Share

Kabar Baik

Author: DityaR
last update publish date: 2026-04-22 20:22:10

Bagaimana caranya agar tetap tenang kalau ternyata ia benar-benar mendapatkan pekerjaan ini?

"Kami ingin menawarkan posisi ini untuk masa percobaan, mulai hari Senin. Apa kamu masih bersedia?" Suaranya lembut namun berwibawa, bergetar di pendengaran Yesica dengan cara yang sangat menggoda.

"Tentu! Aku bersedia dan ingin sekali kerja bersama kalian." Yesica ingin melompat kegirangan, tapi ia menahan diri sampai telepon ditutup. Melihat mie di depannya pun tidak terasa menyedihkan lagi, karena ia tahu tidak akan lama lagi makanannya akan jauh lebih baik.

TOOKKK TOKKKK TOKKKKK!!!

Tiba tiba Ketukan pintu menyita perhatiannya.

"Bagus. Ada beberapa formulir yang perlu kamu isi dulu," suara Giancha terdengar, disusul dengan suara gesekan kertas di latar belakang.

TOKKK TOKKKKK

Ketukan pintu itu terus berlanjut.

Yesica berjalan mendekat ke pintu, berusaha menahan rasa senangnya, lalu mengintip dari lubang intip. Di luar sana ada Maoo sedang membawa sepotong kue di piring kertas. Pria itu kembali mengetuk pintu.

"Baik," sahut Yesica ke Giancha di telepon.

"Yesicaaaa! Aku bawain kue buat kamu!" teriak Maoo.

"Bisakah kamu datang hari Jumat? Kami akan berikan kartu akses saat itu."

"Maaf, Tuan Prajiwaksono, tapi tetangga Aku lagi ada di depan pintu, nih. Boleh tunggu sebentar?" Yesica merasa mustahil bisa fokus dengan keributan Maoo di luar.

"Tentu, gak masalah."

Saat pintu terbuka, Yesica menunjuk telepon di telinganya. Maoo pun langsung mengangguk paham lalu menyerahkan kue itu. Yesica menerimanya dan buru-buru memberi isyarat agar pria itu pergi.

"Semoga kamu dapat kerjaannya ya!" seru Maoo setengah berbisik.

Pria itu tersenyum lebar dan memberikan tanda jempol dua kali. Yesica langsung menutup pintu dan memutar mata dengan malas.

"Maaf sekali lagi," ucapnya kembali ke telepon. "Baik, Aku bisa datang hari Jumat. Jam berapa ya?"

Aroma kue cokelat membuat perutnya berbunyi. Dengan tangan yang agak gemetar, ia mengunci pintu lalu meletakkan kue di meja, telepon disandingkan di bahu.

"Jam empat sore, bagaimana?" Suara Giancha terdengar sedikit lebih datar.

Yesica menegakkan punggung. "Tentu saja, jam berapa pun bagiku baik-baik aja. Aku siap kapan saja."

"Nona Melati?" nada suara pria itu berubah tegas, memicu sensasi aneh di perut Yesica.

"Iya, Pak Prajiwaksono?"

"Panggil aja Giancha," sahutnya tegas. "Dan ... soal tetanggamu tadi, apa dia bakal sering bikin masalah kayak gini, ke depannya?"

Apa maksudnya?

Jantung Yessica berdegup kencang, perutnya terasa bergelombang hebat. Yesica panik, takut kalau kalau barusan ia telah melakukan kesalahan. Tapi ... bos itu memintanya memanggil nama depan. Itu pertanda baik, kan?

"Maaf, Aku kurang ngerti," jawabnya bingung. Yesica siap menjawab apa saja asal pria itu tidak marah.

"Tetanggamu itu sering muncul gitu aja tanpa pemberitahuan?" tanya Giancha lagi.

Yesica menggeleng cepat. "Enggak kok. Dia cuma orang yang kesepian dan lagi cari teman."

"Terus ... kamu temannya?" Giancha bertanya balik.

"Hah?" Yesica hampir tak bisa berpikir jernih. Suara pria itu terlalu memikat, membuat seluruh tubuhnya hangat dan lemas.

"Maksudku, apa kamu berteman dekat sama dia?"

Yesica melirik dinding pemisah antara apartemennya dan milik Maoo. Pertanyaan soal pacar saat wawancara tiba-tiba terlintas lagi. Mungkin mereka khawatir hal-hal seperti ini akan mengganggu konsentrasinya.

"Bukan gitu. Aku cuma bersikap sopan aja karena kita satu apartemen dan ketemu setiap hari. Tapi kami gak pernah ngobrol panjang lebar atau jalan bareng, kok kalau itu yang kamu khawatirin." Yesica berjalan ke meja dan duduk di hadapan makanannya. "Aku jamin, Giancha. Fokus Aku cuma di pekerjaan dan kalian berempat. Gak ada yang lain."

"Bagus." Suara Giancha kembali terdengar lembut dan dalam. "Ada bonus tanda tangan juga buat kamu kalau kamu setuju dengan syarat-syarat tertentu dalam kontrak nanti Jumat."

"Bonus tanda tangan?" Yesica terkejut. Dalam hati ia bertanya-tanya, syarat macam apa itu?

Ia tahu soal perjanjian kerahasiaan, tapi apa lagi yang belum ia ketahui?

"Ada beberapa ketentuan yang mungkin gak biasa, kami ingin jelasin dan bahas langsung sebelum kontrak ditandatangani. Kamu menerima kontrak itu atau gak, itu gak akan memengaruhi posisimu di Malaka Technology Group, kok."

"Bisa dikirim dulu lewat email supaya Aku bisa baca?"

Yesica merasa ada yang aneh.

"Ehmmm... Lebih baik kita bahas langsung tatap muka."

Kita?

Maksudnya mereka berempat lagi?

Yesica takut otaknya akan korslet dan malah melamun hal-hal yang tidak tidak. Mungkin sebaiknya ia jujur saja dari sekarang soal ketertarikannya ini. Daripada nanti salah paham, tersipu malu, atau malah ketahuan menggoda mereka terus dan akhirnya dipecat. Ia berjanji dalam hati tidak akan bertindak berlebihan ... tapi kalau mereka yang memulainya?

"Oke, sampai jumpa hari Jumat jam empat," ucapnya akhirnya.

"Sampai jumpa."

***

Jam sudah menunjukkan pukul 03.45 sore, dan Yesica kembali duduk di ruangan yang sama, di hadapan resepsionis dengan tatapan tajam yang sama. Ia berharap wanita itu tidak sadar kalau rok yang dipakainya sama dengan saat ia datang dulu pertama kali. Semua orang di sini terlihat begitu rapi dan mahal.

Nanti kalau sudah dapat gaji, ia pasti bisa tampil seperti mereka. Tapi untuk sekarang, mau bagaimana lagi?

"Yesica Melati, mau bertemu Giancha Prajiwaksono," katanya dengan suara tegas.

Wanita itu menyerahkan kartu akses sambil terus berbicara di telepon, lalu menunjuk arah lift.

Yesica berjalan menuju deretan lift dan menekan tombol yang paling ujung. Pintu hampir tertutup ketika terdengar suara seseorang.

"Tunggu dulu!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • TERIKAT KONTRAK TERLARANG DENGAN 4 CEO MESUM   Tidak untuk Malam Ini

    Ada rasa senang yang langsung muncul dalam diri Yessica, mengetahui Stefan akan memerintah dan mengendalikannya. Ia sangat menginginkan hal itu. Yessica mencintai kemandiriannya, tetapi menyerahkan kendali kepada Stefan memberinya sesuatu yang tidak pernah ia tahu ternyata ia butuhkan. Dengan senang hati, ia berdiri. "Angkat tangan." Stefan berhenti tepat di depannya. Yessica mengangkat kedua tangan dan Stefan menarik kausnya melewati kepala. Saat ia mulai menurunkan tangan, Stefan memberinya tatapan peringatan. Yessica segera meluruskannya kembali sambil tersenyum kecil. "Bagaimana kram perutmu?" Jari-jari Stefan menelusuri perut Yessica di atas celana jeans yang dipakainya sejak tadi. Sentuhan ringan itu membuat tubuh Yessica bergetar. "Obat pereda nyeri dan rasa hangatnya bekerja." Napas Yessica tercekat ketika jari-jari Stefan menggelitik sisi tubuhnya se

  • TERIKAT KONTRAK TERLARANG DENGAN 4 CEO MESUM   Me Time

    "Saudara laki-laki Marry tidak sadarkan diri. Dia harus membawanya ke rumah sakit." Giancha berdeham. "Bagus Yessica ada di sana untuk menemaninya." Tatapan Yessica terangkat ke arah Giancha, tetapi Giancha tetap memusatkan perhatian pada Andree. Jari-jari Yessica menggenggam tangan Giancha lebih erat. "Bagus." Andree mengangguk, lalu menunjuk ke arah ruang rapat. "Kalau begitu, ayo bekerja." "Ayo," kata Giancha dengan suara serak sambil berjalan bersama Yessica menuju ruang rapat. Stefan mengangkat pandangan saat mereka masuk. Ketegangan di bahunya langsung mereda begitu melihat Yessica. "Yessica, kamu bisa mengerjakan berkas-berkas ini." Stefan menegakkan tubuh dan menunjuk kursi yang di depannya sudah ada setumpuk berkas. "Kami sedang mencari pola di antara proyek-proyek ini. Jadi, kami memeriksa berkas lama dan mencoba mengeliminasi anggota tim yang bisa

  • TERIKAT KONTRAK TERLARANG DENGAN 4 CEO MESUM   Menunggu Ambulance

    "Tentu." Yessica menggigit bibir dan menatap kakaknya. "Dia akan baik-baik saja?" Mata Marry tetap kering, tetapi bibir bawahnya bergetar. Dia menahan air mata dan berusaha tetap kuat. Tatapannya melunak saat bertemu dengan mata Yessica. "Aku harap begitu. Terima kasih sudah ikut denganku." Dia berbalik menghadap Junna, jemarinya berada di pergelangan tangan pria itu. Yessica turun ke tangga. Seseorang sudah mengetuk pintu. Dia bergegas ke sana, mengira paramedis datang terlalu cepat. Saat melihat melalui kaca pintu, Yessica melihat Giancha. Bibir pria itu mengatup tipis. Rasa lega langsung memenuhi dirinya. Yessica sebenarnya bisa menangani semua ini sendiri, tetapi dengan Giancha di sini, dia tidak perlu melakukannya. Dia membuka kunci pintu dan membiarkan Giancha masuk. Setelah menguncinya kembali, Yessica menarik napas dalam-dalam dan berbalik menghadapnya. "Kami sedang menunggu paramedis. Dia pingsan di atas. Bar sudah ditutup, jadi aman." Kata-kata Yessica keluar dengan

  • TERIKAT KONTRAK TERLARANG DENGAN 4 CEO MESUM   Metro Bar

    "Junna." Marry mengembuskan napas berat. "Dia tidak membalas pesanku. Aku sudah mencoba meneleponnya dalam perjalanan ke sini, tapi tidak ada jawaban. Tadinya aku mau mampir ke bar, tapi aku tidak mau terlambat menemuimu dan ..." "Mau aku ikut ke bar bersamamu?" Semuanya mulai masuk akal. Yessica memang tidak seharusnya keluar dari gedung, tetapi Marry benar-benar ingin memastikan keadaan kakaknya. Yessica tidak tahu kenapa Marry begitu khawatir, tetapi semuanya dari gadis itu menunjukkan bahwa dia hampir panik. "Aku tidak bisa memintamu melakukan itu." Marry menggeleng dan mengangkat ponselnya. Dia tersenyum saat menurunkannya. "Aku akan coba lagi setengah jam lagi. Aku yakin dia baik-baik saja." Marry berjalan menuju lift sambil kembali menatap layar ponselnya yang kosong. "Kita bisa mampir sebentar saja," Yessica tiba-tiba berkata. "Tidak jauh." Marry berbalik menghadapnya de

  • TERIKAT KONTRAK TERLARANG DENGAN 4 CEO MESUM   Butuh Angin Segar

    Stefan mencari tatapan Yessica, mungkin untuk memastikan apakah Yessica cukup kuat menghadapi semua ini. Untuk melihat apakah Yessica akan hancur di bawah tekanan. Yessica tidak mundur. Stefan adalah miliknya. Mereka semua miliknya. "Dia ingin menyebarkan rumor bahwa aku berhubungan seks dengan kamu." Stefan memejamkan mata sesaat sebelum kembali menatap Yessica. "Bahwa kamu selingkuh dari Kairo denganku. Bagaimana aku bisa membiarkan itu terjadi?" "Kita punya pilihan apa?" Kairo mengusap lengan Yessica. "Kalau kamu nggak mau mengakui secara terbuka bahwa kita semua sedang menjalin hubungan, berarti kita harus mengendalikan kerusakan sebisa mungkin." "Kalau orang-orang mengira Stefan berselingkuh di belakang Kairo," Giancha menarik perhatian mereka, "Gresellda akan menimbulkan masalah yang sama besarnya atau bahkan lebih parah. Kita akan terlihat lemah dan mudah dihancurkan." "Sial." Stefan menundukkan pandan

  • TERIKAT KONTRAK TERLARANG DENGAN 4 CEO MESUM   Gresellda yang Berbisa

    "Aku tahu. Kamu cuma suka laki-laki, kan? Tidak ada fantasi tersembunyi di sana?" Kairo mengangkat dagu Yessica dan mengamati wajahnya. "Sayang sekali. Aku mungkin suka melihatmu bermesraan dengan perempuan lain." Mulut Yessica terbuka dan pikirannya langsung buntu. Apa-apaan ini? Andree kembali tenang dan menggelengkan kepala. "Pergi sana, Kairo. Kalau kamu mau melihat itu, masuk ke kamarmu dan tonton film porno. Aku tidak akan berbagi Yessica dengan orang lain." Kairo mengangkat bahu. "Kamu yang sedang berkencan dengan perempuan lain." "Aku tidak berkencan dengannya. Kami hanya pergi bersama untuk menyenangkan orang tua kami dan agar pers tidak mengira kami melakukan persis seperti yang sebenarnya kami lakukan bersama Yessica." Tatapan Andree beralih kepada Yessica dengan ekspresi meminta maaf. Yessica meraih tangannya dan menggenggamnya. Dia tahu kesepakatan mereka. Mereka harus membuat per

  • TERIKAT KONTRAK TERLARANG DENGAN 4 CEO MESUM   Konsekuensi dari Sebuah Kemewahan

    "Kamar lain pintunya menghadap lorong utama, tapi ini kamar terbesar. Pintu sampingnya itu pintu darurat, langsung mengarah ke tangga." Kairo memutar kenop pintu dan mempersilakannya masuk. Ruangan pertama adalah ruang keluarga. Lantainya ada karpet tebal berwarna krem, Ada sofa putih, kursi baca y

  • TERIKAT KONTRAK TERLARANG DENGAN 4 CEO MESUM   Apartemen

    Sambil duduk tepat di tengah ruangan, Yesica berusaha menyelesaikan dokumen-dokumen itu. Perasaannya aneh. Padahal jelas-jelas ia sendirian di sana. Semua pintu kantor tertutup rapat, kecuali pintu milik Giancha. Yesica menyilangkan kaki dan menyelesaikan formulir terakhirnya. Ia bersandar di kursi

  • TERIKAT KONTRAK TERLARANG DENGAN 4 CEO MESUM   Kesepakatan Gaji & Tunjangan Kerja

    "Senang bertemu denganmu," ucapnya sekuat tenaga. Aura kekuatan yang terpancar dari pria ini sangat kuat. Stefan tersenyum tipis lalu mundur memberi jalan pada yang lain. Pria berikutnya lebih kekar, berambut hitam. Matanya yang berwarna hijau menelusuri tubuh Yesica, berhenti sebentar di kaki, pi

  • TERIKAT KONTRAK TERLARANG DENGAN 4 CEO MESUM   Wawancara Kerja

    “Bagian mana yang kamu mau, sayang? Jariku? Lidahku? Atau yang lain?” Kairo kembali mengusap paha Yesica menggunakan ujung jarinya. Wanita itu pun mengembuskan napas panjang. “Ahhhh ... Lidahmu.” Kairo pun tersenyum. Ia menghirup aroma yang keluar dari tubuh Yesica. Begitu lidah Kairo menyentuh ku

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status