Beranda / Horor / TEROR SINDEN GHAIB / Bab 116 – Lelaki yang Tidak Pernah Kembali

Share

Bab 116 – Lelaki yang Tidak Pernah Kembali

Penulis: Vika moon
last update Tanggal publikasi: 2026-02-20 10:26:11

Fajar datang dengan warna pucat.

Tidak ada ayam berkokok pagi itu. Tidak ada suara ibu-ibu menyapu halaman. Desa terasa seperti baru saja melewati mimpi panjang yang belum sepenuhnya dipahami.

Aruna duduk di tangga rumah Pak Seno. Matanya menatap tanah yang masih lembap setelah semalam mereka menggali lantai pendopo. Di pergelangan tangannya, bekas tulisan itu benar-benar telah hilang. Kulitnya kembali seperti biasa.

Namun hatinya tidak.

Cincin dengan inisial A.S. kini tergeletak di atas meja k
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 265 - MASALALU YANG TAK MAU MATI

    Udara di sekitar mereka berubah semakin dingin. Bukan dingin biasa, melainkan dingin yang terasa masuk hingga ke dalam kesadaran. Pelangi masih berdiri di depan Asa, meski dirinya sendiri bisa merasakan tekanan besar dari sosok tinggi itu.Asa bergetar pelan di belakangnya.“…Pe…la…ngi…”“Aku di sini,” jawab Pelangi cepat.Ia tidak berani menoleh terlalu lama, takut jika rasa takut Asa semakin besar.Sosok tinggi itu tetap diam di tempatnya. Tubuhnya tersusun dari bayangan samar yang terus bergerak perlahan, seperti asap gelap yang tidak pernah benar benar membentuk sesuatu.Aruna maju satu langkah.“Kau belum menjawab semuanya,” katanya tenang.Sosok itu menoleh perlahan.“Aku tidak datang untuk menjawab.”Sosok besar langsung mencatat.“Niat komunikasi rendah.”Pelangi mengerutkan kening.“Kalau gitu ngapain datang…”Sosok itu kembali melihat ke arah Asa.“Untuk memastikan kesalahan tidak terulang.”Kalimat itu membuat Asa langsung bergetar lebih kuat.“…ja…ngan…”Pelangi langsung b

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 265 - JEJAK SEGEL YANG MULAI TERBUKA

    Setelah percakapan itu, suasana di sekitar mereka tidak benar benar kembali tenang. Memang tidak ada ledakan cahaya ataupun perubahan besar, namun ada sesuatu yang terasa menggantung di udara.Tentang segel.Tentang seseorang atau sesuatu yang pernah mencoba menghapus Asa.Pelangi masih duduk di dekat cahaya itu sambil memikirkan kata kata yang tadi keluar dari Asa. Semakin dipikirkan, semakin terasa aneh.“Kalau Asa disegel…” katanya pelan.Aruna menoleh.“Maka ada alasan mengapa itu dilakukan.”Sosok besar langsung menambahkan.“Tidak ada tindakan penyegelan tanpa tujuan.”Pelangi menghela napas.“Masalahnya… alasan apa…”Asa bergerak kecil di sampingnya. Cahayanya lebih stabil sekarang, namun sesekali masih bergetar ketika kata kata tertentu disebut.Pelangi langsung menyadarinya.“Kamu takut kalau ngomongin itu ya…”Asa diam beberapa saat.Lalu terdengar pelan.“…dingin…”Pelangi mengerutkan kening.“Dingin?”Aruna berpikir sejenak.“Mungkin bukan suhu.”Sosok besar mencatat.“Kem

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 263 - SAAT ASA MULAI MENGINGAT

    Cahaya di sekitar Asa kini jauh lebih stabil dibanding sebelumnya. Denyutnya masih ada, namun tidak lagi liar ataupun terlalu kuat. Ia bergerak mengikuti ritme yang tenang, seperti sesuatu yang akhirnya menemukan keseimbangannya sendiri.Pelangi masih duduk di tempatnya sambil memperhatikan Asa tanpa melepas senyum kecil dari wajahnya.“Aku masih belum biasa dengar kamu ngomong…” katanya pelan.Asa bergerak perlahan mendekat.Kini sosoknya lebih jelas dibanding sebelumnya. Meski masih tersusun dari cahaya dan kabut halus, bentuk itu mulai menunjukkan garis yang lebih utuh.“…Pe…la…ngi…”Pelangi tertawa kecil.“Iya iya… aku di sini…”Aruna berdiri tidak jauh dari mereka, memperhatikan setiap perubahan dengan tenang.“Perkembangannya semakin cepat,” katanya.Sosok besar langsung menambahkan.“Sinkronisasi identitas meningkat.”Pelangi mengangguk kecil.“Iya… rasanya dia kayak nyerap banyak hal sekaligus…”Asa diam beberapa saat.Seperti sedang memikirkan sesuatu.Lalu perlahan berkata.

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 262 - SUARA YANG AKHIRNYA TERDENGAR

    Cahaya itu belum sepenuhnya mereda. Ia masih berdenyut pelan di sekitar Asa, seperti jantung yang baru saja bangun setelah tertidur sangat lama. Ruang di sekeliling mereka ikut berubah. Tidak lagi terasa kosong atau sunyi biasa, melainkan seperti dipenuhi gema yang sangat halus.Pelangi masih berdiri di tempatnya, menatap perubahan itu tanpa berkedip.“Aku masih nggak percaya…” bisiknya.Aruna berdiri di sampingnya dengan tenang.“Karena yang terjadi memang bukan hal kecil.”Sosok besar menambahkan.“Transformasi berhasil melewati tahap awal.”Pelangi tersenyum kecil.“Berarti… Asa sekarang beda ya…”Cahaya di depan mereka bergerak perlahan.Tidak liar.Tidak juga tidak stabil.Justru terasa lebih tenang dibanding sebelumnya.Dan di tengah cahaya itu…bentuk Asa mulai terlihat lebih jelas.Masih belum sempurna.Namun kini tidak lagi hanya seperti kabut tanpa arti.Ada garis samar yang membentuk sosok.Pelangi menatap dengan kagum.“Kamu… mulai punya bentuk…”Asa bergerak pelan.Dan un

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 262 - SAAT ASA MENDEKATI SUMBER NYA

    Cahaya dari lingkaran itu semakin terasa kuat, bukan hanya terlihat, tapi juga seperti berdenyut langsung di dalam kesadaran mereka. Pelangi berdiri dengan napas yang mulai terasa tidak stabil. Ia tidak takut, tapi ada sesuatu yang terlalu besar untuk diabaikan.“Asa… pelan…” katanya dengan suara yang lebih lembut.Namun Asa tidak berhenti.Getarannya berubah. Tidak lagi ragu, tidak lagi hanya penasaran. Kini ada sesuatu yang lebih kuat, seperti dorongan yang datang dari dalam dirinya sendiri.“Aku ngerasa… dia nggak bisa berhenti…” bisik Pelangi.Aruna mengangguk pelan.“Ini bukan sekadar keinginan. Ini tarikan yang lebih dalam.”Sosok besar langsung mencatat.“Korelasi tinggi antara entitas dan sumber.”Pelangi menelan ludah.“Berarti… ini memang buat dia…”Asa semakin mendekat ke lingkaran itu.Cahaya yang awalnya lembut kini mulai sedikit lebih terang, namun tetap tidak menyilaukan. Justru terasa seperti sesuatu yang menyambut.Pelangi melangkah lebih dekat.“Asa… kamu yakin…” tan

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 261 - DI TEMPAT ARAH MULAI TERASA

    Langkah mereka setelah melewati batas itu terasa berbeda. Bukan karena ruangnya berubah drastis, melainkan karena cara mereka merasakannya yang kini tidak lagi sama. Jika sebelumnya setiap langkah dipenuhi rasa ingin tahu yang mendesak, kini semuanya terasa lebih pelan, lebih sadar.Pelangi berjalan sambil sesekali melihat ke sekeliling.“Aku ngerasa… di sini lebih luas…” katanya pelan.Aruna mengangguk.“Bukan hanya luas secara ruang, tapi juga kemungkinan.”Sosok besar menambahkan.“Variabel meningkat signifikan.”Pelangi tertawa kecil.“Berarti kita bakal nemu banyak hal lagi ya…”Asa bergerak di sampingnya. Getarannya stabil, tidak lagi berubah ubah seperti sebelumnya. Namun ada sesuatu yang baru. Gerakannya kini tidak hanya mengikuti, tapi juga seolah memilih jalur yang ia rasa tepat.Pelangi memperhatikannya.“Kamu… udah mulai nentuin arah sendiri ya…”Asa bergetar pelan.Seperti mengiyakan.Pelangi tersenyum.“Bagus…”Sunyi.Namun kali ini…sunyi itu tidak lagi hanya ruang koso

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 28– Di Antara Hidup dan Amarah

    Jeritan memenuhi rumah Pak Seno Aruna terangkat ke udara, kedua kakinya menggantung. Tangannya mencakar lehernya sendiri yang sedang dicekik kuat oleh Embun. Wajah Embun kosong, matanya terbuka lebar namun tak berfokus—jelas bukan dirinya yang sedang berkuasa. “EMBUN! BERHENTI!” teriak Bagas pani

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 27– Jeritan yang Tidak Seharusnya Ada

    Saat perhatian semua orang masih tertuju pada Aruna, rumah Pak Seno kembali dipenuhi suasana canggung. Aruna sudah mulai tenang, meski wajahnya masih pucat. Bu Seno memintanya berbaring kembali, sementara Alvaro duduk di dekat pintu kamar, berjaga tanpa berkata apa-apabBagas mencoba mencairkan suas

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 26 – Ketika Semua Bertanya

    Kesadaran Aruna kembali perlahan, seperti seseorang yang muncul ke permukaan air setelah lama tenggelam. Kelopak matanya terasa berat, kepalanya masih berdenyut samar. Suara-suara di sekitarnya terdengar kabur, saling bertumpuk, hingga akhirnya satu suara paling dekat menyentuh telinganya.“Aruna!”

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 24– Tubuh yang Menyerah

    Satu per satu mereka selesai mandi. Suasana rumah Pak Seno kembali ramai oleh suara langkah kaki, gesekan kursi, dan aroma masakan Bu Seno yang menggoda dari meja makan. Wedang jahe mengepul hangat di beberapa gelas, menunggu untuk diminum bersama.Bagas datang paling awal ke meja makan, rambutnya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status