MasukPerjalanan menuju kantor Heartline terasa lebih panjang dari biasanya.Aruna duduk di kursi penumpang, tangannya saling menggenggam di atas pangkuan, dingin meski pendingin mobil tidak terlalu tinggi. Dari luar jendela, gedung-gedung berlalu begitu saja, tapi pikirannya tidak benar-benar mengikuti arah perjalanan.Sesekali ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang terasa terlalu cepat untuk ukuran pagi hari.Ketika mobil mulai melambat dan akhirnya berhenti di depan lobi Heartline, Aruna sempat berpikir semuanya akan berjalan seperti biasa.Namun begitu ia menoleh ke luar, matanya langsung membulat.Area depan gedung sudah dipenuhi manusia. Kamera, tripod, mikrofon dengan logo berbagai stasiun televisi, hingga kerumunan orang yang membawa spanduk. Suasana riuh itu langsung menyerbu pandangannya tanpa ampun.Beberapa tulisan besar terlihat jelas.“ATLAS DESERVES BETTER!”“GOLD DIGGER OUT!”Napas Aruna tercekat.Tangannya semakin dingin.Belum sempat ia benar-b
Napas Aruna perlahan mulai teratur ketika jam menunjukan pukul enam pagi. Cahaya matahari yang masih pucat menyusup dari celah tirai, jatuh lembut di lantai kamar dan menyentuh ujung selimut yang menutupi tubuhnya.Ada gerakan kecil dari balik kain itu.Jari-jarinya bergerak lebih dulu, diikuti kelopak mata yang mengerjap pelan, seolah berusaha berdamai dengan kesadaran yang kembali. Pandangannya masih buram, langit-langit kamar tampak asing sesaat sebelum ingatan perlahan menyusun kembali potongan kejadian semalam.Tubuhnya terasa ringan… tapi juga lelah.Tenggorokannya tidak sekering sebelumnya, meski masih menyisakan rasa tidak nyaman. Aruna menggeser tubuhnya pelan, mencoba menoleh ke samping, dan di situlah matanya menangkap satu sosok yang membuat napasnya tertahan.Atlas.Di ujung ruangan, di atas sofa yang menghadap ke arah tempat tidur, lelaki itu duduk dengan posisi tegak. Kepalanya sedikit menunduk, kedua tangannya terlipat di dada, dan matanya terpejam. Ia tertidur dalam p
Aruna membuka matanya perlahan, seolah ada beban berat yang menekan kelopak matanya dari dalam. Pandangannya buram beberapa detik pertama, hanya menangkap bayangan samar langit-langit kamar yang terasa asing namun sekaligus tidak sepenuhnya baru. Ia berkedip beberapa kali, mencoba memfokuskan penglihatannya, tapi kepalanya justru berdenyut semakin hebat.Panas.Tubuhnya terasa panas, namun di saat yang sama, ia juga menggigil.Napasnya terasa berat, tenggorokannya kering seperti tidak pernah tersentuh air selama berjam-jam. Refleks, Aruna mengangkat tangannya perlahan, mencoba meraih sesuatu di samping tempat tidur, mungkin segelas air, apa saja yang bisa mengurangi rasa haus yang menyiksa itu.Namun gerakannya terlalu lemah.Jemarinya hanya sempat menyentuh pinggiran meja sebelum kehilangan keseimbangan. Membuat gelas yang ada di sana tersenggol, jatuh ke lantai dengan bunyi pecah yang cukup keras.Aruna tersentak.Tubuhnya ikut sedikit bergeser, membuat kepalanya semakin pusing. Ia
“Kak Runa udah tidur, Tante?”Suara Kelly memecah keheningan ruang tengah yang sejak tadi terasa berat. Ia duduk di ujung sofa dengan posisi tubuh sedikit condong ke depan, kedua tangannya saling menggenggam erat di pangkuannya. Matanya masih sembab, tapi kini lebih tenang dibanding saat pertama kali datang.Dari arah lorong, Amanda muncul dengan langkah pelan. Wajahnya tampak lebih lembut, namun ada guratan kekhawatiran yang belum sepenuhnya hilang. Ia mengangguk singkat menjawab pertanyaan Kelly sebelum berjalan mendekat dan duduk di samping gadis itu.“Udah,” jawabnya pelan. “Baru aja terlelap.”Nada suaranya rendah, seolah masih menjaga agar ketenangan di kamar tidak terusik. Aruna memang membutuhkan istirahat, bukan hanya secara fisik, tapi juga dari segala hal yang baru saja menghantam hidupnya tanpa peringatan.Ruangan itu kembali hening sejenak.Di hadapan mereka, seorang pelayan datang membawa nampan berisi beberapa cangkir teh hangat. Ia meletakkannya satu per satu di atas m
Aruna duduk tepat di hadapan Atlas, tubuhnya masih terasa tegang meski mereka sudah berada di dalam rumah yang seharusnya terasa aman. Ruangan itu sunyi, hanya diisi oleh suara detak jam yang terdengar samar dari sudut dinding. Cahaya lampu temaram jatuh di wajah Atlas, menegaskan garis rahangnya yang mengeras dan tatapan matanya yang tidak biasa.“Jadi… ini maksudnya gimana?” tanyanya akhirnya, suaranya terdengar lebih kecil dari yang ia inginkan.Atlas tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Aruna beberapa detik lebih lama, seolah sedang menimbang sesuatu di dalam pikirannya. Tangannya bergerak pelan meraih tablet yang tergeletak di atas meja, namun gerakan itu tidak sepenuhnya mantap. Ada keraguan di sana, sesuatu yang jarang sekali terlihat dari diri Atlas.“Pak Atlas?” Aruna mengernyit, semakin tidak sabar dengan keheningan yang menggantung.Akhirnya, dengan napas yang ditahan, Atlas menyodorkan tablet itu ke arah Aruna. Namun belum sempat benar-benar diberikan, Aruna sudah le
Aruna bahkan belum benar-benar memahami apa yang sedang terjadi ketika tubuhnya sudah bergerak mengikuti langkah Atlas keluar dari ruang konferensi. Suasana di belakang panggung yang tadi riuh kini berubah kacau, suara orang-orang saling memanggil, langkah kaki terburu-buru, dan kilatan kamera yang masih berusaha mengejar dari kejauhan.Namun semua itu seperti teredam.Yang Aruna rasakan hanya satu, genggaman tangan Atlas yang begitu erat di pergelangannya.Begitu mereka keluar dari gedung Heartline, situasinya terasa jauh berbeda dari sebelumnya. Beberapa pria berbadan tegap dengan setelan hitam sudah membentuk barisan di sekitar mereka, bergerak cepat dan terorganisir. Mereka tidak berbicara banyak, hanya memberi isyarat satu sama lain, menciptakan ruang aman di tengah kerumunan yang mulai mendekat.Aruna refleks memperlambat langkahnya, matanya bergerak ke kanan dan kiri dengan bingung. “Pak Atlas…” suaranya terdengar lebih pelan dari yang ia harapkan, ada getaran yang tidak bisa i







