LOGINAku masih berdiri canggung di dekat lorong ketika Nyonya Miranda menatapku dengan lekat. Gurat wajahnya sulit kutebak. Dadaku mulai terasa tidak nyaman akibat berdebar keras. Terlebih karena saat aku refleks menoleh ke belakang, Sean sudah tidak ada di sana.Dia menghilang sangat cepat. Padahal beberapa detik lalu dia masih berdiri di sana. Di tempat kami bicara. Panik mulai merayap perlahan di kepalaku. Apa yang harus kukatakan?“A-anda di sini?” tanyaku tergagap, berusaha terdengar normal meski tenggorokanku terasa kering.Nyonya Miranda mengangguk. “Ya, aku melihat semuanya.”Aku langsung terkesiap.Melihat semuanya?Pikiranku seketika kacau. Potongan percakapanku dengan Sean tadi berputar kembali dalam kepalaku.Wajahku langsung memucat. Kalau dia benar-benar mendengar semua, artinya... semua sudah selesai. "Aku sudah curiga sejak lama," lanjutnya menyipitkan mata. "Tapi baru kali ini aku menyaksikan sendiri."“A-aku minta maaf,” ucapku cepat sebelum sempat berpikir lebih jauh.
Ruangan itu terasa semakin luas ketika aku dan Sean berdiri saling berhadapan.Jauh di belakang, suara tawa dari ruang tamu terdengar sayup. Sangat hangat, santai, bertolak belakang dengan ketegangan yang kini menekan dadaku."Kau menuduhku sekarang?" tanyaku dengan suara tercekat.Sean menatapku dalam dan tajam, seolah benar-benar yakin dengan tuduhannya."Aku tak bisa menyebut itu tuduhan atau bukan, kau yang lebih tahu apa niatmu.""Aku tidak-" kalimatku terhenti. Aku sadar. Aku memang punya tujuan tertentu mendekati keluarga besar mereka. Meski begitu, dia tak boleh seenaknya menyebut itu balas dendam. Aku hanya berusaha mendapatkan apa yang harusnya jadi milikku.Tanganku mengepal pelan di sisi tubuh. Ada dorongan untuk menjelaskan, untuk menyangkal. Tapi semua kata-kata itu terasa berantakan di dalam kepalaku."Kau menargetkan posisi ibuku, kan?" Pertanyaan Sean kali ini jauh lebih berani.Aku menatapnya tanpa berkedip. Bibirku terkatup rapat. Dia sudah tahu, kenapa masih berta
"Bagaimana... kalau ada dokumen atau saksi, yang bisa menjelaskan kelalaiannya?" Ulangku bertanya dengan suara ditekan. Matanya menyipit sedikit, mencoba membaca wajahku, mencari celah apakah aku hanya menggertak atau benar-benar tahu sesuatu."Apa kau... menemukan sesuatu?" tanya Sam lirih. Aku tidak menjawab, juga tidak mengalihkan pandangan Keheningan di antara kami terasa berbeda sekarang. Penuh kecurigaan.Tapi yang dia lakukan selanjutnya justru mundur.“Aku tidak mau ikut campur lagi,” ucap Sam. Suaranya kembali datar, seperti pintu yang ditutup rapat. “Aku sudah mengajukan banding untuk pengajuan perceraian kami.”Aku terdiam dengan alis terangkat. Kalimat itu sungguh mengejutkanku. Kupikir dia sudah menyerah. Tapi sepertinya aku keliru. “Dia dan semua masalahnya, bukan urusanku lagi,” tandasnya. Tidak ada penjelasan tambahan. Setelah itu, dia berbalik pergi.Langkahnya tegas dan panjang, sangat jelas bahwa dia tidak ingin percakapan ini berlanjut. Aku menyusul dengan cepat
Kedatangan Sam langsung mengubah pusat perhatian. Bahkan sebelum aku sempat menata ekspresiku kembali, Tuan Henry sudah melangkah mendekat dengan senyum lega yang jelas tidak dibuat-buat.“Ayo, Nak. Kita makan bersama,” ucapnya sambil menepuk bahu Sam. “Kau pasti belum makan setelah rapat tadi.”Di sampingnya, Nyonya Miranda ikut tersenyum, meski ada sedikit ketajaman di matanya yang tidak hilang begitu saja. “Jangan biasakan menunda waktu makanmu.”Sam mengangguk singkat. “Ini hanya sesekali, tidak selalu.”Tuan Henry menatap ke belakang, seolah mencari seseorang. “Kau datang sendiri? Di mana istrimu?”Pertanyaan itu menggantung. Nyonya Miranda langsung menyela dengan nada yang jelas tidak sabar. “Untuk apa mengharapkan wanita itu di sini?”Nada suaranya tidak tinggi, tapi cukup tajam untuk membuat siapa pun mengerti arah pembicaraan ini.“Pertama kali ikut acara keluarga saat lelang kemarin, dia langsung membuat ulah. Bahkan hampir mempermalukan kita di depan semua tamu,” lanjutnya
"Menungguku hanya akan membuatnya tertunda lebih lama. Euforia kesuksesan itu akan hilang cepat. Rasanya akan jadi seperti makan biasa," jelas Max panjang lebar.Nyonya Miranda mengangguk pelan. Merasa jawaban Max masuk akal. Tapi bagiku, tidak. Meskipun aku dan tim yang melaksanakan semua proses, Max tetap terlibat. Dia yang mengontrol semuanya.Pintu rumah itu akhirnya tertutup, menyisakan gema langkah kaki yang perlahan menghilang bersama kepergian Tuan dan Nyonya Arsen. Suasana yang tadi hangat dan penuh percakapan mendadak meredup, kembali pada keheningan yang terasa terlalu luas.Aku masih berdiri di ruang tamu, memandangi pintu itu beberapa detik lebih lama dari seharusnya.Di kepalaku, satu hal terus berputar. Ini jelas sebuah respon yang sangat kunantikan.Tapi... tanpa Max?"Bagaimana kami bisa pergi tanpamu?" tanyaku setengah panik pada Max setelah kembali ke ruang Istirahatnya."Kenapa tidak?" balas Max santai. Dia duduk tanpa kekhawatiran sedikitpun. Aku menarik napas pe
"Maksudmu?" Alis Max makin berkerut menatapku.“Akan kubiarkan kau memanfaatkan diriku hingga akhir,” jawabku tanpa ragu. “Anggap saja… ini balas budiku padamu.”Max tercengang. Mungkin tak percaya aku masih mau bekerja sama dengannya meskipun telah tahu semua.Aku menarik napas pelan. Meyakinkan diri. “Ini kerja sama yang bagus. Saling menguntungkan.”“Kau sadar apa yang baru saja kau katakan?” tanya Max sambil bergeleng pelan."Kenapa? Kau bisa menemukan pion yang lebih baik dariku?"Max terdiam. Ekspresinya masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Aku bisa melihat itu dengan jelas. Tapi siapa peduli? Dia yang sudah menyeretku sejauh ini.“Kupikir kau mau pulang. Tunggu apa lagi?” tegurku saat Max masih mematung di tempatnya sementara aku sudah melangkah lebih dulu. Menjauh dengan langkah yang tak lagi goyah.**Aku akhirnya pulang bersama mereka.Mesin mobil berdengung halus di bawah kakiku. Getarannya merambat sampai ke tulang, menciptakan suasana sunyi yang tera
Pintu ruangan tiba-tiba terbuka.Sean masuk dengan langkah cepat.“Ada apa, Bi?” Dia langsung mendekat ke tempat tidur saat melihatku menangis dan ibu terlihat panik."Dia mengamuk," ucap ibu tertahan."Aku tidak mengamuk! Aku hanya mau tahu kondisi bayiku!" bantahku keras.“Audrey… hey, tenang,” k
Benturan keras itu membuat dunia di sekelilingku seolah pecah berkeping-keping. Tubuhku terpental ke samping, bahuku menghantam lantai beton parkiran yang dingin. Untuk beberapa detik aku bahkan tidak tahu apa yang terjadi.Suara logam beradu, rem yang berdecit, lalu semuanya menjadi kabur.“Audrey
“Audrey, jangan gegabah!” teriak Sean sambil menangkap pergelangan tanganku. Aku menoleh dan menatap tepat ke arah matanya. Sorot matanya penuh kekhawatiran. Bukan hanya cemas, tapi juga bingung menghadapi emosiku yang meledak. “Kau tak bisa menemui ibuku seperti ini, kalian hanya akan ribut la
“Sam, kau di mana? Apa semua baik-baik saja di sana? Di sini kacau sekali,” gumamku lirih.Aku merapatkan sweater ke tubuh. Angin malam bertiup cukup kencang hingga membuat kulitku merinding.Sudah berjam-jam aku duduk di teras rumah. Mataku menatap kosong ke jalanan, menggigit bibir demi menahan r







