Home / Romansa / Swipe Right for Love / 33| Studio Rekaman

Share

33| Studio Rekaman

Author: sidonsky
last update publish date: 2026-03-20 15:24:13

Sejak kebodohan di bandara beberapa waktu lalu, Aruna seperti memaksakan dirinya untuk kembali berpijak pada realita.

Ia berulang kali mengingatkan diri sendiri bahwa apa yang terjadi antara dirinya dan Atlas bukanlah sesuatu yang nyata—bukan hubungan yang bisa ia genggam, bukan perasaan yang boleh ia biarkan tumbuh.

Semua itu hanya kesepakatan, sebuah sandiwara yang mereka mainkan dengan terlalu meyakinkan, sampai-sampai ia sendiri hampir lupa batasnya.

Pagi itu, ia berdiri di tengah sebuah s
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Swipe Right for Love   39| Breaking News

    Aruna tidak pernah menyangka bahwa perasaan bisa berubah secepat ini—atau mungkin, bukan berubah, tapi justru tumbuh tanpa ia sadari. Baru tiga bulan, namun rasanya seperti ada sesuatu yang hilang dari rutinitasnya sejak ia memutuskan mengambil jarak dari Atlas.Hari-harinya kembali seperti semula, tapi anehnya, semuanya terasa lebih sepi.Tidak ada lagi mobil hitam yang menunggu di depan rumahnya setiap pagi. Tidak ada pengawal yang berdiri dengan jarak sopan. Tidak ada pesan singkat dari seseorang yang selalu terdengar dingin tapi entah bagaimana… menenangkan.Yang tersisa hanya Kelly, Tabia, jadwal yang padat, dan dirinya sendiri.Di ruang podcast Ruang Rasa, Aruna duduk di balik meja dengan headphone terpasang, menatap layar di depannya tanpa benar-benar melihat. Lampu on air menyala merah, tanda siaran sudah berjalan, namun pikirannya seperti tertinggal di tempat lain."Sore ini… kita akan bahas tentang kehilangan," ucapnya pelan, suaranya tetap stabil meski dadanya terasa sesak.

  • Swipe Right for Love   38| Terasa Lebih Gelap

    Sudah sejak terakhir acara makan siang itu berlangsung, Aruna memilih menjauh.Ia tidak menghubungi Atlas, tidak pula memberi kabar. Anehnya, Atlas pun melakukan hal yang sama—tidak ada pesan, tidak ada panggilan, seolah-olah mereka sepakat diam-diam untuk memberi jarak tanpa perlu dibicarakan. Di satu sisi, Aruna merasa lega. Di sisi lain, ada kekosongan aneh yang tak bisa ia abaikan, seperti sesuatu yang hilang meski ia sendiri yang memutuskan untuk melepaskannya sementara.Minggu pagi ini seharusnya ia menghadiri sebuah acara bersama Atlas, undangan formal yang sudah dijadwalkan jauh hari. Bahkan gaun yang akan ia kenakan sudah tergantung rapi di lemari. Namun ketika alarm berbunyi, Aruna hanya mematikannya dan menarik selimut lebih tinggi, menutup dirinya dari dunia luar. Ia tidak siap. Bukan untuk berpura-pura baik-baik saja di depan banyak orang, bukan untuk kembali berdiri di samping Atlas seolah tidak terjadi apa-apa.Ia butuh waktu. Setidaknya itu yang ia yakinkan pada diri

  • Swipe Right for Love   37| Wicaksono

    “Selamat menikmati.”Suara pelayan itu terdengar halus saat ia meletakkan hidangan terakhir di atas meja bundar berukuran besar yang dipenuhi aneka masakan khas Jawa. Aroma rempah hangat langsung memenuhi ruangan—dari gudeg dengan kuah santan kental, ayam opor berwarna kuning keemasan, hingga semangkuk rawon dengan kuah hitam pekat yang mengilap di bawah cahaya lampu temaram.Aruna duduk tegap di kursinya.Punggungnya lurus, kedua tangannya bertaut rapi di atas paha, seolah setiap gerakan kecil harus diperhitungkan dengan matang. Dress yang ia kenakan masih sama seperti saat menghadiri acara peluncuran parfum tadi—potongan modern dengan warna yang cukup mencolok untuk standar makan siang keluarga tradisional. Rambutnya tertata rapi, make-up-nya masih sempurna, namun ekspresi wajahnya… sedikit terlalu kaku.Di hadapannya, seorang pria paruh baya duduk dengan wibawa yang nyaris menyesakkan.Wicaksono.Rambutnya mulai memutih, tersisir rapi ke belakang tanpa satu helai pun yang tampak b

  • Swipe Right for Love   36| Dimulai

    Sejak pagi, Aruna sudah tidak bisa diam.Kakinya bergerak gelisah bahkan saat ia masih duduk di depan meja rias, membiarkan kuas demi kuas menyentuh wajahnya. Tabia beberapa kali menegur pelan, meminta Aruna untuk tidak terlalu banyak bergerak karena eyeliner-nya hampir melenceng, namun yang ditanggapi Aruna hanya anggukan kecil tanpa benar-benar menghentikan kebiasaannya mengayun kaki.Perasaannya tidak tenang, dan itu terlihat jelas.Dari proses make-up, hair do, hingga kini ia sudah berada di acara peluncuran parfum milik salah satu juniornya di dunia beauty influencer, kegelisahan itu tidak juga berkurang. Ballroom tempat acara berlangsung dipenuhi lampu gantung kristal yang memantulkan cahaya hangat, berpadu dengan dekorasi bunga putih dan blush pink yang tersusun rapi di setiap sudut ruangan. Musik lembut mengalun sebagai latar, sementara para tamu undangan duduk menghadap panggung utama dengan perhatian penuh.Aruna duduk di salah satu kursi barisan depan, tubuhnya tegak namun

  • Swipe Right for Love   35| Makan Malam

    Aruna berdiri di lobi dengan satu tangan menyilang di depan tubuhnya, sementara tangan lainnya memegang clutch kecil berwarna senada dengan dress yang ia kenakan. Gaun maroon itu jatuh pas di atas lutut, memeluk tubuhnya dengan rapi tanpa terlihat berlebihan. Rambutnya ia ikat satu, lalu dipilin sederhana, menyisakan beberapa helai yang jatuh membingkai wajahnya. Make up-nya tipis, cukup untuk menonjolkan garis matanya yang tajam dan bibirnya yang berwarna nude.Mobil Atlas sudah menjemputnya sejak lima belas menit lalu, tapi lelaki itu tidak ada di dalam. Seperti yang ia duga, Atlas langsung menuju restoran dari kantor. Masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan, dan entah kenapa, hal itu justru membuat Aruna sedikit lebih lega.Setidaknya ia punya waktu untuk menenangkan diri sebelum bertemu mereka.Restoran yang dipilih Agasa berdiri megah di tengah kawasan elit kota. Begitu Aruna melangkah masuk, aroma lembut dari bunga segar dan kayu mahal langsung menyambut. Interiornya didomi

  • Swipe Right for Love   34| Tidak Setengah-Setengah

    Rekaman selesai lebih cepat dari yang diperkirakan. Suara terakhir Aruna yang lembut dan profesional masih menggema samar di kepalanya, bahkan setelah headphone dilepas dan pintu ruang kedap suara itu terbuka kembali. Ia melangkah keluar dengan napas yang sedikit lebih ringan, meskipun pikirannya belum benar-benar tenang. Beberapa kru sudah mulai membereskan peralatan, sementara yang lain sibuk berbincang di sudut ruangan. Di tengah suasana itu, Atlas masih berdiri di dekat meja kontrol, berbicara singkat dengan Alvi sebelum akhirnya menoleh ketika Aruna mendekat.“Maaf saya datang tanpa memberi kabar sebelumnya,” ucapnya tanpa basa-basi. Nada suaranya datar seperti biasa, tapi entah kenapa kali ini terdengar lebih tertahan.Aruna menggeleng kecil, berusaha menanggapinya senormal mungkin. “It’s okay,” jawabnya ringan. Ia sempat terdiam sejenak, seolah menimbang sesuatu, sebelum akhirnya melanjutkan, “Oh iya… tentang makan sama Agasa dan Azalea. Sebenarnya kita nggak perlu benar-ben

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status