تسجيل الدخول"Tidak ada hal yang istimewa, Kak. Justru aku bertengkar dengannya." "Kanapa?" "Kenapa? Ya aku nggak suka dengan caranya me jemput Gwen. Aku sibuk mencari sampai aku takut kehilangan putriku." Naomi menarik nafas dalam setelah menjelaskan itu pada Brilly. Kalau inget hawanya ingin kembali marah. Nafasnya saja saat ini terasa memburu dan ingin sekali dia melampiaskan kemarahannya lagi. Namun pada siapa? "Sekarang dia sudah pulang?" "Mungkin sudah pulang. Tadi aku sempat mengusirnya tetapi setelah itu aku masuk kamar duluan." "Kamu berani melakukan itu?" "Kenapa harus takut, Kak? Aku nggak salah. Aku justru merasa sangat dirugikan dan dipermainkan seharian ini. Dia nggak tau betapa khawatirnya aku mencari Gwen." "Kenapa tidak menghubungi aku?" "Mana mungkin, kamu sedang masa pemulihan. Aku tidak mungkin membebani kamu, Kak. Fokus saja pada kesehatanmu. Aku bisa menjaga diriku sendiri." "Bagaimana bisa aku diam saja membiarkan kamu sendiri?" "Kak kamu lagi
Naomi menghela nafas berat. Sampai di kamar dia tak lagi bisa bersuara. Semua sesak di dada membuatnya diam seribu bahasa. Padahal tadi kemarahan sudah dia lampiaskan pada Lian. Naomi mencengkeram kuat sprei hingga tertarik dan berantakan. Kedua mata terpejam merasakan sakit yang tak bisa dia gambarkan. "Mami," panggil Gwen sontak membuat Naomi menoleh ke asal suara. Terlihat Gwen melangkah mendekatinya kemudian memeluk dengan erat. Naomi pun segera menguasai diri dan berusaha untuk lebih tenang lagi. Dia menarik nafas dalam sepenuh dada kemudian mengusap air matanya dan memperhatikan wajah Gwen. Tangannya mengusap lengan Gwen yang melingkar di tubuhnya. Tatapan mata Naomi pun terpaku pada Gwen yang terdiam tanpa kata setelah memeluknya. "Ada apa, Sayang? Tumben anak Mami kok meluk Mami sampai erat begini? Gwen kenapa? Cerita sama Mami, Nak!" pinta Naomi dan Gwen menggelengkan kepalanya. Naomi tersenyum melihat itu kemudian menarik tangan Gwen dan meminta putrinya un
"Aku minta maaf. Aku salah. Sungguh aku menyesal." Naomi tersenyum kecut mendengar apa yang Lian katakan. Apa katanya tadi? Minta maaf? Naomi sampai muak sekali dengan itu. Mau seribu kali pun Lian mengatakan itu, hatinya sudah penuh dengan apa yang dia dapatkan selama ini. Naomi membuang muka. Muak dia mendengar permintaan maaf Lian dan penyesalan yang sudah terlambat. Ingin rasanya Naomi menjambak rambut Lian seperti tempo hari. "Naomi..." Lian hendak menyentuh tangannya tetapi dengan cepat Naomi menampiknya kemudian menatap Lian dengan tatapan penuh amarah. "Kamu pikir penyesalan ini ada artinya buat aku, Mas? Nggak ada! Jangankan aku mau mengiba, melihatmu saja aku muak! Jangan salahkan aku atau kamu berpikir aku tega. Memang aku tega, Mas! Baru tau 'kan kamu jahatnya aku sekarang? Iya?" cecar Naomi dengan nada tinggi. Naomi sungguh sangat emosi sekali. Dia sudah tidak lagi bisa menahan-nahan diri untuk tidak marah dengan Lian. "Kamu mikir nggak seharian ini su
"Astaga aku harus mencari mereka kemana sekarang? Mas Lian tidak lagi memegang hape. Gwen juga sudah disuruh menunggu malah ikut Mas Lian pergi. Gemas aku jadinya dengan mereka. Bagaimana ini?" Naomi terus melajukan mobilnya, sayangnya kalau seperti ini dia tidak bisa melihat ke dalam-dalam gang sempit. Siapa tau Gwen dibawa ke sana atau Lian tinggal di kontrakkan petakan. "Dimana kamu, Sayang? Kenapa tidak mendengarkan apa yang Mami katakan? Kenapa tidak mau menunggu sebentar saja?" Hanya beberapa menit saja sangat mempengaruhi sekali. Padahal Naomi sudah datang lebih cepat dari biasanya. Begitu pun masih bisa kehilangan Gwen. "Andai ada Kak Brilly. Ya Tuhan aku harus meminta bantuan pada siapa? Kak Brilly baru selesai di operasi dan Daddy juga pastinya sedang sibuk memikirkan kesembuhan Kak Brilly. Aku harus bagaimana ini? Berpikir, Naomi! Berpikirlah! Jangan sampai kamu kehilangan putrimu." Naomi memukul setirnya. Dia mencoba untuk turun dan menanyakan pada orang seki
Cup "Semangat!" "Ups! Sorry ganggu. Gue nggak lihat. Beneran!" "Ck, ganggu aja!" umpat Brilly kesal sedangkan Naomi sontak membuang muka menutupi wajahnya yang mungkin saat ini sudah sangat merona. "Sorry, gue masuk mau ngasih tau loe kalau bentar lagi siap operasi. Maaf ya Mbak Naomi. Nggak sengaja," kata Gani seraya menggaruk kepala. Bohong sekali memang kalau pria itu tidak melihat apa-apa. Maka dari itu meminta maaf akan keteledorannya. Begini yang Naomi takutkan, akhirnya terjadi juga padahal durasi baru sebentar. "Mbak-mbak! Nyonya!" tegur Brilly. "Iya maaf, Nyonya. Lupa kalau sebentar lagi mau jadi Nyonya Brilly ya, Bu. Maaf ya, Bu. Lanjut dech! Tapi palingan juga cuma lima menitan. Soalnya tim medis udah otw kemari." "Udah sana keluar dulu! Bikin cewek gue malu aja loe. Nggak nyaman dia jadinya." "Iya, iya, sorry. Lanjut dah! Gaspol ndangak! Digaspol ndangak-ndangak! Manukku siap...." "Haish... Sialand, Gani!" umpat Brilly lagi setelah mendengar Gani y
Naomi datang dengan membawakan buah-buahan untuk Brilly. Sepanjang jalan Naomi bingung memikirkan apa yang harus dia bawakan untuk Brilly. Terlebih keinginan Brilly yang sangat tidak mungkin. Tidak mungkin juga jika datang dengan tangan kosong. Apalagi ada mertua. Alhasil apa yang ada di otaknya, dia bawakan saja untuk Brilly. Naomi melangkah kecil menyusuri lorong-lorong rumah sakit menuju kamar VIP. Keraguan melanda karena ada mertua tetapi mendengar Brilly begitu sangat menunggu kedatangannya membuat Naomi tidak bisa mengabaikan pria itu begitu saja. Naomi tiba di depan pintu kamar yang dia tuju. Tatapannya mengarah pada nomor kamar tersebut. Kamar ini sama dengan kamar yang Brilly sebutkan tadi. Naomi menarik nafas dalam sebelum masuk. Naomi lebih dulu menenangkan diri. Padahal sudah bertemu setiap hari akan tetapi dengan hubungannya yang sekarang dengan Brilly membuat Naomi seperti kembali ke masa lalu saat dia baru mengenal cinta. "Aku harus bersikap sebagai ipar, adi
"Duh tapi gimana dengan Gwen kalau aku tinggal pergi?" Naomi menggigit ujung tangannya seraya mondar mandir di balkon kamar. Jangan sampai Gwen ditinggal kemudian Maryam bertemu dengan putrinya. Naomi tidak mau sampai Gwen mendengar apa yang mungkin nanti bisa berdampak buruk pada putrinya. N
"Ini hasilnya Tuan." Brilly tersenyum sinis melihat hasil yang sudah ada di tangan. Apa yang pria itu minta sudah ada di tangan dan akan di uji lab. Entah firasat itu benar atau tidak. Yang jelas semua membutuhkan bukti yang akurat. Selama menunggu hasil, Brilly menahan agar Naomi tidak pergi.
"Shit! Kamu menggodaku Maryam. Apa yang kamu lakukan sialand? Tanganmu lancang, Wanita murahan!" umpat Lian kala tangan Maryam bergerak dan mulai meraba menimbulkan rasa yang luar biasa hingga membangkitkan gairah pria itu. Lian marah saat Maryam senakal sebelumnya. Maryam tidak berhenti dan ter
"Mau bagaimana pun aku, mereka ini orang-orang penting bagiku. Jadi tidak perlu menceramahiku, Brilly! Jika aku pergi, harusnya kamu pun ikut pergi." "Bagaimana kalau aku tidak mau, hhm?" tanya Brilly dengan kedua tangan menyilang di dada. Brilly justru menantang Lian dan akan tetap tinggal d







