LOGINSaat Yesica menaiki tangga menuju apartemennya di lantai tiga, ia terus bertanya-tanya dalam hati. Apakah semua ini benar benar nyata?
Ke 4 big boss itu sudah menjelaskan soal pekerjaan dan paket gajinya. Apakah itu tandanya ia diterima? Memang mereka tidak menanyakan pertanyaan standar di wawancara tadi, tapi itu masuk akal karena Giancha sudah menghabiskan hampir satu jam penuh mewawancarainya lewat telepon. Mereka hanya ingin bertemu langsung. Apakah hanya itu? Atau justru mereka kecewa dan sudah mencoret namanya? Lalu, berapa lama waktu yang dimaksud dengan "segera" itu? Padahal ia sangat butuh pekerjaan sekarang juga. Tentu saja, setelah bertemu calon bos-bosnya itu, ia harus bisa mengontrol diri sebaik mungkin dan menyimpan semua imajinasi liar itu jauh-jauh dari urusan pekerjaan. "Hei, Yesica!" Yesica memegangi dadanya, kaget karena mendengar suara Maoo yang keras. "Kamu bikin aku kaget, tau." Tetangganya itu sedikit lebih tinggi darinya. Meski tidak berotot, postur tubuhnya cukup besar dan terkadang terlihat mengintimidasi. Rambutnya cokelat panjang dan berantakan, sementara matanya terus mengikutinya ke mana pun ia melangkah. Saat pertama kali kenal, pria itu memang membuatnya merinding, tapi sejauh ini Maoo tidak pernah melakukan hal buruk. Yesica menyelesaikan sisa anak tangga dan merogoh kunci di dalam tas. Andai nanti ia dapat pekerjaan itu dan apartemennya, ia pasti tidak akan merindukan tangga-tangga ini. "Gimana wawancaranya, Yess?" Maoo mengikutinya sampai ke depan pintu dan berdiri terlalu dekat, tapi Yesica sudah terbiasa. Pria itu tidak berbahaya, mungkin hanya kesepian. Meski begitu, ia tetap harus waspada. "Lancar," jawabnya sambil membuka kunci, tapi belum berani membuka pintu lebar-lebar. Pernah sekali Maoo mengikutinya masuk sampai ke dalam, dan untuk mengusirnya keluar sangat merepotkan. Sepertinya pria itu tidak paham arti batasan. "Kita harus rayain, dong." Mata Maoo membelalak, ia memberi isyarat agar Yesica ikut ke unit apartemennya. "Aku punya kue, bisa kita makan bareng. Aku udah beli khusus buat kamu hari ini, lho." Walaupun tawaran kue itu terdengar menggiurkan, karena di dalam apartemennya cuma ada sebungkus mie instan, Yesica tetap tidak nyaman masuk ke tempat pria itu. Bahkan saat di apartemennya sendiri, kehadiran Maoo selalu membuatnya risih. Maoo mungkin terlihat tidak berbahaya, tapi ada naluri dalam diri Yesica yang melarangnya untuk bersikap terlalu ramah. "Aku capek banget, Maoo. Mungkin lain kali aja ya." Yesica membuka pintu dan langsung menyelinap masuk, tidak memberi celah sedikit pun agar pria itu bisa ikut. Pintu hampir tertutup ketika suara Maoo terdengar lagi, "Nanti aku bawain sepotong buatmu!" Pintu tertutup rapat, Yesica bersandar di sana lalu segera memutar kunci ganda. Sudah dua tahun ia tinggal di gedung ini. Sewanya lebih murah daripada di asrama kampus dan di sini memberinya ruang privasi. Sebenarnya Yessica punya teman sekamar yang kadang-kadang pulang, tapi kebanyakan waktu gadis itu tidak ada di sini, sehingga Yesica bisa menikmati seluruh ruangan ini sendirian. Ia meletakkan tas dan belanjaannya di kamar, lalu berjalan menuju kulkas. Uangnya tinggal sedikit, jadi isi kulkasnya pun bisa dihitung jari. Yesica memang punya sedikit tabungan, tapi ia tidak mau menyentuhnya kecuali keadaan benar-benar darurat. Uang itu cukup untuk membeli tiket kereta untuk pulang ke kampung dan makanan selama di perjalanan kalau-kalau ia harus menyerah dan kembali ke kampung halaman. Itu adalah jalan keluar terakhirnya andai kota ini terlalu keras atau ia gagal bertahan hidup di sini. Yessica mengambil panci dan menuangkan air. Sudah terlalu sering ia memasak mie instan sampai takaran airnya pun sudah hafal di luar kepala. Andai ia benar benar dapat kerjaan itu, hidupnya pasti berubah. Dengan gaji sebesar itu, ia bahkan bisa makan apa saja setiap malam. Sebenarnya masih ada beberapa panggilan wawancara lain minggu depan. Termasuk tawaran dari kantor Philips’s, tempat dimana ia magang dulu. Gajinya pas-pasan, hanya cukup untuk bertahan hidup di kota ini, tapi setidaknya ia tidak harus pulang kampung. Tapi itu berarti ia harus bekerja lagi dengan Hayes Lukito. Pria itu tampan, Yesica akui ia pernah merasa tertarik padanya. Tapi tampan bukan berarti baik. Hayes suka mengintimidasi karyawan lain dan bersikap kurang ajar pada wanita. Bayangan saat Hayes memojokkannya di ruang fotokopi membuat Yesica bergidik ngeri. Saat itu ia berhasil lolos dari sentuhan-sentuhan mesum itu, tapi kalau ia bekerja di sana lagi, pria itu pasti akan terus mengincarnya. Hayes itu anak bos, jadi dia merasa kebal hukum. Bagaimana mungkin mau melapor kalau yang mengganggu itu anak pemilik perusahaan? Yesica mengibas bayangan Hayes dari pikirannya dan kembali mengingat kejadian siang tadi. Empat pria yang sangat memikat. Ia belum tahu sifat asli mereka, tapi kalau ternyata sama jahatnya seperti Hayes, pasti imajinasinya akan langsung hilang. Jujur saja, kalau salah satu dari keempat pria itu yang memojokkannya di ruangan tertutup itu ... mungkin ia justru tidak ingin lari. Bahkan, membayangkan hal itu ditambah dengan fantasi tadi di meja rapat, bisa jadi bahan untuk mengobati gairah kesepiannya malam ini. Ada sesuatu yang berbeda dari mereka dengan Hayes. Pada Hayes, yang ada hanya rasa ingin menjauh. Tapi pada mereka berempat ... jantungnya berdegup karena getaran gairah yang menyenangkan. Malam ini Yesica akan membiarkan imajinasinya mengalir bebas. Nanti kalau sudah resmi diterima, ia harus bersikap profesional dan menjadi asisten eksekutif terbaik. Itu prioritas utamanya sekarang. Saat bumbu dimasukkan dan mie dituang ke mangkuk, telepon genggamnya berdering. Mengira itu ibunya, Yesica pun mengangkatnya tanpa melihat nama pemanggil. "Halo." Ia meletakkan mangkuk di meja, menatap mie itu tanpa minat. Tiba-tiba nafsu makannya hilang entah ke mana. "Nona Melati?" Yesica hampir menjatuhkan teleponnya saat mendengar suara berat Tuan Prajiwaksono di ujung sana. Apa pria ini tahu kalau baru saja ia membayangkan hal-hal tidak senonoh tentangnya? "Iya?" jawabnya terbata, napasnya tercekat. Apa ia diterima?Yessica menarik napas dalam-dalam dan menatap Soniawan. "Aku berterima kasih karena kamu mau membuat lingkungan kerja jauh lebih aman." Ia menggenggam tangan Giancha, kali ini benar-benar membutuhkan kekuatan dari pria itu. "Tapi selama Hayes masih ada di perusahaanmu, kamu akan selalu punya predator di sana."Yessica mengabaikan tatapan penuh amarah Hayes dan tetap fokus pada Soniawan. Tangannya gemetar saat meraih gelas air."Konseling hanya membantu orang yang memang ingin dibantu." Suara Yessica bergetar. "Putramu membuatku tidak mungkin bekerja di perusahaanmu. Dia tidak hanya sekali menjebakku di ruang fotokopi. Dan terakhir kali, ada seseorang yang berjaga supaya tidak ada yang bisa menghentikannya, dan aku tidak tahu apakah kamu bisa memperbaiki masalah itu.""Mungkin kalau kamu bukan pelacur, aku tidak akan punya masalah. Kamu melayani semua orang, kenapa tidak denganku?" dengus Hayes.Kata-kata itu terdengar sangat kasar d
Yessica memutar cincin di jarinya untuk keseratus kalinya sejak mobil berangkat. Ia tidak ingin melakukan ini. Menghadapi Hayes Lukito adalah hal terakhir yang ingin ia lakukan di dunia ini. Ia lebih memilih kembali berada di lorong itu bersama Hendar Djatmiko.Giancha meraih tangannya dan menyelipkan jemarinya di antara jemari Yessica. Pandangan Yessica terpaku pada tangan mereka yang saling menggenggam. Tangan besar Giancha menelan tangannya. Giancha lebih pendiam dari biasanya. Ada sesuatu yang membebani pikirannya.Yessica tidak tahu apakah ia bisa membantunya, tetapi ia ingin Giancha memercayainya. Ia ingin Giancha mempercayakan perasaan terdalamnya kepadanya. Yessica berharap suatu hari nanti Giancha merasa bisa membicarakan apa pun dengannya.Mobil berhenti di restoran. Yessica mengembuskan napas, lalu mengikuti Giancha keluar. Sambil mengusap telapak tangannya ke rok, ia mengikuti Stefan masuk. Giancha berjalan di belakangnya, menjaga sisi tubuhnya
"Kamu jangan meninggalkan sisiku sedikit pun." Suara Giancha terdengar gelap. "Dia mungkin sudah berhasil meyakinkan papanya bahwa dia menyesal, tapi aku tidak percaya sedikit pun."Mata hijau Giancha terpaku pada mata Yessica. Mereka sepemikiran soal itu."Aku tidak akan meninggalkan sisimu."***Pagi berlalu begitu cepat saat Giancha berusaha mengatur semua hal yang ditemukan tim keamanan. Ia juga memiliki tim yang sedang memeriksa rekaman selama beberapa minggu terakhir untuk memastikan tidak ada orang yang mencurigakan berada di lokasi.Saat keluar dari kantor untuk makan siang, Yessica sudah berdiri di samping mejanya. Senyumnya hangat saat melihat Giancha, meskipun garis-garis kekhawatiran terlihat di dahinya. Giancha sama sekali tidak menantikan makan siang ini.Stefan terus memilihkan pakaian untuk Yessica dan melakukan pekerjaan yang luar biasa. Rambut pirangnya diikat menjadi sanggul, dengan beberapa helai jatuh di samp
Pintu berbunyi saat seseorang memasukkan kartu akses. Mereka semua langsung menegakkan tubuh dan menunggu. Andree masuk ke kamar lalu meletakkan kantong belanja di atas meja."Kenapa kalian masih bangun?" Andree melintasi kamar menuju Yessica."Kami menunggumu." Yessica mengulurkan bourbon yang nyaris belum tersentuh kepadanya, dan Andree mengambilnya lalu menenggak isinya sampai habis.Setelah meletakkan gelas di meja kecil, Andree membungkuk dan mengangkat Yessica ke dalam pelukannya seperti menggendong pengantin. Yessica melingkarkan tangan di lehernya dan memberinya tatapan lembut penuh kerinduan. Andree mengangkat satu alis ke arah Stefan."Sebelah mana, Bos?"Tatapan Yessica beralih kepada Stefan, membuat jantungnya berdebar. Stefan berdiri dan mengangguk ke arah kamar utama. Andree berjalan ke sana. Kairo dan Giancha mengikuti mereka. Mereka punya empat kamar, tetapi mereka akan mencari cara untuk berbagi satu tempat tidur.
Seorang wanita berjalan menghampiri Yessica sambil membawa selimut. Mereka berbicara sebentar sebelum Kairo mengambil selimut itu dan membantu Yessica membungkus tubuhnya.Alarm tadi memaksa mereka keluar melalui pintu belakang yang hanya diketahui sedikit orang. Akses menuju tangga itu juga terbatas.Apakah semua ini adalah upaya untuk mendekati Yessica lagi? Atau hanya untuk membuatnya panik?"Aku akan menyelidikinya. Aku harus kembali."Petugas Zulfikar kembali untuk membantu mengoordinasikan para polisi. Bisa saja seseorang mencoba masuk ke sistem mereka. Gedung itu dikunci selama akhir pekan untuk membatasi akses. Mereka perlu memeriksa ulang catatan siapa saja yang masuk atau mencoba masuk.Giancha bergabung dengan Stefan. Tatapannya mengikuti Petugas Zulfikar."Apa itu tadi?""Yessica melihat seseorang pergi ke sisi gedung."Giancha menatap ke arah tersebut dan menyipitkan mata. "Penguntitnya atau ma
"Kalian mengira ini alarm palsu?"Yessica tidak mencium bau asap. Beberapa saat lalu mereka masih berada di dapur. Semuanya dalam keadaan mati."Kita tidak akan tahu sampai kita keluar dan memastikan semua orang aman." Giancha kembali menuruni tangga. "Aku akan memeriksa sistem setelah kita tahu situasinya aman."Ketika tiba di lantai dasar, Yessica sudah kehabisan napas dan membutuhkan waktu sejenak. Giancha membuka pintu yang mengarah ke bagian belakang gedung."Ayo."Yessica menghirup udara segar saat keluar dan melihat sekeliling. Hampir tengah malam. Lampu-lampu di belakang gedung saling bertumpuk, tetapi cahayanya masih berusaha melawan kegelapan yang terasa menekan mereka.Kairo menarik Yessica ke sisinya, sementara tangan Andree melepaskan genggamannya. Tatapan mata gelap Andree memberinya rasa aman, tetapi pria itu menjauh darinya.Yessica merinding ketika Kairo membungkuk mendekati telinganya.
Itu suara Andree. Yesica segera menekan tombol untuk membuka pintu. Sesaat kemudian, pria berambut pirang itu pun muncul dan masuk dengan senyum lebar. "Makasih ya," ucapnya. "Sama-sama," balas Yesica sambil menempelkan kartu aksesnya. Pintu lift pun tertutup. "Jadi kamu mau gabung sama kita y
Bagaimana caranya agar tetap tenang kalau ternyata ia benar-benar mendapatkan pekerjaan ini? "Kami ingin menawarkan posisi ini untuk masa percobaan, mulai hari Senin. Apa kamu masih bersedia?" Suaranya lembut namun berwibawa, bergetar di pendengaran Yesica dengan cara yang sangat menggoda. "Tent
"Senang bertemu denganmu," ucapnya sekuat tenaga. Aura kekuatan yang terpancar dari pria ini sangat kuat. Stefan tersenyum tipis lalu mundur memberi jalan pada yang lain. Pria berikutnya lebih kekar, berambut hitam. Matanya yang berwarna hijau menelusuri tubuh Yesica, berhenti sebentar di kaki, pi
“Bagian mana yang kamu mau, sayang? Jariku? Lidahku? Atau yang lain?” Kairo kembali mengusap paha Yesica menggunakan ujung jarinya. Wanita itu pun mengembuskan napas panjang. “Ahhhh ... Lidahmu.” Kairo pun tersenyum. Ia menghirup aroma yang keluar dari tubuh Yesica. Begitu lidah Kairo menyentuh ku







