ログインHarapan tentang momongan itu adalah doa tulusnya untuk menyembuhkan luka akibat keguguran beberapa waktu lalu, sekaligus menjadi jangkar terkuat agar Reza tidak pernah berpaling darinya.Setelah doanya selesai dipanjatkan, Ruby membuka matanya, menatap Reza penuh cinta, lalu meniup lilin-lilin itu hingga padam."Yeeey!" Reza bersorak kecil, segera meletakkan kue itu di atas nakas di sebelah lampu tidur. Tanpa membuang waktu, pria itu langsung merengkuh tubuh Ruby ke dalam pelukan yang sangat erat dan hangat. Reza mencium puncak kepala istrinya bertubi-tubi, menghirup aroma lavender yang selalu menenangkan jiwanya."Terima kasih, Za," bisik Ruby di pelukan suaminya, merasa bahwa malam ini, ia telah memenangkan kembali dunianya.Setelah sesi pelukan yang emosional itu, Reza melepaskan dekapannya. Seringai jahil yang menjadi ciri khasnya perlahan mulai terbentuk di sudut bibirnya. Tatapan matanya yang semula penuh haru kini berubah menjadi kilat nakal yang sangat familier bagi Ruby."Jan
Perjalanan pulang dari kantor menuju rumah malam itu terasa seperti lintasan waktu yang berjalan dengan kecepatan siput. Sepanjang perjalanan di dalam mobil, Ruby lebih banyak diam, memalingkan wajahnya ke arah jendela, menatap kosong pada kerlip lampu jalanan ibu kota yang berbaris membelah kemacetan. Di sebelahnya, Reza menyetir dengan tenang, sesekali bersenandung kecil mengikuti alunan lagu dari radio mobil, seolah sama sekali tidak ada hal istimewa yang terjadi hari ini.Hati Ruby berkecamuk hebat. Sepanjang hari, fokusnya telah diobrak-abrik oleh manuver psikologis Dimas Adiwijaya yang memberinya hadiah jam wecker sialan itu, sekaligus menyodorkan fakta menyakitkan bahwa suaminya sendiri melupakan hari ulang tahunnya.Setibanya di rumah, Ruby masih menyimpan setitik harapan. Mungkin Reza sedang menyiapkan kejutan. Mungkin di balik pintu rumah mereka yang gelap, akan ada taburan kelopak mawar atau teriakan 'surprise' yang akan mengusir semua pikiran kotor tentang Dimas. Namun, sa
Pagi itu, sinar matahari Jakarta menembus celah-celah kaca gedung Genta Pustaka dengan kejam, seolah menelanjangi setiap kegelisahan yang berkecamuk di dalam dada Ruby. Langkah kakinya terasa berat saat menyusuri koridor lantai redaksi. Semalam ia nyaris tidak tidur; tubuhnya masih terasa remuk redam akibat hukuman bertubi-tubi dari Reza, sementara otaknya terus bekerja merumuskan strategi gila untuk menghadapi Dimas Adiwijaya.“Ingat rencanamu, Ruby. Jangan menangis, jangan meronta. Menolak dia justru bikin dia makin napsu. Kamu harus jadi mangsa yang gampangan biar dia ilfeel dan pergi,” mantra itu terus digaungkan Ruby di dalam hatinya seperti sebuah kata penyelamat.Begitu sampai di depan pintu ruangan Dimas, Ruby menarik napas dalam-dalam, memoles wajahnya dengan ekspresi sedatar mungkin, lalu memutar knop pintu.Cklek.Belum sempat Ruby melangkah masuk sepenuhnya ke dalam ruangan, sebuah pergerakan cepat dan tak terduga menyergapnya. Sebuah tangan kekar mencengkeram pergelangan
Suasana di ruang tamu yang mendadak benderang terasa begitu mencekam bagi Ruby. Jantungnya berdentum sangat keras, seolah-olah ingin melompat keluar dari rongga dadanya. Tatapan mata Reza yang menuntut penjelasan tepat mengarah pada ruam kemerahan yang kini membengkak di pangkal lehernya—sebuah mahakarya keji yang ditinggalkan oleh Dimas Adiwijaya beberapa jam lalu di pantry kantor."By..." suara Reza terdengar berat, ada nada sangsi sekaligus bingung yang amat kentara. "Memangnya tadi pagi gigitan aku sakit banget, ya? Sampai membesar dan lebam kayak begini?"Pertanyaan itu bagaikan hantaman godam yang membuat seluruh pasokan oksigen di sekitar Ruby lenyap. Lidahnya seketika mendadak kelu, dan tenggorokannya terasa sekering gurun pasir. Ruby gelagapan. Sudut matanya bergerak gelisah, menghindari kontak mata langsung dengan suaminya. Otaknya yang sudah lelah dipaksa berputar dengan kecepatan penuh demi mencari alasan yang masuk akal.“Aku harus jawab apa? Kalau aku bilang ini bukan be
Lampu-lampu jalanan ibu kota mulai menyala, menggantikan semburat jingga di ufuk barat dengan cahaya kuning neon yang berpendar menembus kaca mobil. Di bangku penumpang, Ruby duduk bersandar dengan bahu yang terasa kaku. Matanya menatap lurus ke arah kemacetan lalu lintas, namun pikirannya melayang entah ke mana.Di sebelahnya, Reza memegang kemudi dengan satu tangan, sementara tangan kirinya yang bebas bersandar di atas tuas persneling. Suasana di dalam kabin mobil yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagi Ruby untuk mencurahkan segala isi hatinya, justru terasa sangat canggung dan dingin.Sebenarnya, sejak keluar dari gedung Genta Pustaka, Ruby sudah menyusun ratusan skenario di dalam kepalanya. Ia ingin menceritakan semuanya. Ia ingin menangis di pelukan Reza, mengadukan betapa brengseknya Dimas Adiwijaya yang menjebaknya semalam dan melecehkannya di dalam pantry siang tadi. Ia sangat butuh perlindungan suaminya.Namun, niat itu hancur berkeping-keping tepat lima belas menit
Ketegangan yang mengendap tebal di udara pasca panggilan telepon dari Reza belum sepenuhnya menguap ketika pintu kaca ruangan semi-terbuka itu tiba-tiba diketuk pelan. Baik Dimas maupun Ruby secara refleks menoleh.Dari ambang pintu, muncullah Tari, salah satu editor naskah fiksi yang bertugas di tim redaksi. Wanita itu melangkah masuk dengan senyum yang direkahlkan selebar dan semanis mungkin. Bunyi ketukan sepatu hak tingginya berirama genit di atas lantai marmer, seiring dengan pinggulnya yang sedikit diayunkan lebih dari biasanya. Di pelukannya, terdapat sebuah map folio berisi dokumen yang butuh persetujuan segera."Permisi, Pak Dimas, Mbak Ruby... Maaf mengganggu waktunya sebentar," sapa Tari dengan nada suara yang sengaja ditinggikan setengah oktaf, membuatnya terdengar lebih manja dan renyah."Ada apa?" tanya Dimas datar, wajahnya kembali mengenakan topeng bos besar yang profesional dan tak tersentuh.Tari melangkah mendekati meja Dimas, sengaja mengambil rute memutar yang mem







