Share

Bab 7

Author: MISTERIOUS
last update publish date: 2026-04-07 16:28:37

Ruan Yin menatap pamannya tak percaya. "Paman! Zhang Wu yang membuat surat utang palsu untuk menipu perusahaan kita!"

"Akan kuurus nanti," potong Ruan An lagi. "Mulai sekarang urusan grup aku yang ambil alih. Kau masih terlalu muda, terlalu emosional untuk memimpin."

Li Mingzi yang sejak tadi diam, tiba-tiba tertawa kecil. Suaranya terdengar mengejek di tengah ketegangan.

"Wah," kata Li Mingzi sambil melipat tangan di dada. "Paman kedua ini hebat juga, ya. Begitu tahu kakek sakit, langsung kepikiran ambil alih perusahaan."

Wajah Ruan An langsung menggelap. "Siapa kau? Berani sekali ikut campur urusan keluarga Ruan!"

Ia menunjuk Li Mingzi dengan jari gemetar karena marah. "Ruan Yin! Usir dia sekarang juga!"

Li Mingzi melangkah maju santai. 

"Aku tidak suka orang yang menindas wanita," kata Li Mingzi enteng. "Sepertinya Paman kedua perlu diajari sopan santun."

"Kau..."

Belum sempat Ruan An menyelesaikan kalimatnya, tangan Li Mingzi sudah bergerak.

Plak!

Tamparan keras mendarat di pipi Ruan An. Kepala pria itu terlempar ke samping, dua gigi depannya rontok bersama ludah bercampur darah.

Ruan An tersungkur, tubuhnya menghantam lantai dengan keras.

"Gigi… gigiku…" erang Ruan An dengan suara parau.

Ruan Yin berpaling ke samping, pura-pura tidak melihat apa-apa.

"Pengawal!" teriak Ruan An sambil berusaha bangkit. 

Li Mingzi menginjak punggung Ruan An, menekannya kembali ke lantai. Kemudian tangannya mengangkat meja teh kayu jati yang berat.

Brak!

Meja itu dihantamkan ke lantai tepat di samping kepala Ruan An. Kayu keras itu hancur berkeping-keping.

Ruan An tersentak menahan sakit dan ketakutan. Wajahnya pucat pasi.

"Li Mingzi!" Ruan Yin buru-buru menarik lengan Li Mingzi. "Jangan berlebihan!"

Li Mingzi melepaskan injakan kakinya, lalu membungkuk menatap Ruan An yang masih terbaring.

"Tenang saja," kata Li Mingzi dengan nada ceria. "Aku cuma menghancurkan meja. Kecuali dia memaksa."

Ia menepuk-nepuk pipi Ruan An yang bengkak.

"Kalau Paman mau hidup tenang, mulai sekarang perlakukan Ruan Yin dengan baik. Mengerti?"

Ruan An mengangguk cepat, tubuhnya gemetar. "Me-mengerti…"

"Bagus." Li Mingzi tersenyum puas.

Ruan Yin menarik napas panjang, lalu berbalik menuju tangga. "Ayo ke atas. Aku harus menemui kakek."

Koridor lantai dua dipenuhi aroma obat herbal yang menyengat. Pintu kamar utama terbuka sedikit, cahaya lampu merembes keluar.

Begitu masuk, Ruan Yin langsung terkejut melihat wajah kakeknya yang terbaring di ranjang. Kulit Ruan Yu yang dulu kecokelatan sehat kini pucat keabu-abuan. Napasnya pendek dan tersengal.

Tabib Su, pria tua berkumis tipis dengan jubah tradisional, sedang mengeluarkan jarum perak dari tempatnya. Matanya yang tajam menatap Ruan Yu dengan ekspresi serius.

"Kondisinya sudah mendekati akhir hayat," kata Tabib Su pelan. "Aku bisa menggunakan jarum pemanggil jiwa untuk membuatnya sadar lima menit. Cukup untuk meninggalkan pesan terakhir."

Pikiran Ruan Yin langsung kosong. Dunia seolah berhenti berputar.

Sementara itu, Ruan An yang sudah menyusul masuk ke kamar, tiba-tiba meraung-raung dramatis.

"Ayah!" teriak Ruan An sambil menutupi wajah. "Anakmu belum sempat berbakti!"

Tapi tak lama kemudian, ia bangkit dan bergegas menuju lemari kayu di sudut kamar.

"Surat wasiat… harus segera diambil…" gumam Ruan An sambil membongkar laci.

Ruan Yin menatapnya geram. "Paman! Kakek masih hidup!"

Ruan An berbalik dengan wajah datar. "Kalau Tabib Su bilang tidak bisa, ya berarti tidak bisa. Lebih baik kita siapkan semuanya dari sekarang."

Ucapan itu membuat wajah Tabib Su langsung menggelap. Kedua alisnya menyatu, bibir mengatup rapat menahan kesal.

Tabib Su kembali fokus pada Ruan Yu. Jari-jarinya yang keriput mengambil jarum perak panjang, bersiap menusukkan ke titik akupunktur di leher.

"Tunggu," kata Li Mingzi tiba-tiba. "Tabib Su hendak merangsang titik akupunktur di sepanjang tulang belakang?"

Tabib Su tersentak. Ia menoleh dengan pandangan terkejut. "Kau… mengerti akupunktur?"

Li Mingzi menggaruk kepalanya. "Sedikit. Aku juga menguasai Sembilan Jarum Dewa. Tapi sepertinya kondisi kakek tidak cocok untuk teknik itu."

Tabib Su mengernyitkan dahi. Matanya menatap Li Mingzi tidak senang.

"Anak muda," kata Tabib Su dingin. "Baru tahu sedikit sudah merasa hebat. Bersikap rendah hatilah."

Li Mingzi tersenyum lebar, tidak tersinggung sama sekali. "Kalau begitu, menurut Anda, masalahnya di mana?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 161

    Qin Luxi duduk di meja kerja pribadinya, berkas tebal tergeletak rapi di hadapannya. Lampu meja menyorot tajam ke lembaran-lembaran itu, memperlihatkan foto dan catatan yang dikumpulkan Tuan Ji semalaman. Dia membaliknya satu per satu, sampai matanya berhenti pada satu nama yang membuat alisnya langsung berkerut.Ruan Yin.Dia membaca ulang paragraf itu, memastikan tidak salah lihat. Hubungan dekat, sudah lama, bahkan disebut-sebut cukup akrab di kalangan orang dalam Aula Bintang. Tangannya mengepal, kertas di genggamannya sampai kusut."Playboy." Kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya, tajam dan penuh sinis. Dia melempar berkas itu ke meja, dadanya naik turun menahan geram. "Kupikir dia cuma polos. Ternyata pandai juga mainnya."Dia meraih pena merah, lalu melingkari nama Ruan Yin dengan gerakan kasar, tintanya sampai menembus ke halaman berikutnya. Nama Bai Yumeng menyusul kena lingkaran yang sama. Setelah itu, giliran nama Li Mingzi sendiri yang dia beri tanda silang besar-bes

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 160

    Cahaya hijau kebiruan langsung menyembur dari permukaan batu, membentuk semacam perisai tipis yang menahan seluruh kekuatan petir itu sebelum lenyap begitu saja. Jantung Qin Luxi masih berdegup kencang, tapi kali ini bukan cuma karena takut, ada rasa penasaran yang mulai menggeser rasa ngerinya.Qin Luxi berkedip beberapa kali. Dia bahkan lupa menutup mulutnya. Apa yang selama ini dianggap cerita kosong baru saja terjadi kurang dari sepuluh langkah di depannya."Rambutku... kau bilang itu bahan formasi tadi." Dia menyentuh rambutnya sendiri, masih setengah tidak percaya. "Kenapa harus rambutku?""Karena kau gadis spiritual bawaan," jawab Li Mingzi santai. "Energimu murni, cocok jadi sumber tenaga formasi. Cuma kau yang bisa.""Jadi kau memang sudah merencanakan ini dari awal?""Kau memang ditakdirkan jadi wanitaku," katanya begitu saja, tanpa beban, tangannya terangkat memegang dagu Qin Luxi.Tepat saat itu, sambaran ketiga menyambar, lebih keras dari dua sebelumnya, membuat tanah di

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 159

    Li Mingzi melepas kemejanya, melipatnya asal, lalu menjejalkannya ke dalam peti mati bersama sehelai rambut Qin Luxi. Tutup peti ditutup dengan bunyi berat, lalu didorongnya masuk ke liang yang sudah digali. Tanah ditimbun kembali, gundukan segar menutupi kayu hitam legam itu.Dia mendirikan batu nisan sederhana, menggores tulisan "Makam Li Mingzi" dengan jarinya sendiri di permukaan batu. Setelah itu digigitnya ujung jari, meneteskan darah merah pekat yang meresap ke dalam ukiran huruf."Nah, selesai." Dia menepuk-nepuk tangan, lalu menoleh dengan wajah polos. "Mau sujud dulu di depan makamku?""Kamu mati saja sana!" semprot Qin Luxi, wajahnya merah padam antara jijik dan geram. Laki-laki ini benar-benar tidak tahu malu, bikin makam sendiri lalu minta disembah seolah itu hal wajar.Li Mingzi tidak marah, malah tertawa kecil. Dia mulai berjalan mengelilingi makam kosong itu, satu putaran, dua putaran, terus sampai sembilan kali. Langkahnya pelan dan teratur, seperti sedang mengikuti p

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 158

    Qin Luxi menyipitkan mata, menatap Li Mingzi curiga. "Kau sengaja panggil mereka, kan? Biar bisa jual gaya jadi pahlawan?""Buat apa? Aku tidak sempat main drama begitu." Li Mingzi mendengus, tangan tetap di saku celana, santai seolah tidak ada tujuh preman berdiri di depan mereka.Si rambut merah yang jadi pemimpin geram melihat keduanya malah asyik berdebat sendiri, seolah dia tidak ada. Dia membungkuk mengambil batu sebesar kepalan tangan dari tanah, mengangkatnya tinggi."Berani sekali kalian cuekin aku!" Dia mengarahkan batu itu ke Qin Luxi, wajahnya merah padam."Aku tidak percaya kau berani," kata Li Mingzi datar, tanpa ekspresi."Coba saja lihat!""Aku tetap tidak percaya," ulangnya lagi, kali ini sambil menguap kecil.Ucapan itu seperti sulut api ke bensin. Si rambut merah mengalihkan lemparan, membidik Li Mingzi langsung. Batu melesat cepat."Awas!" Qin Luxi refleks mengulurkan tangan hendak menahan, tapi jaraknya terlalu jauh, tubuhnya kaku di tempat.Li Mingzi hanya membuk

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 157

    Li Mingzi buru-buru menangkap tubuh Kepala Kuil sebelum benar-benar ambruk ke tanah. Berat badan seratus kilo itu nyaris membuatnya goyah."Loh, kok malah sujud? Bangun, bangun." Dia menariknya berdiri, agak kewalahan.Kepala Kuil masih gemetar, tidak berani mengangkat wajah. "Pelindung... hamba tidak tahu ada tamu agung datang. Mohon maafkan kelancangan hamba."Qin Luxi berdiri di belakang, memperhatikannya lutut kepala kuil yang gemetar dan dua penjaga yang kabur lari. "Kenapa mereka kabur? Kau kenal kepala kuil ini?" "Barusan," jawab Li Mingzi kalem."Terus kenapa dia sampai segitu takutnya?"Li Mingzi pura-pura batuk sekali. "Mungkin osteoporosis. Orang tua kalau lututnya lemah gampang jatuh begitu. Perlu tandu, biar aman jalan-jalan di kuil." Kepala Kuil yang masih dipegangi malah tambah gemetar mendengar alasan itu, tapi tidak berani membantah sepatah kata pun."Hamba baik-baik saja, Pelindung. Hamba hanya... terkejut." Dia akhirnya berani menegakkan badan sedikit, keringat din

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 156

    Pukul delapan pagi, Li Mingzi sudah nongkrong di lobi hotel. Kemeja putih, celana panjang, sepatu kulit mengilap, dandanan paling rapi yang pernah dia pakai seumur hidup. Beberapa tamu hotel yang lewat sempat menoleh dua kali, entah karena wajahnya atau karena dia berdiri di situ seperti orang nunggu bus.Tuan Ji muncul dari lift, tampang datar seperti biasa."Mana Qin Luxi?" Li Mingzi celingukan. "Katanya jam segini ketemu.""Nona masih tidur. Baru bangun jam sembilan biasanya." Tuan Ji menjawab cepat, hampir ketus. "Pulang saja dulu sana."Li Mingzi sudah mengeluarkan ponsel, hendak telepon langsung, tapi tangan Tuan Ji lebih cepat mencekal lengannya."Tidak sopan," katanya. "Kau cuma pengawal. Jangan sok akrab sama nona kami.""Ya sudah, aku nyanyi saja sampai dia turun."Belum sempat Tuan Ji nyambung, Li Mingzi sudah berdeham keras-keras di depan pintu masuk hotel yang ramai. Beberapa orang berhenti jalan, ada yang malah nunggu, penasaran mau nyanyi apa pemuda tampan ini."Woi, he

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 3

    Li Mingzi menatap cek itu dengan dahi berkerut. Kemudian mengangkat wajah dengan ekspresi bingung yang tidak dibuat-buat. "Apakah ini mahar untukku?"Linqi hampir tersedak. Beberapa karyawan yang menguping dari kejauhan saling berpandangan tidak percaya.Li Mingzi mengangguk pelan, lalu menggeleng.

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 2

    Seketika, barisan pengawal dan pelayan di kiri-kanan pintu masuk ikut menundukkan kepala serempak. Jelas, Yu Shen telah memberitahu bawahannya mengenai Li Mingzi sebelumnya. Li Mingzi melirik mereka sekilas, lalu berdehem pelan, merasa tidak nyaman dengan penyambutan yang berlebihan ini. "Tidak

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 1

    “Menaklukkan 7 wanita? Pasti ini hanya akal-akahan si tua bangka itu!” gerutu Li Mingzi, tetapi langkahnya terus terayun untuk masuk ke dalam kereta api. Demi bisa memperpanjang umurnya yang tinggal 28 hari lagi, Li Mingzi terpaksa turun gunung dan menjalankan misi khusus dari gurunya, Yu Shen. Ta

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 8

    "Kondisi Tuan Besar Ruan memburuk karena sumbatan di meridian Yin," jawab Tabib Su ketus. "Kelembabannya sudah merusak organ dalam. Jarum Pemanggil Jiwa adalah satu-satunya jalan."Li Mingzi menggeleng pelan. "Itu bukan kelembaban biasa."Ruan Yin merasakan jemari Li Mingzi menggenggam tangannya le

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status