Home / Horor / TEROR SINDEN GHAIB / BAB 192 - LABIRIN YANG HIDUP

Share

BAB 192 - LABIRIN YANG HIDUP

Author: Vika moon
last update publish date: 2026-04-02 11:08:53

Langkah kaki mereka menggema di antara akar dan tanah yang terus berubah.

Tidak ada jalan yang benar-benar tetap.

Tidak ada arah yang benar-benar aman.

Hutan itu—

hidup.

Dan kini—

ia bereaksi.

Aruna berlari di depan.

Napasnya teratur, meski tekanan di dalam dirinya semakin berat.

Koneksi itu terus bekerja.

Memberi jalur.

Namun juga—

menunjukkan bahaya.

“Ke kanan!” teriaknya.

Tanpa ragu—

semua mengikuti.

Pelangi hampir tersandung, namun Aruna menariknya.

Bima di belakang mengumpat pelan.

“Ini bu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 193 - INTI YANG BANGKIT

    Langkah mereka melambat. Bukan karena ragu— melainkan karena tekanan yang semakin terasa. Jalur yang mereka masuki terasa berbeda. Tidak ada akar yang menyerang. Tidak ada tanah yang bergerak liar. Semuanya— terlalu tenang. Namun justru itu yang membuat bulu kuduk merinding. Pelangi berjalan di samping Aruna. Tangannya masih menggenggam erat. “Ini… terlalu sunyi.” Bisiknya pelan. Aruna tidak menjawab. Matanya fokus ke depan. Namun pikirannya— bekerja cepat. Koneksi di dalam dirinya semakin kuat. Namun kali ini— tidak hanya memberi informasi. Ia juga merasakan sesuatu yang lain. Kesadaran. Bukan satu— namun banyak. Dan semuanya— terarah ke satu titik. “Di depan…” Ia berkata pelan. Pelangi menelan ludah. “Seberapa dekat?” Aruna menarik napas dalam. “Sangat dekat.” Mereka terus berjalan. Langkah demi langkah. Hingga akhirnya— mereka tiba. Ruang itu terbuka. Lebih luas dari yang sebelumnya. Namun bukan seperti ruan

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 192 - LABIRIN YANG HIDUP

    Langkah kaki mereka menggema di antara akar dan tanah yang terus berubah.Tidak ada jalan yang benar-benar tetap.Tidak ada arah yang benar-benar aman.Hutan itu—hidup.Dan kini—ia bereaksi.Aruna berlari di depan.Napasnya teratur, meski tekanan di dalam dirinya semakin berat.Koneksi itu terus bekerja.Memberi jalur.Namun juga—menunjukkan bahaya.“Ke kanan!” teriaknya.Tanpa ragu—semua mengikuti.Pelangi hampir tersandung, namun Aruna menariknya.Bima di belakang mengumpat pelan.“Ini bukan lari biasa… ini kayak dikejar ujian hidup!”Embun sudah hampir menangis.“Aku nggak kuat lagi…”Bagas menarik tangannya lebih kuat.“Kamu kuat.”Hileon tetap fokus.Matanya terus mengamati perubahan.“Dia mengunci jalur secara bertahap…”Ia berkata di tengah lari.“Dia tidak terburu-buru.”Zareth, seperti biasa, masih terlihat tenang.Namun langkahnya cepat.“Karena dia tahu kita akan kelelahan.”Sunyi.Namun kali ini—tidak ada yang membalas.Karena mereka semua tahu—itu benar.Aruna meras

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 191 - RETAKAN YANG MENYEBAR

    Hutan tidak lagi sama.Setelah kepergian sosok itu—tidak ada yang kembali seperti semula.Sunyi masih ada.Namun bukan sunyi yang menenangkan.Melainkan sunyi yang… menunggu.Aruna berdiri diam.Matanya menatap jauh ke dalam pepohonan.Namun sebenarnya—ia tidak melihat.Ia merasakan.Koneksi di dalam dirinya terus bekerja.Memberi informasi.Tanpa henti.Tanpa jeda.Dan itu—melelahkan.Pelangi mendekat perlahan.“Kamu masih merasakannya?”Aruna tidak langsung menjawab.Ia menutup mata.Menarik napas dalam.Lalu membuka kembali.“Lebih dari sebelumnya.”Sunyi.Pelangi menggenggam tangannya.“Kalau terlalu berat…”Aruna menggeleng pelan.“Aku masih bisa menahannya.”Namun di dalam dirinya—ia tahu.Ini bukan sesuatu yang bisa ia abaikan.Bima duduk di tanah.Masih mencoba mengatur napas.“Kalau ini baru awal…”Ia berkata pelan.“…aku takut bagian selanjutnya.”Embun langsung mengangguk.“Aku udah takut dari tadi…”Bagas berdiri dengan tangan di pinggang.Menatap ke sekeliling.“Kita

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 190 - POLA YANG DI BACA DAN DIPATAHKAN

    Keheningan itu pecah—bukan oleh suara.Namun oleh keputusan.Aruna melangkah lebih dulu.Satu langkah kecil—namun cukup untuk mengubah segalanya.Sosok di hadapan mereka tidak bergerak.Namun auranya berubah.Lebih fokus.Lebih… siap.Pelangi langsung mengikuti langkah Aruna.“Jangan terlalu jauh…”bisiknya pelan.Aruna mengangguk.Namun tatapannya tidak lepas dari sosok itu.“Kita tidak bisa menunggu dia bergerak dulu…”Ia berkata pelan.Bima menghela napas.“Ya, karena kalau dia yang mulai… biasanya kita yang kewalahan…”Embun menelan ludah.“Aku pengen lari… tapi kaki nggak mau…”Bagas menepuk bahunya pelan.“Bertahan saja.”Hileon melangkah sedikit ke samping.Mengubah posisi.“Jangan bergerak seragam…”Ia berkata pelan.“…dia akan membaca itu.”Zareth tersenyum tipis.“Akhirnya kalian mulai berpikir.”Sunyi.Namun kali ini—sunyi yang penuh strategi.Aruna menutup mata sejenak.Koneksi di dalam dirinya berdenyut.Memberinya gambaran.Jalur-jalur energi.Pergerakan kecil.Reaksi

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 189 -PERTEMUA DUA KESADARAN

    Hutan kembali sunyi.Namun kali ini—sunyi itu terasa seperti jeda sebelum sesuatu meledak.Angin berhenti.Daun-daun tidak bergerak.Bahkan udara terasa tertahan.Seolah seluruh hutan menunggu.Aruna berdiri di depan.Tatapannya lurus.Tidak goyah.Di depannya—sosok itu.Lebih jelas dari sebelumnya.Tidak lagi sekadar bayangan.Namun juga bukan manusia.Tubuhnya seperti terbentuk dari akar, tanah, dan kegelapan yang menyatu.Namun bentuknya stabil.Utuh.Dan yang paling mengganggu—matanya.Kosong.Namun sadar.Pelangi berdiri di samping Aruna.Tangannya menggenggam erat.Namun ia tidak mundur.Bima, Bagas, dan Embun berdiri di belakang.Hileon sedikit maju.Zareth tetap di sisi lain.Seperti biasa—mengamati.Sosok itu melangkah.Satu langkah.Namun getarannya terasa sampai ke tanah.“Akhirnya…”Suaranya tidak lagi menggema liar.Lebih fokus.Lebih… terkendali.Aruna tidak menjawab.Ia hanya menatap.Mengukur.Merasakan.Koneksi di dalam dirinya langsung bereaksi.Seperti sesuatu y

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 188 - DENYUT YANG TIDAK BISA DI ABAIKAN

    Udara di dalam ruang bawah tanah terasa berbeda.Lebih padat.Lebih berat.Namun juga—lebih jelas.Aruna berdiri perlahan.Meski tubuhnya masih lelah, ada sesuatu dalam dirinya yang kini menopangnya. Bukan sekadar kekuatan fisik—melainkan koneksi.Ia bisa merasakannya.Setiap akar.Setiap aliran energi.Setiap denyut kecil di dalam hutan itu.Seolah semuanya… berbicara.Pelangi masih di sampingnya.Tangannya belum lepas.“Kamu yakin kamu baik-baik aja?”Aruna menatapnya.Lalu tersenyum tipis.“Aku masih di sini.”Pelangi menghela napas pelan.Namun matanya masih penuh kekhawatiran.Bima meregangkan tubuhnya.“Kalau semua udah selesai… boleh nggak kita keluar dulu, terus mikir lagi di tempat yang nggak hidup kayak gini?”Embun langsung mengangguk cepat.“Iya! Aku setuju banget!”Bagas menatap Aruna.“Keputusan di tanganmu.”Hileon tetap diam.Namun sorot matanya tajam.Menunggu.Zareth bersandar di salah satu dinding berdenyut.Seolah semua ini hanya tontonan.“Kalau kalian mau kelua

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status