LOGINKening Darren mengernyit tipis mendengar pertanyaan itu. Tatapannya pada Renata semakin dalam. Sedetik kemudian, Darren tertawa lirih. Menurut Darren pertanyaan Renata tergolong aneh.
"Mas Darren tahu juga tentang masa lalu Mas Yuda?" ulang Renata lirih. Meskipun tidak lazim, mengorek informasi dari Darren, Renata harus cari tahu tentang masa lalu Yuda. Seseorang yang memiliki fantasi seks nyleneh, biasanya dipicu oleh masa lalu. Karena orang normal tidak mungkin menyakiti pasangannya untuk mencapai puncak kepuasan. "Aku belum mengerti, Rena! Maksudmu, tentang pacar Yuda sebelum bertemu denganmu?" Renata terdiam karena bimbang. Tidak mungkin dia menceritakan aib suaminya. Lantas, wanita itu menggigit bibir gugup. Di sampingnya, Darren terkekeh pelan. Sebelah alisnya terangkat, melihat sikap aneh Renata. Darren semakin yakin, kalau rumah tangga Renata dan Yuda tidak baik-baik saja. "Yuda tidak selingkuh, kan?" canda Darren karena Renata masih diam. "Ha ha ha, aku cuma becanda, Rena! Yuda tidak mungkin selingkuhi kamu!" ralatnya. Renata mendongak cepat, menatap manik cokelat Darren. Darren kembali tersenyum memamerkan sepasang lesung pipinya. "Bukan itu, Mas! Aku tidak berpikir begitu! Bukan soal selingkuh, tap-tapi ..." "Tapi?" Kening Darren kembali mengernyit. "Waduh, aku justru bingung, Rena. Kami memang berteman sejak kuliah, tapi ..." "Rena, aku cari malah di sini!" Tiba-tiba Alina memegang tangan Renata, lalu menatap penuh tanya pada Darren. Darren mengangguk samar, lalu kembali menatap Renata. Baik Renata, maupun Darren tidak nyaman dengan kehadiran Alina. "Em, mungkin lain kali, kita bicarakan lagi, Rena!" "Ah, lupakan saja, Mas! Aku pergi dulu!" "Rena, ah iya! Hati-hati!" Renata mengangguk samar. Dia bergegas pergi diikuti tatapan tak terbaca dari Darren. Alina sempat menoleh, ternyata Darren masih menatap langkah Renata. "Kenapa cowok itu care banget sama kamu, Rena?" "Dia sahabatnya Mas Yuda. Tidak ada yang care!" "Tapi aku lihat, dia peduli banget sama kamu! Em, atau mungkin dia suka padamu?" Renata menatap tidak suka pada Alina. "Apa katamu? Jangan fitnah!" semburnya. Alina terkikik melihat wajah Renata yang bersemu merah. Seperti ada yang menyuruh, Renata tiba-tiba menoleh pada Darren. Ternyata, benar. Darren masih berdiri di tempatnya, menatap Renata. Saat bertemu pandang dengan Renata, Darren mengulum senyum. Selanjutnya, laki-laki itu mengambil pisau cukur dan bergegas pergi. "Masa lalu Yuda? Aku belum mengerti apa maksud Rena! Tapi kalau itu yang membuat Rena menderita, kamu brengsek, Yuda!" gumam Darren. Karena sering bertemu dengan Yuda dan Renata, Darren bisa menebak, wanita cantik itu sedang memendam masalah. Entah apa yang disembunyikan Renata di balik senyum kaku dan tatapan gelisah itu. * Sore itu, Darren yang fokus di depan komputer, dikejutkan dengan kedatangan Yuda. Tidak biasanya Yuda datang mendadak. "Tumben, ada proyek baru?" canda Darren sambil mempersilakan Yuda duduk. Yuda menatap sekeliling. Ruangan kantor Darren memang tidak seluas tempatnya. Namun, terlihat nyaman dan minimalis. Beberapa foto bangunan hasil desain Darren terpajang di dinding. Di sudut ruangan ada maket tiga dimensi. Sebuah bangunan masjid dengan desain campuran Timur Tengah dan Eropa. Itu miniatur masjid di Kazakhstan hasil rancangan Darren. "Apa aku mengganggumu?" tanya Yuda datar. "Kulihat kamu sibuk!" lanjutnya basa basi. "Santai saja! Ada yang bisa kubantu?" tanya Darren. Bergegas dia bangkit dan duduk di sofa, berseberangan dengan Yuda. "Besok malam kamu datang ke rumah! Ajak cewek barumu! Istriku mengundang beberapa temannya juga." Alis Darren terangkat sebelah, sebelum mengangguk samar. Darren sadar, sejak peristiwa tidak sengaja di toilet itu, sikap Yuda berubah. Dia juga memanggil Renata dengan sebutan "istriku", tidak seperti biasanya. Yuda seolah ingin menegaskan sekali lagi, kalau Renata adalah istrinya. Meskipun pada Darren yang dikenalnya cukup lama. "Oke, InshaAllah aku datang! Aku akan kabari Nina!" jawab Darren. "Nina?" ulang Yuda dengan mata menyipit. Darren terkekeh pelan. "Iya, cewekku namanya Nina!" jawabnya. Alis Yuda terangkat sebelah, lalu mengangguk. "Oh, aku harap Nina akan menjadi sahabat istriku. Rena pasti senang!" "Ah, tentu saja! Bye the way, apa ada acara spesial?" "Ya, spesial! Minggu depan kami akan berlibur seminggu. Renata mengajakku bulan madu kedua!" Darren terdiam. Namun, sedetik kemudian, dia mengangguk. Diam-diam, Yuda tersenyum miring melihat sikap aneh sahabat yang mungkin berpotensi sebagai ancaman itu. Hanya beberapa menit, Yuda di kantor Darren. Laki-laki itu bergegas ke tempat parkir. Jari-jarinya mencengkeram erat setir. Yuda semakin curiga jika Darren dan Renata tidak hanya kebetulan bertemu. Puncaknya malam itu. Noda bekas lipstik di lengan kemeja Darren, jelas milik Renata. Meskipun Darren menyangkalnya. "Nina, selamat bertemu di rumah kami!" ucap Yuda sambil tersenyum satu sudut. Namun, sedetik kemudian, wajah Yuda memerah. "Nina ... Renata Mardanina ..." Yuda mengusap kasar wajahnya. "Shit! Lihat saja besok malam! Kalau ada pengkhianat di antara rumah tanggaku, aku tidak akan diam, Darren!" Dari kaca jendela kantornya, Darren bisa melihat mobil Yuda yang masih terparkir di sana. Sejak tadi, Darren berdiri di situ sambil memasukkan telapak tangan ke saku celana. Dia menggeleng pelan, menyadari sikap over posesif Yuda. "Sepertinya, Yuda ingin menjebakku. Kenapa kamu begitu curiga pada orang lain, Yuda? Kalau kamu punya masa lalu yang sakit, seharusnya kamu sembuhkan itu, bukan malah memperburuk keadaan!" Darren menarik napas panjang, lalu kembali ke kursinya. Besok malam, Darren akan membuktikan pada Yuda jika tuduhan itu tidak berdasar.... Tidak banyak yang diundang ke rumah Yuda. Hanya beberapa rekan Renata sesama guru. Mereka datang bersama pasangannya. Yuda tampak gelisah sambil sesekali melirik arloji di pergelangan tangannya. Renata mendekati Yuda. "Siapa yang kamu tunggu, Mas?" Yuda melongok, lalu menarik napas lega, ketika sebuah mobil berhenti di depan rumah. Renata yang hafal itu mobil Darren hanya tersenyum. "Sudah datang. Kita tidak mungkin melewatkan acara tanpa sahabatku!" Sekali lagi, Renata tersenyum. Ternyata, kecemasan Yuda tidak terbukti. Dari dalam mobil, Darren tidak sendirian. Laki-laki itu menggandeng wanita cantik. Tampak mereka tersenyum, layaknya pasangan yang bahagia. Mereka melangkah mendekati tuan rumah. "Halo, maaf kami telat!" ucap Darren, lalu melirik pada wanita di sampingnya. Darren segera mengenalkan Nina pada Yuda dan Renata. Renata tersenyum ramah dan memeluk sekilas Nina. "Senang sekali kedatangan pasangan baru!" "Nina, ini Renata istriku. Kalian bisa menjadi sahabat!" Yuda menggamit pinggang Renata. Nina mengerutkan kening, lalu menatap heran pada Darren. "Nina? Siapa dia?" ****Air mata Darren menetes tidak tertahankan. Dengan hati-hati, dia menyentuh perut Renata yang bergerak.Setelah itu, diciumnya perut buncit itu sembari mengucapkan doa dan harapan.Dulu keinginan merasakan tendangan kecil seperti itu buyar akibat kecelakaan. Sekarang, Darren tidak mau melewatkan momen itu. Rasa bahagia tidak tergambarkan karena sebulan lagi menjadi seorang ayah. Bahkan, Darren semakin posesif pada istrinya itu."Bagaimana rasanya kalau dia nendang gini? Sakit?"Renata tersenyum, lalu mengusap perutnya yang menonjol di sebelah kiri. "Tidak sakit hanya geli saja. Ini kayaknya lutut, Mas. Lucu sekali!" "Ajaib, ya. Ah, aku calon ayah paling bahagia. Banyak kisah mengharukan sebelum kita sampai di tahap ini, Sayang."Tangan Renata berganti mengusap dagu Darren yang ditumbuhi bulu-bulu tipis. Lalu, diciumnya lembut bibir kemerahan laki-laki tampan itu."Apa yang ingin kamu katakan pada anak kita nanti?" Bibir Darren mengkerut sejenak, lalu tersenyum jahil. "Em, mungkin aku
"Lin, kamu mau bareng apa tidur di sini?" Suara dan tatapan Yuda sama datarnya.Alina terdiam beberapa detik, lalu mengangguk. Dia segera pamit pada Renata dan Darren. Renata juga berpesan pada keduanya untuk hati-hati.Namun, karena buru-buru, sepatu Alina tersangkut gamisnya sendiri. "Auuuh!" Alina terkejut, hampir terjungkal di anak tangga teras. Beruntung, Yuda sigap menangkapnya. Pemandangan itu tidak lepas dari perhatian Darren dan Renata yang berdiri di depan pintu."Sepertinya mereka berjodoh," bisik Darren pada Renata.Renata mengangguk dan tersenyum kecil. Dia ingat kedekatannya dengan Darren dulu berawal dari kejadian seperti itu. Renata berharap, Yuda berjodoh dengan Alina. Dia yakin, Yuda sudah berubah dan tidak seperti dulu.Yuda segera melepas tangannya dari bahu Alina setelah memastikan wanita itu aman. Pipi Alina merona karena malu, lalu melambai kecil pada Renata."Assalamualaikum!" pamit Alina, sebelum memasuki mobil."Waalaikumsalam, hati-hati, Lin, Mas Yuda!" Yu
Renata mengerjap pelan, ketika mendengar bacaan ayat-ayat suci dari masjid pondok. Dia menoleh, menatap Darren yang masih lelap dalam mimpi. Dengan hati-hati, Renata menyingkirkan tangan Darren dari perutnya. "Ehmm ..." Darren menggumam samar dan memeluk Renata lagi. "Mas, aku mau mandi dulu. Sudah telat shalat tahajjud." Darren langsung membuka mata. "Ya sudah. Kalau gitu, kita mandi bareng saja!" ajaknya sembari duduk. "Ngawur. Aku duluan!" Segera, Renata mengambil pakaiannya yang tergeletak di sisi tempat tidur. Dia memakainya cepat dan bergegas ke kamar mandi. Setelah keluar dari kamar mandi, Renata justru bertemu Darren di dapur. Suaminya itu tampak berbincang dengan Bu Ayu dan dua orang kerabat. Darren tersenyum jahil, ketika melihat Renata buru-buru memasuki kamar. Setelah shalat malam, sambil menunggu waktu subuh, Darren kembali keluar dari kamar. Dia segera mengetuk kamar kakaknya. Cindi yang masih tidur, mengerutkan kening sambil membuka pintu. "Mbak, sudah subuh tu
Tatapan Darren menyipit, bibirnya melekuk senyum jahil. Dia mengangkat tangan, lalu mengusap kepala Renata dengan lembut. Namun, Renata segera menggeser tubuh. Darren yang sadar, langsung menangkupkan telapak tangan di dada. Melihat itu, Renata justru tertawa kecil. "Pulang sana, Mas! Basah semua itu. Seperti anak kecil saja, pakai acara basah-basahan!" "Kalau tidak gitu, kamu mana mau datang? Aku pulang dulu, ya!" Darren menatap sekali lagi pada Renata, lalu membuka pintu mobil. "Besok pagi, aku jemput ke sini, ya, Calon Istri!" ucapnya dengan senyum bahagia. Renata mengangguk samar, kemudian mengikuti anak-anak yang kembali ke pondok. Darren menunggu mereka sampai melewati gerbang. Setelah itu, Darren melajukan mobil kembali ke rumah. * Pak Susilo menatap dingin pada Renata dan Darren. Mulanya dia masih bersikukuh dengan egonya. Namun, Darren tidak menyerah. Niat untuk membawa Renata pulang ke Jakarta sebagai istrinya sudah bulat. Bu Yanisah menangis haru di pelukan Renata, se
Tatapan Renata nanar. "Kamu sudah tahu, Mas?"Darren terdiam sembari menekan emosi, lalu mengangguk samar. Almira memang pernah mengakui, saat Darren menceraikannya di depan keluarga. Karena beberapa pertimbangan, akhirnya Darren memilih tidak memperpanjang kasus itu.Bagaimanapun, janin itu telah pergi. Darren tidak mau terus larut dalam duka. Melihat diamnya Darren, Renata menggeleng samar dengan hati sangat kecewa."Kenapa kamu tidak mengatakan padaku, Mas?""Maafkan aku, Rena. Aku ..."Tatapan nanar Renata berubah sinis pada Darren dan Almira. "Kalian sama saja. Baiklah, aku tidak akan mengganggumu lagi. Aku sudah kehilangan janin dalam kandunganku. Lebih baik, aku juga kehilanganmu, Mas!""Astaghfirullah, Rena! Dengarkan dulu, Sayang!"Bergegas, Renata keluar dari ruangan itu. Setengah berlari, dia meninggalkan Darren dan Almira. Tidak dihiraukannya panggilan Darren. Renata segera memasuki kamar dan mengunci pintu dari dalam. Di sana, dia kembali menumpahkan tangis."Jahat sekali
"Ada, dia mencintaimu, Renata! Bahkan, sudah disiapkan cincin pernikahan untukmu."Bibir Renata kembali melekuk senyum satu sudut. "Maaf, Mbak. Aku tidak mau membicarakan ini. Aku hanya ingin memperbaiki diri!" sahutnya, kemudian berlalu.Langkah Renata semakin cepat, lalu memasuki kamar. Setelah itu, dia segera menutup dan mengunci pintunya. Renata duduk di tepi ranjang, lalu mengambil handphone.Dengan ragu, dia menyalakannya. Hanya bermaksud melihat aktivitas chat dari Alina ataupun Darren. Renata menelan ludah, mendapati banyak sekali daftar panggilan dan pesan dari mereka. Bahkan, beberapa panggilan dan pesan dari Yuda."Maafkan aku, Mas. Aku sudah jahat padamu. Tapi aku butuh waktu di sini. Aku malu bertemu kalian."Ternyata, di saat yang sama, Darren sedang online. Dia pun tampak mengetik pesan. Renata mendengus kasar penuh sesal karena kepergok Darren. Seharusnya, dia tidak terbawa oleh perasaan."Astaghfirullah. Dia tidak boleh tahu!"Buru-buru, Renata menutup handphone. Namu







