Home / Horor / TEROR SINDEN GHAIB / BAB - 152 BAYANGAN YANG BELUM PERGI

Share

BAB - 152 BAYANGAN YANG BELUM PERGI

Author: Vika moon
last update publish date: 2026-03-10 10:46:27
Hari itu desa terlihat sangat tenang.

langit biru terbentang luas tanpa awan tebal, dan angin dari arah sawah membawa aroma padi yang mulai menguning. Dari kejauhan terdengar suara ayam berkokok dan anak-anak yang berlarian di jalan kecil yang membelah desa.

Semua tampak normal.

Namun bagi Aruna, ketenangan itu terasa sedikit berbeda.

Ia duduk di tangga rumah Pak Seno, menatap hutan yang berdiri gelap di ujung desa. Cahaya matahari tidak pernah benar-benar menembus bagian terdalam hutan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • TEROR SINDEN GHAIB    BABA 197 - GELOMBANG YANG MENJALAR

    Perjalanan keluar dari hutan tidak lagi seperti sebelumnya.Tidak ada lagi rasa dikejar.Tidak ada lagi tekanan yang menyesakkan dada.Namun justru—itulah yang membuat semuanya terasa… asing.Aruna berjalan di depan.Langkahnya tenang.Namun pikirannya—tidak berhenti bekerja.Koneksi di dalam dirinya masih aktif.Namun kali ini—tidak menyerang.Tidak membanjiri.Melainkan… memberi.Memberi gambaran.Memberi arah.Memberi rasa.Ia bisa merasakan kehidupan di sekitar mereka.Setiap akar yang tumbuh.Setiap aliran kecil di dalam tanah.Bahkan—perubahan yang lebih halus.Yang sebelumnya tidak pernah ia sadari.“Ini… terlalu jelas…”Ia berbisik pelan.Pelangi yang berjalan di sampingnya langsung menoleh.“Apa?”Aruna menggeleng sedikit.“Aku bisa merasakan… lebih jauh dari hutan ini.”Sunyi.Pelangi mengerutkan kening.“Seberapa jauh?”Aruna menutup mata sejenak.Mencoba memahami.Namun begitu ia membuka—tatapannya berubah.Lebih serius.“Desa…”Ia berkata pelan.“…sudah mulai terpeng

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 197 - DUNIA YANG TIDAK LAGI SAMA

    Kesadaran Aruna kembali perlahan.Seperti naik ke permukaan setelah tenggelam terlalu dalam.Suaranya datang lebih dulu.Pelan.Jauh.Namun semakin jelas.“Aruna…?”Itu suara Pelangi.Lembut.Penuh khawatir.Aruna membuka matanya.Cahaya redup dari ruang inti menyambutnya.Namun tidak lagi menyilaukan.Tidak lagi menekan.Lebih… tenang.Lebih stabil.Ia menarik napas panjang.Untuk pertama kalinya—napas itu terasa ringan.“Aku… di sini…”Suaranya pelan.Namun jelas.Pelangi langsung mendekat.Matanya berkaca-kaca.“Kamu bikin jantungku hampir berhenti…”Aruna tersenyum tipis.“Maaf…”Bima terduduk tak jauh dari mereka.“Gue udah siap-siap bikin pidato perpisahan…”Embun langsung menepuk bahunya.“Jangan ngomong gitu!”Bagas berdiri dengan tangan di pinggang.Namun ekspresinya sedikit lebih santai dari sebelumnya.“Yang penting dia kembali.”Hileon masih memperhatikan sekeliling.Namun sorot matanya berubah.Tidak setegang sebelumnya.“Ada perubahan.”Ia berkata.Zareth tersenyum tipi

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 195 - KESADARAN YANG MULAI MENUNDUK

    Di dalam inti—tidak ada waktu.Tidak ada arah.Tidak ada batas yang jelas antara satu hal dengan yang lain.Hanya—kesadaran.Aruna berdiri di tengah jaringan yang tak berujung.Cahaya dan bayangan berputar di sekelilingnya.Namun tidak liar.Tidak bertabrakan.Kini—keduanya mengalir.Tenang.Seimbang.Dan di hadapannya—sosok itu.Tidak lagi sebesar sebelumnya.Namun juga tidak melemah.Justru—lebih fokus.Lebih padat.Seperti seluruh sistem kini terpusat padanya.“Kamu tidak melawan.”Suaranya terdengar jelas.Tanpa gema.Tanpa gangguan.Aruna menggeleng pelan.“Aku tidak perlu.”Sunyi.Sosok itu memperhatikannya.Lebih lama dari sebelumnya.“Semua sebelumnya mencoba menghentikan dengan kekuatan.”Ia berkata.“Kamu tidak.”Aruna menatapnya.“Kamu bukan sesuatu yang bisa dihancurkan begitu saja.”Ia menjawab.“Kamu sistem.”Sunyi.Sosok itu tidak menyangkal.Namun—ada perubahan kecil.Seperti sesuatu yang… dipertimbangkan.“Kalau begitu…”Ia berkata pelan.“…apa yang kamu lakukan

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 194 - BATAS YANG DI UJI

    Benturan itu belum berhenti.Cahaya merah dan perpaduan cahaya-bayangan milik Aruna terus saling menekan di tengah ruang inti. Getarannya menjalar ke setiap akar, ke setiap dinding, bahkan ke udara yang terasa seperti ikut berdenyut.Pelangi berusaha berdiri tegak.Meski tubuhnya masih gemetar—ia tidak mundur lagi.“Aruna!” teriaknya.Namun suara itu nyaris tenggelam dalam gemuruh energi.Aruna tidak menjawab.Bukan karena tidak mau—namun karena tidak bisa.Seluruh fokusnya terkunci pada satu hal—menahan.Menyeimbangkan.Tidak membiarkan arus itu menembus.Di dalam dirinya—koneksi itu bergetar hebat.Seperti jaringan yang dipaksa bekerja melampaui batasnya.Ia bisa merasakan semuanya—akar-akar yang bergerak,jalur energi yang berubah,bahkan denyut inti itu sendiri.Namun—itu terlalu banyak.“Kalau aku kehilangan fokus…”Ia berbisik dalam hati.“…semuanya runtuh.”Sosok di depannya melangkah maju lagi.Tekanannya bertambah.“Kamu mulai goyah.”Suaranya tenang.Namun tajam.Aruna

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 193 - INTI YANG BANGKIT

    Langkah mereka melambat. Bukan karena ragu— melainkan karena tekanan yang semakin terasa. Jalur yang mereka masuki terasa berbeda. Tidak ada akar yang menyerang. Tidak ada tanah yang bergerak liar. Semuanya— terlalu tenang. Namun justru itu yang membuat bulu kuduk merinding. Pelangi berjalan di samping Aruna. Tangannya masih menggenggam erat. “Ini… terlalu sunyi.” Bisiknya pelan. Aruna tidak menjawab. Matanya fokus ke depan. Namun pikirannya— bekerja cepat. Koneksi di dalam dirinya semakin kuat. Namun kali ini— tidak hanya memberi informasi. Ia juga merasakan sesuatu yang lain. Kesadaran. Bukan satu— namun banyak. Dan semuanya— terarah ke satu titik. “Di depan…” Ia berkata pelan. Pelangi menelan ludah. “Seberapa dekat?” Aruna menarik napas dalam. “Sangat dekat.” Mereka terus berjalan. Langkah demi langkah. Hingga akhirnya— mereka tiba. Ruang itu terbuka. Lebih luas dari yang sebelumnya. Namun bukan seperti ruan

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 192 - LABIRIN YANG HIDUP

    Langkah kaki mereka menggema di antara akar dan tanah yang terus berubah.Tidak ada jalan yang benar-benar tetap.Tidak ada arah yang benar-benar aman.Hutan itu—hidup.Dan kini—ia bereaksi.Aruna berlari di depan.Napasnya teratur, meski tekanan di dalam dirinya semakin berat.Koneksi itu terus bekerja.Memberi jalur.Namun juga—menunjukkan bahaya.“Ke kanan!” teriaknya.Tanpa ragu—semua mengikuti.Pelangi hampir tersandung, namun Aruna menariknya.Bima di belakang mengumpat pelan.“Ini bukan lari biasa… ini kayak dikejar ujian hidup!”Embun sudah hampir menangis.“Aku nggak kuat lagi…”Bagas menarik tangannya lebih kuat.“Kamu kuat.”Hileon tetap fokus.Matanya terus mengamati perubahan.“Dia mengunci jalur secara bertahap…”Ia berkata di tengah lari.“Dia tidak terburu-buru.”Zareth, seperti biasa, masih terlihat tenang.Namun langkahnya cepat.“Karena dia tahu kita akan kelelahan.”Sunyi.Namun kali ini—tidak ada yang membalas.Karena mereka semua tahu—itu benar.Aruna meras

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status