam itu tampak seperti potongan dunia lain yang terlalu sempurna untuk disebut nyata. Begitu Aruna menginjakkan kakinya ke dalam ballroom hotel bintang tujuh yang berdiri megah di pusat kota itu, matanya langsung disambut kemewahan yang bahkan sulit ia hitung dengan logika. Langit-langit tinggi dengan ukiran emas. Pilar-pilar marmer putih. Karpet panjang bernuansa champagne yang membentang sampai ke altar utama. Di sudut ruangan, alunan saxophone hidup mengisi udara dengan nada lembut dan sensual, berpadu dengan denting piano yang dimainkan begitu elegan hingga membuat setiap langkah terasa lebih mahal.Ratusan tamu sudah memenuhi ruangan. Gaun-gaun couture, Jas bespoke, kilau berlian, aroma parfum mahal, tawa pelan yang berkelas dan gelas-gelas champagne yang saling beradu pelan.Dan tepat di tengah semua kemewahan itu, terdengar sorakan riuh para t
"Atlas?"Suara Ratna terdengar lebih dulu, tepat ketika Atlas keluar dari ruang ganti dengan langkah tenang dan senyum tipis yang sejak tadi tak benar-benar hilang dari wajahnya. Jas charcoal yang baru saja ia coba masih melekat sempurna di tubuh tingginya, mempertegas bahu lebar dan postur tegap yang sejak dulu selalu menarik perhatian siapa pun yang melihatnya.Namun langkah Atlas berhenti di ambang ruang ganti.Mata tajamnya mengerjap pelan saat mendapati dua sosok yang sama sekali tidak ia perkirakan akan ada di butik mewah sore itu, Ratna. Dan lelaki yang berdiri tegak di sampingnya, Wicaksono.Untuk sepersekian detik, bahkan Atlas terlihat sedikit kehilangan ekspresinya."Ma... Pa?" Suara rendahnya terdengar lebih pelan dari biasanya. "Sedang apa?"Ratna melepaskan rangkulannya pada lengan sang suami, lalu berjalan mendekati Atlas dengan langkah anggun khas wanita yang sejak muda terbiasa hidup di lingkaran elite. Sepatu heels-nya berdetak lembut di atas marmer putih butik ekskl
Sudah lewat beberapa hari sejak Aruna mendengarkan ucapan Athar tentang Anindhita, namun pikiran itu masih saja berputar di kepalanya seperti dengung yang tak mau hilang. Aruna membenci itu, membenci betapa rentannya dirinya saat ini. Bahkan ketika Atlas sudah berkata bahwa hubungan ini bukan lagi sandiwara dan hanya berdiri di atas kontrak, bahkan ketika cincin yang sudah dibeli seharga milyaran itu menghiasi jari manisnya, bahkan ketika semua hal yang sudah mereka lakukan bersama terasa sangat nyata, seakan-akan semua itu tak cukup untuk mengusir rasa asing yang menggerogoti hatinya.Anindhita.Aruna mengulang nama itu dalam ingatannya untuk kesekian kalinya. Sedekat apa hubungan Atlas dan wanita itu saat ini? Apa mungkin, seorang pria dewasa bisa berteman dengan mantan kekasih tanpa menyisakan sedikit pun perasaan? Pertanyaan itu membuat dadanya sesak, membuatnya merasa bahwa dia hanyalah pelengkap, seorang wanita yang kebetulan ada di tengah permainan rumit yang ia sendiri tida
"Sudah lama tidak bertemu."Suara Athar terdengar tenang, nyaris terlalu tenang, namun tatapannya terlalu dalam untuk sekadar sapaan biasa. Sorot matanya lurus tertuju pada Aruna, seolah meja makan yang dipenuhi orang-orang di antara mereka tidak benar-benar ada.Aruna yang baru saja mengangkat cangkir tehnya otomatis menengadah. Bibirnya bahkan sudah sedikit terbuka, berniat membalas sapaan itu.Namun sebelum satu kata pun sempat keluar, Atlas bergerak lebih dulu.Tanpa terburu-buru, tanpa terlihat mencolok, lelaki itu hanya sedikit memiringkan tubuhnya ke depan. Bahunya yang lebar berpindah, cukup untuk menutupi garis pandang Athar ke arah Aruna. Gerakan kecil, tapi terlalu jelas. Dan terlalu possessive."Bicara dengan saya?"Nada suara Atlas datar. Tenang. Hampir terdengar santai. Tanpa membuat orang-orang di meja ini menyadari, kalau lelaki itu sedang memberi batas.Athar menatap Atlas beberapa detik, lalu kekehan kecil keluar dari bibirnya. Ia membenarkan posisi kacamatanya sebel
Sudah tiga hari sejak kepulangannya dari Kyoto, dan selama tiga hari itu juga Aruna belum bertemu Atlas sama sekali. Setelah mereka kembali ke Ibu kota, lelaki itu harus terbang lebih dahulu karena sebuah pekerjaan mendadak yang, menurut asistennya, tidak bisa ditunda bahkan satu jam pun. Aruna sempat menggerutu karenanya, sempat mengirim beberapa pesan bernada protes, bahkan sempat mengirim foto wajah cemberutnya di pagi hari, yang semuanya hanya dibalas singkat oleh Atlas dengan kalimat-kalimat pendek seperti eat well, sleep early, atau don't skip breakfast.Menyebalkan.Namun entah kenapa, justru hal-hal kecil seperti itu yang membuat Aruna diam-diam tersenyum sendiri.Dan sore ini, setelah jadwal podcast Ruang Rasa yang cukup panjang akhirnya selesai, Aruna nyaris tidak bisa menyembunyikan senyum lebarnya saat sebuah pesan masuk ke ponselnya.Sudah selesai? Saya di lobi.Hanya lima kata. Tapi cukup membuat gadis itu langsung berdiri dari kursinya bahkan sebelum tim produksi bena
Aruna merebahkan dirinya di atas kasur double size yang hampir memenuhi setengah ruangan kamar itu. Sprei yang membungkusnya bermotif bunga-bunga kecil berwarna pastel—mawar merah muda, daun hijau pucat, dan tangkai tipis yang menjalar acak seperti taman kecil yang digambar di atas kain. Terlalu h
Sejak kebodohan di bandara beberapa waktu lalu, Aruna seperti memaksakan dirinya untuk kembali berpijak pada realita. Ia berulang kali mengingatkan diri sendiri bahwa apa yang terjadi antara dirinya dan Atlas bukanlah sesuatu yang nyata—bukan hubungan yang bisa ia genggam, bukan perasaan yang bole
Pagi itu, landasan bandara masih dipenuhi sisa dingin malam yang belum sepenuhnya hilang. Langit berwarna pucat, dan suara mesin pesawat yang mendarat terdengar berat, membelah udara yang tenang. Aruna berdiri di samping mobil hitam mengilap, kedua tangannya saling menggenggam di depan tubuhnya. A
Gerimis tipis mulai turun ketika sore merangkak menuju malam. Dari balik kaca besar studio, butiran air tampak berlomba jatuh, meninggalkan jejak samar yang perlahan mengaburkan pemandangan kota di luar sana. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, menciptakan suasana sendu yang entah kenap







