Home / Horor / TEROR SINDEN GHAIB / BAB 182 - SETELAH GERBANG TERTUTUP

Share

BAB 182 - SETELAH GERBANG TERTUTUP

Author: Vika moon
last update publish date: 2026-03-27 10:54:48

Sunyi.

Bukan sunyi yang menenangkan—

melainkan sunyi yang terasa asing.

Seperti dunia baru saja berhenti bernafas, lalu perlahan mencoba hidup kembali.

Di tengah ruang yang kini stabil—

Aruna terbaring.

Tubuhnya tidak bergerak.

Matanya tertutup.

Wajahnya pucat.

Zareth masih menopangnya.

Untuk beberapa detik—

ia hanya diam.

Menatap wajah Aruna dengan ekspresi yang sulit dibaca.

Tidak ada senyum.

Tidak ada ejekan.

Hanya… diam.

“Manusia bodoh…”

Ia berbisik pelan.

Namun suaranya tidak lagi terdenga
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 183 - JEJAK YANG TERTINGGAL

    Langit sore menyelimuti hutan Sumberrejo dengan warna keemasan yang lembut.Untuk pertama kalinya sejak semuanya terjadi—hutan itu terlihat… damai.Burung-burung kembali berkicau.Angin berhembus pelan, membawa aroma tanah basah yang menenangkan.Namun bagi mereka—kedamaian itu terasa rapuh.Seperti kaca tipis yang bisa pecah kapan saja.Aruna masih terbaring.Tubuhnya dipindahkan ke sebuah rumah kosong di pinggir desa.Rumah kayu sederhana.Namun cukup untuk melindunginya.Pelangi duduk di sampingnya.Sejak mereka kembali—ia tidak pernah meninggalkan Aruna.Tangannya menggenggam tangan Aruna erat.Seolah takut jika ia melepaskan—Aruna akan benar-benar pergi.“Bangun…”Bisiknya pelan.Tidak ada jawaban.Hanya napas pelan yang masih terasa.Bima berdiri di dekat jendela.Menatap ke luar.“Udah dua hari…”Ia bergumam.Bagas menyandarkan punggung ke dinding.“Tubuhnya masih hidup.”“Tapi kesadarannya?” tanya Bima.Bagas tidak menjawab.Hileon berdiri di sudut ruangan.Matanya tertutu

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 182 - SETELAH GERBANG TERTUTUP

    Sunyi.Bukan sunyi yang menenangkan—melainkan sunyi yang terasa asing.Seperti dunia baru saja berhenti bernafas, lalu perlahan mencoba hidup kembali.Di tengah ruang yang kini stabil—Aruna terbaring.Tubuhnya tidak bergerak.Matanya tertutup.Wajahnya pucat.Zareth masih menopangnya.Untuk beberapa detik—ia hanya diam.Menatap wajah Aruna dengan ekspresi yang sulit dibaca.Tidak ada senyum.Tidak ada ejekan.Hanya… diam.“Manusia bodoh…”Ia berbisik pelan.Namun suaranya tidak lagi terdengar dingin seperti biasanya.Lebih… datar.Lebih dalam.Ia menoleh ke arah inti.Permukaan batu itu kini benar-benar tenang.Tidak ada retakan.Tidak ada denyut.Tidak ada suara.Seolah semua yang terjadi barusan—hanya ilusi.Namun Zareth tahu—itu nyata.Sangat nyata.Dan—itu belum berakhir.Ia kembali menatap Aruna.“Kalau kamu mati sekarang…”Ia berkata pelan.“…semua ini sia-sia.”Tidak ada jawaban.Hanya napas pelan—yang nyaris tidak terdengar.Zareth menghela napas.Kemudian—ia mengangka

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 181 - HARGA DARI KESEIMBANGAN

    Cahaya perlahan meredup.Ledakan energi yang sebelumnya mengguncang seluruh ruang kini hanya menyisakan getaran halus, seperti gema yang belum sepenuhnya hilang.Di dalam inti—retakan itu hampir tertutup.Hampir.Namun celah kecil masih ada.Kecil—tapi cukup untuk mengingatkan bahwa ancaman itu belum benar-benar pergi.Aruna berdiri di depannya.Tubuhnya gemetar.Napasnya berat.Namun ia masih bertahan.Cahaya dan bayangan di tubuhnya kini tidak lagi liar.Mereka berputar pelan.Seimbang.Namun—stabilitas itu terasa rapuh.Seperti sesuatu yang bisa runtuh kapan saja.Zareth berdiri beberapa langkah di belakang.Diam.Tidak menyerang.Tidak berbicara.Hanya memperhatikan.Aruna menatap inti itu.“Kamu masih di sana…”Ia berbisik pelan.Dari dalam celah itu—sesuatu masih bergerak.Namun tidak sekuat sebelumnya.Seperti tertahan.Dipaksa kembali.Namun tidak sepenuhnya terkunci.“Aku… belum selesai…”Suara itu terdengar lemah.Namun tetap menggetarkan.Aruna menghela napas panjang.“

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 180 - GERBANG YANG MENOLAK TERTUTUP

    Ledakan itu masih bergema.Bukan hanya di dalam ruang gelap itu—tetapi sampai ke dunia luar.Tanah di hutan Sumberrejo berguncang hebat.Pepohonan berderak.Daun-daun berguguran seperti hujan.Pelangi terjatuh ke tanah.Tangannya mencengkeram tanah dengan kuat.“ARUNA!!”Suaranya hampir tenggelam oleh gemuruh.Bima mencoba berdiri.Namun kembali kehilangan keseimbangan.“Ini gila… ini bukan sekadar gerbang lagi!”Bagas menatap ke arah batu raksasa.Wajahnya tegang.“Ini seperti… dunia lain yang memaksa masuk.”Embun sudah menangis.“Aku bilang kita pulang aja dari awal…”Hileon tetap berdiri.Meski tubuhnya juga terdorong oleh tekanan energi.Matanya tidak lepas dari gerbang itu.“Dia masih di dalam…”Makhluk batu raksasa mengaum keras.Retakan di tubuhnya semakin banyak.Namun cahaya di dalamnya justru semakin terang.Seolah ia mencoba menahan sesuatu.Namun tidak cukup.Kembali ke dalam—Aruna terengah.Tubuhnya hampir tidak mampu berdiri.Namun ia memaksakan diri.Di depannya—int

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 179 - YANG TERBANGUN DARI RETAKAN

    Segalanya berhenti—lalu bergerak bersamaan.Retakan pada inti itu melebar perlahan.Namun setiap celah yang terbuka terasa seperti luka yang merobek dua dunia sekaligus.Dum…Dum…Dum…Detaknya berubah.Lebih berat.Lebih dalam.Bukan lagi seperti jantung—melainkan seperti sesuatu yang sedang bangun dari tidur panjang.Aruna masih berdiri di depannya.Tangannya menyentuh inti itu.Cahaya dan bayangan di tubuhnya berputar pelan.Namun kali ini—ia bisa merasakan tekanan yang berbeda.Lebih besar.Lebih… kuno.Zareth berdiri beberapa langkah di belakangnya.Wajahnya tidak lagi santai.Namun juga tidak panik.Justru—ia terlihat puas.“Kamu merasakannya, bukan?”Suaranya pelan.Namun jelas.Aruna tidak menjawab.Ia terlalu fokus.Dari dalam retakan itu—sesuatu bergerak.Bukan bentuk yang jelas.Namun seperti massa yang hidup.Berdenyut.Dan setiap denyut—mengirimkan gelombang energi ke seluruh ruang.Aruna menggertakkan giginya.“Ini… bukan gerbang biasa…”Zareth tertawa pelan.“Tent

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 178 - INTI MENGUNCANG DUA DUNIA

    Di dalam jantung hutan—di dalam ruang yang bukan dunia manusia—Aruna berdiri di tengah pusaran cahaya dan kegelapan.Langkahnya semakin cepat.Tatapannya hanya tertuju pada satu titik—inti.Sebuah cahaya gelap kecil yang berdenyut di tengah kehampaan.Dum…Dum…Dum…Setiap detaknya terasa sampai ke tulang.Seperti jantung dari sesuatu yang jauh lebih besar.Zareth berdiri tidak jauh darinya.Matanya mengikuti setiap gerakan Aruna.Namun kali ini—ia tidak lagi terlihat santai.“Akhirnya kamu melihatnya,” katanya pelan.Aruna tidak menjawab.Ia terus maju.Bayangan-bayangan di sekitarnya mulai bergerak.Mereka bukan lagi sekadar kabut.Kini bentuk mereka lebih jelas.Lebih padat.Lebih hidup.Seolah mereka adalah penjaga dari inti itu.Zareth mengangkat tangannya.“Kalau kamu ingin mencapainya…”Suaranya dalam.“…lewati mereka dulu.”Bayangan itu menyerang.Cepat.Tanpa suara.Aruna mengangkat tangannya.Cahaya merah keemasan meledak keluar.BOOOOM!Benturan terjadi.Beberapa bayang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status