LOGINRuan Yin menatap pamannya tak percaya. "Paman! Zhang Wu yang membuat surat utang palsu untuk menipu perusahaan kita!"
"Akan kuurus nanti," potong Ruan An lagi. "Mulai sekarang urusan grup aku yang ambil alih. Kau masih terlalu muda, terlalu emosional untuk memimpin." Li Mingzi yang sejak tadi diam, tiba-tiba tertawa kecil. Suaranya terdengar mengejek di tengah ketegangan. "Wah," kata Li Mingzi sambil melipat tangan di dada. "Paman kedua ini hebat juga, ya. Begitu tahu kakek sakit, langsung kepikiran ambil alih perusahaan." Wajah Ruan An langsung menggelap. "Siapa kau? Berani sekali ikut campur urusan keluarga Ruan!" Ia menunjuk Li Mingzi dengan jari gemetar karena marah. "Ruan Yin! Usir dia sekarang juga!" Li Mingzi melangkah maju santai. "Aku tidak suka orang yang menindas wanita," kata Li Mingzi enteng. "Sepertinya Paman kedua perlu diajari sopan santun." "Kau..." Belum sempat Ruan An menyelesaikan kalimatnya, tangan Li Mingzi sudah bergerak. Plak! Tamparan keras mendarat di pipi Ruan An. Kepala pria itu terlempar ke samping, dua gigi depannya rontok bersama ludah bercampur darah. Ruan An tersungkur, tubuhnya menghantam lantai dengan keras. "Gigi… gigiku…" erang Ruan An dengan suara parau. Ruan Yin berpaling ke samping, pura-pura tidak melihat apa-apa. "Pengawal!" teriak Ruan An sambil berusaha bangkit. Li Mingzi menginjak punggung Ruan An, menekannya kembali ke lantai. Kemudian tangannya mengangkat meja teh kayu jati yang berat. Brak! Meja itu dihantamkan ke lantai tepat di samping kepala Ruan An. Kayu keras itu hancur berkeping-keping. Ruan An tersentak menahan sakit dan ketakutan. Wajahnya pucat pasi. "Li Mingzi!" Ruan Yin buru-buru menarik lengan Li Mingzi. "Jangan berlebihan!" Li Mingzi melepaskan injakan kakinya, lalu membungkuk menatap Ruan An yang masih terbaring. "Tenang saja," kata Li Mingzi dengan nada ceria. "Aku cuma menghancurkan meja. Kecuali dia memaksa." Ia menepuk-nepuk pipi Ruan An yang bengkak. "Kalau Paman mau hidup tenang, mulai sekarang perlakukan Ruan Yin dengan baik. Mengerti?" Ruan An mengangguk cepat, tubuhnya gemetar. "Me-mengerti…" "Bagus." Li Mingzi tersenyum puas. Ruan Yin menarik napas panjang, lalu berbalik menuju tangga. "Ayo ke atas. Aku harus menemui kakek." Koridor lantai dua dipenuhi aroma obat herbal yang menyengat. Pintu kamar utama terbuka sedikit, cahaya lampu merembes keluar. Begitu masuk, Ruan Yin langsung terkejut melihat wajah kakeknya yang terbaring di ranjang. Kulit Ruan Yu yang dulu kecokelatan sehat kini pucat keabu-abuan. Napasnya pendek dan tersengal. Tabib Su, pria tua berkumis tipis dengan jubah tradisional, sedang mengeluarkan jarum perak dari tempatnya. Matanya yang tajam menatap Ruan Yu dengan ekspresi serius. "Kondisinya sudah mendekati akhir hayat," kata Tabib Su pelan. "Aku bisa menggunakan jarum pemanggil jiwa untuk membuatnya sadar lima menit. Cukup untuk meninggalkan pesan terakhir." Pikiran Ruan Yin langsung kosong. Dunia seolah berhenti berputar. Sementara itu, Ruan An yang sudah menyusul masuk ke kamar, tiba-tiba meraung-raung dramatis. "Ayah!" teriak Ruan An sambil menutupi wajah. "Anakmu belum sempat berbakti!" Tapi tak lama kemudian, ia bangkit dan bergegas menuju lemari kayu di sudut kamar. "Surat wasiat… harus segera diambil…" gumam Ruan An sambil membongkar laci. Ruan Yin menatapnya geram. "Paman! Kakek masih hidup!" Ruan An berbalik dengan wajah datar. "Kalau Tabib Su bilang tidak bisa, ya berarti tidak bisa. Lebih baik kita siapkan semuanya dari sekarang." Ucapan itu membuat wajah Tabib Su langsung menggelap. Kedua alisnya menyatu, bibir mengatup rapat menahan kesal. Tabib Su kembali fokus pada Ruan Yu. Jari-jarinya yang keriput mengambil jarum perak panjang, bersiap menusukkan ke titik akupunktur di leher. "Tunggu," kata Li Mingzi tiba-tiba. "Tabib Su hendak merangsang titik akupunktur di sepanjang tulang belakang?" Tabib Su tersentak. Ia menoleh dengan pandangan terkejut. "Kau… mengerti akupunktur?" Li Mingzi menggaruk kepalanya. "Sedikit. Aku juga menguasai Sembilan Jarum Dewa. Tapi sepertinya kondisi kakek tidak cocok untuk teknik itu." Tabib Su mengernyitkan dahi. Matanya menatap Li Mingzi tidak senang. "Anak muda," kata Tabib Su dingin. "Baru tahu sedikit sudah merasa hebat. Bersikap rendah hatilah." Li Mingzi tersenyum lebar, tidak tersinggung sama sekali. "Kalau begitu, menurut Anda, masalahnya di mana?"Ladang bambu di pinggir Resort Sungai Bening bergoyang pelan diterpa angin sore. Yu Ming Lan berdiri di depan sebuah tugu kecil, tangannya menyusuri ukiran di batu itu selama beberapa saat sebelum akhirnya bicara."Ini formasi fengshui," katanya. "Tapi aku tidak mengerti. Orangnya jelas masih hidup, kenapa dibuatkan makam segala?"Qin Luxi berdiri di sampingnya, menatap tugu bertuliskan nama Li Mingzi itu dengan alis berkerut. Rasa kecewa tiba-tiba menjalar di dadanya. Dia sudah membayangkan pertemuan lain, bukan berdiri di depan batu nisan kosong seperti ini."Kau sendiri kekuatannya di tingkat berapa?" tanya Qin Luxi, mengalihkan pembicaraan."Sedikit di bawah Grandmaster," jawab Yu Ming Lan singkat. "Tapi satu tebasan pedangku cukup untuk membunuh seorang Grandmaster."Tuan Ji yang berdiri tak jauh dari situ langsung tertawa mengejek. "Sombong sekali. Kau tahu betapa sulitnya mencapai tingkat Grandmaster? Ahli internal biasa sepertimu mustahil menembus batas sampai bisa membunuh Gr
Villa Bukit Kuning masih tenang ketika debum keras terdengar dari gerbang depan. Lu Minghao melangkah masuk dengan puluhan orang di belakangnya, menyingkirkan pengawal yang mencoba menghadang."Di mana Putra Mahkota Aula Bintang?" serunya, keras hingga menggema di halaman depan. "Suruh dia keluar sekarang! Aku tidak punya banyak waktu untuk basa-basi!"Tuan Wang bergegas keluar, ekspresinya tetap tenang seperti biasa meski baru muncul dari dalam villa. "Tuan Muda Lu, ada apa ini? Kenapa menerobos masuk seperti perampok?""Perampok?" Lu Minghao tertawa pendek, tanpa humor sama sekali. "Semalam Keluarga Ye diserang habis-habisan oleh Keluarga Gong. Kami kehilangan banyak orang, kerugian kami besar. Kalau Putra Mahkota kalian tidak bisa memberi penjelasan, jangan salahkan aku kalau Keluarga Gong lenyap dari peta hari ini juga.""Tuan Muda tidak tahu apa-apa soal itu," jawab Tuan Wang."Tidak tahu?" Lu Minghao melangkah lebih dekat. "Kalian pikir aku bodoh datang kemari tanpa bukti? Buka
Qin Luxi turun dari mobil dengan langkah tenang. Di depan gedung Faz Media, Ruan Yin sudah menunggu bersama beberapa pengawal. Keduanya berhenti beberapa meter, saling berhadapan dalam diam.Luo Han maju satu langkah, matanya langsung terkunci pada sosok bertopeng di samping Qin Luxi. "Kalian siapa? Mau apa ke sini?" tanyanya, tangannya sudah bersiap di pinggang.Qin Luxi tersenyum ramah yang dibuat-buat. "Kamu Luo Han, kan? Ada orang yang berniat mencelakai Tuan Muda kalian. Sebaiknya kau kembali ke Villa Bukit Kuning sekarang, jaga dia.""Bohong," sahut Luo Han cepat. Dia sudah mengenali gelagat itu sejak awal. "Bawa Nona Ruan pergi dari sini!" perintahnya ke pengawal lain.Belum sempat kalimat itu selesai, Yu Ming Lan sudah bergerak.Luo Han bahkan tidak sempat melihat kapan dia bergerak. Yang dia rasakan hanya sensasi dingin menembus dadanya, sepersekian detik sebelum darah menyembur keluar dan tubuhnya ambruk ke aspal."Luo Han!" teriak salah satu pengawal, panik.Yu Ming Lan ber
Tidak lama setelah Lu Vivi masuk, Lu Minghao dan yang lain berkumpul di dalam mobil yang diparkir tidak jauh dari villa."Qin Luxi mana?" tanya Wen Lu, melihat sekeliling."Katanya perutnya bermasalah," jawab Lu Minghao santai. "Dia akan menyusul."Wen Lu mengerutkan kening tapi tidak bertanya lebih jauh. Lu Minghao memberi isyarat ke bawahannya. "Aktifkan alat penyadap," perintahnya. Salah seorang pria segera menyalakan perangkat yang sudah dipasang sebelumnya.Ye Anyi langsung melotot ke arah Lu Minghao. "Kau benar-benar tega," katanya."Tega apa?" Lu Minghao mengangkat alis."Kau menjerumuskan keponakanmu sendiri ke dalam bahaya," kata Ye Anyi."Jangan bicara seperti aku memaksanya. Rencana ini sudah disetujui semua orang, dan Vivi sendiri yang mau melakukannya," balas Lu Minghao."Itu bukan berarti kau boleh membiarkannya," kata Ye Anyi."Kalau begitu kau seharusnya menghentikannya tadi," kata Lu Minghao.Ye Anyi terdiam."Bukankah dia memang berniat jadi istri Putra Mahkota?" Lu
"Jadi, menurutmu rencana itu tidak akan berhasil?" tanya Wen Lu sambil menghela napas. Sejak tadi Li Mingzi lebih sibuk memainkan ponselnya daripada memikirkan masalah besar yang baru saja dibicarakan."Aku tidak memikirkan hal lain," jawab Li Mingzi, mengangkat wajah."Lalu kenapa kau bertanya soal Ye Anyi?" tanya Wen Lu."Karena aku penasaran," jawab Li Mingzi.Berdebat dengan Li Mingzi sering membuat Wen Lu tidak tahu harus marah atau menyerah. "Sudahlah. Kembali ke masalah utama. Kenapa kau bilang rencana Qin Luxi tidak akan berhasil?" tanya Wen Lu.Li Mingzi meletakkan ponselnya di meja. "Karena Mo Yan tidak bisa bela diri. Racun itu cuma bereaksi ke praktisi. Kalau orang biasa yang meminumnya, tidak akan terjadi apa-apa, dan Mo Yan cuma orang biasa yang menyamar jadi diriku," jelas Li Mingzi.Wen Lu terdiam, baru menyadari kejanggalan itu. "Kalau begitu Qin Luxi juga tahu?" tanya Wen Lu."Tentu," jawab Li Mingzi."Dan dia tetap menyetujui rencana itu?" tanya Wen Lu."Itu yang an
Malam yang sama ketika Qin Luxi diserang di Hotel Q, tiga tempat lain juga bergejolak. Wen Liyin, Lu Vivi, dan Ye Anyi mendapat serangan serupa, hampir bersamaan.Keesokan paginya, keempat keluarga besar berkumpul di ruang pertemuan pribadi milik Keluarga Lu. Lu Minghao duduk di kepala meja, memutar cincin di jari tengahnya berulang kali sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan."Jadi," katanya, "siapa yang mau melapor duluan? Berapa kerugian kalian semalam?"Wen Liyin hanya mengangguk pelan, tidak menjelaskan apa-apa. Sikapnya seperti biasa, tertutup dan hemat kata.Ye Anyi justru langsung menoleh ke arah Lu Vivi. "Vivi, kau tidak terluka, kan?""Aku baik-baik saja." Lu Vivi menjawab cepat, lalu menyikut lengan Ye Anyi pelan. "Jangan tanya begitu di depan semua orang. Nanti Tuan Mo Yan salah paham."Ye Anyi mendesah pelan, lalu menunduk menahan diri.Lu Minghao yang menyaksikan itu berhenti memutar cincinnya. "Sudah, sudah. Tidak usah malu begitu." Dia melirik Ye Anyi. "Kudeng
"Kondisi Tuan Besar Ruan memburuk karena sumbatan di meridian Yin," jawab Tabib Su ketus. "Kelembabannya sudah merusak organ dalam. Jarum Pemanggil Jiwa adalah satu-satunya jalan."Li Mingzi menggeleng pelan. "Itu bukan kelembaban biasa."Ruan Yin merasakan jemari Li Mingzi menggenggam tangannya le
Li Mingzi menatap cek itu dengan dahi berkerut. Kemudian mengangkat wajah dengan ekspresi bingung yang tidak dibuat-buat. "Apakah ini mahar untukku?"Linqi hampir tersedak. Beberapa karyawan yang menguping dari kejauhan saling berpandangan tidak percaya.Li Mingzi mengangguk pelan, lalu menggeleng.
Seketika, barisan pengawal dan pelayan di kiri-kanan pintu masuk ikut menundukkan kepala serempak. Jelas, Yu Shen telah memberitahu bawahannya mengenai Li Mingzi sebelumnya. Li Mingzi melirik mereka sekilas, lalu berdehem pelan, merasa tidak nyaman dengan penyambutan yang berlebihan ini. "Tidak
“Menaklukkan 7 wanita? Pasti ini hanya akal-akahan si tua bangka itu!” gerutu Li Mingzi, tetapi langkahnya terus terayun untuk masuk ke dalam kereta api. Demi bisa memperpanjang umurnya yang tinggal 28 hari lagi, Li Mingzi terpaksa turun gunung dan menjalankan misi khusus dari gurunya, Yu Shen. Ta







