Beranda / Horor / TEROR SINDEN GHAIB / Bab 49 – Jejak yang Tak Terlihat

Share

Bab 49 – Jejak yang Tak Terlihat

Penulis: Vika moon
last update Tanggal publikasi: 2026-01-18 11:13:50
Malam turun perlahan di Desa Sumberjati, membawa udara lembap dan aroma tanah basah yang khas. Lampu-lampu rumah warga menyala satu per satu, menciptakan cahaya kuning redup yang tampak hangat di mata, tapi tidak sepenuhnya menenangkan hati. Di rumah Pak Seno, anak-anak KKN berkumpul di ruang tengah setelah makan malam, duduk melingkar dengan jarak yang lebih renggang dari biasanya.

Ada sesuatu yang berubah.

Aruna duduk bersila dengan punggung tegak, map catatan di pangkuannya. Wajahnya tamp
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 258 - KETIKA ASA BELAJAR MERASAKAN

    Ruang itu tidak lagi terasa seperti sebelumnya. Jika dulu dipenuhi oleh gema masa lalu dan jejak yang belum selesai, kini ia mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih hidup. Bukan karena banyaknya hal yang terjadi, tetapi karena ada sesuatu yang baru yang mulai tumbuh di dalamnya.Asa bergerak pelan di sekitar Pelangi. Tidak lagi seperti kabut tanpa arah, melainkan seperti sesuatu yang mulai mengenali ruang tempat ia berada. Gerakannya masih sederhana, belum sepenuhnya stabil, namun sudah jauh lebih jelas dibandingkan sebelumnya.Pelangi memperhatikannya dengan mata berbinar.“Aku ngerasa dia makin ngerti…” katanya pelan.Aruna berdiri di sampingnya, tetap tenang namun tidak melepaskan perhatian.“Perkembangan itu alami,” jawabnya.Sosok besar menambahkan.“Adaptasi meningkat seiring interaksi.”Pelangi tersenyum kecil.“Iya… tapi tetep aja… cepat banget…”Asa bergerak mendekat ke arah Pelangi, lalu berhenti di depan wajahnya. Seolah mencoba melihat lebih dekat, meskipun ia belum benar

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 257 - SAAT SESUATU MULAI MEMILIH

    Kabut itu kini tidak lagi terasa sepenuhnya asing. Meski masih tanpa bentuk yang jelas, ada perubahan yang perlahan mulai terasa. Seperti sesuatu yang sebelumnya hanya ada kini mulai menyadari keberadaannya sendiri.Pelangi berdiri dengan lebih santai, meskipun matanya tetap fokus.“Aku ngerasa… dia berubah dikit…” katanya pelan.Aruna mengangguk.“Iya. Tidak banyak, tapi cukup untuk terlihat.”Sosok besar menambahkan.“Perubahan struktur awal terdeteksi.”Pelangi menoleh.“Struktur lagi…”Ia tertawa kecil, lalu kembali menatap kabut itu.“Tapi bener sih… dia kayak nggak sekosong tadi…”Kabut itu bergerak sedikit. Tidak acak seperti sebelumnya. Ada pola kecil yang mulai terbentuk, meskipun masih samar.Pelangi memperhatikan dengan serius.“Kamu… mulai ngerti ya…” katanya pelan.Kabut itu bergetar halus.Seperti jawaban yang belum bisa menjadi kata.Aruna melangkah mendekat.“Dia mulai merespon bukan hanya kehadiran, tapi juga makna.”Pelangi mengangguk.“Iya… kayak dia mulai milih…”S

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 256 - SAAT SESUATU MULAI MEMILIH

    Kabut itu kini tidak lagi terasa sepenuhnya asing. Meski masih tanpa bentuk yang jelas, ada perubahan yang perlahan mulai terasa. Seperti sesuatu yang sebelumnya hanya ada kini mulai menyadari keberadaannya sendiri.Pelangi berdiri dengan lebih santai, meskipun matanya tetap fokus.“Aku ngerasa… dia berubah dikit…” katanya pelan.Aruna mengangguk.“Iya. Tidak banyak, tapi cukup untuk terlihat.”Sosok besar menambahkan.“Perubahan struktur awal terdeteksi.”Pelangi menoleh.“Struktur lagi…”Ia tertawa kecil, lalu kembali menatap kabut itu.“Tapi bener sih… dia kayak nggak sekosong tadi…”Kabut itu bergerak sedikit. Tidak acak seperti sebelumnya. Ada pola kecil yang mulai terbentuk, meskipun masih samar.Pelangi memperhatikan dengan serius.“Kamu… mulai ngerti ya…” katanya pelan.Kabut itu bergetar halus.Seperti jawaban yang belum bisa menjadi kata.Aruna melangkah mendekat.“Dia mulai merespon bukan hanya kehadiran, tapi juga makna.”Pelangi mengangguk.“Iya… kayak dia mulai milih…”S

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 255- YANG TIDAK PUNYA NAMA

    Kabut itu tidak bergerak menjauh meskipun mereka semakin mendekat. Justru sebaliknya, kehadiran mereka seperti memberi bentuk yang sedikit lebih jelas, meskipun masih belum bisa disebut utuh. Ia tetap seperti bayangan yang tidak tahu harus menjadi apa. Pelangi berdiri paling depan. Ia tidak merasa takut, namun ada rasa aneh yang terus mengganggu, seperti melihat sesuatu yang seharusnya punya makna, tapi belum menemukannya. “Aku ngerasa… dia kayak nunggu sesuatu…” katanya pelan. Aruna menatap kabut itu dengan lebih dalam. “Atau menunggu untuk dikenali.” Sosok besar menambahkan. “Identitas belum terbentuk.” Pelangi menoleh. “Berarti dia… belum jadi sesuatu ya?” Sosok besar mengangguk. “Belum memiliki definisi jelas.” Pelangi menghela napas. “Kasian juga ya…” Kabut itu bergerak sedikit, seolah merespon kata kata itu. Tidak agresif, tidak juga menjauh, hanya… mendekat sedikit lebih dekat. Aruna memperhatikan. “Dia bereaksi terhadapmu.” Pelangi tersenyum keci

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 254 - SISA YANG TIDAK TERLIHAT

    Keheningan yang tertinggal setelah gerbang itu tertutup terasa berbeda dari sebelumnya. Bukan lagi sunyi yang penuh beban atau penantian, melainkan seperti ruang kosong yang baru saja ditinggalkan sesuatu yang penting. Tidak menyakitkan, namun juga tidak sepenuhnya biasa.Pelangi masih berdiri di tempatnya, menatap ke arah gerbang yang kini kembali menjadi batas yang tenang.“Aneh ya…” katanya pelan.Aruna menoleh.“Apa?”Pelangi menarik napas dalam.“Harusnya aku ngerasa selesai… tapi kok kayak masih ada yang nyisa…”Sosok besar langsung merespon.“Residu proses.”Pelangi menoleh.“Residu?”Sosok besar mengangguk.“Sisa energi atau efek yang belum sepenuhnya hilang.”Pelangi mengangguk pelan.“Iya… mungkin itu…”Aruna memperhatikan dengan lebih serius.“Perasaanmu tidak salah. Setelah proses besar seperti itu, biasanya memang ada jejak yang tertinggal.”Pelangi menatap ke depan lagi.“Jejak… ya…”Sunyi.Namun kali ini…sunyi itu seperti mengajak untuk mendengar sesuatu yang lebih hal

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 253 - DI BALIK GERBANG YANG TERBUKA

    Cahaya itu tidak langsung menyilaukan. Ia justru muncul perlahan, seperti sesuatu yang sangat lama menunggu untuk tidak mengejutkan siapa pun yang melihatnya. Gerbang yang selama ini hanya terlihat sebagai batas kini mulai benar benar terbuka, bukan dengan suara keras atau perubahan tiba tiba, melainkan dengan keheningan yang dalam dan penuh arti. Pelangi berdiri diam, matanya tidak berkedip sedikit pun. Ia tidak ingin melewatkan satu detik pun dari apa yang sedang terjadi. “Ini… beda banget dari yang aku bayangin…” katanya pelan. Aruna berdiri di sampingnya, wajahnya tetap tenang. “Karena ini bukan sesuatu yang dipaksa terbuka,” jawabnya. Sosok besar menambahkan. “Pembukaan alami menghasilkan stabilitas tinggi.” Pelangi menoleh sambil tersenyum kecil. “Iya sih… kerasa lebih… damai.” Di depan mereka, sosok itu dan perempuan itu masih berdiri berhadapan. Tangan mereka masih saling menggenggam, dan tidak ada lagi keraguan di antara mereka. Cahaya yang muncul dari sentuh

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 126– Suara yang Tak Lagi Terkutuk

    Malam turun perlahan di Desa Sumber Arum. Angin berdesir melewati pepohonan jati, membawa aroma tanah basah yang baru saja diguyur hujan sore. Di pendopo tua tempat mereka dulu pertama kali berkumpul saat KKN, lampu minyak kembali dinyalakan. Cahayanya bergetar lembut, seolah ikut bernapas bersama

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 121 – Ketika Tirai Terakhir Terbuka

    Rumah sakit itu berdiri megah, bersih, dan sunyi.Aruna berdiri di seberang jalan, menatap bangunan putih yang terlihat begitu tenang dari luar. Siapa pun yang melihatnya tak akan menyangka bahwa di salah satu ruang rawat VIP-nya terbaring seorang pria yang menyimpan rahasia puluhan tahun.Bapak H.

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 120 – Wajah di Balik Tirai

    Hujan turun sejak pagi.Kota tampak abu-abu, seperti menahan sesuatu yang belum diucapkan. Aruna berdiri di depan jendela kosnya, menatap tetes-tetes air yang meluncur lambat di kaca.Sudah seminggu sejak ia dan Alvaro menemukan nama itu.Seorang pria yang kini dipanggil dengan hormat di berbagai a

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 119 – Darah yang Mengingat

    Sudah dua bulan sejak Ratih ditemukan.Kehidupan kembali berjalan seperti biasa. Laporan KKN selesai. Nilai keluar. Grup mereka kembali dipenuhi candaan ringan tentang skripsi, organisasi, dan rencana masa depan.Tidak ada lagi jam 02.12.Tidak ada lagi tembang.Aruna bahkan mulai percaya semuanya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status