LOGINRara pindah ke kosan murah setelah gajinya dipotong. Kosan itu sepi, harga sewanya setengah dari tempat lain. Tiap malam jam 02.00 tepat, seseorang mengetuk pintunya sambil menyebut namanya dengan suara berbisik. Awalnya Rara mengira itu tetangga iseng. Tapi suara itu makin jelas… makin dekat… dan mulai memanggil dari dalam kamar. Rara mencoba pergi, tapi kosan itu memiliki aturan yang tidak boleh dilanggar—aturan yang bahkan pemilik kos sendiri tak berani jelaskan. Begitu Rara melanggar satu aturan kecil, ia membuka sesuatu yang seharusnya tetap terkunci. Kamar 2A memanggilnya. Dan ia tidak sendirian di sana.
View MoreRara menarik koper kecilnya melewati gerbang kos yang cat temboknya mulai mengelupas. Udara sore itu lembap, dan aroma tanah basah masih menempel setelah hujan turun siang tadi. Kos “Melati Indah”—nama yang kelewat manis untuk bangunan tua seperti ini—berdiri sunyi, seolah semua penghuninya sedang menahan napas.
Secara fisik, Rara memiliki penampilan yang tidak mencolok namun memikat dengan caranya sendiri: tinggi sedang, tubuh ramping karena lebih sering melewatkan makan daripada diet sengaja, dan rambut hitam gelombang ringan yang selalu ia ikat sembarangan ketika bekerja. Wajahnya berkulit sawo matang halus, dengan mata gelap yang terlihat lelah namun tajam, jenis tatapan yang menyimpan cerita panjang di baliknya. Ia jarang memakai riasan kecuali lip balm dan bedak tipis. Rara bekerja sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan distribusi alat rumah tangga, kantor kecil dengan ritme cepat, tuntutan banyak, dan gaji pas-pasan. Ia mengurus invoice, laporan barang keluar, serta menjawab telepon dari distributor yang sering marah tanpa alasan. Tempat kerjanya terletak di lantai dua ruko sempit di pinggir kota; meja-meja rapat berdesakan, udara AC sering mati, dan sistem kerja yang berantakan membuat Rara harus lembur meski tak pernah dihargai. Bagi Rara, tempat ini bukan sekadar kos baru. Ini titik start yang tidak ia minta. Tiga bulan lalu, ayahnya—satu-satunya keluarga yang tersisa—meninggal mendadak karena kecelakaan. Gaji kantornya yang kecil tak cukup untuk mempertahankan kontrakan lama. Barang-barang milik ayahnya ia jual, kecuali satu gelang logam kusam yang kini melingkar di pergelangan tangannya, warisan yang terlalu sederhana untuk dijual dan terlalu berharga untuk dilepas. Jadi ketika perusahaannya memotong gaji, kos murah ini terasa seperti “pelabuhan terakhir”. Ia tidak suka, tapi ia butuh tempat tinggal. Dan dunia tidak memberi banyak pilihan pada orang yang baru saja kehilangan segalanya. Kosan Melati Indah berada di ujung gang sempit yang jarang dilalui orang, diapit deretan rumah-rumah tua yang catnya memudar dan pagar besinya berkarat. Gang itu hanya cukup untuk dilewati satu motor; jika dua berpapasan, salah satunya harus menepi ke dinding yang dipenuhi lumut. Di ujung gang, pepohonan rimbun tumbuh tanpa terawat, membuat area sekitar kos sering terasa lebih gelap dari seharusnya, bahkan di siang hari. Lampu jalan di dekat tikungan sering mati, menyisakan suasana muram yang membuat siapa pun ingin cepat-cepat lewat tanpa menoleh. Lingkungan sekitar kos selalu sunyi pada malam hari, bukan jenis sunyi yang menenangkan, tetapi sunyi yang terasa seperti ruang kosong yang sedang mengamati. Sesekali terdengar suara anjing menggonggong jauh di belakang, atau suara motor lewat cepat seakan pengendara enggan berhenti lama di area itu. Warung terdekat hanya buka sampai magrib, dan setelah itu, gang berubah seperti lorong panjang yang hanya diterangi cahaya remang lampu rumah warga. Di tengah suasana muram itulah Kos Melati Indah berdiri. Pemilik kos, Bu Narti—perempuan sepuh dengan rambut digelung dan pandangan tajam—menyambutnya dengan senyum tipis. “Kamar 2A, ya? Sudah saya bersihkan. Murah karena letaknya paling pojok. Tapi tenang, aman kok.” Nada suaranya lembut, tapi matanya seperti menimbang sesuatu dari wajah Rara. Rara hanya mengangguk. “Iya, Bu. Saya nggak pilih-pilih, pokoknya bisa tidur.” Bu Narti mengerling gelang tua di tangan Rara, tapi tak berkata apa-apa. Hanya diam sebentar, lalu berjalan memandu Rara menaiki tangga. Tangga menuju lantai dua berderit setiap kali diinjak. Lampu lorong berkedip-kedip, memancarkan cahaya kuning pucat yang membuat dinding tampak seperti kulit tua yang mengelupas. Rara melirik pintu-pintu kamar lain. Sebagian tertutup rapat, sebagian setengah terbuka, namun tak ada suara apa pun. Sunyi. Terlalu sunyi. “Kalau ada apa-apa, panggil saya,” kata Bu Narti sambil menunjuk kamar paling pojok. “Oh, satu lagi… kalau malam sudah lewat jam dua, jangan buka pintu.” Rara menoleh. “Maksudnya apa, Bu?” Tapi Bu Narti sudah berjalan turun tanpa menjawab. Rara mendesah. “Ya ampun… tempat murah memang selalu ada bonus misterinya.” Ia membuka pintu kamar 2A. Kasurnya tipis, baunya apek, tapi masih masuk akal untuk harga yang ia bayar. Ia melempar koper, membaringkan badan, dan memejamkan mata sejenak. Keletihan mengalir dari kepala sampai ujung kaki. Malam merayap perlahan. Hujan turun rintik-rintik lagi, mengetuk genteng seperti jari-jari kecil yang tak sabar. Lampu ia matikan. Sunyi menebal seperti selimut dingin. Pukul 22.00. Pukul 23.00. Pukul 00.30. Hanya gerimis. Rara mulai terlelap. Hingga… Tok. Tok. Tok. Ketukan itu pelan. Tapi terlalu jelas untuk dianggap mimpi. Rara membuka mata lebar-lebar. Jantungnya menghantam tulang rusuk. Ia bangkit setengah duduk. “Bu Narti?” panggilnya. Diam. Ia mengambil ponselnya. Pukul 02.00 tepat. Rara mengembuskan napas gugup. Serius? Hari pertama? Yang bener aja… Ia mendekati pintu. Ketukan berhenti. Ia tempelkan telinga. Hening. Sampai sebuah suara, nyaris hanya hembusan napas, menggelitik dari balik pintu. “Raa… raa…” Rara mundur spontan. Kaki dingin. Tenggorokan kering. Itu bukan suara Bu Narti. Bukan suara manusia normal. Suara itu terdengar seperti seseorang yang menempelkan bibirnya di celah pintu, membisikkan namanya perlahan agar tidak terdengar oleh orang lain. “Siapa itu?” tanya Rara, suara bergetar. Tak ada jawaban. Hanya napas panjang… perlahan… seperti sedang menahan rintihan. Lalu ketukan itu datang lagi. Tok. Tok. Tok. Pelan. Teratur. Berat. Rara memundurkan tubuhnya sampai punggungnya menempel dinding. Ia memegang gelang ayahnya tanpa sadar. “Ya Tuhan, baru juga pindah…” gumamnya, napas tak karuan. Jam bergeser. 02.03. Ketukan berhenti. Napas itu lenyap. Udara kembali mati. Rara kembali ke kasur sambil memaksa tubuhnya rileks. Ia menarik selimut sampai dagu. Tenang. Ini cuma tempat tua. Bangunan suka bunyi sendiri. Nggak usah lebay. Ia hampir berhasil menenangkan diri. Sampai suara lain datang. Ssssst… Seperti kain diseret pelan di lantai lorong. Perlahan. Sangat perlahan. Bergerak… menjauh. Rara tak berani bangun lagi. Ia memejamkan mata rapat-rapat sampai pagi. --- Matahari pagi yang pucat menyelinap dari celah tirai. Rara bangun dengan kepala berat. Ia keluar kamar untuk mencari siapa pun yang bisa menjelaskan suara semalam. Lorong tetap sepi. Pintu 2B terbuka sedikit. Seorang perempuan muda dengan wajah pucat mengintip. “Kamu anak baru?” suaranya nyaris bisikan. “Iya… semalam ada yang ketuk pintu saya. Kamu dengar?” Perempuan itu menatapnya lama, lalu menutup pintunya perlahan tanpa sepatah kata. Rara mengangkat tangan pasrah. “Great.” Di lantai bawah, Bu Narti sedang menyapu. Rara mendekat. “Bu, soal semalam ada yang...” “Ssst.” Bu Narti tidak menoleh. “Jangan dibicarakan di luar kamar.” “Bu, itu jam dua tepat. Ada yang manggil nama saya.” Bu Narti berhenti menyapu. Menatapnya tanpa berkedip. “Kalau ada suara apa pun lewat jam dua, anggap bukan buat kamu.” “Tapi itu manggil nama saya!” “Anggap. Bukan. Buat. Kamu.” Suaranya keras dan datar. Rara terdiam. Itu bukan nasihat. Itu larangan. Ia kembali ke kamar dengan dada berat, membuka pintu… lalu membeku. Di bawah pintu, di ambang lantai, ada tiga bekas jari yang tercetak samar. Seperti seseorang menekan kayu dari luar… lalu menyeret jari-jari itu turun perlahan. Warnanya gelap. Bukan tanah. Dan bukan sesuatu yang ingin Rara kenali. Rara menutup pintu cepat-cepat. Badannya gemetar. Satu hal pasti: Apa pun itu… semalam berdiri tepat di depan pintunya. Dan ia tahu nama Rara.Langit menggantung rendah, kelabunya pekat dan berat seperti kain basah yang belum diperas. Angin berembus malas, membawa bau tanah yang belum tersentuh hujan. Rara berdiri di dekat jendela ruang tengah rumah Lia, memperhatikan awan bergerak perlahan, seolah ragu menjatuhkan isinya. Beberapa menit kemudian, rintik turun dengan halus, mengetuk genteng dengan irama yang menenangkan.Hujan ringan itu menjadi latar yang pas untuk malam yang terasa hangat. Meja makan dipenuhi suara tawa. Bu Rindang menggeser piring dengan cekatan, wajahnya tenang, matanya berbinar melihat rumahnya kembali riuh.“Dimas, sumpah, lemparan kamu tadi tuh miring,” kata Rara sambil menyendok nasi.“Bukan miring, itu strategi,” bantah Dimas cepat. “Biar lawan bingung.”“Yang bingung kamu sendiri,” potong Lia.Bu Rindang tertawa kecil. “Yang penting pulang bawa keringat, bukan bawa masalah.”Rara ikut tertawa. “Aku lihat lemparanmu. Yang satu bagus, yang tiga… niatnya bagus.”Dimas melotot pura-pura tersingg
Angkot itu pengap, bau bensin bercampur dengan sisa keringat sore yang menempel di jok-jok vinilnya. Musik dangdut lama mengalun dari radio kecil di dekat setir, suaranya pecah dan sumbang. Penumpang duduk rapat, sebagian menatap kosong ke luar jendela, sebagian terkantuk memeluk tas. Cahaya lampu kabin temaram memantul di kaca buram, membuat bayangan wajah terlihat ganda dan samar. Saat Rara dan Dimas naik, belum sempat duduk dengan benar, mesin sudah meraung, dan angkot kembali melaju. Rara duduk di dekat pintu, Dimas di sampingnya. Dari balik kaca angkot, mata Dimas menyelidik ke luar. Orang yang mengikuti mereka telah menghilang. Ke mana perginya?Angkot melaju pelan, berhenti–jalan, berhenti–jalan, membuat hati Dimas semakin tak nyaman. Melewati bangunan-bangunan toko kecil, warung, lalu deretan rumah yang mulai jarang. Lampu jalan menyala satu-satu.“Dim,” panggil Rara. Tidak dijawab. “Dimas?” Masih diam.Rara menepuk lengan Dimas pelan. “Hei. Kamu kenapa?”Dimas tersent
Langit sore menggantung rendah, warnanya lembut seperti permen kapas yang meleleh. Angin berembus pelan dari arah barat, membawa aroma debu lapangan dan daun kering. Lamat-lamat suara bola yang beradu dengan lapangan terdengar berirama. Suara sepatu bergesek, tawa, dan seruan menambah sorak-sorai kegembiraan setelah jam pulang sekolah.Dari kejauhan, mata Rara sudah menemukannya. Bahkan, sebenarnya Rara tak perlu mencari. Dimas senang sekali bermain basket. Bahkan ia kapten tim basket sekolahnya. Jadi ke sanalah ia sekarang. Langkahnya mantap tapi ringan; energi hari ini memang berbeda.Rara datang tanpa memberi kabar lebih dulu. Ia berhenti di bawah pohon ketapang besar di sisi lapangan, duduk di bangku panjang yang cat hijaunya sudah sedikit mengelupas. Dari sana, ia bisa melihat seluruh lapangan dengan jelas.Dimas tertawa lepas ketika berhasil mencuri bola dari temannya. Rara tersenyum. Ada nyeri kecil yang hangat di dadanya. Anak itu… bukan lagi anak kecil. Bahunya menurun leb
Pagi itu, udara di halaman rumah Lia masih menyimpan sisa embun. Rara melangkah keluar sambil merapikan rambutnya, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir, ia benar-benar tersenyum bahkan sebelum matahari naik penuh. Rasanya ringan, seperti sesuatu yang membebani pundaknya selama ini tiba-tiba mengendur. Lia muncul dari pintu sambil menggembungkan pipinya karena terburu-buru memasukkan roti ke mulut. Di belakangnya, Dimas sudah rapi dengan seragam SMA dan tas biru yang tampak terlalu kecil untuk tubuhnya. Begitu melihat Rara, mata Dimas langsung berbinar dan melambai-lambaikan tangannya heboh, “Mbak Raraaa! Hati-hati di jalan!” Tapi setelah itu ia langsung berlari melewati gerbang rumah, tidak berani mengangkat kepala. Kelakuannya membuat beberapa ibu-ibu tetangga menoleh. Rara tertawa kecil, membalas lambaian itu dengan hangat. “Kamu juga! Jangan lari-lari nanti jatuh!” serunya. Demi mendengar hal itu, kedua pipi Dimas terasa panas, dan malah mempercepat larin
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.