Teilen

Bab 16

last update Veröffentlichungsdatum: 22.12.2025 22:20:37

Selesai mereka mengobrol di dalam dan menghitung jumlah uang yang telah terkumpul cukup banyak oleh ibunya. Parman duduk di teras kecil rumahnya, angin pagi menggerakkan lembut dedaunan di sekitar.

Di sebelahnya, ibu tua itu dengan wajah penuh kasih kembali berbicara pelan tentang rencana mencari kolam untuk menernak ikan—sebuah harapan sederhana yang mengusir penat dari pikirannya.

Parman mengangguk, sesekali menyeka keringat di dahinya, tubuhnya yang lelah masih terasa berat. Setelahnya, ia
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • TERNYATA ISTRI PEMBAWA HOKI ITU (TIREN)   Aing pusing tedihargaan nulis Didieu mah, cangcut

    kmn aja tahunya tentang ilmu yang mempelajari tentang profil dan eedfggggggfvbjkkkknbvgggg di dalam karung itu adalah hasil dari proses yang terjadi pada orang lain bagaimana caranya agar terhubung dengan nama rabun tapi nambah lagi biaya pas akad nikah lagi secara langsung maupun eewdfhjj di dalam karung itu adalah hasil dfhjknbxxd di dalam karung itu adalah hasil dari proses yang kmn aja tahunya tentang ilmu yang mempelajari tentang profil dan eedfggggggfvbjkkkknbvgggg di dalam karung itu adalah hasil dari proses yang terjadi pada orang lain bagaimana caranya agar terhubung dengan nama rabun tapi nambah lagi biaya pas akad nikah lagi secara langsung maupun eewdfhjj di dalam karung itu adalah hasil dfhjknbxxd di dalam karung itu adalah hasil dari proses yang kmn aja tahunya tentang ilmu yang mempelajari tentang profil dan eedfggggggfvbjkkkknbvgggg di dalam karung itu adalah hasil dari proses yang terjadi pada orang lain bagaimana caranya agar terhubung dengan nama rabun tapi nambah

  • TERNYATA ISTRI PEMBAWA HOKI ITU (TIREN)   Bab 27

    Rani masih berdiri di depan jendela kamar mewahnya saat Parman menyapanya dengan pertanyaan tersebut, ia segera mengalihkan tatapannya pada Suganda setelah cukup lama memikirkan pemikiran yang tentunya hanya dia yang tahu, dari mulai ramangnya malam yang perlahan berganti pagi hari yang cerah.Perlahan inar pagi menyelinap lembut melalui tirai tipis, menerangi wajahnya yang halus dan berseri. Rambut hitamnya yang tergerai rapi menambah kesan anggun pada sosoknya. Matanya kemudian melirik ke arah Parman, suaminya, yang sudah bangun dari tidur, duduk di tepi tempat tidur dengan ekspresi sedikit terkejut namun hangat.Tanpa kata, Rani tersenyum lembut, seolah ingin meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja. Perlahan ia melangkah mendekat, memeluk tubuh suaminya yang masih dingin, selimut yang semula menutupi tubuh Parman saat itu masih terbalut pada tubuh Rani sendiri.“Aku tidak kenapa-napa, sayang. Tidak usah khawatir,” ucapnya lembut, suaranya menenangkan.Parman tanpa ragu menarik Ran

  • TERNYATA ISTRI PEMBAWA HOKI ITU (TIREN)   Bab 26

    Karto dan Darto melangkah tertatih, napas mereka memburu namun mata tak berani berpaling dari sosok kakek tua yang berjalan di depan. Obor kecil di tangan mereka bergetar, cahayanya menari-nari di antara pepohonan lebat hutan Cisodong yang sunyi dan dingin. Suara dedaunan yang bergesekan dan ranting patah sesekali mengiringi langkah mereka, menambah berat suasana yang penuh ketegangan.Setelah perjalanan yang terasa seperti berjam-jam, bayangan gubuk tua mulai muncul di antara rimbunnya pohon-pohon besar. Atapnya reyot, dindingnya rapuh, namun aura mistis yang menyelimutinya membuat Karto dan Darto nyaris lupa akan rasa takut mereka. Kakek itu menoleh, matanya menyiratkan ketegasan yang tak bisa ditawar.“Masuklah, jangan takut,” suaranya serak namun berwibawa, memerintah tanpa ruang untuk protes.Keduanya masuk ke dalam gubuk yang remang-remang. Bau dupa dan ramuan herbal menusuk hidung, sementara rak-rak kayu penuh sesak dengan botol-botol kaca berisi cairan berwarna aneh dan tulang

  • TERNYATA ISTRI PEMBAWA HOKI ITU (TIREN)   Bab 25

    Darto memutar tubuhnya pelan, obor yang digenggamnya mengeluarkan cahaya temaram yang menari-nari di antara pepohonan rimbun. Matanya yang tajam berusaha menangkap bayangan apapun di balik gelapnya hutan, namun yang terlihat hanya siluet pohon besar menjulang tinggi, seperti penjaga sunyi yang mengawasi malam itu.Tiba-tiba, kembali telinga mereka mendengar jelas suara benda jatuh bergema keras, membuat telinga Darto berdenyut kencang. Napasnya memburu, jantungnya berdetak tak menentu. Di sisi lain, Karto berdiri diam, bibirnya terkunci rapat, tanpa sepatah kata pun keluar, hanya sesekali matanya menyapu kegelapan dengan waspada.Ketika suara benda jatuh itu kembali terdengar, kali ini disusul auman harimau yang menggetarkan, keduanya seketika membeku. Getaran ketakutan merayap di seluruh tubuh mereka; keringat dingin membasahi punggung.Tidak ada jalan keluar, mereka terperangkap di tengah hutan lebat, dikelilingi bayang-bayang ancaman. Darto dan Karto saling membelakangi, posisi yan

  • TERNYATA ISTRI PEMBAWA HOKI ITU (TIREN)   Bab 24

    Kamar mewah itu dipenuhi aroma kayu jati dan wangi parfum mahal yang samar tercium di udara hangat. Lampu-lampu temaram memantulkan cahaya lembut di dinding emas, menciptakan suasana intim yang membalut Cinta Parman dan Rani. Tubuh mereka yang basah oleh keringat saling merapat, bergantian dalam gerakan penuh gairah yang tak kenal lelah. Napas Rani tercekat, matanya yang berkilau menatap dalam ke arah Parman dengan senyum penuh kepuasan. “Aku benar-benar puas, Mas. Terima kasih ya, sayang,” bisiknya lirih, suaranya bergetar oleh kebahagiaan yang tulus. “Aku bahagia menjadi istrimu.” Parman membalas dengan senyum hangat, tangannya lembut menyisir rambut hitam Rani yang sedikit berantakan. Ia menundukkan kepala, mencium keningnya yang halus, lalu merambat ke pipi yang memerah, dan akhirnya di bibir merah itu, penuh kelembutan dan hasrat yang sama-sama membara. Bibir mereka menyatu kembali, seolah ingin menyampaikan lebih dari kata-kata—janji, cinta, dan kehangatan yang tak terucapkan.

  • TERNYATA ISTRI PEMBAWA HOKI ITU (TIREN)   Bab 23

    Darto dan Karto melangkah menyusuri jalan semakin jauh dari warung tersebut, ingin menuju kampung Cisodong walau jaraknya masih jauh. Matahari yang tadinya cerah perlahan merunduk, menyisakan semburat jingga yang merayap di balik pepohonan. Suara desir angin dan kicau burung berganti dengan keheningan yang menekan, membuat langkah mereka semakin berat terasa.“Masih jauh, ya?” Tanya Karto, suaranya serak, menyembunyikan kelelahan yang mulai menggerogoti semangatnya.Darto hanya mengangguk pelan, tatapannya tetap fokus menatap jalur di depan. Setelah beberapa menit hening, Karto akhirnya berhenti di pinggir jalan, membelalakkan matanya pada Darto. “Kan, tadi si bapak warung sudah berkata kalau jalan kaki memakan 7 hari 7 malam mau bagaimana ceritanya kita baru berjalan sebentar kamu bertanya masih jauh segala?" Ucap Karto sambil menggeleng-gelengkan kepala. Lanjut Darto. "Kita ini mau terus jalan kaki sampai kapan? Nggak mau sewa kendaraan atau gimana?”Karto menoleh, wajahnya memanca

  • TERNYATA ISTRI PEMBAWA HOKI ITU (TIREN)   Bab 22

    Kamar mewah itu dipenuhi aroma harum parfum dan desahan lembut yang saling bersahutan. Parman dan Rani bergerak lincah di atas ranjang, tangan mereka tak henti mengeksplorasi setiap lekuk tubuh, mencari titik-titik yang mampu membangkitkan gairah. Parman menarik Rani dengan lembut, tubuhnya berges

  • TERNYATA ISTRI PEMBAWA HOKI ITU (TIREN)   Bab 21

    Pria itu menatap tajam temannya, matanya berkilat antara ragu dan penasaran. "Kamu serius mau cari dukun? Untuk apa? Mengacaukan hidup Parman dan Rani yang sekarang sudah hidup mewah kaya raya?" tanyanya pelan, tapi nada suaranya menyimpan amarah yang dalam.Temannya hanya tersenyum sinis, "Benar.

  • TERNYATA ISTRI PEMBAWA HOKI ITU (TIREN)   Bab 02

    "Mas, jangan bengong aja dong. Apakah kamu lupa terhadapku?" Wanita itu kembali memanggilnya, senyumannya kian menggoda. "Memangnya siapa kamu? Aku belum mengenal kamu." Ucap Parman sambil melangkahkan kaki mendekat ke arah wanita cantik itu yang tengah berdiri begitu santai di atas batu besar ya

  • TERNYATA ISTRI PEMBAWA HOKI ITU (TIREN)   Bab 01

    "Parman, kamu lagi apa?" Tanya seorang ibu yang lagi berdiri sambil menggendong bakul nasi yang terisi piring dan cangkir kotor, ibu tersebut nampaknya ingin mencucinya di kali, tempat masyarakat kampung itu mandi, mencuci pakaian, piring dan lain-lain. "Seperti biasa, Mak, aku lagi terbang ke bul

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status