LOGIN"Mas, hentikan!" BRAKKK Kedua mata Naomi terbelalak kala suara pintu kamar terbuka dengan sangat kencang. Syukurlah ada yang datang. Semoga itu bertujuan untuk menyelamatkannya. Namun bagaimana jika yang datang adalah Brilly? Bagaimana dengan tubuhnya yang bugil begini? Lian yang merasa terganggu pun segera menoleh ke belakang untuk mencari tau siapa yang sudah mengganggu. Tatapan mata tak suka akan apa yang orang itu lakukan membuat Lian murka. "Ganggu!" teriak Lian kemudian beranjak dari sana dan hendak menutup kembali pintu kamar tetapi hal tak terduga terjadi. BUGH BUGH "Anjing loe ,Lian!" "Loe yang keparat, Brilly! Bisanya kroyokan! Loe pikir gue nggak bisa jotos loe hah? Punya otak dong loe! Ini kamar gue dan loe udah ganggu privasi gue, Bangsad!" sahut Lian yang semakin emosi apalagi pria itu merasa amat sangat terganggu. Lian tang tak perduli dengan penampilannya pun dengan lantang menjawab. "Loe yang Bangsad, Brilly!" BUGH BUGH BUGH Bril
"Kenapa kamu kasar sekali padaku, Sayang? Kamu bukan Naomi yang aku kenal. Sayang come on! Jangan begini! Aku sadar aku salah, sangat salah. Aku sadar sudah mengecewakanmu, sudah menyakitimu, sudah melupakanmu. Aku sadar dan aku minta maaf. Ampuni aku sayang, please!" Lian meraih kedua tangan Naomi dan menatap penuh permohonan pada sang istri. "Kita kembali lagi seperti dulu. Kita perbaiki lagi hubungan ini, kalau perlu kita pindah dari rumah ini. Kita jual rumah ini, kita bangun istana baru untuk kita tinggali bertiga dengan Gwen." Naomi menggelengkan kepala mendengar semua penuturan dari Lian. Naomi enggan dan sangat tidak setuju dengan apa yang Lian harapkan saat ini. "Nggak, Mas! Aku nggk bisa!" "Jangan khawatir, Sayang! Aku akan mencintai kamu setulus hatiku. Kesalahan ini semua akan aku jadikan pelajaran dan tidak akan pernah aku ulangi lagi." "Ngomong sama tembok sana, Mas! Aku sudah tidak percaya lagi dengan apa yang kamu katakan. Please mengertilah! Sakit ha
"Omong kosong macam apa itu? Kamu pikir mudah menghancurkanku? Kamu terlalu polos, Monik! Oke aku akui memang di awal aku tertarik padamu. Kamu cantik, body mulus, dan sangat-sangat menggoda." "Apalagi kamu dicintai betul-betul oleh kakakku Brilly. Itu yang membuatku semakin penasaran padamu. Ya, aku akui sangat menyukaimu di awal tapi setelah aku bertemu dengan Naomi, rasa itu hilang. Hanya saja kamu masih enak dan bisa aku manfaatkan." "Kurang ajar kamu, Mas! Kamu betul-betul keterlaluan! Lian biadab! Enyah kamu dari hadapanku!" sentak Monic membabi buta. Dengan kekuatan yang masih tersisa Monik berbalik menyerang. Wanita itu mencengkram kuat kedua sisi kemeja Lian kemudian mendorong sekuat tenaga hingga Lian terkuyung ke belakang. Hampir saja Lian ambruk di sofa tetapi kekuatan yang Lian gunakan sebagai pertahanan cukup membuat pria itu tetap bisa bertahan. "Kamu pikir aku takut sama kamu Mas? Nggak! Aku benci sama kamu! Ternyata kamu sangat licik! Kurang apa aku, Mas? Si
BRAAKKK "Mas!" Monic terkejut dengan kedatangan Lian yang sangat tiba-tiba dan masuk dengan pergerakan kasar. Monic beranjak dari duduknya kemudian memperhatikan Lian yang melangkah panjang ke arahnya dengan penuh nafsu. Kedua mata wanita itu terbelalak saat Lian yang tiba-tiba mencekik hingga tubuh Monic terjengkang. "Eeegghhhh.... Sakit, Mas! Kamu gila! Lepaskan aku, Mas," pekik Monic kemudian terbatuk setelah itu. Semakin kencang semakin membuat kedua mata Monic mendelik merasakan itu. Nafas Monic terasa amat berat dan putus-putus. Hampir saja habis tetapi perlahan tangan Lian memberikan kesempatan untuk wanita itu. "Mas!" Monic menarik tangan Lian tetapi semua hanya sia-sia karena kekuatan pria itu sangatlah kuat. Kedua mata Monic berkaca-kaca, wajah wanita itu memucat dan tatapan mata mulai melemah karena kekuatan Lian yang kembali kencang dan menjadi. "Mas a.. Aku ... Sakit, Mas! Aku sulit bernafas." Lian menyeringai mendengar keluhan Monic kemudian mendek
Naomi tersenyum melihat Brilly dan juga Gani, kedua pria itu diam memperhatikannya dengan sangat lekat tetapi Naomi menganggap awalnya itu sebagai sambutan akan kedatangannya walaupun suasana tenang mendadak hilang. "Kok mereka horor sekali?" gumam Naomi kemudian melangkah mendekati Brilly yang terlihat berbeda padanya. "Ada apa, Kak? Kok seperti itu lihatnya? Aku kelamaan ya? Maaf..." "Aku mau meeting, Naomi. Kamu bawa pulang saja Gwen, sekalian kamu istirahat di rumah." "Baik, Kak." Kemudian Naomi melangkah mendekati Gwen, tetapi sebelum sampai dirinya berada di dekat Gwen, Naomi kembali melirik Brilly yang masih memperhatikannya. "Kak Brilly kenapa sich?" gumam Naomi. Dia menggelengkan kepala kemudian meraih tangan Gwen untuk membangunkan putrinya. "Sayang bangun yuk! Ini Mami, Nak." Naomi mengusap tangan Gwen dan mengecup pipi putrinya. Naomi sengaja melakukan itu agar Gwen terusik. Sampai kedua mata Gwen terbuka dan melihatnya. "Hay, Nak!" ucap Naomi ke
"Jadi bagaimana hasilnya?" "Mending loe baca sendiri! Udah gue kirim di WA loe." Tanpa menunggu lama dan menanggapi Gani, Brilly segera mematikan panggilan tersebut. Segera Brilly membuka pesan yang telah Gani kirimkan padanya. Di sana terlihat foto hasil laboratorium dari rumah sakit yang sudah Gani buka dari amplop. Kedua alis Brilly menukik melihat itu, tatapannya menajam, jantungnya berdebar kencang dan keringatnya mulai membasahi kening. Tanpa sadar tangannya mencengkram ponselnya begitu kencang dan kedua mata memerah menyiratkan amarah melihat hasil yang mengatakan jika semua berkebalikan. BRAAAKKK Tangan Brilly memukul meja kerjanya. Buku-buku dan laptop sampai terangkat. Beruntung Gwen tidak sampai terjaga. Brilly mengusap kasar wajahnya kemudian menjatuhkan punggungnya di sandaran kursi kerjanya. Pikiran Brilly berkecamuk. Satu pertanyaan yang sangat mengganggunya, lantas bagaimana dengan Gwen? Ponselnya kembali berdering. Brilly pun segera mengambil ponsel ter
"Apa yang membuatmu ingin keluar dari sini? Khawatir dengan seorang pengkhianat?" tanya Brilly hingga membuat Naomi merapatkan bibirnya tetapi itu hanya sejenak saja. "Tapi Kak, kalau berduaan di kamar seperti ini pun tidak dibenarkan." "Apa tawaranmu dulu masih berlaku?" "Yang mana?" tanya
"Eugh...." Naomi melenguh saat ciuman Brilly semakin dalam menerobos masuk indera perasanya. Lidah Brilly mengabsen semua sisi tanpa ada yang terlewatkan. Jantung keduanya berdebar kencang apalagi Brilly yang terlihat sangat emosi sekali, seolah apa yang mereka lakukan ini adalah sebuah pelampia
"Kak apa yang terjadi? Kenapa bisa sampai begini? Lepaskan, Kak!" Naomi kembali berusaha memberontak dengan jantung yang tak lagi bisa tertata debarannya. Apa yang Brilly lakukan tadi di awal saja sudah membuat Naomi terkejut. Naomi tidak menyangka jika ada keributan separah ini hingga membua
"Aku sibuk kerja. Perusahaanku sedang maju pesat. Dibanding kamu sangat santai sampai bisa menemani anak dan istriku jalan-jalan. Jangan kamu menilai hanya dengan sebelah mata! Nyatanya sekarang aku berada di titik tertinggiku." "Titik tertinggi?" Brilly berdecih setelah mengatakan itu. "Titik te







