Masih mengingatnya dengan jelas. Supir itu menelan ludah. Tangannya terasa dingin di setir. Jantungnya berdegup tak karuan, seolah dia sedang menyaksikan sebuah adegan dari kisah cinta rahasia. Dia merasa kikuk, bahkan ingin menurunkan kaca jendela agar suara-suara itu tertiup keluar, tak sampai menempel di telinganya.
Namun dia tak bisa membohongi dirinya sendiri, ada sesuatu yang hangat menjalar ke dadanya. Tuan yang selama ini dingin, keras, dan tak tersentuh, kini bicara seperti pria biasa yang sedang memohon agar cintanya tetap utuh.
Sesekali supir melirik kaca spion. Dia melihat tangan Tuannya masih menggenggam tangan istrinya. Tatapan yang biasanya tajam kini teduh, seolah seluruh dunia mengecil dan hanya menyisakan wanita di sampingnya.
Supir itu buru-buru kembali menundukkan pandangan, wajahnya terasa panas meski AC mobil menyala. Dia merasa seakan ikut menjadi bagian dari rahasia yang sangat pribadi.
Hening kembali mengisi kabin mobil, nam
Suara detik jam dinding terdengar jelas, seolah menghitung mundur waktu sebelum badai berikutnya datang.Alex yang sejak tadi berdiri terdiam, akhirnya angkat bicara. “Jika ingin benar-benar serius mencari Karina, ada satu hal yang sangat penting untuk diketahui.”Grace menoleh tajam. “Apa itu, Alex?”Assisten Lucas itu menghela napas panjang, lalu duduk. “Informasi ini tidak lengkap kalau hanya dari foto dan dokumen. Karina punya koneksi yang lebih dalam dari yang kita kira.”Lucas mengetukkan jarinya ke meja, ekspresinya dingin. “Katakan saja langsung. Di mana dia sekarang?”Alex menatap Lucas serius. “Aku tidak tahu lokasi pastinya. Tapi, aku tahu seseorang yang bisa membawa kita ke arahnya. Hanya saja, orang itu bukan sosok yang bisa dipercaya begitu saja. Dia informan bayaran. Kalau kita ingin tahu, kita harus siap dengan risikonya.”Grace mencondongkan tubuh. “Risiko apa?”Alex menatap keduanya bergantian. “Nyawa kita.”Keheningan kembali menyelimuti. Grace menggenggam foto Kari
Pagi berikutnya, kediaman Smith masih diselimuti suasana kaku. Grace duduk di meja makan dengan wajah dingin. Tangannya sibuk menuang teh, seolah-olah keberadaan Lucas di ruangan itu tidak berarti.“Selamat pagi,” ucap Lucas, berusaha mencairkan suasana.“Pagi,” jawab Grace singkat, tanpa menoleh.Lucas duduk di hadapannya. “Aku memikirkan perkataanmu semalam. Kau benar, aku harus belajar menahan diri.”Grace mengangkat wajah, menatapnya dengan sorot kecewa. “Belajar saja tidak cukup, Lucas. Kau harus mengubah caramu memperlakukan orang lain. Aku, Stefan, atau siapa pun. Kau tak bisa untuk membatasi.”Lucas terdiam, genggamannya pada gelas kopi semakin erat. “Aku tidak berniat menyakiti.""Aku hanya takut kehilanganmu.” Kata Kucas dalam hatiGrace menghela napas. “Justru karena sikapmu itulah, aku merasa semakin jauh darimu.”Ucapan itu menghantam Lucas, membuat dadanya sesak. Dia ingin meraih tangan Grace, namun ditolak halus.“Grace, dengarkan aku”“Aku tidak ingin mendengar alasanm
Lucas langsung berdiri ketika melihat Grace memeluk Stefan, matanya terpaku pada sosok keduanya. DIa melihat bagaimana Grace tersenyum lembut, untuk memeluk Stefan.Sekejap, sesuatu bergejolak di dadanya. Rasanya seperti bara kecil yang tiba-tiba tersulut. Pandangannya mengeras/ Napasnya terasa lebih berat. Meski mulutnya terdiam, pikirannya penuh dengan pertanyaan. “Mengapa begitu dekat? Mengapa harus ada pelukan itu?Meski Memahami Lucas tahu, mungkin itu sekadar sapaan hangat ucapan terima kasih atau tanda persahabatan. Namun, logika kalah oleh rasa. Kecemburuan menyesap pelan, seperti racun yang tak kasatmata. Dia menunduk sebentar, mencoba menenangkan diri, tapi bayangan pelukan itu terus berputar dalam benaknya.Dalam hatinya, Lucas tidak marah pada Grace, saat ini dia justru takut kehilangan, takut tidak lagi menjadi satu-satunya tempat pulang bagi wanita yang dicintainya. Kecemburuan itu adalah cermin dari betapa dalam cintanya, meski sering kali dia tak tahu bagaimana harus
Alex tersenyum nakal, ketika mendengar godaan dari Vivian. Hatinya pun luluh lagi oleh wanita yang berhasil menaklukan hatinya. Bekerja bertahun-tahun dengan Lucas, sedikit banyak dia tertular dengan sikap dingin Tuannya itu.Pada saat ini di kediman Smith, Grace baru saja masuk ke kamarnya yang dulu. Dia sedikiti tersentak. Tidak ada yang berubah dari pengaturan yang dulu, hanya saja kali ini di beberapa sudut kamar terlihat rangkaian bunga mawar merah muda yang indah.Grace berdiri di depan jendela kamarnya yang besar. Memikirkan kilas balik dulu. Menimbang hatinya tentang rasa, tentang Lucas. Tiba-tiba dia tersentak ketika ada yang memelukna dari belakang, “Sedang memikirkan apa?”“L-lucas…!” imbuh Grace terbata.“kau sedang memikirkanku?” kata Lucas sambil mengkecup tengkuk leher Grace.Tubuh Grace meremang, Dia berusaha melepaskan diri dari Lucas. “Jangan seperti ini…!”Lucas tidak ingin memaksa, dia pun melepaskan pelukannya. “Apa kau membenciku!”Grace membalikan badannya, mata
Masih mengingatnya dengan jelas. Supir itu menelan ludah. Tangannya terasa dingin di setir. Jantungnya berdegup tak karuan, seolah dia sedang menyaksikan sebuah adegan dari kisah cinta rahasia. Dia merasa kikuk, bahkan ingin menurunkan kaca jendela agar suara-suara itu tertiup keluar, tak sampai menempel di telinganya.Namun dia tak bisa membohongi dirinya sendiri, ada sesuatu yang hangat menjalar ke dadanya. Tuan yang selama ini dingin, keras, dan tak tersentuh, kini bicara seperti pria biasa yang sedang memohon agar cintanya tetap utuh.Sesekali supir melirik kaca spion. Dia melihat tangan Tuannya masih menggenggam tangan istrinya. Tatapan yang biasanya tajam kini teduh, seolah seluruh dunia mengecil dan hanya menyisakan wanita di sampingnya.Supir itu buru-buru kembali menundukkan pandangan, wajahnya terasa panas meski AC mobil menyala. Dia merasa seakan ikut menjadi bagian dari rahasia yang sangat pribadi.Hening kembali mengisi kabin mobil, nam
Lucas berdiri di depan pintu, saat ini dia merasa kedua matanya baru saja dimanjakan oleh semesta. Dia berharap, apa yang dia lihat saat ini, bisa selalu dia lihat setiap harinya. Melihat Alric tertidur di pangkuan Grace. Lucas berjalan perlahan mendekati mereka.Lucas bersimpuh di depan mereka, dia meraih tangan mungil Alric. Menciumnya dengan lembut, lalu berpindah ke tangan Grace dan menciumnya dengan lembut juga.Grace ingin menarik tangannya, namun ditahan oleh Lucas. “Biarkan aku mengingat wangi tubuhmu lagi!” kata Lucas dengan sedikit parau.Wajah Grace langsung memerah, Dia pun menarik tangan Lucas, “Kita sudah berakhir!” katanya dengan sedikit gemetar.“Aku tidak pernah menandatangani surat cerai, jadi secara teknis kau masih istriku!” kata Lucas lagi.Dia pun duduk di sebelah Grace, meletakan kepalanya di bahu istrinya itu, “Tidak akan ada yang bisa menyakiti kita lagi!”“Aku tahu salah… aku yang salah!” kata lirih Lucas.“Cermin retak, meski diperbaiki, garis retaknya akan