LOGINBAB 13
"Sebulan serumah, Arlan! Kucing saja kalau dikurung sebulan di satu ruangan sudah beranak-pinak!" Suara Nyonya Aditama melengking tajam, nyaris mengalahkan suara mesin V12 Maybach yang sedang melaju mulus membelah jalanan Jakarta. Wanita paruh baya itu duduk tegak di kursi penumpang belakang, menatap tajam ke arah menantu dan putrinya secara bergantian. Tas Hermes di pangkuannya diremas kuat-kuat. "Ini kok bisa alatnya Dokter Silvia bilang Tiara masih uCuaca Jakarta terasa terik saat konvoi SUV hitam berlogo Pradipta Group itu memasuki pelataran lobi sebuah gedung apartemen mewah di kawasan SCBD. Pintu belakang terbuka, menampilkan Arlan yang turun lebih dulu, diikuti oleh Tiara. Kedatangan mereka di penthouse lantai teratas itu tidak disambut dengan kehangatan. Ketegangan yang membeku sejak dari Temanggung masih tertinggal pekat di antara mereka. Arlan melepaskan jasnya dan menyerahkannya kepada seorang staf rumah tangga yang menunduk hormat. Pria itu sudah memegang tablet yang diserahkan oleh Dimas, bersiap untuk langsung menuju kantor pusat dan membereskan krisis perusahaan yang tertunda. Namun, sebelum melangkah menuju pintu utama, Arlan memutar tubuhnya. Ia menatap Tiara yang baru saja duduk di sofa ruang tengah. "Mulai hari ini, pengamanan di penthouse dilipatgandakan," ucap Arlan datar, memecah keheningan. "Gue udah perintahkan Dimas buat nutup semua akses kartu lift selain punya gue dan staf khusus." Tiara menghentikan
Ciuman itu terputus secara sepihak saat suara petir meledak brutal tepat di atas area perkebunan. Keduanya menarik diri dengan gerakan tiba-tiba. Napas Arlan dan Tiara sama-sama terengah-engah, memburu oksigen yang terasa menipis di dalam gubuk sempit tersebut. Tiara langsung memalingkan wajahnya. Gadis itu mengeratkan kemeja kebesaran milik Arlan di bahunya, menatap kosong ke arah luar gubuk yang masih diguyur hujan badai. Kepalanya berputar cepat, setengah mati berusaha menata kembali kewarasannya dan mengumpulkan sisa gengsi yang baru saja hancur berantakan di bawah kungkungan suaminya. Di sebelahnya, Arlan mengusap wajahnya yang basah dengan telapak tangan secara kasar. Pria itu menyadari sepenuhnya bahwa ia baru saja menyeberangi batas profesional pernikahan yang ia buat sendiri sejak awal mereka sepakat mengikat janji. Hening yang sangat canggung dan tegang menyelimuti keduanya. Hanya suara hujan yang mendominasi. Arlan menoleh, menatap profil samping istrinya. Pria itu baru
BAB 20 Puing-puing pagar besi yang bengkok dan sisa pembakaran di depan area perluasan pabrik itu masih mengeluarkan bau gosong yang menyengat. Beberapa garis polisi melintang di sekitar lokasi kejadian, membatasi akses bagi siapa pun yang tidak berkepentingan. Arlan berjalan pelan menyusuri titik pusat bentrokan yang menewaskan satu nyawa tadi malam. Wajah pria itu datar, tanpa emosi, layaknya seseorang yang sedang meninjau proyek konstruksi. Dimas dan dua orang tim legal Pradipta Group berjalan mengikuti di belakangnya. "Kerusakan infrastruktur tidak separah yang gue perkirakan," ucap Arlan memecah keheningan. "Tapi pemberhentian operasional sementara ini yang bakal menguras uang perusahaan miliaran per hari." "Betul, Pak," timpal salah satu staf legal dengan cepat. "Tim kami sudah menyusun draf laporan untuk kepolisian pusat. Sesuai instruksi Bapak semalam, seluruh tanggung jawab atas insiden kekerasan fisik ini dialihkan ke perusahaan penyedia preman outsourcing. Kontrak m
Keesokan paginya, sarapan di teras belakang villa berlangsung singkat. Reynald meletakkan serbet ke atas meja, lalu menatap adiknya yang duduk berseberangan. "Acara semalam emang berantakan banget," ucap Reynald santai, memecah keheningan sarapan pagi itu. "Sampah-sampah di bawah udah lo suruh orang bersihin? Gue nggak mau lihat ada sisa kotoran pas turun nanti." Arlan menyesap kopi hitamnya dengan wajah datar. "Udah diberesin Dimas subuh tadi. Nggak ada jejak apa pun yang tersisa di area ini." Di ujung meja, Tiara meletakkan garpunya dengan anggun. Gadis itu membuka tas selempang kecil di pangkuannya. Ia mengeluarkan sebungkus rokok kretek ramping—salah satu lini premium khusus ekspor dari pabrik Pradipta—beserta sebuah pemantik emas. Cetrek. Ujung rokok menyala. Tiara menghembuskan asap tipis ke udara dengan gaya yang sangat natural. Reynald menatap Tiara, sedikit terkejut, namun sedetik kemudian pria itu tertawa kecil. "Gue lupa kalau putri tunggal keluarga Aditama punya cara
Satu jam kemudian, pesta rakyat itu berakhir. Rombongan kecil dari Pradipta Group kembali ke dalam mobil dan menempuh perjalanan singkat menuju villa. Setibanya di dalam bangunan berhawa hangat itu, Tiara langsung berpamitan masuk ke kamar tidur utama. Gadis itu tidak banyak bicara, hanya tersenyum tipis ke arah kakak iparnya. Tersisa Arlan dan Reynald di ruang tengah. Arlan berjalan menuju meja mini bar di sudut ruangan, menuangkan wiski ke dalam gelas kristal dengan gerakan yang sengaja diperlambat untuk menenangkan isi kepalanya. Di seberangnya, Reynald menjatuhkan tubuh ke sofa, menyalakan sebatang cerutu baru, dan menatap adiknya lekat-lekat. Riko baru saja melangkah keluar menuju pelataran, ditugaskan secara khusus oleh Reynald untuk menjemput salah satu penari Lengger tadi dan membawanya ke paviliun belakang. "Gue lihat jurnalis peliharaan lo tadi di pinggir lapangan," ucap Reynald menghembuskan asap tebal, memecah keheningan di antara mereka. Tangan Arlan yang sedang meme
Dua mobil SUV hitam pekat berhenti tepat di pelataran villa VIP Pradipta. Lampu sorot kendaraaan itu menembus kabut tipis Temanggung yang mulai turun menyelimuti lereng bukit. Arlan sudah berdiri menunggu di teras depan. Kemeja hitamnya yang beberapa menit lalu berantakan kini sudah terkancing rapi hingga ke leher, dilapisi oleh jaket musim dingin tebal berwarna gelap. Rambutnya juga sudah disisir ke belakang menggunakan sisa air di wastafel. Tidak ada satu pun jejak kekacauan yang tersisa di tubuhnya. Pintu mobil terbuka. Reynald turun lebih dulu. Pria itu mengenakan mantel panjang berwarna camel, merapatkan kerahnya menahan hawa dingin yang langsung menusuk tulang. Di belakangnya, Riko turun dengan wajah kelelahan sambil membawa satu koper kecil. Pintu penumpang sebelah kiri kemudian terbuka. Tiara melangkah keluar dengan anggun. Gadis itu mengenakan sweter turtleneck putih yang dipadukan dengan mantel wol berwarna abu-abu muda. Penampilannya benar-benar mencerminkan seorang putr







