Home / Horor / TEROR SINDEN GHAIB / Bab 50 - Suasana Semakin Menegangkan

Share

Bab 50 - Suasana Semakin Menegangkan

Author: Vika moon
last update publish date: 2026-01-18 11:17:31
Suasana di kamar Embun masih membeku ketika Pak Seno dan Bu Seno datang tergesa, dipanggil oleh Alvaro yang berlari ke ruang depan. Lampu rumah dinyalakan semua, mengusir bayangan gelap yang sejak tadi menekan udara. Namun meski cahaya memenuhi ruangan, rasa dingin itu tidak sepenuhnya pergi.

Pak Seno berdiri di ambang pintu kamar Embun. Wajahnya yang biasanya tenang kini terlihat serius, sorot matanya tajam saat melihat Embun yang terbaring lemah di pelukan Aruna.

“Geser sedikit,” ucapnya p
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 250 - SUARA YANG KEMBALI DIINGAT

    Kontak itu tidak langsung berubah menjadi sesuatu yang jelas. Justru sebaliknya, ia terasa rapuh, seperti benang tipis yang baru saja ditemukan setelah lama hilang. Namun meskipun rapuh, keberadaannya tidak bisa disangkal.Pelangi masih berdiri di batas itu. Kesadarannya berada di dua sisi sekaligus. Di belakangnya, Aruna, sosok besar, dan perempuan penjaga. Di depannya, sosok yang selama ini hilang.Ia menahan napas, takut jika terlalu banyak bergerak, semuanya akan kembali menghilang.“Aku… masih di sini…” bisiknya pelan.Sosok itu tidak langsung menjawab. Namun tatapannya tidak lagi kosong seperti sebelumnya. Ada gerakan kecil, seperti seseorang yang baru saja terbangun dari tidur yang sangat panjang.“Aku… mendengar…” suara itu kembali terdengar, sangat pelan, hampir seperti bisikan yang tertahan.Pelangi menahan air matanya.“Kamu beneran dengar…” katanya.Di belakangnya, Aruna memperhatikan dengan penuh fokus.“Pertahankan koneksinya,” ucapnya lembut.Sosok besar menambahkan.“S

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 249 - SAAT DUA DUNIA SALING MENYENTUH

    Getaran itu semakin jelas. Tidak lagi hanya terasa sebagai jarak yang menyusut, tetapi seperti dua sisi yang mulai saling mengenali keberadaan satu sama lain. Ruang di antara mereka tidak lagi kosong. Ia dipenuhi oleh aliran yang bergerak pelan namun pasti, seperti sesuatu yang selama ini terpisah akhirnya menemukan arah pulang. Pelangi berdiri dengan mata terpejam, napasnya teratur, namun jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya. “Aku masih ngerasain dia…” katanya pelan. Aruna tetap di sampingnya. “Pertahankan.” Sosok besar berdiri dengan fokus penuh. “Koneksi stabil, namun belum sempurna,” katanya. Pelangi membuka matanya sedikit. “Dia masih jauh… tapi nggak sejauh tadi…” Perempuan itu melangkah lebih dekat, hampir sejajar dengan Pelangi. “Dia… mulai mendengar…” suaranya bergetar halus. Nyanyian dari dua arah itu kini tidak lagi bertabrakan. Mereka mulai selaras, meskipun belum sepenuhnya menyatu. Ada harmoni yang terbentuk, rapuh namun nyata. Pelangi men

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB - 248 JARAK YANG MULAI MENYUSUT

    Jejak itu tidak lagi terasa samar seperti sebelumnya. Kini, keberadaannya semakin jelas, seolah setiap langkah yang mereka ambil membuat jarak yang tadinya begitu jauh mulai perlahan menyusut. Ruang di sekitar mereka juga ikut berubah, tidak lagi terasa seperti satu tempat yang diam, melainkan seperti aliran yang terus bergerak mengikuti arah tujuan mereka.Pelangi berdiri dengan napas sedikit lebih cepat. Bukan karena lelah, tetapi karena sesuatu di dalam dirinya ikut bergetar semakin kuat.“Aku ngerasa… kita makin dekat,” katanya pelan.Aruna mengangguk tanpa ragu.“Iya. Resonansinya semakin kuat.”Sosok besar berdiri di sisi mereka, kali ini tidak lagi hanya mencatat, tetapi juga terlihat lebih fokus dari sebelumnya.“Jarak emosional menurun,” katanya.Pelangi menoleh sambil tersenyum kecil.“Kamu kalau ngomong itu… kayak pakai bahasa ilmiah terus.”Sosok besar berhenti sejenak, lalu berkata lebih sederhana.“Kita… semakin dekat dengannya.”Pelangi mengangguk.“Nah… itu lebih gampa

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 247- JEJAK YANG MASIH TERSISA

    Ruang itu terasa berbeda setelah kesadaran tentang sosok yang hilang mulai muncul. Tidak lagi hanya berputar di antara penjaga dan inti, kini ada arah baru yang terbentuk, seolah sesuatu yang selama ini tersembunyi mulai memanggil dari kejauhan.Pelangi berdiri dengan mata sedikit menyipit, mencoba merasakan sesuatu yang belum sepenuhnya terlihat.“Aku ngerasa… ada arah lain sekarang,” katanya pelan.Aruna mengangguk.“Iya. Karena kita tidak lagi hanya melihat yang ada di sini.”Sosok besar berdiri lebih dekat, posisinya kini hampir sejajar dengan mereka berdua.“Fokus bergeser ke entitas kedua,” katanya.Pelangi menoleh.“Yang tadi… orang itu…”Aruna menatap ke depan.“Iya. Dia bagian dari kunci.”Perempuan itu berdiri tidak jauh dari inti. Tatapannya tidak lagi hanya tertuju pada cahaya itu, melainkan mulai mengikuti arah yang sama dengan mereka.“Jejaknya… masih ada…” katanya pelan.Sunyi.Namun sunyi itu bukan kosong.Ia seperti jalan yang belum dilalui.Pelangi menarik napas panj

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 246 - GERBANG YANG MULAI TERBUKA

    Perubahan itu terasa semakin nyata. Bukan hanya pada perempuan itu, tetapi juga pada ruang yang selama ini menyelimuti mereka. Udara yang tadinya terasa padat kini mulai lebih ringan, seolah sesuatu yang lama terkunci perlahan mulai membuka diri.Pelangi masih berdiri dengan posisi yang sama, namun ia tahu dirinya tidak lagi berada di titik yang sama seperti sebelumnya. Sentuhan yang tadi terjadi meninggalkan jejak yang tidak bisa dihapus begitu saja.“Aku ngerasa… semuanya berubah sedikit,” katanya pelan.Aruna mengangguk.“Iya. Karena sekarang bukan hanya dia yang menjaga.”Sosok besar berdiri lebih dekat dari sebelumnya. Tidak ada lagi jarak yang terasa dingin.“Perubahan sistem mulai terjadi,” katanya.Pelangi menoleh.“Berarti ini berhasil ya?”Sosok besar mengangguk.“Proses sudah dimulai.”Perempuan itu memperhatikan mereka. Tatapannya tidak lagi berat, namun masih menyimpan sesuatu yang dalam.“Sudah lama… tidak ada perubahan,” katanya pelan.Pelangi tersenyum kecil.“Ya sekar

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 245 - SAAT BEBAN TIDAK LAGI SENDIRI

    Sentuhan itu tidak terasa seperti menyentuh sesuatu yang asing. Tidak dingin, tidak kosong. Justru hangat, sangat halus, seolah ada kehidupan yang selama ini hanya bersembunyi kini mulai muncul ke permukaan.Pelangi tidak menarik tangannya. Ia tetap di sana, membiarkan dirinya terhubung dengan sesuatu yang sebelumnya hanya bisa ia rasakan dari jauh.“Aku… beneran bisa ngerasain kamu…” bisiknya pelan.Perempuan itu tidak menjawab dengan kata, namun nyanyian lembut kembali mengalun. Kali ini sangat dekat, seolah berasal langsung dari sentuhan itu.Aruna memperhatikan dengan tenang. Ia tidak ikut menyentuh, namun ia merasakan perubahan yang terjadi di ruang itu.“Koneksi sudah terbentuk,” katanya pelan.Sosok besar mengangguk sedikit.“Transfer emosi terdeteksi.”Pelangi menoleh sedikit sambil tersenyum kecil.“Kamu kalau ngomong kayak gitu, jadi kayak ini eksperimen…”Sosok besar terdiam sejenak.Lalu berkata lebih pelan.“Aku… ikut merasakan perubahan.”Pelangi tersenyum lebih lebar.“

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 64 – Setelah Pamitan, yang Tersisa

    Perjalanan kembali dari sanggar berlangsung lebih sunyi dari biasanya. Motor-motor melaju pelan menyusuri jalan desa yang diapit sawah dan pepohonan. Matahari sudah condong ke barat, cahayanya jatuh miring, menciptakan bayangan panjang di tanah. Tidak ada yang berbicara. Seolah semua masih menyimpa

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 63 – Saat Pamitan Dimulai

    Matahari sudah naik setengah lingkaran ketika halaman sanggar mulai dipenuhi orang-orang desa. Suara langkah kaki, bisik-bisik pelan, dan gesekan kain menyatu dengan udara pagi yang masih lembap. Tidak ada tawa berlebihan. Tidak ada suara riuh. Seolah semua yang hadir memahami bahwa hari ini bukan

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 62 – Malam Menjelang Pamitan

    Sore menjelang malam membawa perubahan yang terasa jelas di udara desa. Langit berwarna kelabu pucat, seolah matahari enggan tenggelam sepenuhnya. Angin berembus pelan, namun dinginnya menusuk kulit lebih dalam dari biasanya. Anak-anak KKN telah kembali ke rumah Pak Seno setelah latihan terakhir di

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 61 - Gerakan Yang Tidak Bisa Di Hentikan

    Sore itu, langit desa tampak muram meski matahari belum benar-benar tenggelam. Awan kelabu menggantung rendah, seolah menekan atap rumah Pak Seno dengan beban yang tak kasatmata. Anak-anak KKN duduk berkelompok di ruang tengah, sebagian menunduk, sebagian melamun, namun tak satu pun benar-benar tena

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status