LOGIN"Jadi bagaimana hasilnya?" "Mending loe baca sendiri! Udah gue kirim di WA loe." Tanpa menunggu lama dan menanggapi Gani, Brilly segera mematikan panggilan tersebut. Segera Brilly membuka pesan yang telah Gani kirimkan padanya. Di sana terlihat foto hasil laboratorium dari rumah sakit yang sudah Gani buka dari amplop. Kedua alis Brilly menukik melihat itu, tatapannya menajam, jantungnya berdebar kencang dan keringatnya mulai membasahi kening. Tanpa sadar tangannya mencengkram ponselnya begitu kencang dan kedua mata memerah menyiratkan amarah melihat hasil yang mengatakan jika semua berkebalikan. BRAAAKKK Tangan Brilly memukul meja kerjanya. Buku-buku dan laptop sampai terangkat. Beruntung Gwen tidak sampai terjaga. Brilly mengusap kasar wajahnya kemudian menjatuhkan punggungnya di sandaran kursi kerjanya. Pikiran Brilly berkecamuk. Satu pertanyaan yang sangat mengganggunya, lantas bagaimana dengan Gwen? Ponselnya kembali berdering. Brilly pun segera mengambil ponsel ter
"Ternyata masih mau kamu menunggu apa yang ingin aku katakan padamu? Datang petantang petenteng! Biar sekarang? Sekarang kamu tanya apa yang ingin aku bahas payamu. Mentang-mentang istri sah?" cecar Monic dan Naomi hanya tersenyum miring menanggapi itu. "Aku memang mencintai Mas Lian tapi Mas Lian memiliki alasan berselingkuh denganku. Kami itu seperti simbiosis mutualisme, saling menguntungkan. Paham kamu!* Nomi tersenyum miris mendengar itu. Dia tidak habis pikir dengan apa yang ada di otak Lian dan juga Monik. Apa sebenarnya tujuan mereka mencari keuntungan tetapi menyakitkan hati dua orang yang tidak tahu apa-apa? Ada dendam apa mereka dengan dirinya dan juga Brilly. Mereka yang benar-benar tulus menyayangi keduanya. "Pasti kamu bertanya-tanya bukan kenapa aku dan Lian melakukan itu? Mau tahu alasannya atau kamu masih mau petantang seperti ini? Apa gunanya kamu ke sini? Hanya untuk memaki diriku? Tidak ngaruh, Naomi! " Oh ya? Yakin tidak berpengaruh apapun padamu? Te
"Dimana dia sekarang? Jangan lama bisa nggak? Kerja loe lelet banget!" ucap Brilly yang tak sabar menunggu kabar keberadaan Naomi. "Bentar! Ini juga lagi nyari." Brilly sudah tak sabaran sekali dan terlihat sangat amat gelisah. Kembali Brilly mencoba untuk menghubungi Naomi tetapi sama sekali tidak ada jawaban. Lagi dan lagi hal itu membuat Brilly berdecak kesal. "Eh ada kabar dari rumah sakit, Bos." "Rumah sakit? Apa?" tanya Brilly penasaran kemudian beranjak dari sandaran kursi kerjanya kemudian mendekati Gani. "Hasilnya udah keluar. Loe mau kesana sekarang atau gue yang ambil?" tanya Gani kemudian Brilly melirik ke arah sofa. "Ada Gwen di sini. Gue nggak bisa pergi sekarang. Loe cari tau dulu dimana Naomi berada setelah itu ambil hasilnya." "Oke bentar!" Kembali Brilly harus menunggu dan rasanya sudah sangat tidak sabaran sekali. Jemari Brilly mengetuk meja dan tatapan mata Brilly fokus pada ponsel milik Gani. "Gimana?" tanya Brilly lagi. "Dia di jalan
Brilly berdecak kasal seraya melirik kepergian asistennya yang kini sudah berlari keluar dari ruangannya. Dia berdecak kemudian mencoba menghubungi Naomi tetapi tidak diterima oleh ibu dari Gwen. "Kemana dia? Harusnya sudah selesai. Apa sedang dalam perjalanan?" gumam Brilly kemudian meletakkan ponselnya dan membuka laptop untuk kembali bekerja. "Gwen, Om sambil kerja ya! Gwen makan?" "Iya, Om. Burgernya enak." "Es krimnya sudah habis, Nak?" "Sudah. Es krimnya juga enak." "Ya sudah dihabiskan. Kalau butuh sesuatu panggil Om ya. Om di sini," kata Brilly terdengar sangat hangat sekali. Kebetulan dengan Brilly pun Gwen tidak rewel meskipun banyak jajanan yang harus dibeli. Brilly tak masalah, selama makanan itu sehat. "Om kalau kerja sendirian?" "Iya." "Kalau Papi juga?" "Mungkin iya." "Oh..." Beberapa pertanyaan dari Gwen keluar begitu saja dan lebih membahas tentang kedua orang tuanya. Brilly pun menjawab tanpa beban meskipun cukup kasihan dengan nasib Gwen ya
"Om yang jemput, Gwen? Mami mana, Om?" "Mami sedang di klinik, Sayang. Mami lagi banyak pasien yang datang. Gwen ikut Om dulu ya!" Gwen menunduk sedih dan berkata ,"tadi pagi Mami suruh Om yang antar. Sekarang pulangnya juga Om lagi yang jemput. Papi sama Mami apa sama-sama sedang sakit, Om? Gwen ingin Mami atau Papi yang datang." "Sama Om apa bedanya? Om juga sayang sama Gwen. Om bisa antar jemput Gwen kalau sedang tidak sibuk." Brilly menekuk kaki kemudian meraih kedua pundak Gwen dengan senyuman yang khas. Dia membujuk Gwen agar tidak sedih. "Iya tapi Om kasihan. Om sudah banyak memberikan Gwen mainan." "Itu tidak masalah, Nak. Om senang kalau Gwen suka." "Ya sudah kalau begitu, tapi Gwen ingin es krim Om. Panas sekali mataharinya, enak makan es krim Om," pinta Gwen yang membuat Brilly terkekeh mendengar itu. "Oke, tapi kita beli sikat gigi juga ya. Sekalian beli makan siang untuk Gwen. Nanti Gwen ikut Om ke kantor dulu. Temani Om kerja. Oke!" "Oke, Om!" G
Naomi memasuki ruko tersebut. Ruko yang menjual aneka roti dengan suasana yang tenang. Saking tenangnya, tidak sulit untuk Naomi menemukan wanita itu. Segera Naomi melangkah mendekati tetapi entah siapa tiba-tiba membekapnya dari belakang dan menyeretnya menjauh dari tempat itu, hingga Naomi tidak bisa memberontak. Sampai di luar, Naomi menyikut orang yang sudah menariknya tepat mengenai perut orang tersebut. Dia segera menoleh mencari tau siapa yang sudah melakukan itu padanya hingga terkejut saat tau jika itu Lian. "Mas, kenapa kamu bisa ada di sini? Bukankah kamu tadi...." "Kamu pikir mudah mengelabuhiku? Mau apa di sini, Sayang? Ikut aku sekarang! Kita butuh waktu berdua untuk mencari titik terang masalah ini." Lian hendak kembali meraih tangannya tetapi dengan cepat Naomi menghindar. Naomi melangkah mundur dengan tatapan penuh ancaman. "Berani menyentuhku maka aku tidak akan segan-segan berteriak dan mengatakan jika kamu hendak melecehkanku, Mas!" "Jangan brut







