INICIAR SESIÓN"Bohong! Katamu mau bertanggung jawab sama aku. Katamu nggak akan ninggalin aku. Kenapa kamu malah memilih ikut pergi, Kak? Hiks.... Hiks.... Kamu jahat, Kak!" Naomi menangis semalaman. Tubuhnya yang lelah tak membuatnya mampu beristirahat apalagi dalam keadaan seperti ini. Keadaan yang membuatnya harus berpikir bagaimana dengannya besok setelah rumah ini benar-benar sepi dan Brilly yang sudah memberi warna kembali di hidupnya pun jauh dari pandangan. Bagaimana dia yang akan benar-benar mengurus Gwen sendirian? Bagaimana jika Gwen merindukan ayahnya? Lian menjadi buronan dan Brilly harus menjalani pengobatan di luar negeri. "Aku tau keputusan ini pasti yang terbaik tetapi bagaimana denganku di sini?" Hal itu Naomi pikirkan hingga dia kurang tidur. Kedua matanya terlihat sayu dan lingkar matanya pun menghitam. Kebetulan hari ini libur sekolah. Naomi memutuskan untuk mengantar Mami, Daddy, dan juga Brilly menuju bandara. Naomi pun sama sekali tidak menghubungi Brill
Naomi terdiam setelah mematikan panggilan dari Brilly. Dia diam memperhatikan layar yang sudah kembali menghitam. Benarkah? Dalam hati Naomi bertanya-tanya. Apa sudah benar dengan keputusan dan juga niat baik mereka? Apa dia akan bahagia setelah menjadi menantu dari keluarga mantan suaminya lagi? Apalagi ini adalah saudara kembar. Naomi masih ragu, tetapi kalau ditanya bagaimana dengan perasaannya pada Brilly. Jujur Naomi sudah mendalami ini. Hatinya sudah menyimpan nama Brilly. Bahkan semua tentang Lian sudah tergantikan oleh Brilly. Tinggal dia meyakinkan hatinya jika dengan Brilly semua akan baik-baik saja dan mereka akan bahagia. "Sekarang aku butuh teman bercerita tapi aku harus bercerita pada siapa? Bahkan aku tidak memiliki teman dekat setelah berumah tangga." Kesibukan Naomi membuatnya jauh dengan teman-temannya dulu. Bahkan fokus Naomi pada keluarga dan karier membuatnya tak memiliki teman. Sebegitunya Naomi mengabdi pada keluarga kecilnya tetapi sekarang dia me
Naomi terdiam di ambang pintu ruangannya melihat Gwen yang tengah tertidur dengan memeluk boneka. Entah boneka dari mana asalnya tetapi rasa hati saat ini amat sangat berantakan sekali. Padahal tadi sudah sangat lega saat putusan pengadilan keluar, tetapi setelah melihat Gwen, Naomi teringat akan keputusan itu. Naomi mencengkeram kuat berkas yang ia bawa. Kedua matanya basah kemudian menunduk melihat surat yang ada dalam genggaman. "Maafkan Mami, Nak. Maaf kalau Mami dan Papi sudah benar-benar pisah. Mami janji akan tetap membahagiakan kamu walaupun kita hanya tinggal berdua saja. Tetap sama Mami ya, Sayang. Tetap sayang sama Mami. Mami melakukan ini juga untuk kebaikan Gwen." "Dok, kenapa diam saja di sini? Saya sudah belikan makanan untuk dokter. Makan dulu, Dok! Tadi Gwen sudah makan." "Eh iya, Cha. Makasih banyak ya. Kamu sudah perhatian sekali sama anak saja. Makasih juga makanannya." Naomi mengambil bungkusan yang Icha berikan padanya. Dia pun memilih untuk tidak
Selepas Naomi pergi, seseorang yang sejak tadi memantau pergerakan Naomi dalam posisi terduduk meminta-minta di pinggir jalan depan pengadilan agama, menatap mendung kepergian sang mantan istri. Tak ada momen yang terlewatkan dari mulai Naomi datang sampai Naomi pergi lagi dengan membawa berkas di tangannya. Pria itu semakin terlihat gemetar mengetahui hasil putusan. Tangan yang semula menengadah meminta belas kasih orang-orang sekitar seketika lemas melihat apa yang Naomi bawa. "Jadi surat itu sudah dia dapatkan. Akta cerai sudah diberikan? Jadi dia bukan lagi istriku sekarang? Naomi padahal aku masih sangat mencintaimu, Sayang. Kenapa kamu juga pergi meninggalkan aku? Kenapa kamu nggak bisa menerima aku apa adanya? Sebegitukah kamu membenciku?" Mungkin Lian lupa berapa banyak pengkhianatan yang pria itu berikan pada Naomi. Seberapa banyak luka yang dibiarkan menganga dan seberapa banyak air mata yang dibiarkan mengalir sia-sia. Tangan Lian memukul dadanya sendiri. Lian
"Maaf Nyonya jika saya lancang. Saya siap menjadi saksi di persidangan Nyonya dangan Tuan jika memang saya dibutuhkan." Naomi menghentikan kunyahannya saat mendengar apa yang Maryam katakan. Naomi tidak langsung menjawab melainkan menoleh dulu pada Gwen yang baru saja menyelesaikan makannya. "Kalau sudah, Gwen bisa segera kembali ke kamar, Sayang! Nanti Mami menyusul," kata Naomi pada Gwen yang kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya, Mami. Gwen mau mengerjakan PR." "Pintar anak Mami. Kerjakan nanti Mami akan mengeceknya kalau sudah selesai makan. Sini Mami sayang dulu!" Naomi kemudian memeluk Gwen dan mengecup pipi putrinya sebelum anak itu meninggalkan meja makan. "Iya, Mi. Dadah Mami!" Gwen pun segera menaiki tangga dan Naomi memperhatikan sampai Gwen benar-benar tak lagi terlihat dan sudah masuk ke dalam kamar. Naomi menoleh kembali pada Maryam yang kini menunduk di hadapannya. Naomi menyeringai melihat itu kemudian menganggukkan kepala. "Oke. Ide yang bagus.
Lian sama sekali tidak mengeluarkan suara. Sekarang Lian bukan saja menjadi gelandangan tetapi berpura-pura tidak bisa bicara. Bukan hanya itu, terkadang Lian pun berpura-pura bodoh dan tuli. Itu semua dilakukan oleh Lian sebagai cara untuk menutupi identitas agar tidak mudah diketahui oleh polisi. Akalnya cukup cerdik. Bahkan Lian tidak sama sekali menunjukkan badan tegapnya. Lian berjalan dengan sedikit membungkuk dan langkah yang terlihat terpincang-pincang padahal sehat dan tak ada kekurangan. "Sana! Ngapain malah lihatin gue aja? Kerja! Kita gelandangan tapi butuh makan. Kita orang nggak punya dan tetap harus usaha, tapi terserah kalau loe mau mati sia-sia. Jangan lagi di sini! Sana pergi!" Orang tersebut mendorong tubuh Lian hingga terjatuh ke tanah. Padahal bisa saja Lian bertahan tetapi penyamaran Lian begitu sangat sempurna. Lian menjadi orang yang amat sangat lemah. Rambut yang sudah sedikit panjang dibiarkan berantakan hingga gimbal dan kumis juga jenggot yang tak
"Mami sama Papi mau pisah? Memangnya mau pisah rumah? Kok Mami minta Papi pergi? Mau kemana, Pi?" Sontak Naomi menoleh ke arah Gwen yang bertanya demikian. Naomi segera mendekati putrinya kemudian meraih kedua pipi Gwen dan menatap penuh kedua mata anaknya yang terlihat bingung. "Gwen, Mami m
"Kenapa, Kak? Kenapa aku tidak boleh menyakitinya? Kakak juga suka sama dia? Katakan Kak kalau Kakak memang suka!" kata Naomi dengan tatapan tak terima pada Brilly. Naomi pun melepaskan Maryam begitu saja dengan cara yang tak bersahabat. Wanita itu ambruk di lantai dingin dengan penampilan yang
PLAKK Kedua mata Maryam terbelalak setelah mendapatkan tamparan kerasa dari orang yang tidak pernah melakukan itu padahal sudah sangat dikhianati. Siapa lagi kalau bukan Naomi. "Nyonya?" Maryam amat sangat terkejut sekali. "Apa? Apa, Maryam?" "Aaagghhh!!!" Kepala Maryam mendongak kala
"Apa yang membuatmu ingin keluar dari sini? Khawatir dengan seorang pengkhianat?" tanya Brilly hingga membuat Naomi merapatkan bibirnya tetapi itu hanya sejenak saja. "Tapi Kak, kalau berduaan di kamar seperti ini pun tidak dibenarkan." "Apa tawaranmu dulu masih berlaku?" "Yang mana?" tanya







