Share

TAS 221

last update publish date: 2026-03-10 23:58:00

Aku merasa seperti diterbangkan sangat tinggi lalu dihempaskan turun. air mataku jatuh begitu saja.

Ibu langsung mendekat dan menggenggam tanganku. Dia menatap dokter penuh harap. “Apa yang harus dia lakukan, Dok?”

“Istirahat total,” jawab dokter Arman tegas. “Pasien tidak boleh banyak bergerak, tidak boleh stres. Kami akan memantau kondisinya sepanjang malam ini.”

Dia menatapku langsung dengan wajah serius.

“Kalau terjadi nyeri perut yang kuat, pusing, atau perdarahan lagi, Anda harus segera
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 240

    "Itu tidak seperti yang kau pikirkan."Akhirnya aku mengucapkan kalimat pembelaan paling klise yang terlintas dalam pikiranku. Dan aku langsung menyesalinya setelah melihat ekspresi Sam.Dia bergeleng pelan dan menegakkan tubuh."Kalau begitu jelaskan," ucapnya. Tetap berusaha memberiku kesempatan membela diri. Tapi nada suaranya yang pasrah itu justru membuat dadaku terasa lebih bersalah."Semua itu hanya kebetulan." Aku menunduk sebentar, mencoba menyusun kata. "Malam itu hujan sangat deras. Jalan ditutup karena kecelakaan. Dia tidak bisa pulang jadi harus menunggu di rumah."Sam diam, menunggu kelanjutan ceritaku."Ada… beberapa hal tak terduga yang terjadi," lanjutku. "Keran di kamar tamu rusak, lalu dia menumpang mandi di kamarku—""Kenapa dia bisa ada di rumahmu malam-malam?" Sam bersedekap menanyaiku.Aku menelan ludah. Makin menyesal telah menjelaskan bagian itu."Dia diundang ibuku untuk makan malam."Wajah Sam langsung berubah. Dia memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 239

    "Apa yang kau lakukan di sini?" tanyaku dengan suara tertahan saat kami sudah melewati pintu."Aku mencarimu," jawab Sam langsung tanpa menoleh. Perlahan dia mengurangi kecepatan langkahnya hingga kemudian berhenti. Dia segera berbalik menatapku tajam. "Kau menghilang."Langkahku ikut terhenti. Kini kami berdua berdiri di area samping galeri. Sengaja mencari tempat yang lebih sepi dan bebas dari jalur lalu-lalang staf lain."Aku tidak menghilang," jawabku pelan."Kau tidak memberi kabar.""Aku sudah memberitahu Sarah—""Sebelum itu." Sam memotong kalimatku dengan cepat.Aku terdiam sejenak. "Maaf kalau aku membuatmu khawatir."Sam menghela napas, mencoba menahan emosi."Aku menunggumu. Kupikir kau sudah punya kuncinya dan kau akan segera datang padaku."Aku mengangguk lalu tertunduk penuh penyesalan. "Aku menyimpannya, tapi... kupikir sekarang bukan waktu yang tepat. Ada hal penting yang harus kulakukan sebelumnya.""Hal apa yang lebih penting dari urusan kita, sekarang?" Aku menggi

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 238

    "Aku lapar sekali," ucapku mengusap perut sambil berjalan lemas ke arah dapur.Pagi datang dengan udara yang masih lembap. Hujan memang sudah berhenti, tapi sisa dinginnya masih terasa di seluruh rumah.Aku baru saja ingin duduk di meja makan saat ibu keluar dari dapur."Antarkan sarapan ini ke kamar tamu."Aku langsung menoleh. "Dia masih di sini?""Iya. Jadi cepatlah.""Kenapa harus aku?" tanyaku refleks. "Dia bisa datang sendiri ke sini. Untuk apa dibawakan seperti—"Tatapan ibu langsung menajam. "Seperti raja?" potongnya.Aku terdiam serba salah."Hei, dia itu bosmu. Dia juga tamu di rumah ini. Kau harus tahu bagaimana bersikap pada tamu."Aku menghempaskan napas. Kesal, tapi tidak bisa membantah lagi. Segera kuambil nampan itu. Isinya roti lapis, telur dan segelas minuman hangat. Langkahku menuju kamar tamu terasa lebih berat dari seharusnya.Aku mengetuk pintu.Tidak ada jawaban.Aku mengetuk lagi.Masih tidak ada."Tuan Sinclair?" teriakku pada daun pintu."Masuk saja." suara M

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 237

    Tanganku terhenti seketika, tak jadi memutar gagang pintu.Kuberanikan diri menoleh kembali padanya. Max masih berdiri dalam posisi sebelumnya. Tatapan mata dan ekspresinya yang ambigu sungguh menyiksa otakku. Aku tak tahu apa yang dia pikirkan.Aku tak paham apa sebenarnya yang dia inginkan. Di kantor, dia layaknya seseorang yang selalu bersikap sangat profesional. Namun di sini... dia berubah jadi orang yang membuatku sungguh was-was."Audrey?" Suara ibu kembali terdengar. Sambil menahan napas. Aku membuka pintu dengan cepat lalu keluar dari sana. Ibu yang ingin menyerahkan pakaian Max padaku jadi berdiri bingung sesaat setelah aku melewatinya."Kau mau ke mana?"Aku tak menjawab. Kulanjutkan langkahku menuju ruang tengah. Mencari udara segar. Hujan perlahan turun. Aku menoleh ke jendela dan kembali teringat pada Sam.Langkahku mendekati Max adalah agar aku bisa lebih dekat dengan Sam. Kini, aku mulai mempertanyakan keputusan itu dan berharap, semoga aku tak menyesalinya.Petir p

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 236

    "Aku sungguh minta maaf…" lirihku dari luar pintu kamar mandi di kamarku. "Aku tidak sengaja."Di dalam terdengar suara air keran yang berhenti. Lalu berganti suara Max yang menjawab tenang."Kau tidak perlu minta maaf berulang kali."Aku menunduk, menatap lantai. Mengingat kejadian tadi sungguh membuatku ingin menghilang saja. "Kalian juga harusnya tidak perlu repot mencuci pakaianku. Aku sudah meminta sopir membawakan pakaian yang baru. Yang tadi… bisa dicuci di rumah."Aku menarik napas pelan."Ibu tidak akan membiarkan itu," gumamku termanyun. Tadi saja, ibu menggedor kamarku tanpa belas kasih saat meminta Max masuk membersihkan diri. Setelah dia pulang, Ibu pasti akan mengomeliku habis-habisan."Pintu kamar mandi terbuka.Aku refleks mengangkat kepala dan langsung membeku.Max keluar dengan gaya santainya seperti biasa, sambil merapatkan handuk di pinggangnya. Rambut serta wajahnya sedikit basah. Dadanya yang bidang tertutup singlet tipis, tapi tetap terlihat jelas.Dia berjala

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 235

    Jemarinya yang hangat masih menempel di kulit jariku."Maaf!" Aku refleks menarik tanganku menjauh. Tapi gerakan yang terlalu cepat itu justru membuatku kehilangan keseimbangan hingga nyaris tersungkur dari kursi.Max sigap menahan tubuhku. "Hati-hati," ucapnya dengan wajah cemas. Aku membeku. Untuk beberapa detik, tidak ada yang bergerak. Hanya ada tatapan serta sesuatu yang sulit dijelaskan menggantung di antara kami."Apa kau selalu ceroboh seperti ini?" Max yang lebih dulu bersuara. Pertanyaannya itu langsung mengingatkanku pada Sam hingga aku lekas menarik tubuhku kembali.Dia melepaskan tangannya perlahan walau tatapannya belum benar-benar pergi.Aku langsung memalingkan wajah, memperbaiki posisi dudukku kembali.Ruang rapat mulai ramai oleh suara kursi yang digeser dan berkas yang ditutup. Orang-orang berdiri, saling berjabat tangan, lalu keluar satu per satu.Untungnya tidak ada yang memperhatikan kami."Kau tidak apa-apa?"Suara Max terdengar lagi. Kali ini tidak sepelan se

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status