로그인"Kondisi Tuan Besar Ruan memburuk karena sumbatan di meridian Yin," jawab Tabib Su ketus. "Kelembabannya sudah merusak organ dalam. Jarum Pemanggil Jiwa adalah satu-satunya jalan."
Li Mingzi menggeleng pelan. "Itu bukan kelembaban biasa." Ruan Yin merasakan jemari Li Mingzi menggenggam tangannya lebih erat. Kehangatan itu terasa asing, tapi entah kenapa membuatnya merasa tenang di tengah kekacauan ini. "Li Mingzi," bisik Ruan Yin. "Jangan bicara sembarangan. Tabib Su adalah tabib paling terkenal di Kota Awan. Beliau sudah menangani keluarga-keluarga besar sejak puluhan tahun." Li Mingzi berbalik menghadapnya. Sorot matanya begitu serius sampai Ruan Yin hampir tidak mengenalinya. "Yin Yin," kata Li Mingzi pelan tapi tegas. "Aku tidak bisa diam melihat orang membunuh kakekmu." Suasana di ruangan langsung mencekam. Tabib Su bangkit berdiri. Wajahnya memerah, kedua tangannya terkepal gemetar menahan amarah. "Apa kau bilang?!" bentak Tabib Su. "Aku sudah berpraktik lebih dari empat puluh tahun! Menyelamatkan ribuan nyawa! Kau ini siapa sampai berani meragukan kemampuanku?!" Li Mingzi justru tersenyum tipis. "Tabib Su sebaiknya Anda lebih tenang. Kemarahan tidak baik untuk kesehatan." Tabib Su tercekat. Wajahnya kini menghitam. "Baik," kata Tabib Su dengan nada getir. "Kalau kau merasa begitu hebat, coba katakan apa yang bisa kau ajarkan padaku!" Li Mingzi melangkah lebih dekat ke ranjang Ruan Yu. Ia membungkuk, jari-jarinya menyentuh pergelangan tangan sang kakek dengan lembut. "Beberapa titik akupunktur Kakek Ruan sudah tersumbat energi gelap," jelas Li Mingzi. "Kalau dipaksakan menggunakan Jarum Pemanggil Jiwa, energi yang tiba-tiba masuk akan bertabrakan dengan sumbatan itu. Hasilnya? Kakek Ruan akan kehilangan kendali seketika. Akan mengeluarkan darah segar dari tujuh lubang, lalu mati." Tabib Su terkekeh sinis. "Energi gelap? Anak muda ini bahkan tidak bisa membedakan energi gelap dengan kelembaban tubuh! Mungkin kau harus banyak membaca buku sebelum asal bicara." Li Mingzi menggaruk kepala, tidak tersinggung sama sekali. "Baiklah, kalau Tabib Su yakin begitu." Tabib Su berbalik menghadap Ruan Yin dan Ruan An. Suaranya dingin dan final. "Aku beri kalian pilihan. Siapa yang akan menangani Tuan Besar Ruan? Aku, atau anak muda sombong ini?" Ruan An tidak perlu berpikir panjang. "Tentu saja Tabib Su yang menangani. Bahkan surat wasiat juga sudah aku siapkan." Ruan Yin terlihat pasrah. Pandangannya beralih ke Li Mingzi yang berdiri tenang di samping ranjang. Pria itu tidak memaksa, tidak memprotes. Hanya tersenyum tipis sambil menatapnya. "Tolong selamatkan kakek," ucap Ruan Yin pada Tabib Su. Tabib Su mengangguk puas. Ia mengeluarkan sembilan jarum perak dari kotak kayu hitam, lalu menyalakan lilin kecil untuk sterilisasi. Api kuning menari-nari di ujung jarum. Li Mingzi mundur beberapa langkah, bersandar di tembok dengan tangan terlipat. Ekspresinya tidak terbaca. Tabib Su mulai bekerja. Jari-jarinya bergerak cepat dan presisi, menancapkan jarum satu per satu di leher, tulang belikat, dan punggung bawah Ruan Yu. Setiap tusukan tepat pada titik akupunktur yang telah dipelajarinya bertahun-tahun. Gerakan itu terlihat indah, penuh pengalaman. "Angkat tubuh Tuan Besar agar duduk," perintah Tabib Su sambil mengelap keringat di dahinya. "Hanya ada waktu lima menit. Biarkan beliau menyampaikan pesan terakhir." Ruan An langsung bergegas ke sisi ranjang. Tangannya menyentuh bahu sang ayah, tiba-tiba Ruan Yu membuka mata lebar-lebar. Matanya merah menyala, penuh dengan urat darah yang pecah. Tubuhnya bergetar hebat, seperti tersengat listrik ribuan volt. "Kakek!" pekik Ruan Yin. Tapi belum sempat ia mendekat, darah segar mulai menetes dari hidung Ruan Yu. Lalu dari mata. Dari telinga. Dari mulut. Tujuh lubang, seperti yang dikatakan Li Mingzi. "Apa yang terjadi?!" Ruan Yin panik total. "Tabib Su! Kenapa kakek malah berdarah?!" Tabib Su sendiri terpaku. Wajahnya pucat, tangannya gemetar saat meraih jarum tambahan dari kotaknya. "Aku... aku akan menstabilkan..." Belum sempat ia mendekat, tangan Ruan Yu tiba-tiba mengayun keras. Dorongan itu menghantam dada Tabib Su, melemparnya mundur hingga punggungnya menabrak lemari kayu. Brak! Tabib Su terjatuh. Jarum-jarum perak berhamburan di lantai. Lalu Ruan Yu menyemburkan darah segar dari mulutnya. Cairan merah pekat membasahi selimutnya, menyebar seperti lukisan mengerikan. "Kakek!!" Ruan Yin berlari ke ranjang, air matanya mengalir deras. Tabib Su bangkit dengan susah payah. Tangannya masih gemetar, menggenggam jarum yang tersisa. Bibirnya bergerak tapi tidak ada suara, wajahnya benar-benar kehilangan akal. Li Mingzi menghela napas panjang. Ia melangkah maju, meraih jarum perak dari tangan Tabib Su yang lemas. Lalu dengan gerakan halus yang hampir tidak terlihat, ia melempar jarum itu dari kejauhan. Sssst! Jarum perak melayang di udara, berputar sekali, lalu menancap tepat di titik akupunktur antara alis Ruan Yu. Tubuh sang kakek langsung berhenti bergetar. Tabib Su melongo. Matanya melebar tidak percaya. Itu adalah teknik legendaris yang konon telah hilang ratusan tahun lalu. Tiga Belas Jarum Dewa.Tuan Wang masih memandangi pintu yang baru saja dilewati Qin Yushuo. Kerutan di dahinya semakin dalam."Orang seperti dia tidak layak dipercaya," ucapnya pelan. "Saya khawatir dia hanya berpura-pura tunduk."Bau darah masih memenuhi ruangan. Mayat-mayat tergeletak di berbagai sudut, sementara anak buah Keluarga Wang mulai bergerak membersihkan kekacauan yang tersisa.Namun Li Mingzi hanya tersenyum santai."Dia memang tidak bisa dipercaya sepenuhnya."Tuan Wang sedikit terkejut."Lalu kenapa Tuan Muda membiarkannya hidup?"Li Mingzi melirik ke arah pintu."Karena dia orang yang haus kekuasaan." Ia berhenti sejenak. "Orang seperti itu lebih mudah dikendalikan daripada orang yang fanatik."Tuan Wang terdiam.Li Mingzi melanjutkan dengan tenang."Begitu dia mengetahui seberapa besar jarak antara dirinya dan aku, dia akan terus memilih berpihak kepadaku."Tuan Wang akhirnya mengangguk. Ia sadar dirinya tidak perlu mengkhawatirkan hal-hal yang sudah diperhitungkan oleh Li Mingzi.Setelah m
Mata Wen Long memerah karena emosi."Dia murid pendeta tua itu! Menurut kalian menyerah akan menyelamatkan nyawa? Kalian semua sudah terlibat terlalu jauh!"Kata-kata itu membuat Qin Yushuo membeku.Benar.Jika Li Mingzi memang berniat membunuh mereka, berlutut pun belum tentu bisa menyelamatkan nyawa.Ekspresinya berubah drastis.Seolah sebuah keputusan telah dibuat dalam benaknya.Tiba-tiba ia mencabut pistol dari balik jas.Klik!"Qin Yushuo!" teriak Lu Jiyan.Bang! Bang! Bang! Bang!Rentetan peluru langsung melesat ke arah Li Mingzi.Bai Yumeng sampai berdiri dari tempat duduknya, sementara Tuan Wang menyipitkan mata.Namun Li Mingzi tetap tidak bergerak. Ia hanya mengibaskan lengan bajunya.Wuuung!Pemandangan yang terjadi setelahnya membuat semua orang kehilangan kemampuan berbicara.Satu demi satu peluru berhenti di udara.Benar-benar berhenti.Seolah waktu membeku di sekitar tubuh Li Mingzi.Mata Qin Yushuo membelalak lebar."Aku... aku..."Ting! Ting! Ting!Peluru-peluru itu
Pendekar pengguna Telapak Pemecah Karang itu langsung memerah karena marah. Urat-urat di lehernya menonjol jelas, sementara sorot matanya dipenuhi amarah. Sebagai praktisi bela diri yang cukup terkenal di kalangannya, belum pernah ada orang yang berani menghina jurus andalannya secara terang-terangan seperti itu."Kau cari mati!" bentaknya.Di saat yang sama, empat pendekar berbaju hitam lainnya saling bertukar pandang. Setelah menyaksikan rekan mereka dipermalukan, mereka tidak lagi berani meremehkan Li Mingzi. Tanpa perlu berkomunikasi lebih lanjut, mereka langsung bergerak dari berbagai arah."Serang bersama!""Jangan beri dia kesempatan!"Dua orang menyerbu dari samping, satu dari belakang, sementara seorang lainnya mengangkat tangan dan diam-diam menyiapkan senjata rahasia. Serangan mereka datang hampir bersamaan, menutup seluruh jalur mundur Li Mingzi.Namun Li Mingzi sama sekali tidak terlihat panik. Tubuhnya hanya bergeser setengah langkah dengan gerakan yang begitu ringan hi
"Bukan kau, juga bukan pendeta tua itu, lalu siapa?" Lu Jiyan mendengus, matanya menyapu ruangan dengan curiga.Qin Yushuo mengernyitkan dahi. "Jangan-jangan kau sengaja membuang waktu?"Wen Long tidak menunggu jawaban. Rahangnya mengeras, dan dengan gerakan tangan kecil ia memberi isyarat."Bunuh dia."Seorang pendekar berbaju hitam melesat dari sudut ruangan, gerakannya cepat, nyaris tanpa suara. Jari-jarinya mencengkeram ke arah tenggorokan Tuan Wang seperti cakar elang yang menukik.Tidak ada yang sempat bergerak.Tiba-tiba sesosok bayangan biru menghadang di depan Tuan Wang. Satu tangan terangkat, menangkap pergelangan pendekar itu di udara, lalu dengan gerakan pelan yang hampir terasa santai, "krak", tulangnya patah.Jeritan kesakitan membelah ruangan.Si pendekar menyentak mundur, tangan kirinya melempar tiga pisau terbang dalam kepanikan. Li Mingzi hanya mengibaskan lengan bajunya. Tiga pisau itu berbalik, menembus punggung pelemparnya sendiri. Tubuh pendekar itu roboh tanpa s
Qin Yushuo melangkah maju saat Tuan Wang tiba di aula. Senyumnya lebar, tangannya terentang seolah menyambut tamu kehormatan."Tuan Wang, akhirnya kita bertemu juga. Saya Qin Yushuo dari..."Tuan Wang melewatinya begitu saja. Bahkan tidak melirik sekalipun.Qin Yushuo berhenti di tengah kalimat. Tangannya masih terentang di udara. Beberapa detik berlalu sebelum dia akhirnya menurunkannya dengan pelan sambil berpura-pura batuk.Wen Long justru melangkah maju dengan ekspresi yang berbeda. Ada sesuatu yang membara di matanya, campuran antara dendam yang lama dipendam dan kepuasan."Tuan Wang," suaranya bergetar tipis. "Aku telah menunggu hari ini begitu lama. Bagaimana perasaanmu?"Tuan Wang tidak menjawab. Dia berjalan ke sofa panjang di sisi ruangan, duduk dengan tenang, lalu mengeluarkan sebuah jam saku. Dibukanya tutup jam itu, dipandanginya sebentar, lalu ditutup kembali. Sedikitpun ia tidak menatap ke arah Wen Long.Wen Long terdiam di tengah ruangan. Rahangnya mengeras. Urat di le
Seluruh kelompok langsung bergerak menyebar menyebar tanpa memedulikan Li Mingzi dan Lin Fang.Mereka tiba di sebuah ruangan luas yang sunyi. Tidak ada pelayan atau penjaga di sana.Wen Long menyapu pandangan ke segala arah. Setelah beberapa saat mengamati, dia tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Kewaspadaannya sedikit demi sedikit mengendur.Dia mengangkat tangan. "Naik. Tangkap dia hidup-hidup."Beberapa anak buah segera bergerak menuju tangga besar yang mengarah ke lantai dua.Tap. Tap. Tap.Suara langkah kaki bergema di dalam villa. Namun tepat saat penjaga pertama menginjak anak tangga kelima,Dor!Ledakan senjata api memecah keheningan. Tubuh pria itu terhuyung. Matanya membelalak. Di dadanya muncul lubang berdarah sebesar kepalan tangan. Sesaat kemudian tubuhnya jatuh menuruni tangga, darah segar menyebar di lantai marmer."Musuh! Cari perlindungan!"Kerumunan langsung kacau. Para penjaga buru-buru berlindung di balik sofa, pilar, dan meja sambil mengangkat senjata. R
Ruan Yin menekan pelipisnya pelan saat melangkah masuk ke kamar. Kepalanya terasa berat, efek alkohol masih tersisa, meski tidak separah semalam. Ia tahu itu karena pil yang diberikan Li Mingzi sebelum mereka pulang.Kalau tidak, mungkin ia sudah tergeletak tanpa sadar sejak tadi.Di kamarnya, Rua
“Mapus aku…” umpat Luo Han dalam hati, jantungnya serasa jatuh ke perut saat pandangannya bertemu langsung dengan Li Mingzi.Kakinya terasa lemas hampir saja kehilangan kekuatan. Refleks tubuhnya nyaris berlutut, tetapi ia segera menahan diri. Tatapan Li Mingzi yang tenang namun penuh peringatan m
“Jangan pedulikan aku… mereka bukan orang yang bisa kau singgung…” suara Ruan Yin lirih, napasnya masih tidak teratur. Kepalanya bersandar lemah di dada Li Mingzi, namun jemarinya mencengkeram pakaian pria itu, seolah takut ia benar-benar akan bertindak gegabah.Li Mingzi menunduk menatapnya sekil
"Kau mau apa?" Kecurigaan terpancar jelas di wajah Gong Manli. Ia hendak melangkah untuk menghalangi Li Mingzi, tetapi Tuan Gong lebih dulu mengangkat tangan.“Cukup. Kalian semua keluar,” perintahnya singkat, tanpa memberi ruang untuk bantahan.Gong Qin terlihat tidak tenang, sementara Gong Manli







