MasukNaomi dan Gwen turun menuju ruang makan. Di sana sudah ada Mami dan Daddy yang sedang menikmati makanan mereka. Sebenarnya sudah sejak tadi Naomi dan Gwen dipanggil tetapi Naomi baru keluar setelah kondisi hatinya sudah lebih baik. Masih tentang Brilly yang kecelakaan. Mungkin kedua mertuanya mencoba menutup akan itu. Mereka tidak ada yang mengabarinya tetapi Gwen tidak bisa diam. Gwen berlari mendekati Oma dan Opanya dengan langkah kecil yang membuat kedua orang tua tersebut menoleh memerhatikan. "Gwen sudah bangun?" "Iya Oma, Oma, Om di rumah sakit. Kepala Om sakit. Tadi Gwen telepon Om," kata Gwen mengadu pada Omanya. Mami terkejut mendengar celotehan putrinya sedangkan Naomi tidak ikut bicara dan menempatkan diri di samping Mami. Naomi tau, mungkin Mami dan Daddy tidak mau membuatnya panik tapi mereka tidak tau kalau Naomi sudah mendengar semuanya tadi. "Oh ya? Ya ampun, Gwen sudah bicara sama Om Brilly? Terus gimana, Nak? Bagaimana kabar Om Brilly sekarang?
"Om kenapa itu kepalanya? Kok ada putih-putihnya? Apa Om jatuh? Om dimana sekarang? Apa Om sedang di rumah sakit? Gwen jenguk ya?" Brilly mengulum senyum mendengar itu, mendengar ocehan putrinya yang sangat ingin tau. Brilly menatap penuh kerinduan. Bisa jadi dalam waktu seminggu dia tidak bisa bertemu dengan Gwen. "Iya Om sakit. Doakan Om cepat sembuh ya!" "Gwen mau kesana." "Jangan dulu, Nak! Kasihan Mami baru sembuh. Nanti ya kalau Mami sudah sehat dan kuat lagi. Tunggu saja sampai Om pulang. Mami biar istirahat di rumah." "Tapi Mami sudah sehat, Om. Mami sudah bisa gendong Gwen tadi." Brilly menatap gemas putrinya, tetapi sepertinya bukan hanya pada putrinya saja melainkan pada Naomi yang kini diam memperhatikan tanpa mengatakan apa-apa. Naomi masih diam, Naomi masih enggan bicara pada Brilly. Naomi hanya menelponkan pria itu untuk putrinya. Namun ada hal yang Naomi ingin tau. Kenapa Brilly bisa sampai kena musibah seperti ini. Ah! Andai dia tidak tau takdir,
"Gimana, Tuan? Apa Tuan akan tetap pulang? Tadi dokter mengatakan jika Tuan harus tetap dirawat di sini sampai sembuh." "Ck, loe ngomong sama siapa?" "Hahahaha... Lagian loe tegang banget! Perkara Naomi selalu buat loe begini." Gani menggelengkan kepala setelah mengatakan itu. Pria itu pun menatap Brilly dengan tatapan mengiba. "Anak gue rewel, Gan." "Gue tau, tapi luka loe juga butuh diobatin. Loe mau bikin mereka khawatir? Kasihan Naomi sama Gwen kalau tau loe begini. Lagian tadi gimana nyetir mobilnya?" "Rem gue tiba-tiba blong. Loe nggak lihat gue sampai begini? Mana kepala gue pusing benget lagi," keluh Brilly kemudian mendesah kasar merasakan tubuhnya saat ini. "Untungnya juga loe nggak koma apalagi amnesia. Masih bisa ngomong aja udah anugerah sang ilahi. Lihat mobil loe rengsek begitu bikin gue ngeri. Tuhan masih baik sama loe. Setau gue di sana nggak ada pohon, lah ini tau-tau ada pohon. Kalau sampai nabrak mobil orang gimana coba? Bakal ada kecelakaan be
Naomi merasa sangat bersalah sekali dengan Gwen akibat perceraian ini. Perpisahan yang tentunya tidak akan ada yang mau tapi harus terlaksana karena ini jalan keluar terbaik dari yang paling baik tetap akan menyakiti anak yang belum tau apa-apa. "Mi aku bawa Gwen ke kamar dulu ya!" kata Naomi dengan kedua mata yang memanas. Menjadi seorang Ibu yang kini harus apa-apa sendiri adalah hal terberat tetapi terpaksa Naomi jalani. Bukankah dia sudah terbiasa? Hanya bedanya kali ini benar-benar harus pisah rumah. "Iya, Sayang. Nanti Mami minta tolong Daddy untuk kembali menghubungi Brilly. Tenang ya, Sayang! Jangan terlalu banyak pikiran! Mungkin Gwen memang sedang sangat merindukan Lian dan Brilly. Tumbenan biasanya anteng, tapi hari ini tidak bisa dibujuk. Sama Daddy pun menolak." "Iya, Mi. Aku ke kamar dulu. Makasih ya, Mi. Tolong hubungi Mas Lian atau Kak Brilly." "Iya, Nak. Mami usahakan diantara mereka datang menemui Gwen. Naomi segera menaiki tangga menuju kamarnya.
Lian beranjak dari tidurnya kemudian melirik Monic yang kini tengah berdiri di hadapan pria itu dengan kedua tangan bersilang di dada. Lian berdecih kemudian meraih tangan Monic tetapi ditampik begitu saja oleh wanita itu. "Tidak perlu menyentuhku lagi, Mas! Bukankah kamu sudah membuangku? Kenapa kembali setelah terusir? Kamu tuh seperti laki-laki pecundang, Mas! Kamu. munafik!" "Diam, Monic! Jangan merasa aku sangat membutuhkanmu! Setidaknya kamu memiliki rasa ingin berbalas Budi padaku. Bukankah aku yang dulu selalu menemanimu saat kamu merasa gelisah dan galau? Aku yang menemanimu di titik terendahmu! Lupa kamu?" "Jangan mengungkit, Mas! Aku nggak minta kamu untuk melakukan itu. Kamu yang membawaku di titik itu. Malu, Mas! Sekarang setelah melarat kamu kembali padaku. Pergi sana, Mas!" Lian beranjak dari ranjang kemudian menatap penuh wajah Monic. Lian tidak mengatakan apapun tapi dari wajah pria itu terlihat sangat gereget sekali pada Monic. Tangan Lian pun mencengkeram
"Panggil Naomi aja. Lagian kita belum jadian." "Terus yang tadi di kamar, kamu pikir apa, hhm? Kamu memang suka sekali memancingku, Naomi!" sahut Brilly seraya menarik pinggul Naomi hingga membuat kedua matanya terbelalak kemudian mendorong dada Brilly yang begitu menempel dengannya seraya menoleh memperhatikan Mami dan Papi. "Kak! Iya, iya, kamu nich! Nanti mereka lihat loh! Lagian nggak sabaran banget sich? Aku belum selesai cerai, Kak." "Belum tapi milikmu pun sudah meminta bukan? Jangan salahkan aku jika aku nekat!" "Iya, kamu mah ngancem terus sekarang! Kalem dan sikap dinginnya sudah hilang?" tanya Naomi dengan menatap kedua mata Brilly. "Bukan hilang tapi denganmu aku nyaman." Naomi mengulum senyum mendengar apa yang Brilly katakan tetapi dia tetap melerai pelukan Brilly agar segera lepas dari pria itu. "Jangan begini, Kak! Nanti dilihat Mami dan Daddy. Lepas dulu! Aku ke Gwen ya. Terserah kamu mau panggil aku apa aja tapi jangan yang tadi! Seng? Seng apa?
Naomi tertegun mendengar apa yang Brilly katakan padanya. Dia pun tersenyum tipis kemudian menarik tangannya. Begitu pun Brilly yang segara beranjak dari tidurnya. Pria itu mengusap wajah kemudian mendongak memperhatikan Naomi lagi. Tatapan mereka kembali bertemu dan Naomi memutuskan untuk seger
"Dari belakang kok kayak Mas Lian, tapi ini nomor siapa? Mas Lian sama siapa? Wanita itu.... Seperti tidak asing bagiku. Dari belakang wanita itu seperti yang aku lihat di cafe tadi." Naomi mengingat kembali gaya rambut, bentuk tubuh, dan juga cara wanita itu duduk. Semua sama dengan yang dia lih
"Apa masih pantas kamu menanyakan istrimu, Lian? Sekarang aku yang tanya. Dimana kamu?" "Kak aku ada kerjaan. Bukankah Naomi juga sudah bilang? Lagian Kakak tidak perlu campur tangan urusanku!" "Oh begitu hahahahah... Lantas saat kamu pergi, mengapa kamu menitipkan istri dan anakmu padaku? De
"Nggak bisa, Kak." Naomi mendongak menatap Brilly yang kemudian mendesis setelah mendengar apa yang ia katakan. Perlahan tangannya yang terangkat memegang ponsel kembali turun dan meremas benda pipih itu. "Dasar ayah nggak berguna!" gumam Brilly. Naomi memejamkan kedua matanya. Ya benar ka







