分享

Bab 8

作者: MISTERIOUS
last update publish date: 2026-04-10 08:06:52

"Kondisi Tuan Besar Ruan memburuk karena sumbatan di meridian Yin," jawab Tabib Su ketus. "Kelembabannya sudah merusak organ dalam. Jarum Pemanggil Jiwa adalah satu-satunya jalan."

Li Mingzi menggeleng pelan. "Itu bukan kelembaban biasa."

Ruan Yin merasakan jemari Li Mingzi menggenggam tangannya lebih erat. Kehangatan itu terasa asing, tapi entah kenapa membuatnya merasa tenang di tengah kekacauan ini.

"Li Mingzi," bisik Ruan Yin. "Jangan bicara sembarangan. Tabib Su adalah tabib paling terkenal di Kota Awan. Beliau sudah menangani keluarga-keluarga besar sejak puluhan tahun."

Li Mingzi berbalik menghadapnya. Sorot matanya begitu serius sampai Ruan Yin hampir tidak mengenalinya.

"Yin Yin," kata Li Mingzi pelan tapi tegas. "Aku tidak bisa diam melihat orang membunuh kakekmu."

Suasana di ruangan langsung mencekam.

Tabib Su bangkit berdiri. Wajahnya memerah, kedua tangannya terkepal gemetar menahan amarah.

"Apa kau bilang?!" bentak Tabib Su. "Aku sudah berpraktik lebih dari empat puluh tahun! Menyelamatkan ribuan nyawa! Kau ini siapa sampai berani meragukan kemampuanku?!"

Li Mingzi justru tersenyum tipis. "Tabib Su sebaiknya Anda lebih tenang. Kemarahan tidak baik untuk kesehatan."

Tabib Su tercekat. Wajahnya kini menghitam.

"Baik," kata Tabib Su dengan nada getir. "Kalau kau merasa begitu hebat, coba katakan apa yang bisa kau ajarkan padaku!"

Li Mingzi melangkah lebih dekat ke ranjang Ruan Yu. Ia membungkuk, jari-jarinya menyentuh pergelangan tangan sang kakek dengan lembut.

"Beberapa titik akupunktur Kakek Ruan sudah tersumbat energi gelap," jelas Li Mingzi. "Kalau dipaksakan menggunakan Jarum Pemanggil Jiwa, energi yang tiba-tiba masuk akan bertabrakan dengan sumbatan itu. Hasilnya? Kakek Ruan akan kehilangan kendali seketika. Akan mengeluarkan darah segar dari tujuh lubang, lalu mati."

Tabib Su terkekeh sinis. "Energi gelap? Anak muda ini bahkan tidak bisa membedakan energi gelap dengan kelembaban tubuh! Mungkin kau harus banyak membaca buku sebelum asal bicara."

Li Mingzi menggaruk kepala, tidak tersinggung sama sekali. "Baiklah, kalau Tabib Su yakin begitu."

Tabib Su berbalik menghadap Ruan Yin dan Ruan An. Suaranya dingin dan final.

"Aku beri kalian pilihan. Siapa yang akan menangani Tuan Besar Ruan? Aku, atau anak muda sombong ini?"

Ruan An tidak perlu berpikir panjang. "Tentu saja Tabib Su yang menangani. Bahkan surat wasiat juga sudah aku siapkan."

Ruan Yin terlihat pasrah. Pandangannya beralih ke Li Mingzi yang berdiri tenang di samping ranjang. Pria itu tidak memaksa, tidak memprotes. Hanya tersenyum tipis sambil menatapnya.

"Tolong selamatkan kakek," ucap Ruan Yin pada Tabib Su.

Tabib Su mengangguk puas. Ia mengeluarkan sembilan jarum perak dari kotak kayu hitam, lalu menyalakan lilin kecil untuk sterilisasi. Api kuning menari-nari di ujung jarum.

Li Mingzi mundur beberapa langkah, bersandar di tembok dengan tangan terlipat. Ekspresinya tidak terbaca.

Tabib Su mulai bekerja. Jari-jarinya bergerak cepat dan presisi, menancapkan jarum satu per satu di leher, tulang belikat, dan punggung bawah Ruan Yu. Setiap tusukan tepat pada titik akupunktur yang telah dipelajarinya bertahun-tahun.

Gerakan itu terlihat indah, penuh pengalaman.

"Angkat tubuh Tuan Besar agar duduk," perintah Tabib Su sambil mengelap keringat di dahinya. "Hanya ada waktu lima menit. Biarkan beliau menyampaikan pesan terakhir."

Ruan An langsung bergegas ke sisi ranjang. Tangannya menyentuh bahu sang ayah, tiba-tiba Ruan Yu membuka mata lebar-lebar.

Matanya merah menyala, penuh dengan urat darah yang pecah. Tubuhnya bergetar hebat, seperti tersengat listrik ribuan volt.

"Kakek!" pekik Ruan Yin.

Tapi belum sempat ia mendekat, darah segar mulai menetes dari hidung Ruan Yu. Lalu dari mata. Dari telinga. Dari mulut.

Tujuh lubang, seperti yang dikatakan Li Mingzi.

"Apa yang terjadi?!" Ruan Yin panik total. "Tabib Su! Kenapa kakek malah berdarah?!"

Tabib Su sendiri terpaku. Wajahnya pucat, tangannya gemetar saat meraih jarum tambahan dari kotaknya.

"Aku... aku akan menstabilkan..."

Belum sempat ia mendekat, tangan Ruan Yu tiba-tiba mengayun keras. Dorongan itu menghantam dada Tabib Su, melemparnya mundur hingga punggungnya menabrak lemari kayu.

Brak!

Tabib Su terjatuh. Jarum-jarum perak berhamburan di lantai.

Lalu Ruan Yu menyemburkan darah segar dari mulutnya. Cairan merah pekat membasahi selimutnya, menyebar seperti lukisan mengerikan.

"Kakek!!" Ruan Yin berlari ke ranjang, air matanya mengalir deras.

Tabib Su bangkit dengan susah payah. Tangannya masih gemetar, menggenggam jarum yang tersisa. Bibirnya bergerak tapi tidak ada suara, wajahnya benar-benar kehilangan akal.

Li Mingzi menghela napas panjang.

Ia melangkah maju, meraih jarum perak dari tangan Tabib Su yang lemas. Lalu dengan gerakan halus yang hampir tidak terlihat, ia melempar jarum itu dari kejauhan.

Sssst!

Jarum perak melayang di udara, berputar sekali, lalu menancap tepat di titik akupunktur antara alis Ruan Yu.

Tubuh sang kakek langsung berhenti bergetar.

Tabib Su melongo. Matanya melebar tidak percaya. Itu adalah teknik legendaris yang konon telah hilang ratusan tahun lalu.

Tiga Belas Jarum Dewa.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 75

    “Lin Fang sudah kabur…” Li Mingzi melangkah santai memasuki ruangan sambil menyapu pandangan ke arah Gong Qin. “Kenapa kau tidak ikut lompat juga?”Baru sekarang Gong Qin benar-benar sadar. Lin Fang kalah.Orang yang selama ini dianggap monster pembunuh oleh ayahnya ternyata bahkan tidak mampu menghentikan Li Mingzi beberapa menit saja.Tubuh Gong Qin tanpa sadar mundur selangkah.“Li… Li Mingzi…” bibirnya bergetar. “Aku putra sulung Keluarga Gong. Kalau kau menyentuhku, seluruh Kota Awan tidak akan membiarkanmu hidup!”Li Mingzi memiringkan kepala sedikit seperti sedang berpikir.“Oh?”Plakkk!Tamparan keras meledak di dalam ruangan.Tubuh Gong Qin langsung terpental menghantam pilar beton. Suara retakan samar terdengar dari bahunya. Ia jatuh berlutut sambil memuntahkan darah.“Aaarghhh!”Separuh wajahnya langsung bengkak.Li Mingzi berjalan mendekat.“Jadi…” katanya polos. “Karena kau putra sulung Keluarga Gong, aku tidak boleh membunuhmu?”Gong Qin menggigil.Tatapan Li Mingzi tida

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 74

    “J-jadi…” Gong Qin menelan ludah keras-keras. “Kau benar-benar bisa membunuh Li Mingzi?”Ruangan menara pandang itu mendadak sunyi.Lin Fang perlahan menarik kembali hawa membunuh yang tadi menekan seluruh ruangan. Tekanan dingin itu menghilang, tetapi wajah Gong Qin justru semakin pucat.Lin Fang memalingkan tubuh ke arah jendela.“Li Mingzi memang sangat kuat,” ucapnya datar. “Aku bukan tandingannya kalau bertarung biasa.”Kalimat itu membuat Gong Qin membelalak.“Namun…” Lin Fang melanjutkan sambil melirik pantulan dirinya di kaca jendela. “Aku bisa membunuhnya.”Gong Qin terdiam beberapa detik sebelum buru-buru tertawa kaku.“Benar! Itu baru masuk akal!” katanya cepat. “Kau pembunuh terbaik ayahku. Mana mungkin kalah dari pengawal kampung seperti dia.”Namun telapak tangannya ternyata basah oleh keringat.Ruan Yin yang duduk terikat di kursi hanya menatap dingin.“Kau takut.”Senyuman Gong Qin langsung membeku.“Apa katamu?”“Kau takut pada Li Mingzi.” Ruan Yin menatap lurus ke ma

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 73

    “Turunlah dulu.” Li Mingzi menarik napas pendek sambil berdiri di tepi jurang terjal. Di bawah sana hanya terlihat jalanan samar dan jalur kabel gantung yang membentang sampai sisi lain bukit. Bai Yumeng memucat saat melihat kedalamannya. “Kau ikut denganku.” Suaranya bergetar. “Kita turun bersama.” Li Mingzi tidak menjawab. Ia justru memasang kait pengaman ke pinggang Bai dengan tenang. Di kejauhan, suara langkah kaki mulai terdengar semakin dekat. “Mereka hampir sampai.” Li Mingzi mengencangkan tali terakhir. “Kalau aku ikut turun sekarang, kita berdua bakal mati.” Bai Yumeng langsung menggenggam tangannya erat. “Kalau begitu kau yang pergi!” serunya panik. “Mereka mencariku! Semua masalah ini terjadi karena aku!” Itu pertama kalinya Li Mingzi melihat Bai Yumeng benar-benar kehilangan ketenangan. Wanita itu biasanya dingin dan angkuh, tetapi sekarang matanya dipenuhi kecemasan. Li Mingzi malah tersenyum kecil. “Jadi Nona Bai ternyata bisa juga mengkhawatirkan or

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 72

    "Kau masih membela pria itu?!" Wajah Song Hua memerah menahan amarah. "Kau tinggalkan jabatan direktur demi mengikuti pemuda kampung! Sekarang dia selingkuh di depan matamu, masih juga tidak sadar?!"Ruan Yin terdiam. Hatinya sakit mendengar kata-kata itu.Song Hua menunjuk ke arah jendela dengan jari gemetar. "Lihat sendiri! Dia berlari sambil menggenggam wanita lain! Apa lagi yang kau tunggu?!"Ruan Yuan ikut menyahut cepat. "Li Mingzi memang bajingan. Lupakan dia.""Cukup." Ruan Yin menggeleng pelan.Song Hua menghela napas kasar. "Yin'er, jangan bodoh lagi. Tinggalkan pria itu. Nenek janji akan mencarikan pasangan yang jauh lebih baik."Ruan Yin menatap lantai. Pikirannya kembali ke beberapa waktu lalu. Saat ia dikhianati Zhang Wu dan berada di titik terendahnya. Yang datang menolongnya adalah Li Mingzi.Nenek dan sepupunya itu sedang menikmati hidup makmur di luar kota."Nenek ingat nggak?" Ruan Yin mengangkat wajah perlahan. Suaranya dingin. "Saat kakek hampir mati, kalian di ma

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 71

    # Bab 71Langit Kota Awan tampak suram ketika Li Mingzi melangkah keluar dari gerbang Villa Bukit Kuning. Angin pagi berembus dingin, membuat ujung mantel hitamnya berkibar pelan.Sebuah mobil sedan hitam sudah terparkir di depan gerbang.Tin! Tin!Suara klakson pendek terdengar dua kali.Li Mingzi melirik ke dalam mobil dan melihat Bai Yumeng duduk di kursi pengemudi. Wanita itu mengenakan setelan hitam profesional yang membungkus tubuh rampingnya dengan sempurna. Kaki jenjang berbalut stoking tipis menyilang anggun, sementara wajah dinginnya tertutup sebagian oleh kacamata hitam besar."Naik," ucap Bai Yumeng singkat.Li Mingzi membuka pintu mobil tanpa banyak bicara. Namun baru saja ia duduk, alisnya langsung terangkat."Kenapa ada dia?"Di kursi belakang, Gong Manli mendengus sinis sambil melipat tangan di dada."Hmph. Kukira siapa. Ternyata buaya darat."Wajah Li Mingzi langsung menggelap. "Aku pria tampan dan gagah begini, kenapa kau panggil buaya?""Kalau bukan buaya darat nama

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 70

    Napas Ruan Yin masih terengah. Tubuhnya bersandar lemas di dinding balkon. Li Mingzi menarik diri perlahan, menatapnya dengan sorot mata yang lembut."Aku tahu kau belum siap," bisiknya pelan sambil merapikan gaun Ruan Yin yang berantakan. "Aku bisa menunggu."Ruan Yin mengangguk kecil, wajahnya masih memerah. Ia menarik napas panjang untuk menenangkan diri.Li Mingzi tahu waktunya tidak banyak, tetapi ia bukan binatang yang suka memaksa. Mereka duduk di tepi ranjang besar yang sudah disiapkan. Keheningan sesaat menyelimuti ruangan."Ruan Yin."Suara Li Mingzi tiba-tiba terdengar serius. Ruan Yin menoleh, penasaran dengan perubahan nada bicaranya."Aku mau bilang sesuatu."Ruan Yin menunggu dengan sabar. Li Mingzi menatap jendela kamar sejenak sebelum melanjutkan."Aku datang ke Kota Awan bukan hanya untuk menepati perjanjian pernikahan.""Lalu?""Aku harus menyatukan dua keluarga besar, Gong dan Bai. Setelah itu, aku akan menegakkan kekuasaan di seluruh kota ini."Ruan Yin terdiam.

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status