ログイン
Suara tangisan lirih di balik selimut berwarna krem itu, mengganggu Yuda yang baru keluar dari kamar mandi. Diliriknya malas gundukan selimut di atas tempat tidur. Renata masih meringkuk di sana.
"Kenapa kamu tidak segera mandi, Rena? Sudah jam berapa ini?" Renata bergeming. Matanya terpejam sambil menggigit bibir menahan suara tangisan. Terdengar hembusan napas panjang dari bibir Yuda, suaminya. Tidak ada jawaban, Yuda duduk di tepi tempat tidur. Tangannya bergerak ragu, mengusap kepala Renata. Belaian itu justru mengguncang bahu Renata. Tangis yang ditahan justru pecah. Yuda melengos, lalu kembali menarik napas. "Apa kamu menyesal sudah melayaniku?" tanyanya sambil menatap Renata. "Bukankah itu menjadi tugasmu sebagai seorang istri, hm?" lanjut Yuda tanpa peduli perasaan Renata. Tidak ada penyesalan sedikit pun di hati Yuda. Begitu pula dengan Renata. Dia ikhlas lahir batin melayani suaminya. Meskipun selama berhubungan intim, Renata tidak pernah mendapat kepuasan batin. Bukan apa-apa. Yuda sering melakukan eksperimen saat menggauli istrinya. Bahkan, tidak jarang Yuda mengikat tangan dan kaki Renata. Fantasi seks Yuda tergolong tabu untuk ukuran perempuan "ndeso" seperti Renata. "Rena, apa yang membuatmu menangis?" Kali ini Yuda sedikit menyingkap selimut sehingga bahu polos Renata terpampang di depan mata. Luka membiru di bahu bekas gigitan, membuat Yuda mendengus lirih. Dia sudah sangat keterlaluan memperlakukan Renata seperti pelacur. Namun, sekali lagi, Yuda puas dan tidak menyesal. Dia bisa mendapat kepuasan batin saat itu, ketika sambil menggigit atau mencengkeram Renata. Rintihan kesakitan Renata, seperti candu yang melambungkan Yuda pada puncak penyatuan. Yuda menunduk, mencium punggung polos Renata. Renata sedikit berjingkat, lalu segera menggeser tubuh. Dengan hati-hati, dia bangkit perlahan, mengambil gaun tidur yang tergeletak, lalu memakainya cepat. Renata tidak mau menatap Yuda yang masih duduk di tempat semula sembari memperhatikannya. "Rena, aku sedang bicara denganmu!" "Aku harus ke kamar mandi!" jawab Renata tak acuh. Tanpa menghiraukan reaksi Yuda, Renata bergegas ke kamar mandi. Renata mematung di depan wastafel. Tatapannya nanar ke arah cermin. Dada dan lehernya penuh dengan tanda kissmark. Penyiksaan seperti itu Renata alami sejak setahun lalu. Satu tahun sebelumnya, Renata hanya menjadi pajangan di rumah Yuda. Ya, baru setahun berikutnya, Yuda menyentuh Renata. Terpaksa menyentuh, tepatnya. Hal itu dikarenakan desakan dari orang tua Yuda yang ingin segera menimang cucu. Belum lengkap rasanya, kalau anak tunggal kebanggaan keluarga tidak memberinya keturunan. Namun, malam pertama ternyata jauh dari ekspektasi Renata. Yuda tidak memperlakukan Renata dengan lembut, tetapi kasar. Hingga hari ini. Mirisnya, Renata tidak kuasa menolak atau memberontak. Bahu Renata berguncang karena tangis. Wajahnya menunduk dalam. Tangannya mencengkram erat sisi wastafel. "Maaf!" Suara itu dari belakang Renata, bersamaan dengan sepasang lengan melingkari perutnya. Renata mendongak, terpaksa bertemu pandang dengan mata Yuda melalui pantulan cermin. "Mas, ak-aku mau mandi. Tolong keluar!" Alih-alih pergi, Yuda justru memutar tubuh Renata hingga menghadapnya. Lengan kiri Yuda melingkari pinggang Renata. Tangan kanannya mendongakkan wajah Renata. "Maafkan aku," ucap Yuda lagi setengah berbisik. Sedetik kemudian, Yuda mencium bibir Renata. Mulanya ciuman itu lembut, tetapi berubah semakin menuntut. Renata menahan dada telanjang Yuda, dengan tatapan takut. "Aku mau mandi dulu, Mas!" "Sudah lama kita tidak mandi bersama!" ucap Yuda, lalu kembali menyambar bibir Renata. Maka, pagi itu Yuda kembali melampiaskan hasratnya di kamar mandi. Namun, ketakutan Renata kali ini tidak terbukti. Yuda memperlakukannya dengan lembut. Tanpa disadari, Renata mulai menikmatinya. Bahkan, berulang kali dia melenguh manja. Tangannya mencengkram sisi bathub saat hendak mencapai puncak kenikmatan. "Mas, ah! Aku sudah ... " Mata Renata terpejam, dengan napas memburu. "Sebentar lagi, Sayang!" Yuda memeluknya, sambil menciumi tengkuk dan pipi Renata. Suara desahan dan pekikan manja memenuhi kamar mandi. Dalam hati Renata terlantun sebuah doa. Kali ini Tuhan menitipkan janin di rahimnya. Tiba-tiba, Renata membuka mata, menatap berkabut pada Yuda yang baru saja menyudahi aktivitasnya. Seperti biasa, dengan sengaja Yuda melepas penyatuan itu. Sebelum semuanya benar-benar selesai. "Kenapa Mas? Kenapa selalu begini?" tanya Renata kecewa. "Sudah dua tahun kita nikah, Mas. Ayah dan Ibu ingin kita punya anak!" ucapnya bergetar. Yuda langsung memalingkan pandangan. "Belum saatnya kita punya anak, Rena! Aku masih banyak pekerjaan!" dalihnya. Selalu begitu. Setiap kali Renata mengungkit perihal anak. Renata menunduk, lalu bergegas bangkit. Yuda segera menyambar tangannya. Lantas, keduanya berpandangan. "Apa kamu tidak mau punya anak dariku, Mas? Apa kamu tidak mencintaiku?" "Apa yang kamu bicarakan, Rena? Aku hanya belum ingin punya anak! Aku ingin menikmati waktu berdua denganmu. Apa kamu tidak mengerti?" Yuda mulai kesal. Dia segera melepas tangannya dari Renata. Bergegas, Yuda memasuki bilik kamar mandi. Sebelum menyalakan kran air, Yuda menatap Renata yang masih mematung. Renata mengusap air matanya yang mulai menetes. Dia memalingkan wajah dari suaminya. Terdengar decakan lirih dari mulut Yuda melihat Renata menangis. "Kemarilah, kita mandi bersama!" ajak Yuda sambil membuka pintu kaca itu. "Jangan cengeng, dikit-dikit menangis hanya karena masalah sepele!" ***Air mata Darren menetes tidak tertahankan. Dengan hati-hati, dia menyentuh perut Renata yang bergerak.Setelah itu, diciumnya perut buncit itu sembari mengucapkan doa dan harapan.Dulu keinginan merasakan tendangan kecil seperti itu buyar akibat kecelakaan. Sekarang, Darren tidak mau melewatkan momen itu. Rasa bahagia tidak tergambarkan karena sebulan lagi menjadi seorang ayah. Bahkan, Darren semakin posesif pada istrinya itu."Bagaimana rasanya kalau dia nendang gini? Sakit?"Renata tersenyum, lalu mengusap perutnya yang menonjol di sebelah kiri. "Tidak sakit hanya geli saja. Ini kayaknya lutut, Mas. Lucu sekali!" "Ajaib, ya. Ah, aku calon ayah paling bahagia. Banyak kisah mengharukan sebelum kita sampai di tahap ini, Sayang."Tangan Renata berganti mengusap dagu Darren yang ditumbuhi bulu-bulu tipis. Lalu, diciumnya lembut bibir kemerahan laki-laki tampan itu."Apa yang ingin kamu katakan pada anak kita nanti?" Bibir Darren mengkerut sejenak, lalu tersenyum jahil. "Em, mungkin aku
"Lin, kamu mau bareng apa tidur di sini?" Suara dan tatapan Yuda sama datarnya.Alina terdiam beberapa detik, lalu mengangguk. Dia segera pamit pada Renata dan Darren. Renata juga berpesan pada keduanya untuk hati-hati.Namun, karena buru-buru, sepatu Alina tersangkut gamisnya sendiri. "Auuuh!" Alina terkejut, hampir terjungkal di anak tangga teras. Beruntung, Yuda sigap menangkapnya. Pemandangan itu tidak lepas dari perhatian Darren dan Renata yang berdiri di depan pintu."Sepertinya mereka berjodoh," bisik Darren pada Renata.Renata mengangguk dan tersenyum kecil. Dia ingat kedekatannya dengan Darren dulu berawal dari kejadian seperti itu. Renata berharap, Yuda berjodoh dengan Alina. Dia yakin, Yuda sudah berubah dan tidak seperti dulu.Yuda segera melepas tangannya dari bahu Alina setelah memastikan wanita itu aman. Pipi Alina merona karena malu, lalu melambai kecil pada Renata."Assalamualaikum!" pamit Alina, sebelum memasuki mobil."Waalaikumsalam, hati-hati, Lin, Mas Yuda!" Yu
Renata mengerjap pelan, ketika mendengar bacaan ayat-ayat suci dari masjid pondok. Dia menoleh, menatap Darren yang masih lelap dalam mimpi. Dengan hati-hati, Renata menyingkirkan tangan Darren dari perutnya. "Ehmm ..." Darren menggumam samar dan memeluk Renata lagi. "Mas, aku mau mandi dulu. Sudah telat shalat tahajjud." Darren langsung membuka mata. "Ya sudah. Kalau gitu, kita mandi bareng saja!" ajaknya sembari duduk. "Ngawur. Aku duluan!" Segera, Renata mengambil pakaiannya yang tergeletak di sisi tempat tidur. Dia memakainya cepat dan bergegas ke kamar mandi. Setelah keluar dari kamar mandi, Renata justru bertemu Darren di dapur. Suaminya itu tampak berbincang dengan Bu Ayu dan dua orang kerabat. Darren tersenyum jahil, ketika melihat Renata buru-buru memasuki kamar. Setelah shalat malam, sambil menunggu waktu subuh, Darren kembali keluar dari kamar. Dia segera mengetuk kamar kakaknya. Cindi yang masih tidur, mengerutkan kening sambil membuka pintu. "Mbak, sudah subuh tu
Tatapan Darren menyipit, bibirnya melekuk senyum jahil. Dia mengangkat tangan, lalu mengusap kepala Renata dengan lembut. Namun, Renata segera menggeser tubuh. Darren yang sadar, langsung menangkupkan telapak tangan di dada. Melihat itu, Renata justru tertawa kecil. "Pulang sana, Mas! Basah semua itu. Seperti anak kecil saja, pakai acara basah-basahan!" "Kalau tidak gitu, kamu mana mau datang? Aku pulang dulu, ya!" Darren menatap sekali lagi pada Renata, lalu membuka pintu mobil. "Besok pagi, aku jemput ke sini, ya, Calon Istri!" ucapnya dengan senyum bahagia. Renata mengangguk samar, kemudian mengikuti anak-anak yang kembali ke pondok. Darren menunggu mereka sampai melewati gerbang. Setelah itu, Darren melajukan mobil kembali ke rumah. * Pak Susilo menatap dingin pada Renata dan Darren. Mulanya dia masih bersikukuh dengan egonya. Namun, Darren tidak menyerah. Niat untuk membawa Renata pulang ke Jakarta sebagai istrinya sudah bulat. Bu Yanisah menangis haru di pelukan Renata, se
Tatapan Renata nanar. "Kamu sudah tahu, Mas?"Darren terdiam sembari menekan emosi, lalu mengangguk samar. Almira memang pernah mengakui, saat Darren menceraikannya di depan keluarga. Karena beberapa pertimbangan, akhirnya Darren memilih tidak memperpanjang kasus itu.Bagaimanapun, janin itu telah pergi. Darren tidak mau terus larut dalam duka. Melihat diamnya Darren, Renata menggeleng samar dengan hati sangat kecewa."Kenapa kamu tidak mengatakan padaku, Mas?""Maafkan aku, Rena. Aku ..."Tatapan nanar Renata berubah sinis pada Darren dan Almira. "Kalian sama saja. Baiklah, aku tidak akan mengganggumu lagi. Aku sudah kehilangan janin dalam kandunganku. Lebih baik, aku juga kehilanganmu, Mas!""Astaghfirullah, Rena! Dengarkan dulu, Sayang!"Bergegas, Renata keluar dari ruangan itu. Setengah berlari, dia meninggalkan Darren dan Almira. Tidak dihiraukannya panggilan Darren. Renata segera memasuki kamar dan mengunci pintu dari dalam. Di sana, dia kembali menumpahkan tangis."Jahat sekali
"Ada, dia mencintaimu, Renata! Bahkan, sudah disiapkan cincin pernikahan untukmu."Bibir Renata kembali melekuk senyum satu sudut. "Maaf, Mbak. Aku tidak mau membicarakan ini. Aku hanya ingin memperbaiki diri!" sahutnya, kemudian berlalu.Langkah Renata semakin cepat, lalu memasuki kamar. Setelah itu, dia segera menutup dan mengunci pintunya. Renata duduk di tepi ranjang, lalu mengambil handphone.Dengan ragu, dia menyalakannya. Hanya bermaksud melihat aktivitas chat dari Alina ataupun Darren. Renata menelan ludah, mendapati banyak sekali daftar panggilan dan pesan dari mereka. Bahkan, beberapa panggilan dan pesan dari Yuda."Maafkan aku, Mas. Aku sudah jahat padamu. Tapi aku butuh waktu di sini. Aku malu bertemu kalian."Ternyata, di saat yang sama, Darren sedang online. Dia pun tampak mengetik pesan. Renata mendengus kasar penuh sesal karena kepergok Darren. Seharusnya, dia tidak terbawa oleh perasaan."Astaghfirullah. Dia tidak boleh tahu!"Buru-buru, Renata menutup handphone. Namu







