登入Nesya masih meringkuk di tempat tidurnya, sudah satu minggu ia tidak ke kantor. Air matanya seolah tidak pernah kering, ia terus meratapi nasibnya. Bintang yang dari awal terus menemani bersama Bulan pun tidak bisa berbuat banyak, ia hanya bisa menghibur sebisanya. Karena mereka juga tidak tahu permasalahan pokok utamanya.
Nesya melihat ke arah pintu saat seseorang masuk. Ia sekilas melihat orang tersebut lalu bangkit dari tidurnya. “Bintang, kamu pulang aja, aku udah gak apa-apa,” ucap Nesya yang masih terlihat lemah. “Nes, aku mana mungkin ninggalin kamu gitu aja, kecuali kamu benar-benar udah baik-baik aja, kondisi kamu juga masih lemah.” “Tapi, kerjaan kamu gimana?” jawab Nesya lemah. “Bisa dikerjain dari rumah kok,” jawab Bintang lalu tersenyum. Bintang duduk di tepi tempat tidur, sontak Nesya menjauh. Ia masih takut jika ada pria terlalu dekat dengannya walau ia tahu bintang tidak mungkin melakukan apa yang dilakukan Gunawan. Bintang yang melihat Nesya ketakutan bingung, karena bintang tidak tahu yang sebenarnya.“Nes, kamu gak apa-apa, kan?” tanya Bintang hati-hati. “Nggak, tolong keluar dari kamarku!” Nesya menarik selimut menutupi bagian dadanya. Bintang mengerutkan dahinya dan masih kebingungan melihat Nesya seolah menjaga jarak.“Nes, kalau ada yang mau kamu ceritain, ceritain aja sama aku, siapa tahu aku bisa bantu?” Nesya menggeleng cepat.“ Nggak,kamu keluar aja. Keluar!” ujar Nesya sedikit bernada tinggi. Bintang tidak ingin bertanya lagi. Kemudian ia keluar dari kamar Nesya. Setelah keluar, Nesya buru-buru mengunci pintunya. Ia begitu ketakutan dan kondisinya kembali kacau. Ia menangis dan berteriak sampai Bintang kebingungan di balik pintu, apa yang terjadi pada Nesya yang sebenarnya. “Nes, kamu kenapa?” seru Bintang sambil mengetuk pintu kamarnya. “Kak, kak Nesya kenapa, kok nangis?” tanya Bulan tiba-tiba. Bulan yang baru saja datang heran, kenapa Nesya histeris di kamarnya. “Nggak tahu, Lan. Kakak juga khawatir.” Bintang kemudian mengambil ponselnya di meja dan menghubungi Adipati, karena dari kemarin ia menghubungi Adipati ponselnya tidak aktif. Bintang berjalan menuju jendela besar apartemen Nesya, ia berulang kali berusaha menghubungi Adipati. Akan tetapi, ponselnya belum juga ada tanda-tanda aktif. “Di mana kamu Dip? Kenapa gak ada tanggung jawabnya udah buat mental anak orang kacau! Dia yang bohong, aku yang pusing,” gumam Bintang yang begitu khawatir dengan Nesya. Sementara itu Bulan terus berusaha membujuk Nesya agar membuka pintu kamarnya. “Kak, buka pintunya. Kalau ada masalah berat bisa cerita ke bulan. Buka pintunya, Kak!” Bulan juga panik karena tidak ada lagi suara tangis Nesya. “Kak, buka!” Bulan terus menggedor pintu kamarnya. “Kak Bintang, ini gimana?” Bulan melihat Bintang. Bintang kemudian meletakkan ponselnya lalu menghampiri Bulan. “Biar aku dobrak pintunya!” ucap Bintang lalu bersiap mendobrak pintu kamar Nesya. 'Brakk!’ Akhirnya pintu kamar Nesya Berhasil didobrak. Bintang melihat Nesya tidak sadarkan diri di dekat tempat tidur sambil memegang foto Adipati. “Astaga, Nesya!” seru Bintang. “Kak!” keduanya menghampiri Nesya. “Nesya!” Bintang memeriksa hidung Nesya untuk memastikan, apakah masih bernafas atau tidak. “Nes!” Bintang sedikit menepuk-nepuk pipi Nesya. “Angkat, Kak” seru Bulan menyuruh bintang untuk mengangkat Nesya dan membaringkannya ke tempat tidur. Bintang memandangi wajah cantik Nesya yang saat ini begitu pucat, terlihat lemah. Bulan dan bintang semakin bingung entah apa yang sebenarnya terjadi. Sudah satu minggu, Nesya seperti orang ketakutan saat Bintang mendekatinya tanpa adanya Bulan. “Bulan, kalau nanti Nesya udah sadar, kalau bisa nanti cari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kakak nanti akan cari tahu kejadian yang sebenarnya sama Adipati.” “Iya, tapi Bulan gak janji ya, aku bisa ngorek masalah kak Nesya atau gak. Tahu sendiri kak Nesya tertutup untuk masalah pribadi.” “Nggak, Lan. Kali ini dia harus bisa cerita. Kalau dia gak cerita, kita gak bisa kasih solusi yang dibutuhkan Nesya,” ucap Bintang penuh keyakinan jika Nesya harus menceritakan semuanya yang sudah terjadi. Sementara itu di kantor Gunawan, tim Nesya sedikit kebingungan dalam mengerjakan pekerjaannya, karena memang Nesya yang menjadi pemimpin tim divisinya. "Rhea ini gimana?Bu Nesya udah satu minggu gak masuk,” tanya Alia pada Rhea. “Apa sakit ya, soalnya di telpon juga gak diangkat.” “Ada apa ini ribut-ribut. Kerja!” seru Gunawan tiba-tiba mengagetkan seisi ruangan. “Maaf, Pak. Kami sedikit kebingungan dengan konsep yang dibuat bu Nesya. Desainnya belum selesai dan Sudah satu minggu bu Nesya gak masuk kerja,” jelas Rhea sedikit takut melihat Gunawan yang berdiri sambil berkacak pinggang. “Itu nanti aja, Nesya jadi urusanku. Kalian kerjakan yang lain, bisa kan” tutur Gunawan kemudian ia kembali ke ruangannya. Sesampainya di ruangan ia tersenyum sinis mengingat Nesya. Akhirnya hukuman yang ia berikan cukup ampuh untuk membuat Nesya Jera. “Lihat aja Nesya Cantika. Aku akan terus buat hidup kamu menderita. Sama seperti batin putriku selama dua tahun terakhir ini, walau baru kemarin-kemarin putriku mempergoki kalian. Anggap saja itu balasan perbuatan kalian dua tahun terakhir ini.” Gunawan tertawa penuh kemenangan. Pria dewasa itu duduk di kursinya dengan rasa bangga sudah menghancurkan hidup Nesya. Ia tidak tahu gadis yang sudah ia rusak itu adalah anak pengusaha serta adik pengusaha kaya raya yang banyak disegani banyak orang dan rekan bisnisnya. Gunawan tidak tahu bagaimana kekuatan keluarga dari pihak Papa Nesya. Walau Nesya anak dari istri kedua, kakak-kakaknya sangat menyayanginya. Satu anggota keluarga yang tersakiti bisa satu keluarga maju untuk membela hak saudara lainnya. Namun, Nesya adalah pribadi yang tertutup saat bersama keluarga Papanya, ditambah sang Papa sudah tiada. Setelah sang papa meninggal ia pelan-pelan keluar dari bayang-bayang nama Sanjaya, Sanjaya adalah nama belakang sang papa dan nama besar keluarga papanya. Siapa yang tidak mengenal keluarga Almarhum Abi Sanjaya. Gunawan tidak tahu bagaimana bringasnya kakak Nesya yang beda Ibu. Ia tidak segan-segan membunuh atau menghancurkan siapa saja yang mengusik keluarganya. “Selamat siang, pak!” Sapa seseorang datang ke ruangan Gunawan. “Iya, ada apa?” jawabnya datar. “Ini ada surat dari Nesya Cantika San….” “Surat apa?” tanya Gunawan cepat sebelum karyawan di depannya itu melengkapi kalimatnya. “Surat pengunduran diri, Pak!” karyawan tersebut pun meletakkan di atas meja Gunawan. Gunawan sekilas melihat karyawannya lalu memberikannya isyarat agar karyawan itu keluar dari ruangannya. Setelah itu ia mengambil surat pengunduran diri Nesya. Gunawan tertawa saat membaca surat pengunduran dirinya. “Gak semudah itu kamu bisa lepas dariku Nesya. Balas dendam putriku belum selesai. Tunggu teror ku selanjutnya.” Gunawan kembali tertawa karena ia sudah mempunyai banyak rencana untuk menghancurkan gadis malang tersebut.Nesya termenung, duduk di kursi , di teras belakang rumah, air matanya mengalir deras mengingat semuanya yang sudah terjadi, perasaannya lega sudah memenjarakan suaminya, tetapi ia juga merasa ada berbeda. Tidak ada lagi perhatian, ocehan dan perdebatan dari hal-hal kecil, suasana itu juga mewarnai hari-harinya. “Non, ini susunya,” ucap bibi menghampiri Nesya membawakan susu. Nesya menoleh, tersenyum malas.“Terima kasih, Bi.”Bibi gelisah, ada sesuatu yang ingin disampaikan tetapi ia takut berbicara. Nesya melihat bibi setelah meminum susunya setengah.“Ada apa, Bi. Kayaknya ada sesuatu?”“Anu, Non. Gaji bulan ini belum dibayar, pak Rahmat tukang kebun juga, katanya anaknya mau masuk sekolah.” Nesya menghela nafas sejenak, ia memang tidak tahu menahu tentang urusan di rumah suaminya, sejauh ini ia hanya terima beres.“Minta nomor rekening mereka, biar saya transfer sekarang,” ucap Nesya santai. “Non, Bapak selalu ngasih uang cash. Kami-kami ini orang kampung, Non. Ndak tahu ambil
Gunawan dengan begitu menahan emosi memasuki kantornya, ia berjalan begitu tergesa-gesa. Pandangannya lurus kedepan dan ingin sekali secepatnya sampai di ruangannya. “Shinta!“ teriak Gunawan memanggil Shinta, rekan kerja Nesya dulu, yang sudah diangkat menjadi sekretaris Gunawan. Sinta terperanjat, ia berdiri dengan rasa takut mendengar suara bariton sang bos. Mata Sinta melihat ke arah pintu masuk ruangan Gunawan dan sesekali melihat seseorang yang duduk di kursi kekuasaan Gunawan. ‘Braakk!’ pintu ruangan dibuka dengan kasar. “Sinta!” Gunawan seketika terdiam saat melihat pria yang duduk di kurasi kerjanya. “Kamu siapa? Beraninya duduk di kursiku!” ucap Gunawan dengan lantang. “Aku bukan siapa-siapa, tapi sekarang aku pemilik perusahaan ini,” jawab pria tersebut santai. “Pak, beliau ini pak Arjuna. Pamannya pak Arya,” sambung Shinta takut. “Pak Arjuna?” tanya Gunawan memastikan. “Iya, Pak.” Arjuna tertawa melihat ekspresi wajah Gunawan.“Tepat sekali. Oh iya, saat pern
Nesya membuka mata, lalu melihat suaminya yang masih tidur disampingnya sambil memegang perutnya. Nesya menghela nafas panjang, pelan-pelan ia menyingkirkan tangan suaminya dari perutnya. Tangan satunya meraih ponsel di meja nakas. “Ck, hapeku mati lagi,” keluhnya setelah melihat ponselnya mati. Ia melihat ponsel Gunawan dan mengambilnya, beberapa kali ia memasukkan password nya, namun tetap gagal. Nesya tersenyum miring, ia berniat membangunkan Gunawan yang masih tertidur. Ia baru ingat jika orang bangun tidur pasti sedikit linglung dan sudah pasti akan memberikan password tersebut. “Gun, bangun.” Nesya menggoyang pelan bahu Gunawan. “Hem,” balas Gunawan masih memejamkan mata. “Aku pinjam hp kamu ya? Mau telpon kak Arya,” ucap Nesya pelan lalu mencium pipinya. “Hem.” masih dengan posisi yang sama. “Passwordnya apa?” “Tanggal lahir Sarah,” jawab Gunawan parau dan masih posisi yang sama. Nesya menghembuskan nafas kesal, bisa-bisanya ia tidak terpikir selama ini password pon
Nesya berjalan santai di samping Gunawan saat memasuki kantor cabang yang dulunya tempatnya bekerja. Tidak peduli tatapan semua karyawan lain padanya, ditambah perutnya yang sudah mulai terlihat membesar dan Gunawan menggenggam tangannya dengan erat seolah tidak ingin melepasnya. Gunawan tersenyum bangga karena bisa mendapatkan Nesya yang begitu cantik, cerdas dan bisa dibilang primadona kantornya. Namun tidak dengan Shinta yang sudah tahu misi Nesya. Shinta hanya diam dan diam-diam mendukung apa yang dilakukan Nesya. Sesampainya di ruangan, Gunawan meminta Nesya duduk di sofa dan bersantai. Sedangkan dirinya meeting bersama karyawannya. “Nes,” panggil seseorang. “Shinta,” balas Nesya. Keduanya saling berpelukan melepas rindu karena sudah beberapa bulan tidak bertemu. “Apa kabar? Bagaimana jadi istri bos. Pasti pak bos manjain kamu ya?” goda Shinta membuat seulas senyum kecut dibibir Nesya. “Iya sih, tapi aku masih benci sama dia. Misiku tetap masih sama, aku mau di masuk pen
Nesya diam-diam ke ruangan kerja Gunawan, ia mencari beberapa berkas perusahaan penting. Ia tahu perusahaan suaminya itu sedang tidak baik-baik saja dan ia ingin mengambil alih perusahaan tersebut dengan bantuan sang kakak, Arya. “Dimana berkas perusahaan itu, hari ini aku harus nemuin berkas penting itu,” gumam Nesya mencari di lemari rak buku dan berkas penting lainnya. “Nes, kamu ngapain!” seru seseorang membuat Nesya terkejut. Nesya menoleh rupanya sang suami sudah pulang dari kantor.“Ah, ini aku cari buku yang kemarin kamu baca,” Nesya kemudian menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan. “Oh, Buku itu ada di laci meja nakas.” Gunawan menghampiri Nesya lalu memeluknya. “Kamu udah makan,” tanya Gunawan masih memeluk Nesya. Nesya mengatur nafasnya. Ia takut ketahuan mencari dokumen penting perusahaan suaminya.“Belum, aku lagi pengen makan ramen.” Gunawan melepaskan pelukannya. Ia tersenyum melihat Nesya lalu mengusap perutnya.“Ok, kalau gitu kita ke restoran langgan
Nesya duduk termenung di depan jendela besar rumah orang tuanya. Ingatannya kembali saat kedua orang tuanya masih hidup. Ingin sekali ia kembali ke masa lalu, kehidupan yang begitu harmonis bersama keluarganya. Namun, ia juga sadar, itu semua tidak mungkin terjadi. “Papa, mama. Mungkin ini jalan Tuhan yang terbaik. Aku akan melanjutkan hidupku. Kalian berdua udah bersama, Nesya akan berusaha untuk menghadapi hidup ini tanpa kalian, Nesya pasti bisa,” batin Nesya lalu mengusap air matanya. Sudah satu minggu lebih, Gunawan juga masih begitu sedih melihat istrinya yang seolah belum menerima kepergian sang mama. Ia tahu rasanya ditinggal orang yang sangat dicintai. “Nes, makan dulu ya sebelum pulang,” ucap Gunawan sambil mengusap pundak Nesya. Nesya melihat Gunawan, pria dihadapannya itu sudah beberapa hari terakhir begitu perhatian padanya dan lebih protektif. Sebenarnya ia risih diperlukan seperti itu. “Aku masih mau dirumah mama, aku belum mau pulang, aku mau satu hari lagi dis
Sarah mengamuk di kamar hotel, tidak hentinya ia menampar Adipati dan Gunawan hanya duduk menyaksikan saja sambil merokok didekat pintu balkon. Gunawan tersenyum miring melihat anaknya yang memang tidak menyukai pengkhianatan. “Kau sudah tidur dengannya? Kalian berdua sudah berbuat apa saja?” teri
Setelah menuntaskan hasratnya, Gunawan meninggalkan Nesya begitu saja ke kamar mandi. Gunawan tertawa puas setelah selesai dengan aksi tidak terpujinya. Hasratnya yang yang sudah ia pendam bertahun-tahun karena sang istri sudah meninggal dunia, ia lampiaskan pada Nesya yang tidak tahu apa-apa tenta
“Ya, Sarah.” “Mas di mana? Ini sudah jam berapa belum sampai rumah, katanya hari ini pulang?” cerocos Sarah, istri Adipati. “Aku masih ada rapat! Besok mungkin aku pulang ke Surabaya.”"Awas saja kalau di Jakarta kamu selingkuh ya! Tak pites gendakanmu!” ancam Sarah. Adipati tersenyum ke arah Nes
Nesya sudah sedikit membaik dimata Bintang dan Bulan, walau sebenarnya Nesya begitu trauma dengan apa yang sudah ia alami. Nesya juga tidak menceritakan jika dirinya dinodai Gunawan. Ia pura-pura sudah tidak apa-apa. Karena Nesya juga tidak ingin merepotkan mereka berdua terlalu lama.“Ya sudah, ka







