Inicio / Romansa / Pak, Jangan! Nanti Ketahuan! / 70| Sesi Perkenalan Malam

Compartir

70| Sesi Perkenalan Malam

Autor: sidonsky
last update Fecha de publicación: 2026-04-09 22:53:00

“Akan ada beberapa kamera tersembunyi di area vila, termasuk ruang tengah, dapur, halaman belakang, dan area pantai,” jelas seorang kru sambil menunjuk ke beberapa sudut ruangan.

“Kecuali kamar tidur dan kamar mandi, selebihnya akan terekam selama dua puluh empat jam. Jadi harap tetap natural, anggap saja ini rumah kalian sendiri.”

Sore itu mulai merambat turun, sinar matahari yang tadinya terang kini berubah lebih hangat, menembus jendela kaca besar dan jatuh di lantai dengan warna keemasan.

S
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   154| Sebuah Permohonan

    Aruna bolak-balik di depan meja sofa kamar itu. Sudah hampir empat puluh menit sejak ia membuka mata, dan Atlas masih berkutat dengan beberapa berkas di tangannya, satu tangan memegang dokumen, satu lagi menekan ponsel ke telinganya. Mengenakan pakaian menggemaskan serba pink dengan rambut yang terkepang dua, Aruna melirik ke arah Atlas untuk kesekian kalinya. Lelaki itu sesekali memberikan isyarat dengan telunjuknya yang diangkat sebentar: tunggu sebentar. Ekspresinya serius, suaranya rendah dan terukur saat berbicara dalam bahasa yang Aruna tidak sepenuhnya pahami, mungkin bahasa Mandarin, mungkin Jepang dengan logat bisnis yang berbeda dari percakapan sehari-hari.Aruna mendengus pelan, lalu kembali berjalan. Satu putaran. Dua putaran. Tiga putaran.Jadi ketika akhirnya panggilan itu berakhir dan Atlas menurunkan ponsel dari telinganya, Aruna segera mendekat, seperti anak kucing yang sudah menunggu di depan pintu terlalu lama."Udah?"Atlas mengangguk samar, lalu langsung berdir

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   153| Cincin Pernikahan

    Saya di depan.Senyum Aruna langsung mengembang begitu notifikasi di layar ponselnya menyala. Nama yang muncul di sana seolah mampu menghapus rasa lelah setelah jadwal panjang yang sejak siang menguras tenaganya. Di dalam ruang makeup yang masih dipenuhi aroma hairspray, foundation, dan alat styling yang berserakan di atas meja panjang, Aruna bahkan sudah bangkit dari kursinya sebelum pesan itu selesai ia baca seluruhnya. Di belakangnya, Tabia yang masih berdiri sambil membawa brush powder langsung membelalakkan mata."Kak... belum selesai!"Namun Aruna hanya tertawa kecil sambil meraih tas kecilnya. Bedak tipis masih menyisakan efek glowing di wajahnya, sementara rambut panjangnya sudah dilepas dari styling berat, jatuh lembut membingkai wajah."Gak apa-apa, aku pergi dulu!"Tanpa memberi kesempatan siapa pun untuk mencegah, Aruna melangkah cepat keluar dari ruangan itu. Sepatu heels-nya berdetak cepat di atas lantai marmer gedung studio eksklusif di pusat Kyoto tempat jadwal pemotr

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   152| Pagi Sempurna Aruna

    Pagi datang dengan cara yang begitu sempurna.Mata Aruna terbuka perlahan, berkedip beberapa kali sebelum lensanya berhasil menangkap bayangan lukisan di atas ranjang. Otot-ototnya serasa ditarik ke segala arah. Bahkan tangannya terasa lemas saat ia mengangkatnya untuk menyentuh wajahnya sendiri. Rambutnya berantakan, sebagian menutupi sebelah matanya.Aruna menoleh ke samping.Kosong.Sisi ranjang tempat Atlas tidur sudah rapi. Hanya ada bekas lekukan kecil di kasur yang membuktikan seseorang pernah tidur di sana. Aruna menatapnya sebentar, lalu mata bergerak ke sekeliling kamar. Kimono bunganya yang terlepas semalam masih tergantung di ujung tempat tidur. Bantal yang jatuh ke lantai. Dan aroma yang samar-samar masih tertinggal di udara, membuat pipinya langsung memanas.Ia mendesah pelan, menutup wajah dengan telapak tangan sesaat, lalu memaksa dirinya bangun.Ia mencari-cari keberadaan Atlas. Melewati lorong, menyibakkan rambut dari wajahnya, matanya menyapu sekitar yang masih suny

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   151| He's Awake

    "Tapi saya mau."Ucapnya, lalu kembali menciumi Atlas. Kali ini tak memberikan waktu untuk Atlas melayangkan protesnya, bibir Aruna mendarat di dada lelaki itu, lidahnya menyapu, dan giliran Aruna yang menjilat puting Atlas.Efeknya seketika.Tubuh Atlas menegang seluruhnya, otot-otot di perutnya berkontraksi, bahunya tertarik ke belakang, dan dari atasnya, Aruna bisa mendengar hembusan napas berat yang Atlas keluarkan, napas yang seolah lupa bagaimana cara keluar secara perlahan. Tangannya masih di bahu Aruna, tapi kini berubah, bukan lagi menahan, melainkan mencengkeram. Jari-jarinya menggali ke dalam kulit gadis itu, dan itu bukan tolakan, itu adalah cengkeraman seorang lelaki yang sedang berjuang untuk tidak kehilangan akalnya.Lalu Aruna tak kehilangan akal.Tangannya turun ke bawah, melewati perut kotak-kotak Atlas yang berkontraksi di bawah sentuhannya, melewati pinggang celana yang masih tertutup, sampai akhirnya telapak tangannya mendarat tepat di atas sesuatu yang sudah kem

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   150| Tapi Saya Mau

    "Saya... belum pernah."Tiga kata itu jatuh di antara mereka seperti batu yang dijatuhkan ke kolam yang tenang.Riaknya terasa seketika.Atlas berhenti. Benar-benar berhenti. Tangannya tak bergerak lagi, tubuhnya tak menekan lagi, dan matanya yang tadinya gelap dan lapar kini berubah perlahan menjadi lebih lembut, menjadi sesuatu yang Aruna tak pernah lihat di mata lelaki itu sebelumnya. Bukan keinginan, bukan kesabaran, bukan kemenangan, tapi sesuatu yang lebih dalam dari itu semua.Ia menundukkan kepalanya, menempelkan keningnya di kening Aruna, dan napasnya yang tadinya berat dan rakus kini lebih lambat, lebih teratur, seolah ia sedang menenangkan dirinya sendiri sekaligus menenangkan Aruna."Baik." bisiknya, dan satu kata itu tak menyimpan kekecewaan, tak menyimpan tekanan, hanya penerimaan yang murni.Tangannya bergerak, bukan ke bawah, melainkan ke atas. Menarik kembali sisi-sisi kimono Aruna, menutupinya dengan gerakan yang terlalu hati-hati untuk tangan yang baru saja meremas

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   149| Berhenti

    "Bukannya kamu bilang, kamu merindukan saya?"Dan bisikan itu menjadi pemicu.Bulu kuduk Aruna berdiri seketika dan otaknya yang sudah berantakan mencari jalan keluar, mencari alasan, mencari apa pun yang bisa menyelamatkannya dari situasi ini."Kalau gitu... Pak Atlas... bersih-bersih dulu... aja." katanya terputus-putus, suaranya nyaris bergetar, dan kembali berniat beranjak dari sana.Namun sekali lagi, tangan Atlas menahan.Bahkan dengan sekali tarikan, tubuh Aruna berbalik sepenuhnya, kini menghadap lelaki itu, dan matanya otomatis menatap turun.Ke arah badan kokoh dengan perut kotak-kotak itu."Saya tidak menempuh perjalanan empat ribu mil," bisik Atlas rendah, matanya menangkap pandangan Aruna dan tak membiarkannya kabur, "hanya untuk membiarkan kamu pergi."Mata Aruna membulat.Belum sempat ia mengatakan apa-apa, bibirnya sudah ditempelkan oleh bibir lelaki itu.Lumatannya datang tanpa aba-aba, tanpa ruang untuk bernapas. Atlas mencium Aruna dengan lapar yang tertahan terlalu

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   12| Penyusup

    Aruna merebahkan dirinya di atas kasur double size yang hampir memenuhi setengah ruangan kamar itu. Sprei yang membungkusnya bermotif bunga-bunga kecil berwarna pastel—mawar merah muda, daun hijau pucat, dan tangkai tipis yang menjalar acak seperti taman kecil yang digambar di atas kain. Terlalu h

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   33| Studio Rekaman

    Sejak kebodohan di bandara beberapa waktu lalu, Aruna seperti memaksakan dirinya untuk kembali berpijak pada realita. Ia berulang kali mengingatkan diri sendiri bahwa apa yang terjadi antara dirinya dan Atlas bukanlah sesuatu yang nyata—bukan hubungan yang bisa ia genggam, bukan perasaan yang bole

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   32| Pertunjukan

    Pagi itu, landasan bandara masih dipenuhi sisa dingin malam yang belum sepenuhnya hilang. Langit berwarna pucat, dan suara mesin pesawat yang mendarat terdengar berat, membelah udara yang tenang. Aruna berdiri di samping mobil hitam mengilap, kedua tangannya saling menggenggam di depan tubuhnya. A

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   31| Tamu Tak Diundang

    Gerimis tipis mulai turun ketika sore merangkak menuju malam. Dari balik kaca besar studio, butiran air tampak berlomba jatuh, meninggalkan jejak samar yang perlahan mengaburkan pemandangan kota di luar sana. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, menciptakan suasana sendu yang entah kenap

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status