LOGIN“Farewell to you who never deserved the love I gave. I want you to suffer as I did, to feel the pain as if they were your own; every agonizing second of it.” I smirk as my throat stings, coughing up more blood. Tears streamed down his bloodshot eyes, a satisfaction I never expected I’d feel at my dying moments. “N-no! I’m sorry, please . . . please don’t leave me!” he held me close to his trembling chest, his sobs reverberating through the air — the last I breathed in before I gave in to death’s arms. Or so I thought. In a world of power and love, Morana Everette, the Luna of the Dark Moon Pack, basks in a life of perfection until fate intervenes. Her husband's true fated woman emerges, shattering her idyllic existence and casting her aside. In a final act of sacrifice and a dying curse, she finds herself swapping bodies with her husband, and with his emotions still intact, she is forced to experience the attraction towards the girl who ruined her life. While Logan experiences the agony she once endured in her past. As deities continue to play with their destinies, emotions run high, loyalties are tested, and the cruel game of switch unfolds. Can they break free from this cycle of misery, or will they forever be bound by fate's twisted design? *** The novel is Written by Dinni Dee and By Miss Joye's Outline. The novel is copyrighted by Ideaink Six Cats.
View MoreAldo Pratama adalah seorang pria berusia 29 tahun, dengan penampilan yang sering kali terlupakan orang. Rambut hitam pendeknya selalu rapi, tetapi tidak mencolok. Ia memakai kacamata dengan bingkai hitam sederhana, dan wajahnya, meski cukup tampan, sering terlihat lelah. Mungkin karena kantong matanya yang mulai membesar akibat terlalu sering begadang.
Aldo tinggal di Kota Arkavia, sebuah kota besar dengan pemandangan gedung-gedung tinggi dan jalan raya yang selalu sibuk. Kota ini adalah pusat teknologi di wilayahnya, tempat di mana inovasi dan kesibukan bertemu. Namun, bagi Aldo, Arkavia adalah tempat di mana rutinitas menelan kehidupan. Ia bekerja sebagai programmer di sebuah perusahaan teknologi bernama Nexora Tech, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pengembangan perangkat lunak untuk kebutuhan korporasi.
Hari-hari Aldo selalu dimulai dengan bunyi alarm pukul enam pagi yang ia matikan setelah tiga kali tunda. Ia kemudian menyeret diri keluar dari tempat tidur, membuat secangkir kopi hitam, dan menyalakan televisi untuk mendengarkan berita lokal di saluran Arkavia News. Pagi itu, berita utama berbicara tentang rencana pembangunan jalur kereta bawah tanah baru yang diharapkan dapat mengurangi kemacetan kota. Aldo hanya mendengarkan dengan setengah hati sambil menyelesaikan kopinya.
Kereta layang Arkavia, yang dikenal dengan nama Arkavia Rail, menjadi alat transportasi andalan Aldo setiap pagi. Kereta ini selalu penuh sesak dengan para pekerja, siswa, dan orang-orang yang bergegas menuju rutinitas harian mereka. Di dalam kereta, Aldo biasanya menatap kosong ke luar jendela, melihat bayangan gedung-gedung tinggi yang melesat cepat. Kadang-kadang, ia bertanya-tanya apakah hidupnya hanya tentang bangun, bekerja, pulang, dan mengulang siklus yang sama.
Setibanya di kantor Nexora Tech, Aldo langsung menuju meja kerjanya. Kantornya terletak di lantai 32 Menara Polaris, gedung pencakar langit yang menjadi ikon kota Arkavia. Kantornya terlihat seperti kebanyakan kantor teknologi modern lainnya: meja-meja dengan komputer berderet rapi, ruang meeting dengan dinding kaca, dan sudut-sudut yang dilengkapi beanbag untuk "zona santai." Namun, bagi Aldo, semuanya terlihat seperti pemandangan yang membosankan. Meja kerjanya terletak di sudut ruangan, cukup jauh dari hiruk pikuk rekan-rekannya. Ia lebih suka seperti itu, meskipun sesekali ia merasa terisolasi.
Hari itu, seperti biasa, Aldo membuka email di laptopnya. Email pertama berasal dari bosnya, Pak Arman, dengan subjek yang membuat Aldo menghela napas panjang: "BUG REPORT: PRIORITAS TINGGI". Isi email itu meminta Aldo memperbaiki modul login di sebuah aplikasi klien yang menyebabkan error ketika pengguna mencoba mengakses dashboard. "Bug ini harus diperbaiki sebelum jam lima sore," bunyi pesan itu.
Aldo tidak kaget. Ini bukan kali pertama ia menerima tugas mendadak seperti itu. Dalam pikirannya, Nexora Tech hanya memandang programmer sebagai mesin pemecah masalah. Tidak ada ruang untuk kreativitas, hanya debug, debug, dan debug lagi.
"Aldo, lo dapet email dari Pak Arman juga?" tanya seorang rekan kerja, Sita, yang baru saja duduk di meja sebelahnya. Sita adalah salah satu dari sedikit orang yang cukup dekat dengan Aldo. Dengan rambutnya yang selalu diikat rapi dan sikapnya yang ramah, Sita sering menjadi satu-satunya alasan Aldo bisa bertahan di kantor ini.
"Iya," jawab Aldo singkat, sambil mengetik sesuatu di keyboardnya. "Seperti biasa, bug lagi."
Sita tertawa kecil. "Kayaknya hidup kita nggak jauh-jauh dari bug, ya. Gue juga dapet tugas buat ngecek modul lain yang mereka bilang bisa bikin sistem crash."
Aldo hanya mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari layar. Namun, di dalam hati, ia merasakan kegelisahan. Ia menyukai dunia pemrograman, tetapi ia merasa pekerjaan ini telah merampas semangatnya. Dulu, saat masih kuliah di Universitas Orliana, ia bermimpi menciptakan sesuatu yang revolusioner—sebuah perangkat lunak yang benar-benar bisa mengubah hidup banyak orang. Namun, sekarang ia hanya merasa seperti roda kecil di mesin besar yang tak berujung.
Makan siang tiba, dan Aldo serta Sita memutuskan makan di kantin kantor. Saat mereka menyantap nasi goreng dan minuman dingin, Sita mencoba membuka obrolan. "Lo pernah mikir nggak, Do, kalau kerja kayak gini terus, apa yang bakal kita capai dalam lima tahun ke depan?"
Pertanyaan itu membuat Aldo terdiam sejenak. Ia memandang piringnya, lalu menjawab, "Gue nggak tahu, Sit. Kadang gue mikir, gue cuma jalanin hidup, nggak benar-benar hidup."
Sita mengangguk pelan. "Mungkin lo butuh bikin sesuatu buat diri lo sendiri. Lo kan jago coding, kenapa nggak coba bikin sesuatu yang seru? Kayak proyek pribadi."
Kata-kata itu terus terngiang di kepala Aldo bahkan setelah makan siang usai. Ia kembali ke meja kerjanya dan melanjutkan memperbaiki bug yang diminta, tetapi pikirannya melayang ke ide-ide yang pernah ia tinggalkan. Ia teringat impiannya menciptakan sesuatu yang benar-benar unik, sesuatu yang bisa membuat hidup lebih menarik.
Ketika jam kerja selesai, Aldo pulang dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, ia lelah dengan rutinitas harian yang membosankan. Di sisi lain, kata-kata Sita seperti memberikan dorongan baru. Ia ingin mencoba sesuatu yang berbeda.
Malam itu, setelah makan malam dan mandi, Aldo duduk di depan laptopnya. Ia membuka editor kode yang sudah lama tidak ia gunakan untuk proyek pribadi. Sebuah ide mulai terbentuk di kepalanya. Bagaimana jika hidup ini bisa dijalani seperti sebuah game? Bagaimana jika ada sistem level, misi, dan penghargaan yang membuat segalanya terasa lebih menyenangkan?
Aldo mulai mengetik baris demi baris kode. Ia merancang sistem sederhana yang bisa mengubah rutinitasnya menjadi sesuatu yang lebih menarik. Ia menetapkan bahwa setiap tugas sehari-hari akan menjadi "misi," dan setiap misi yang diselesaikan akan memberikan poin pengalaman (XP). Semakin banyak poin yang terkumpul, semakin tinggi levelnya.
Kode itu belum sempurna, tetapi Aldo merasa bersemangat untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir. Namun, rasa lelah mulai menyerang. Jam di layar menunjukkan pukul dua pagi, dan matanya sudah sulit dibuka. Akhirnya, Aldo tertidur di depan laptopnya, dengan program yang masih berjalan.
Malam itu, di luar apartemen Aldo, sebuah meteor kecil melesat di langit Arkavia. Meteor itu jatuh jauh di pinggir kota, tetapi dampaknya terasa hingga ke jaringan listrik. Laptop Aldo, yang masih menyala, tiba-tiba menerima lonjakan energi aneh dari meteor itu. Kode yang ia tulis mulai berubah, seolah memiliki nyawa sendiri. Namun, Aldo tidak menyadari apa yang terjadi.
Ketika pagi tiba, Aldo terbangun dengan rasa kantuk yang berat. Ia memandang layar laptopnya, yang sekarang menampilkan pesan aneh: "Selamat datang di Level 1. Misi Anda dimulai."
Morana’s POVAs if a bucket of freezing water was dumped on me, I froze in the doorway, staring blankly at the body in front of me that was clenching in pain.My heart throbbed in an unexplainable way as I watched my own body curled in a ball, eyes closed, and writhing.I wasn’t the one feeling that pain… that heat. It’s him. Logan’s the one feeling all the kickback of the mate’s betrayal, just like how I wished it to me.But there’s a string in my heart that’s pulling me in the other direction. Was it conscience? Love? Sympathy? I didn’t know.And before I could make amends to myself what it was I was feeling, my feet started moving on their own accord. Crouching down, I slowly placed my hand on Logan’s shoulder, letting his callous hands touch my smooth and fair-skinned shoulder.But as soon as I touched him, I was jolted back by a current that brought tingles all over my body.My eyes widened. “What was that?”“Morana?” Logan finally opened his eyelids and looked up at me.Delight
Morana’s POVThere came a time when we’d vow never to do something in our lives, but fate would likely throw us a bone and turn us crazy until we broke that promise ourselves.Boredom filled me while I sat in the front row, waiting for Logan and Violet to reach the third stage, where I could watch them through the feed. Indeed, as much as I hate this game, participating was a whole lot more exciting than sitting here.Did he see her true color yet? What’s happening there now?Questions filled my mind as I anxiously tapped my fingers on the armrest. Meanwhile, while the game continued, the cheers of my warriors didn’t go down despite knowing that the participants inside couldn’t hear them.In fact, they got louder.What made me smile, though, was when they jumped when they heard Logan won the first round. I furrowed my brows at that announcement, though.How in the world did he win that stage?Logan was strategically smart and physically powerful, but he could not have won the stage of
Logan’s POVViolet sent me a mocking smirk before she entered the combat arena, rejoicing as she heard Finely proudly announce her as a winner for the second stage of the game.Unfazed by her cheating schemes, I swayed with the veins and jumped. But as soon as I landed on my feet at the ground, I uncontrollably fell on my knee, feeling weak.Gritting my teeth, I whispered, “Wolfsbane…”My chest rose and fell heavily, feeling the burning sensation cursing through my veins. I coughed in shock as I felt the poison hitting my heart.Clanching my chest, I looked up and saw her victoriously standing in the middle of the arena.Taking deep breaths, I momentarily closed my eyes, calling my inner wolf to fasten our adopting skills.Though Morana’s body wasn’t built as strong and adaptable as an Alpha, she was a warrior and a gamma before she became a Luna. Her body was strong enough to withhold the wolfsbane in her veins.But that didn’t change the fact that I’d feel weaker and… Shit!Realizat
Logan’s POVViolet was unharmed, but the two of us would probably not survive if we didn’t do anything.Right in front of us was a river that separated us from the next land. What’s more, there’s no way to walk around it. The only way was to cross the river… but it’s not any ordinary river.Its width was probably a kilometer, and the fluid flowing in it was not water but magma!Despite standing a few feet away from it, Violet and I were already murderously sweating from the heat it was exuding.“Is that what I think it is?” she asked, and I could only nod in silence.Scoffing, she asked, “What, do the elders want us to cross it and burn ourselves to death?”She looked at me in exasperation. “We’ll be cooked halfway in there even if we’re stupid enough to cross it by foot!”“Or by some miracle, we could fly, which is far from possible!” By now, she’s just rumbling from nervousness.Fly… That’s right! We would surely die if we touched the magma. And since we couldn’t walk around it, we






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews